My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 31


"Hem...hem...hem" Kirana berdehem berusaha mengalihkan kefokusan temannya saat mendegar ponsel gadis itu berdering.


"Apaan sih Ran? ha hem ha hem." Fany mengerutu dan meletakkan pensilya di atas meja.


"Itu kak Daren nelfon." Kirana melirik ponsel gadis itu yang sedari tadi berdering.


"Hah?" Fany tidak percaya jika benar suaminya itu menelfonnya.


"Iya itu, baru juga berpisah udah di telfonin, cie-cie yang lagi kasmaran" goda Kirana menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih Ran."


"Udah ayo di angkat nga usah malu sama gue, gue pergi dulu ya, selamat sayang-sayangan" Kirana berlalu pergi memberikan waktu untuk temannya.


"Hahaha sayang-sayangan? kagak mungkin" Fany menertawakan dirinya sendiri.


Gadis itu menjawab panggilan telfon suaminya.


"Assalamualaikum kak, ada apa?"


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, gue gagal Fan." curhat Daren.


"Gagal kenape?" Fany menaikkan satu alisnya tidak mengerti apa yang sedang di katakan suaminya.


"Gue gagal mengontrol emosi gue, dan malah menyatakan cinta lagi pada Elina."


"Deg" Fany merasa kecewa dengan apa yang di dengarnya dari suaminya, kenapa harus dia? kenapa suaminya malah curhat padanya, apa Pria itu tidak memikirkan perasaanya sama sekali.


"Ternyata menunggu sangat melelahkan, apa lagi menunggu seseorang yang tidak tahu dirinya sedang di tunggu" batin Fany.


"Fan, lu masih hidup kan ?" suara Daren mulai terdengar tidak sabaran.


"Hah? apa ? lu ngomong apa tadi?" gadis itu gelagapan.


"Gue gagal !"


"Ah iya itu, lu nga usah khawatir, kita jalankan rencana kedua."


"Rencana apa?"


"Kak Elina pergi dalam keadaan kamu emosikan?" Fany memastikan.


"Hem"


"Sekarang coba kuasai emosi lu, dan kembali dalam keadaan tenang, jangan lampiaskan amarah kakak pada orang yang tidak bersalah sama sekali" perintah Fany.


"Ada lagi?"


"Ah iya, jangan lupa perlihatkan senyummu dan bersikaplah tidak terjadi apa-apa, satu lagi, jangan mengambil hadiah apapun dari kak Elina, karena itu adalah taktiknya untuk membujukmu."


"Baiklah, Assalamualaikum"


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh" jawab Fany dan memutuskan sambungan telfonnya.


Gadis itu menghembuskan nafas dengan kasar. "Ais Fany, lu itu kenapa hah? kenapa lu malah sedih sih, bukannya lu yang menawarkan bantuan pada kak Daren." maki Fany pada dirinya sendiri merasa aneh kenapa Ia begitu sedih mendegar suaminya sakali lagi mengungkapkan cintanya pada wanita lain.


Tring...


Fany mengembangkan senyummya melihat pesan dari suaminya.



"Ginikan senyumnya?" isi pesan.


Gadis itu cekikikan melihat foto suaminya.


"Emang kak Daren sebahagia itu, sampai-sampai senyum pake kelihatan gigi segala?" balasnya masih dengan tawanya.



"Kalau gini giman**a?"


"Nah itu baru pas, pertahankan ekspresi itu👍"


"Ais kanapa lu tampan banget sih kak?" puji gadis itu sembari memperhatikan foto-foto yang baru saja di kirimkan suaminya.


Sementara di lokasi syuting, Daren benar-benar memainkan perannya sesuai dengan arahan istinya, dan itu membuat Deon dan beberapa kru terharan-heran.


Bagaimana tidak, Elina sudah memberitahukan pada Deon dan beberapa kru yang menangani Daren agar tidak melakukan kesalahan karena suasana hati pria itu sedang buruk, tapi yang mereka lihat sungguh berbanding terbaik.


Bukannya marah, pria itu terus menyungginkan senyumnya dan bahkan meneraktir mereka takjil untuk buka puasa.


"Lu nga lagi kesabet setan kan?" ucap Deon tidak percaya dengan perubahan drastis bosnya, bos yang biasa melampiaskan amarahnya pada orang lain setelah bertengkar dengan Elina namun hari ini seperti bukan Daren yang di kenalnya.


"Lu itu ngomong apasih, emang salah kalau gue baik gitu?" masih dengan senyumnya.


"Gila, lebih menyeramkan jika dia tersenyum" Deon membatin.


"Oh iya ini katanya dari kak Elina" Deon menyerahkan sebuah paper beg coklat pada bosnya.


"Gue nga butuh." tolak Daren.


Pria itu bangkit dari duduknya. "Gue duluan ya" pamit Daren setelah buka puasa bersama rekan kerjanya.


"Tapi ini...."


Sebelum pulang pria itu singgah di salah satu mesjid untuk melaksanakan shalat magrib, setelah itu iya melajukan mobilnya kesebuah butik yang kebetulan di lewatinya.


Di saat yang bersamaan seorang gadis baru saja keluar dari butik bersama dengan temannya.


"Tuh udah ada yang jemput." goda Kirana menyenggol lengan Fany.


"Apaansih?"


"Gue duluan ya" pamit Kirana.


"Hati-hati."


Sepeninggalan temannya gadis itu mengatur nafas dan detak jantungnya, lalu berusaha terlihat biasa saja dan terkesan cuek pada suaminya.


"Lu mau ngapain kesini?"


"Kebetulan lewat aja, jadi sekalian jemput elu" jawab Daren.


"Oh gitu? yaudah tunggu apa lagi." gadis itu langsung nyosor masuk kedalaman mobil sport hitam suaminya.


"Gimana, berjalan dengan lancar nga?" Fany mulai kepo.


"Hampir gagal lagi." jawab Daren namun masih fokus menyetir.


"Lah, kok gitu?"


"Jika saja gue nga buru-buru pergi tadi, mungkin gue sudah ambil tuh paper beg yang isinya hoodie kesukaan gue." curhat Daren.


"Keren, baru satu hari aja udah ada perkembangan, semangat kak." Fany mengacungkan jempolnya ke arah suaminya.


"Siapa dulu dong, Daren Danuwinarta" pria itu menyombongkan diri.


"Idih, baru gitu aja udah sombong" Fany menyebik merasa kesal dengan sikap suaminya.


Suasana kembali hening hingga mobil sport hitam itu berhenti di sebuah restoran.


"Kok berhenti?"


"Belum makan kan?" tanya Daren sembari melepas seatbeltnya.


Gadis itu hanya mengangukkan kepalanya pertanda Ia belum makan sehabis berbuka tadi.


"Yaudah kita makan malam dulu sebelum pulang kerumah" ucap Daren.


Mereka makan malam bersama di sebuah restoran yang tidak terlalu mewah, di mana tempat favorite pria itu bersama Elina. Dan ini pertama kalinya mereka makan malam berdua di luar setelah menikah.


...****************...


Satu bulan telah berlalu, bulan ramadhan pun telah usai, dan selama itu pula sepasang suami istri itu hampir-hampir tidak bertengkar lagi, dan malah semakin dekat, tapi bukan seperti sepasang suami istri melainkan seperti teman saja.


Dan selama itu pula, Elina dan Deon di buat bingung dengan sikap Daren yang berubah drastis, pria itu hampir tidak pernah lagi merajuk atau marah-marah tidak jelas. Yang mereka lihat hanya seulas senyum yang selalu tergambar di wajah tampan pria itu.


"Udah bangun kamu?" tanya Daren saat melihat istrinya keluar dari kamar.


"Iya kak, tumben bangunnya cepat, ada syuting pagi?" tanya Fany ikut duduk di sofa singel.


Ya walau mereka sudah akur seperti teman, tapi batas-batasan yang ada di rumah itu belum di hapuskan Daren sama sekali.


"Kamu nga usah masak untuk makan malam nanti."


"Loh kok gitu? emang kenapa?"


"Berhubung hari ini hari spesial, jadi kamu istirahat saja." ucap Daren.


Wajah gadis itu seketika berbinar mendegar pria itu mengatakan hari ini adalah hari spesial. Ia begitu sangat senang suaminya mengingat hari spesialnya.


"Kak Daren tahu dari mana?"


-


-


-


-


-


TBC


Mohon maaf sekalian ya kakak-kakak cantik/tampan yang imut, babang Daren dan neng Fany lebaran duluan🙏😊😁🤭.


Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.


Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.


Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭