
Setelah makan malam, Fany dan Daren bersantai di ruang tamu, di mana keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Fany yang sibuk dengan sosial medianya, dan Daren yang sibuk main game di pangkuan istrinya.
Gadis itu meletakkan ponselnya saat teringat sesuatu, ia mengusap rambut suaminya dengan lembut.
"Kak." panggilnya.
"Iya sayang." sahut Daren masih sibuk bermain game.
Entah mengapa ini bukan pertama kalinya Daren memanggilnya sayang, namun tetap saja jantungnya tetap saja berdetak tidak karuan jika mendengar kata itu keluar dari mulut suaminya.
"Yang." panggil Daren.
"Hmm." sahut Fany masih mengelus rambut suaminya.
"Tadi manggil, sekarang malah diam, ada apasih yang, hm?" tanya Daren menatap mata istrinya.
"Kak Daren tadi janji mau nyeritain tentang keluarga kakak, kok sekarang malah sibuk main game sih." Fany mengerucutkan bibirnya.
"Ya ampun aku hampir lupa yang, maaf ya." Daren cengegesan, ia baru ingat janjinya tadi saat di rumah Omannya.
"Belum tua aja udah pikun, gimana kalau tua nanti." gerutu Fany.
"Kan ada kamu yang, yang ingetin aku." Daren mengelus pipi Fany.
"Ayo cerita kak!"
"Aku nggak tau mau mulai dari mana, gimana kalau kamu yang nanya nanti aku jawab." ide Daren.
"Hmmm, baiklah." Fany mengiyakan ide suaminya.
"Orang tua kak Daren kemana? kok aku ngga liat pas di rumah Oma, yang ada cuma kak Kevin dan istrinya?" tanya Fany.
Raut wajah Daren yang tadinya bahagia, kini terlihat sendu. Ia menghela nafas beberapa kali dan kembali bersuara.
Daren mengengam erat tangan istrinya, seolah mencari kekuatan agar tetap tegar.
"Aku hanya tahu seperti apa rupa ayah dan ibuku, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya." Daren terdiam.
"Hah maksud kak Daren?" Fany mengerutkan keningnya.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Daren malah menenggelamkan wajahnya pada perut rata istrinya, memeluk pingang istrinya dengan erat.
"Kata Oma, ayah meninggal saat aku dalam kandungan ibu, sedangkan ibu meninggal saat melahirkan aku." lirih Daren.
Fany kembali mengelus kepala seaminya, ia tahu sekarang suaminya sedang menangis saat merasakan baju yang di pakaiannya basah.
"Maaf." lirih Fany, ia juga ikut meneteskan air mata seakan merasakan bagaimana kesediaan suaminya.
"Nggak, sudah seharusnya kamu tahu tentangku dan juga keluargaku, karena kamu adalah istriku." jawab Daren.
"Dari cerita yang aku dengar dari Oma, Aku adalah anak tunggal, ibuku adalah adik dari ibunya kak Kevin. Setelah ibu meninggal, ibu kak Kevin mengasuhku dan mengangkatku sebagai anaknya. Aku di besarkan oleh orang tua Kak Kevin layaknya anaknya sendiri, mereka tidak pernah membedakanku dengan kak Kevin. Mereka memberikan hak, sebagaimana hak Kak Kevin. Namaku terdaftar sebagai pewaris di keluarga Adithama seperti halnya, kak Elvan dan juga Kak Kevin."
"Setelah lulus SMA, Aku dan kak Kevin di kirim ke luar Negeri untuk belajar oleh Oma, karena saat itu kedua orang tua kak Kevin juga sudah tiada. Kak Kevin mengantikan perang orang tuanya untuk menjagaku, walau umur kita tidak jauh beda. Aku melanjutkan studiku di Amerika sementara kak Kevin pulang ke tanah air untuk mengelola perusahaan Adhitama, walau sebenarnya itu bukanlah keinginnya. Tapi Ia rela mengubur mimpinya menjadi seorang jaksa demi melihat Oma bahagia."
"Berbeda denganku, aku begitu egois mengejar mimpiku menjadi seorang Idol. Aku mengecewakan orang-orang yang telah berjasa kepadaku, terutama pada Oma dan juga kak Kevin. Dua tahun yang lalu, aku pulang ke kediaman Adhitama untuk memberikan kabar bahagia pada mereka bahwa aku di terima di salah satu agensi besar. Namun saat sampai di rumah, aku mendapati kak Kevin yang begitu kacau dan kurang semangat hidup, aku mengurungkan niatku untuk memberi tahukan berita bahagia itu."
"Sampai di mana Oma mendatangiku di kamar dan membujukku untuk mengelola Adhitama Grup mengantikan kak Kevin untuk sementara waktu. Berkali-kali Oma membujukku dan itu membuatku tertekan, dua hari lagi aku di rekrut masuk ke agansi itu, dan Oma juga terus membujukku untuk menggantikan kak Kevin. Tanpa memikirkan perasaan keluargaku, aku kabur dari rumah dan lebih memilih menjadi Idola dari pada seorang CEO. Padahal bisa aja aku menolak dengan halus permintaan Oma, karena aku tahu Oma tidak akan memaksakan kehendaknya. Dan sampai dua tahun lamanya aku tidak punya keberanian datang kerumah itu lagi, rasa bersalah dan penyesal terus menghantuiku. Dan entah mengapa aku mempunyai keberanian itu hari ini, dan ternyata ketakutanku tidak beralasan. Mereka malah menerimaku dengan baik dan tidak membenciku sama sekali. Ternyata benar kata pepatah, penyesalan adalah neraka terbesar dalam hidup." Jelas Daren panjang lebar.
"Pantas saja kak Kevin tadi memukul Kakak." Fany membuka suara setelah dirasa suaminya selesai bicara.
"Itu tidak sebanding dengan kesalahan ku di masa lalu." ucap Daren.
Keduanya kembali terdiam, Hening, itulah yang terjadi di ruangan itu, rasa canggung menyelimuti keduanya.
"Hmm." Daren berdehem dan bangun dari tidurnya.
"Mau kemana kak?" tanya Fany saat melihat suaminya beranjak dari tempatnya.
"Ayo ke kamar." ajak Daren.
"Ngapain?" tanya Fany polos.
"Melakukan apa yang seharusnya di lakukan sepasang suami istri." ucap Daren menaik turunkan alisnya.
Blus
Rona merah tergambar jelas di pipi gadis itu, pikirannya sudah traveling kemana-mana.
"Kak Daren mesum ih, aku kan masih datang bulan." ucap Fany menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ingin rasanya Daren tertawa. "Emang kalau di dalam kamar bersama suami, hanya bisa ngelakuin itu ya? kan kita bisa ngelakuin yang lain." Tawa Daren seketika pecah.
"Yang mesum itu aku apa kamu, hm?" Daren menjawil hidung mancung gadis itu.
"Ais kak, sakit tahu !" kesal Fany mengusap hidungnya yang memerah.
Malu jangan di tanya lagi bagaimana malunya, dan yang harusnya di salahkan adalah otaknya yang selalu ngeres.
***
Dan di sinilah mereka berada di dalam kamar, saling berhadapan di atas ranjang king zise Pria itu.
"Mua ngapain sih kak?"
"Aku mau kenal kamu luar dan dalam." jawab Daren senyum kemenangan.
"Hah?"
Daren yang gemas melihat respon istrinya segera mencubit kedua pipi gadis itu. "Pikirannya ngga udah ngeres, yang." goda Daren berhasil membuat wajah Fany merona merah.
"Ais siapa juga yang ngeres." Fany mengerucutkan bibirnya sebal.
"Yaudah, aku mau nanya, tapi kamu harus jawab jujur ya, awas kalau bohong !" ancam Daren.
"Iya." jawab Fany singkat padat dan jelas.
"Seberapa banyak mantan kamu?" tanya Daren.
"Kok nanyanya itu sih, nggak ada yang lain apa?" protes Fany.
"Aku maunya itu, ayo buruan di jawab !" desak Daren.
"Nggak ada." jawab Fany.
"Ah nggak percaya aku, kamu pasti bohong."
"Yaudah mantan aku ada sepuluh." ucap Fany bangga.
"Banyak amat." protes Daren.
Fany mendegus kesal. "Kak Daren maunya gimanasih? di jawab nggak ada, nggak percaya, di jawab sepuluh malah protes." kesal Fany.
"Emang kamu nggak penasaran gitu berapa jumlah mantan aku?" tanya Daren menaik turunkan alisnya.
Bukannya bertanya, Fany malah tertawa. "Buat apa coba aku nanyain mantan-mantan kak Daren, aku itu udah tahu semua mantan-mantan kak Daren dari internet." ucapnya menepuk-nepuk bantal yang di pegangnya.
"Iya juga ya." Daren mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tunggu..........
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Maaf ya kalau di Part ini author terlalu bertele-tele dan nggak nyambung gitu ngejelasin tentang kehidupan Daren😁.
Jangan lupa ramein di kolom kementar ya, karena kalau rame author juga semangat up nya🥰🙏.
SELAMAT MEMBACA !!!!