
Brak !!!
Prang !!!
Benda-benda berjatuhan dalam ruangan, amukan gadis itu benar-benar dahsyat. Dia sudah lelah hidup dalam tekanan, dirinya sudah cukup tersiksa.
"Gue nggak sanggup lagi ngejalain ini semua." ucapnya penuh isakan, menatap tajam pria bergeming di hadapannya.
"Puas lo ngehancurin hidup gue hah! puas lo ngehancurin impian gua dan juga cita-cita gue? Gue nggak tau ada masalah apa lo dengan dia, tapi tidak seharusnya lo nyeret gue dalam masalah ini!" teriaknya.
Gadis itu kembali menatap penuh permusuhan pria tegap di hadapannya, pria tanpa ekspresi yang sangat menyeramkan baginya.
Dia memperlihatkan tangannya yang melepuh dan beberapa bekas luka di sana. "Lo lihat ini, ini semua karena lo, gue di tendang oleh sutradara brengsek itu, dan berakhir menjadi pelayan di sebuah rumah makan menjijikkan itu!" kesalnya.
Gadis itu bersujud di depan pria tak berperasaan itu. "Gue mohon lepasin gue, jangan ikat gue seperti ini, gue nggak mau berbuat jahat lagi." mohonnya.
"Nggak sengampang itu lo bisa lepas dari gue, lo sudah terlanjur masuk terlalu dalam, dan jangan harap bisa lepas!" pria itu menyeringai.
Sia-sia sudah permohonan gadis itu, dia bangkit dari sujudnya, mengakat teluncuk ke arah pria itu. "Entah apa yang di perbuat Daren di masa lalu, hingga lo begitu dendam padanya, tapi tolong jangan seret gue di dalamnya!"
"Gue memang cinta sama dia, tapi nggak seharusnya gue ngelakuin ini, Lepasin gue bren*sek!" bentaknya
Plak
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi gadis itu, membuat sudut bibirnya robek.
Pria itu berjalan mendekat, berjongkok di hadapan gadis tak bedaya, menarik dagunya kemudian mencengkramnya dengan kuat. "Lo mau tau apa yang di lakukan Daren, hmm!"
Gadis itu mengangguk berderai air mata dan penampilan acak-acakan.
"Dia yang membunuh adik gue!" bentaknya, lalu menghempaskan wajah gadis itu.
"Gua nggak bakal buat dia bahagia selama hidupnya, jika gue nggak bisa menghancurkan karirnya, maka gue akan buat dia menderita dengan melenyapkan orang yang sangat dia cintai. Agar dia merasakan bagaimana sakitnya di tinggal pergi." geramnya penuh tekanan. Tepancar jelas aura penuh dendam dalam matanya.
"Dan lo." menunjuk gadis di hadapannya. "Lo bisa pergi setelah tugas lo selesai." ucapnya dengan seringai liciknya.
***
Seorang pria meluapkan kekesalannya lewat telfon. Berjalan kesana kemari. "Gue nggak mau tau, lo urus sutradara gila itu secepatnya, atau gue yang turun tangan sendiri." ancamannya pada sang manajer.
"...."
"Gue nggak mau tau, dan gue nggak terima alasan apapun!" ucapnya lalu memutuskan telpon sepihak.
Daren berjalan, mendudukkan dirinya di samping Fany, mengatur nafasnya, menurunkan emosi yang sedari tadi belum juga mereda.
Fany mengelus lembut lengan Daren, mencoba menenangkan Pria itu. "Udah jangan marah-marah terus." Dia memperingatkan.
Daren menyandarkan punggungnya ke sofa. "Dia masuk kedalam rumah aku, berduan dengan istriku. Gimana aku nggak marah coba, suami manapun pasti marah." gerutu Daren, tanpa membentak Fany.
Dia tidak akan melakukan kesalahan lagi hanya karena cemburu, dia tidak akan tega membentak apa lagi melukai Fany, cukup kesalahannya di masalalu menjadi pelajaran berharga baginya.
"Maaf." lirih Fany.
Daren menoleh, mencoba tersenyum pada sang istri walau hatinya masih panas terbakar api cemburu. "Jangan lagi ya. Ini terakhir kalinya kamu buat aku cemburu. Dan jangan lagi terima tamu pria jika aku tidak ada di rumah." ucapnya lembut mengusap surah milik istrinya.
"Iya." Fany mengganguk lucu.
"Pintar." Daren menyelipkan anak rambut kebelakang telinga Fany kemudian mengelus pipi cubi istrinya.
"Nggak marah lagi kan?"
"Iya Sayang."
Faby tersenyum, tidak menyangka perlakuan Daren di luar ekspektasinya. Dia mengira Daren akan kembali membentak dan menghinanya seperti dulu.
Tapi lihat sekarang bukannya marah, Dia malah memberitahu Fany dengan lembut.
Terkadang tak semua kekerasan bisa menyelesaikan masalah. Dan tak semua kekerasan mampu mengendalikan seseorang.
Fany menepuk pahanya, memberi isyarat agar Daren tidur di pangkuannya. "Sini, aku mau cerita sesuatu sama kamu."
Tanpa banyak protes Daren tidur di pangkuan Fany, melingkarkan tangannya ke pinggang mungil istrinya, menenggelamkan wajahnya di perut wanita itu.
"Hmmm."
"Aku tahu kak Daren mungkin tidak perlu mendegar penjelasan aku. Tapi aku tetap akan menjelaskannya. Kak Radit sebenarnya kesini emang sengaja ingin memancing emosi kakak, dia nggak punya maksud lain." ucap Fany hati-hati.
Hening
Tak ada sahutan dari Daren, tapi Fany yakin suaminya belum tidur.
"Dia hanya ingin bertemu dengan kak Elina, tapi kak Elina terus menghindar, makanya kak Radit mancing emosi kakak, karena dia tahu kak Daren pasti akan mengadu pada kak Elina. Katanya kak Daren itu baby besarnya kak Elina." Fany tertawa kecil.
Daren mendegus, beralih menatap wajah Fany yang kini menunduk membalas tatapannya. "Aku bukan baby besar Elina."
"Iya bukan, tapi sekarang jadi baby besarnya Fany." Fany kembali tertawa.
Daren mencubit gemes hidung mancung Fany. "Iya sayang, iya. Nanti kita buat baby nya sampai pagi." sungguh jawaban yang tidak nyambung, tapi berhasil membuat pipi Fany memerah menahan malu, selalu saja mulut Daren nggak di filter.
"Ais, dasar mesum" Fany memukul lengan Daren.
Daren melengguh sakit, mengusap lengannya. "Mesum-mesum gini, kamu suka kan." godanya, menaik turunkan alisnya.
"Nggak."
"Nggak salah lagi kan maksudnya." Daren semakin gencar mengoda Fany.
"Ais kak." decak Fany.
"Apa sayang?"
"Ipi siying." Fany menye-menye. "Nggak mempang tau nggak."
Cup
"Udah mempang belum?" Daren kembali menaik turunkan alisnya setelah mengecup singkat namun dalam bibir Fany.
Fany menye-menyes, bangkit dari duduknya, meninggalkan Daren di ruang tamu. Untung saja setelah menciumnya pria itu kembali duduk jadi dia bisa menghindari.
"Ngapain ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Fany saat mendapati Daren menatapnya tampa henti setelah keluar dari kamar mandi.
"Itu ponsel kamu dari tadi bunyi terus ganggu aja." ucap Daren kembali bermain game, moodnya seketika hancur saat mengetahui siapa yang terus megirimi Fany pesan.
Mulut Fany membentuk O kemudian berjalan naik keatas ranjang, mengambil ponselnya. Fany tersenyum membaca pesan masuk di ponselnya.
"Ngapain senyum-senyum gitu? chatan sama siapa?" mulai deh, sikap posesif Daren kambuh lagi.
Fany menoleh, megeser duduknya mendekat pada Daren, memperlihatkan chat dari Radit. "Kak Radit, dia bilang berhasil buat kak Elina mengalah. Katanya dia ngacem kak Elina, kalau kak Elina nggak mau ketemu, dia akan terus mengagu kita."
"Licik juga tuh orang." gumam Daren.
Daren merebut ponsel Fany. "Ngga usah balas, awas kalau chatingan lagi, aku hancurin ponsel kamu biar tahu rasa." ancamnnya.
"Hmmm, iya, iya, garang amat."
...TBC...
...****************...
Pas di part sebelumnya kalian mikir apa tentang Daren?
trus juga pas awal Part kalian mikir apa?
...Jangan lupa Vote...
...Jangan lupa Like...
...Jangan lupa Komen...
...Jangan lupa favoritkan...
...SELAMAT MEMBACA !!!...