
...Menikah dengan seseorang terkenal, membutuhkan kesabaran dan hati yang besar. besiap menerima segala resiko yang terjadi, termasuk makian dan juga hinaan. ...
...-Fany-...
Fany modar-mandir di dalam kamar mandi, ragu ingin menghubungi Keysa untuk membantunya.
"Halo Sya." sapa Fany setelah sambungan telfon terhubung. Fany sengaja tidak mengucapkan salam untuk menghargai lawan bicaranya, apa lagi yang menelfon adalah dirinya.
"Iya kak kenapa?"
"Gue boleh minta bantuan nggak sama lo?"
"Boleh banget malah, selagi gue bisa kak." Keysa sangat bahagia akhirnya dirinya bisa bermanfaat bagi calon kakak iparnya, ya walau hubungannya dengan Nathan masih terhalang orang tua dan juga agama.
"Gini kan gue ikut lomba, terus salah satu persyaratannya sketsa gue harus di pos di IG gitu, peluang menangnya juga dinilai dari banyaknya yang suka. Lo bisa nggak bantuin gue promosi in sketsa gue, sekalian nge tag akun gue sama akun resmi butik tempat gue bekerja. Tapi jangan di paksain kalau emang nggak bisa." Fany sebenarnya tidak enak meminta bantuan pada Keysa.
"Bisa kok bisa, tunggu gue cek postingan kakak." Keysa lansung mengecek akun Fany tanpa memutuskan sambungany telfonnya.
"Ih gila, baru beberapa jam like nya udah ribuan." Keysa berdecak kagum melihat postingan Fany.
"Masa sih?" Fany tak percaya.
"Iya beneran, di bantu Daren ya?"
"Nggak tau juga sih, tapi katanya dia nggak bisa, tapi mungkin udah di bantuin sama kak Elina."
"Eh Sya, gue matiin dulu ya." izinnya saat melihat salah satu komentar di postingannya.
"Ok kak"
Fany meremas ponselnya setelah membaca komentar-komentar menyakitkan. Moodnya seketika hancur.
"Dih sok-sok an ikut lomba, punya gambar kek cakar ayam."
"Gambar nggak seberapa banyak yang like. Palingan bantuan Daren."
"Maanfaatin ke tenaran Daren kan lo?"
"Ileh gambar jelek gitu di posting bikin sakit mata."
Banyak lagi komntar-komentar menjatuhkan lainnya.
Fany sempat berfikir, apa ia salah jika ingin sukses, ingin memamerkan apa yang menjadi kelebihannya, kenapa semua orang seakan mengangap dia bisa berdiri karena ada Daren di belakangnya.
Kenapa usahanya sekarang ini tidak pernah di anggap semua orang?
Apa ini salah satu alasan Daren tidak ingin membantunya, bagaimana jika Daren tadi membantunya mungkin cacian di kolom komentar lebih menyakitkan.
***
Daren terus memandangi pintu kamar mandi, sudah tiga puluh menit lamanya, Fany belum juga keluar dari kamar mandi membuatnya berdecak kesal.
"Ngapain sih dia di toilet? buang air besar nggak selama itu juga kali." gerutu Daren.
"Sayang!" panggil Daren, dirinya mulai khawatir.
"Yang!" ulang Daren.
"Iya kak!" Sahut Fany dari kamar mandi.
"Kamu nggak papa kan?" Daren memastikan namun masih setia berbaring di atas ranjang.
"Aku nggak papa kok!"Fany buru-buru keluar dari kamar mandi.
"Ngapain sih? lama amat."
"Sekalian sikat gigi tadi kak." kilah Fany ikut naik ke atas ranjang.
"Oh iya, kak Daren udah nyuruh kak Elina?"
"Tuh kan, aku jadi lupa. Maaf ya." Daren mengaruk tengkuknya takut Fany marah.
"Nggak papa, kak Daren nggak usah nyuruh kak Elina udah banyak kok yang like, ribuan malah hebatkan aku." Fany tersenyum lebar mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Siapa dulu dong istri Daren." Daren mencubit kedua pipi cubi Fany. "Udah tidur gih udah malam." Daren mengecup kening Fany lalu menarik wanita itu masuk kedalam pelukannya.
Diam-diam Fany menteskan air matanya, untung saja ia tidur membelakangi suaminya. Percayalah menangis tanpa isakan, sesaknya tidak tertandingi.
"Siapa yang nangis? aku nggak nangis." elak Fany.
"Yaudah tidur." titah Daren.
Daren tidak sebodoh itu bisa percaya dengan istri kecilnya. Mungkin Fany lupa bahwa dia tidur di lengan Daren, dimana pria itu dapat merasakan tetesan air matanya.
Dengkuran halus terdengar lembut di telinga Daren, menandakan Fany sudah telelap dalam pelukannya. Dengan hati-hati Daren menggeser sedikit tubuhnya, meraih ponselnya di atas nakas.
Daren mencari tahu apa yang membuat istrinya menangis, dan kecurigaannya benar-bener terbukti. Entah setiap Fany berurusan dengannya di dunia maya, maka wanita itu selalu mendapat komentar pedas.
Darah Daren mendidih seketika membaca setiap komentar pedas di postingan istrinya. "Jadi ini yang membuat Fany nangis diam-diam."
"Shit." umpat Daren.
Ah sialnya, pergerakan Daren mengusik tidur Fany, gadis itu mengeliat beralih memeluk tubuh Daren.
Dugh
Ponsel Daren terjatuh menimpa wajahnya, karena buru-buru menyembunyikan ponselnya takut ketahuan oleh Fany.
Setelah di rasa Fany kembali telelap, Daren kembali mengambil ponselnya. Susah memang memegang ponsel dengan satu tangan, apa lagi harus mengetik . Ah Daren menyesal mempunyai ponsel terlalu besar.
Dengan susah payah, Akhirnya Daren berhasil mengetikkan sesuatu di kolom komentar. Ia berharap komentarnya ini dapat berpengaruh besar esok hari dan tidak membuat istrinya sedih lagi.
***
Mood Fany pagi ini benar-benar buruk, sedari tadi dia hanya duduk di anak tangga tempatnya bekerja, bahkan ia tidak lagi berani memerika notifikas akun IG nya.
Bukan hanya Fany yang bersedih, Kirana dan Rina juga ikut sedih, melihat temannya murung sedari tadi. Hingga atensi keduanya beralih pada segerombolan orang-orang masuk ke butik.
Kirana dan Rina saling pandang, bukannya semalam di kolom komentar positingan Fany, butiknya di jelek-jelekkan, tapi sakarang orang-orang malah berdatangan belanja di butik itu.
"Fany." tegur Kirana, sementara Rina sudah beralih membantu karyawan lainnya melayani pelangan.
"Fany." sentak Kirana.
"Apaan sih Ran." sensi Fany.
"Udah ngelamunnya, sana gih bantuin yang lain, pelanggan banyak banget hari ini."
"Kok bisa, bukannya..."
"Kita bahas itu nanti." potong Kirana.
***
Fany kembali ke ruangannya setelah makan siang dan melaksanakan Sholat Zuhur. Ia membaranikan mengecek kembali postingannya, dan atensinya teralihkan pada salah satu komentar.
"Gambarnya cantik, yang bilang gambar nya itu jelek matanya mungkin rabun, atau emang suka julid liat karya orang lain. Jika tidak bisa berkaya, setidaknya hargai karya orang lain. Tidak suka silahkan di abaikan jangan malah menjatuhkan. Gue dan rekan-rekan kerja gue sering belanja di butik ini, selain karyawannya ramah-ramah, kualitas bahan dan keasliannya tidak di ragukan lagi."
"Satu lagi, gue nggak pernah ikut campur urusan Istri saya, semua itu murni kerja kerasnya."
Fany mengembangkan senyumnya membaca komentar Daren. Keahlian promosi suaminya itu tidak di ragukan lagi, terbukti saat banyak pelanggan mampir ke butik tempatnya bekerja.
Tidak heran jadwal pometretan Daren sangat padat.
Fany terus mengulir ke bawah, dan tidak ada lagi hujatan, malahan pujian yang ia dapatkan. Walau Fany sadar bahwa pujian itu mungkin hadir karena kehadiran Daren , tapi setidaknya itu tidak membuatnya bersedih.
Fany berniat menghubungi Daren untuk mengucapkan terimakasih. Baru saja ingin menelfon ponselnya lebih dulu bergetar.
MY King is calling
Ah mereka memang sehati.
...TBC...
...****************...
...Jangan lupa Vote...
...Jangan lupa Komen...
...Jangan lupa Like...
...SELAMAT MEMBACA !!!...