
Gadis itu hanya memandangi paper beg di atas meja kerjanya, paper beg yang di berikan oleh suaminya setelah mengantarnya kebutik.
Ya setelah membeli kalung, Daren mengatar istrinya kembali kebutik, dan memberikan salah satu paper beg padanya tanpa mengucapkan sepata katapun dan berlalu pergi.
Gadis itu meraih paber beg yang di berikan suaminya dan membuka isinya, Ia mengembangkan senyumnya melihat kalung berlian yang sempat menarik perhatiannya.
"Ngasih hadiah kek ngasih pakain kotor ke pembantunya, main lempar aja" gerutu Fany saat mengingat bagaimana suaminya memberinya paper beg tersebut.
Gadis itu memasang sendiri kalung berlian itu di lehernya, dan memandanginya lewat pantulan cermin.
"Cantik, makasih ya." ucapnya di depan cermin seolah-olah suaminya bersamanya.
"Fany anggap saja kak Daren yang memakaikannya" lirih gadis itu.
Tanpa gadis itu sadari ada seseorang memperhatikan aktivitasnya di dalam ruangan.
Orang itu menghubungi seseorang dengan raut wajah tidak suka melihat kebahagian Fany.
"Halo kak." ucap wanita itu.
"Ada apa? apa kau mendapatkan kabar baru?" ucap pria itu.
"Dari yang aku lihat, sepertinya mereka menikah memang karena saling cinta, bahkan baru saja kak Daren membelikan sebuah kalung yang sangat cantik untuk Fany." jelas wanita itu.
"Oh baiklah, kita ubah rencana saja." ucap pria itu.
"Aku ikut kak Andra saja, yang penting mereka bisa berpisah, agar aku bisa bersama kak Daren." ucap wanita itu dan memutuskan sambungan telfonya.
"Jika aku tidak bisa menghancurkan karirmu, maka aku akan membuatmu menderita seperti kau telah membuat adikku menderita Daren Danuwinarta." geram Andra meremas ponselnya kuat-kuat.
Sementara di tempat lain, seorang pria tengah bermain hp di ruang ganti setelah ber akting di depan kamera.
"Yon, kapan ulang tahunnya Fany?" tanya pria itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari benda pipi di tangannya.
"Menurut data-datanya sih minggu depan kak, kenapa emangya?" tanya Deon.
"Oh" bukannya menjawab pria itu hanya ber oho ria dan itu membuat Deon kesal.
"Jika saja lu bukan bos gue, udah gue gampar lu." batin Deon.
"Ngapain lu liatin gue kek gitu, lu lagi nyumpahin gue ya" tanya Daren dengan tatapan tajamnya.
"Mana berani gue kak" Jawab Deon mengusap tengkuknya.
"Lalu, hari spesial apa yang di maksud gadis itu? ah sudahlah, ngapain gue jadi mikirin dia sih." batin Daren.
Sesi syuting hari ini telah usai saat hari menjelang sore, dan pria itu juga hendak meninggalkan lokasi syuting, namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.
"Daren!" panggil pria itu.
"Ada apa ?" ketus Daren.
"Lu ngerencanain apa untuk merayakan ulang tahunnya Fany?" tanya Radit langsung pada intinya.
"Ngapain lu nanya-nanya urusan istri gue?" pria itu mulai kesal pada sutradaranya.
"Ya nanya aja, dia kan adik gue" jawab Radit seenaknya.
"Tapi dia itu istri gue." Daren menekankan kata istri.
"Dan lu juga nga usah sok tahu tentang istri gue, ulang tahunnya itu minggu depan bukan hari ini." lanjutnya.
"Oh gitu" sahut Radit. Dalam hatinya pria itu ingin sekali tertawa melihat kepercayaan diri seorang Daren saat mengatakan istrinya tidak ulang tahun hari ini tapi minggu depan.
"Ya." jawab Daren singkat dan meninggalkan Radit. Entah kenapa pria itu sangat kesal ada seorang pria menanyakan tentang istrinya.
"Kenapa aku tidak yakin ya? bahwa Daren mencintai gadis kecilku?" gumam Radit.
Jika saja Radit tahu pernikahan Fany yang sebenarnya, mungkin saja Daren sudah di tendang keluar dari drama frish love, dan tentu saja dengan fisik yang mengenaskan.
"Assalamualaikum gadis kecilnya kakak" ucap Radit.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, ada apa kak Radit menelfonku?" tanya gadis itu dan mendaratkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya.
"Selamat ulang tahun yang ke 21." ucap Radit.
Wajah Fany yang tadinya lesuh seketika berbinar mendegar ucapan selamat dari Radit, ia tidak menyangka masih ada orang yang mengingat ulang tahunnya selain ayahnya.
"Kak Radit tahu ulang tahunku?" tanyanya tak percaya.
"Tentu saja, apa yang tidak aku tahu tentangmu Fan, kamu ada acara malam ini?" tanya Radit, pria itu juga ikut bahagia melihat raut wajah kebahagian terpancar di wajah gadis yang di cintainya.
Ya Radit bisa melihat raut wajah bahagia itu karena mereka sedang video call.
"Hem, aku ada makan malam dengan kak Daren kak, dia juga ingin merayakan ulang tahunku." kilah Fany lagi- lagi tidak ingin Radit mengetahui masalah rumah tangganya.
"Oh gitu." ucap Radit terdengar kecewa, pria itu menatap intens wajah bulat gadis di depannya, mencari kebohongan didalam matanya, namun pandangan itu teralihkan pada subuah kalung yang melingkar inda di leher gadis itu.
"Ternyata dugaanku salah." batin Radit, ia mengira Daren tidak mengingat hari ulang tahun Fany, namun melihat kalung berlian melingkar di leher jenjang gadis itu membuatnya yakin bahwa Daren benar-benar mencintai gadis kecilnya.
"Yaudah, selamat bersenang-senang, Assalamualaikum." ucap Radit memperlihatkan senyumnya mencoba menutupi kekecewaan. Melihat wanita yang di cintainya bahagia sudah cukup membuatnya bahagia, bagi pria itu, mencintai tak harus memiliki.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." gadis itu memutuskan sambungan telfonnya.
...****************...
Lain halnya dengan Fany yang memutuskan mencintai suaminya secara diam-diam, layaknya Fatimah az-zahra yang mencintai Ali Bin Abi Thalib.
Di sisi lain, seorang gadis seumuran dengannya, memutuskan menjadi seperti Khadijah binti khuwailid yang menyatakan cintanya pada Sayyidina Muhammad.
Gadis itu tak lain adalah Keysa, yang memutuskan mengejar cintanya Nathan, gadis itu tidak ingin kehilangan sosok seperti Nathan, yang selain tampan, akhlaknya pun bagus, tak jarang Keysa melihat pria itu menyempatkan waktunya untuk sholat berjamah di mesjid dekat tempat lokasi syuting.
Ya, selama di terima bekerja oleh Radit, Nathan tidak tinggal lagi di rumah kakak iparnya, melainkan ia tinggal di sebuah hotel yang telah di sewa oleh bosnya yang tak jauh dari lokasi syuting, dan itu juga membuat Keysa pindah ke hotel itu dan memesan kamar tepat di samping kamar hotel Nathan.
Malam ini Keysa begitu gelisah karena sedari tadi Ia belum melihat Nathan, bahkan manajernya saja tidak menemukan pria itu.
"Beby sudahlah, sudah sebulan lebih kau mengejarnya, namun lihatlah, dia bahkan tidak melirikmu sama sekali." jelas Jeny yang sudah lelah menghadapi tingkah gadis di hadapanya.
"Sudahlah kau memang tidak becus mencari seseorang." kesal Keysa. "Minggir, biar aku saja yang mencarinya di ruangan para kru." gadis itu mendorong tubuh pria bertulang lunak itu.
"Beby tunggu !"panggil Jeny.
"Diam di situ, jangan mengikutiku." cegah Keysa.
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.
Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭