My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 49


Langkah kaki panjang Daren memasuki sebuah kamar hotel yang tidak terkunci. Dan betapa terkejut ia mendapati seorang wanita memakai pakaian yang kekurangan bahan, seperti penjual ayam crispe yang mengobral paha dan dada ayam di pinggir jalan.


Gadis itu menghampiri Daren. "Gue kira lu nggak bakalan datang." ucapnya dan melewati Daren begitu saja.


Gadis itu menutup pintu, tapi tidak menguncinya dan ia sengajanya melakukannya. Ia kembali mengampri Daren yang sedang duduk dengan tenang di atas sofa, menumpu kakinya dengan kaki yang lainnya.


"Cepat berikan surat perjanjian itu." ucap Daren dingin.


Bukannya takut gadis itu malah menyungginkan senyumnya. "Kenapa begitu terburu-buru, bagaimana jika kita menghabiskan waktu berdua dulu." ucap Nara manja mengelus lembut dada Daren yang di lapisi kejama hitamnnya.


Daren menghempaskan tangan Nara dari tubuhnya.


Bukannya menyerah, gadis itu kembali mengelus kemeja Daren, dan kali ini ia bahkan lebih berani membuka satu persatu kancing kemeja yang di kenakan pria itu.


"Sudah gue duga, lu nggak benar-benar mencintai Fany ia kan? tidak mungkin seorang Daren mencintai gadis kelas rendahan sepertinya." ucap Nara masih dengan aktivitasnya, dan bodohnya Daren tidak mengelak sedikit pun, apa Daren terbawa suasana? ah aku mohon semoga itu tidak terjadi.


"Apa bedanya dia dengan lu? bahkan dia lebih baik dari lu." ucap Daren dengan tatapan mengejek kearah Nara.


"Cepat berikan surat perjanjian itu !" suara Daren naik satu oktaf.


"Sudah gue bilang, habiskan waktu lu malam ini sama gue setelah itu gue akan berikan surat perjanjiannya." ucap Nara menyeringai.


"Apa gue bisa percaya dengan janji lu itu?"


"Tentu saja, karena hanya gue yang bisa lu percaya." ucap Nara, kini tangan gadis itu sudah nangkrin di dada bidang Daren tanpa terhalang apapun.


"Baiklah, jika itu mau lu, dengan senang hati gue lakuin" ucap Daren menyanggupi permintaan aneh Nara.


Baru kali ini Daren temui gadis seperti Nara, yang menawarkan dirinya untuk melayani seorang pria yang bukan mahromnya sama sekali, tapi karena dia yang menawarkan, Daren dengan senang hati menerimanya. Tidak ada se ekor kucingpun menolak jika di beri tulang ikan oleh tuannya. Begitulah kata pepatah.


Daren bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ranjang, mendudukkan tubuhnya di sana menunggu Nara menghampirinya.


Nara menghampiri Daren dan memberikan segelas jus jeruk. "Minumlah dulu sebelum kita melakukannya." pinta Nara.


"Tanpa meminum itu pun, gue bisa melakukannya, siapa sih yang mempu menolak gadis cantik dan seksi seperti lu." ucap Daren.


Pria itu dapat menebak apa yang ada di dalam minuman itu, apa lagi jika bukan obat peran*sang.


"Baiklah tunggu disini, gue matiin ponsel gue dulu, agar tidak ada yang mengganggu kita." ucap Nara, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang setelah itu ia me nonaktifkan ponselnya.


Gadis itu kembali mengampiri Daren, dan mendorong tubuh kekar itu agar telentang di atas ranjang, gadis itu merayap naik ketubuh kekar pria itu.


"Lihat gue baik-baik, hari ini gue akan memuaskan lu." ucap Nara dengan suara menggoda.


Sebelum gadis itu menciumnya, Daren dengan cepat membalik posisinya, di mana Nara ada di bawah kungkungannya dengan tengkurap.


"Tidak usah basa-basi kita langsung saja." ucap Daren.


Pria itu mengelus lengang mulus Nara hingga pergelangan tangannya dan.


Grep.


Daren berhasil mengunci pergerakan gadis itu.


"Lu pikir gue laki-laki brengsek seperti laki-laki di luar sana hah? dan jikapun ia, gue akan berfikir seribu kali jika harus tidur dengan lu yang entah sudah leberapa kali melakukanya, dan ingat gue tidak akan khianatin istri gue. Asal lu tahu saja, istri gue lebih menggoda daripada lu." ucapnya dengan nada mengejek.


"Apa yang lu lakuin hah? apa lu lupa, surat perjanjian itu ada di tangan gue, jika lu nyakitin gue, siap-siap saja surat perjanjian itu akan menyebar keseluruh media sosial, dan lu pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Nara balik mengancam.


"Oh ya? apa lu kira gue bodoh? dan akan datang begitu saja dengan tangan kosong? jawabannya tidak, gue tahu lu akan melakukan hal gila seperti ini." Daren melepaskan satu cengkramannya tapi masih dengan posisi yang sama di mana ia mengunci pergerakan Nara.


Pria itu melempar ponselnya keatas tempat tidur tepatnya di hadapan Nara.


Gasi itu membulatkan matanya, saat melihat ponsel Daren sedang memutar sebuah rekaman di mana ia membobol sandi apartemen Daren dan masuk kekamar Daren mengambil surat perjanjian itu.


"Gue kesini, karena ingin beri lu satu kesempatan lagi, jika tidak, sudah dari dulu gue laporin lu kepolisi" ancam Daren.


"Dan lu...."


Suara yang begitu nyaring terdengar di telinga Daren, suara yang tidak asing baginya.


Pria itu mengalihkan tatapannya ke sumber suara dan benar saja, wanita yang bersatus istrinya tengah memandanginya dengan tatapan yang tajam.


Daren refleks melepaskan kuciannya pada tangan Nara, dan menghampiri Istrinya.


"Fan, aku bisa jelaskan semuanya." ucap Daren.


"Akhirnya lu datang juga Fan, gue nggak nyangka ternyata pelangan kita itu suami lu, dan lebih tidak nyangkanya gue saat suami lu melecehakan gue." ucap Nara dan berlari keluar dari kamar meninggalkan sepasang anak adam di dalam ruangan itu.


"Fan gue bisa jelasin semuanya." ulang Daren dan berjalan ke tempat tidur mengambil ponselnya dan memberikannya pada Fany.


"Lihat, aku kesini karena ingin mengambil surat perjanjian yang dia curi beberapa hari yang lalu, tidak lebih, percayalah!" jelas Daren.


"Aku tidak menyangka Nara akan melakukan itu." lirih Fany.


"Jangan terlalu percaya pada seseorang. Orang yang sangat dekat denganmu, adalah orang yang paling berpeluang menyakitimu." nasehat Daren.


"Kamu benar." Fany membenarkan ucapan suaminya.


Namun hatinya masih sakit, saat mendapati satu kenyataan yang begitu menyinggung perasaanya.


Sepanjang perjalan pulang ke apartemen, Fany terus mendiamkan Daren, walau pria itu sudah berusaha mencairkan suasana, bahkan hingga mereka sampai di rumah pun, Fany masih engan itu bicara pada suaminya.


"Kamu masih marah soal kejadian tadi? aku kan sudah jelaskan semuanya, atau aku masih punya salah sama kamu? kalau begitu kasi tahu aku apa itu, agar aku bisa memperbaikinya." pinta Daren sudah tidak sanggup jika terus-terus di diamkan oleh istirnya.


Pria itu sudah terbiasa dengan omelan-omelan istrinya, jadi ada yang kurang jika Fany terus saja diam. Lebih baik pria itu di maki dan di omeli sampai pagi jika harus di diamkan seperti ini.


"Aku tidak marah sama sekali tentang kejadian di hotel itu, dan aku memaklumi itu." jawab Fany.


"Lalu apa yang membuatmu terus saja diam?" tanya Daren frustasi.


"Aku itu kecewa sama kak Daren, ternyata kak Daren selama ini.........


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Maaf ya akak-akak cantik dan imut-imut, author nggak up kemarin karena ada masalah kesehatan.


Dan terimakasih karena kalian masih setia nungguin babang Daren dan Fany.


Bdw ada yang tau nggak, kenapa neng Fany kecewa sama babang Daren?🤔.


Ada yang tau nggak hari ini hari apa? pasti tahu dong, jangan lupa vote nya, yg banyak ya🙏😁


SELAMAT MEMBACA