My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 43


Akhirnya kakak beradik itu bisa bernafas lega setelah syuting para orang yang di cintainya telah selesai.


"Than, maaf." ucap Keysa menarik-narik ujung kemeja pria itu.


Nathan hanya bisa tersenyum. "Buat apa kamu minta maaf, kamu itu nggak salah." ucapnya lembut.


Daren tanpa rasa bersalah menghampiri istrinya dan mengamit pinggangnya lalu mengembangkan senyumnya.


"Apaan sih nih orang, datang-datang langsung meluk, minta maaf kagak." batin Fany menatap suaminya jengah.


"Fan kamu mau langsung balik atau--."


"Baliklah, mau ngapain lagi dia di sini, nggak ada kerjaan amat." ketus Daren.


"Hem, gimana kalau malam ini kita makan bersama." usul Keysa yang baru sayang datang bersama Nathan.


"Boleh." jawab Radit singkat.


"Kak Fany gimana mau nggak?" tanya Nathan.


"Ayo." ucapnya penuh semangat.


Lain halnya dengan Daren yang tidak terlalu tertarik dengan usulan Keysa, walau begitu Ia ikut dong, nggak mungkin pria arogan itu membiarkan istrinya dekat-dekat dengan Radit.


***


Dan disinilah mereka berada di sebuah restoran yang terbilang mewah dan sangat privasi.


"Makan yang banyak." ucap Fany menyendokkan beberapa lauk ke dalam piring adiknya.


Belum juga lauk itu sampai kepiring Nathan, seseorang lebih dulu mengambilnya dan memakannya, siapa lagi kalau bukan Daren.


Pria itu begitu kesal melihat perhatian istrinya hanya tertuju pada adiknya dan tidak padanya.


Nathan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap posesif kakak iparnya.


"Nggak usah manjain aku kak, manjain aja tuh suami kakak." celetuk Nathan.


Fany menghiraukan perkataan adiknya, melanjutkan makannya tanpa rasa bersalah sedikitnpun pada Daren yang masih kesal di sampingannya.


"Fan, aku punya sesuatu loh buat kamu." ucap Radit memecah keheningan.


Ia mengelurkan sesuatu di dalam tasnya, dan memberikan benda itu pada Fany.


"Buta aku?" gadis itu memastikan.


"Iya buat kamu."


"Lah kok bukunya nggak ada gambar atau tulisannya kak?" Fany mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan hadiah yang di berikan Radit, sebuah buku setebal 5 cm namun isinya hanya kertas kosong.


Daren senyum mengejek. "Buku apaan itu, nga ada manfaatnya sama sekali." celetuknya.


Nathan dan Keysa memutuskan diam saja memperhatikan interaksi ketiga manusia di hadapannya.


"Aku sengaja memberi buku kosong itu padamu, agar kamu bisa menyimpan hasil desainmu di sana, siapa tau suatau saat nanti kamu bisa jadi desainer terkenal." ucap Radit.


"Gue sampai nggak kepikiran sejauh itu loh kak, tapi makasih ya, gue akan isi buku ini sampai penuh." ucapnya dengan senyuman yang sangat tulus.


"Buku gitu aja gue juga bisa beli." gumam Daren hampir tak terdengar, walau begitu Fany dapat mendegarnya.


Gadis itu mencubit perut suaminya.


"Auw." Daren meringis.


"Kak Daren kenapa? sakit perut ya?" tanya Fany tanpa rasa bersalah.


Pria itu hanya bisa tersenyum, senyum yang di paksakan. "Nggak sayang." ucapnya mengelus rambut Fany, tapi bagi gadis itu, itu adalah sebuah ancaman.


"Oh iya kak, kayaknya kak Radit sama kak Fany dekat banget, kenal di mana?" tanya Nathan, mewakili jiwa kepo seorang Daren.


"Tantu saja kami dekat, dulu saat Fany masih kecil ia tinggal di rumah aku, tumbuh besar bersama layaknya saudara kandung, dia gadis yang sangat manja dulu, tapi sekarang sudah berubah ia sudah tidak manja lagi." jelas Radit.


"Siapa bilang dia tidak manja, ia sangat manja tapi padaku saja." ketus Daren, ia tidak terima jika istrinya dulu pernah satu rumah dengan Radit, apa lagi bersikap manja, bahkan ia tidak pernah melihat gadis itu manja padanya.


Fany reflek menendang kaki Daren, ia tidak suka di tuduh yang tidak-tidak.


"Kenapa sayang?" tanya Daren tanpa rasa bersalah.


"Tau ah." Fany mencebik merasa kesal dengan sikap suaminya.


"Hmm, kak aku boleh dekat nggak sama Nathan?" lirih Keysa.


"Hah?"


"Aku boleh dekat nggak sama Nathan?" ulang Keysa.


Gadis itu mengembangkan senyumnya. "Tentu saja kamu boleh dekat dengannya, aku tidak punya hak mengatur hidupnya sepenuhnya, selama ia dekat dengan wanita dalam hal yang wajar dan tidak berlebihan." ucap Fany meneguk jus jeruknya.


"Beneran?" Keysa memastikan, ternyata selama ini ketakutannya tak beralasan, ia mengira Fany akan menetang hubungnnya mengingat perlakuannya dulu yang sangat buruk padanya.


Gadis itu hanya mengangguk.


***


Gadis itu mendaratkan tubuhnya di sofa, merasa lelah seharian berada di lokasi syuting suaminya.


"Capek ya?" tanya Daren berkacak pinggang di hadapan istrinya.


Gadis itu hanya mengangguk.


"Oh, sama aku juga." jawabnya dan berlalu pergi.


"Giliran di rumah aja, cueknya minta ampun, eh pas diluar gue kayak ratu aja nggak bisa di deketin sama pria lain." gerutu Fany.


"Lu itu punya rasa sama gue atau nggak sih?" lanjutnya, walau orang yang di bicarakan mungkin sudah tenang di dalam kamarnya.


***


Seperti hari-hari biasanya, Fany akan berangkat bekerja lebih dulu di banding suaminya. Mungkin karena suaminya sorang aktor membuat jadwalnya berubah-ubah, kadang siang, kadang malam, dan kadang juga subuh-subuh.


"Kak aku pamit ya." ucapnya.


"Hmmm."


Gadis itu hanya bisa menghela nafas, selalu itu jawab yang di berika suaminya jika dirinya pamit.


"Fany !" panggilnya saat gadis itu akan melangkah keluar.


"Apa lagi?"


Pria itu tak menjawab dan hanya mengulurkan tangannya.


Gadis itu megerutkan keningnya, merasa bingung melihat suaminya mengulurkan tangan kanannya.


"Ngapain?"


Lagi- lagi pria itu tak menjawab dan hanya mengayung-ayungkan tangan kanannya kedepan.


Gadis itu mengembangkan senyumnya, sekarang ia mengerti apa keinginan suaminya, ia melangkah mendekat, meraih tangan kekar itu dan menciumnya. " Assalamualaikum." ucapnya.


"Waalaikumsalam." jawab Daren.


Di dalam lift gadis itu terus mengembangkan senyumnya, merasa bahagia. "Ah demi apa gue seperti istri yang mencium tangan suaminya." ucapnya.


"Eh tunggu? gue kan emang istrinya? ah dasar bego lu Fan." ucapnya pada diri sendiri.


Belum juga sampai di tempat kerja, gadis itu sudah mendapatkan pesan dari suaminya.


Mr arogan


"Makan siang nanti bawain aku makanan ke lokasi syuting ya !"


^^^Gadis menyebalkan^^^


^^^"Hmm"^^^


***


Makan siang telah tiba, sesuai permintaan Daren, Fany membawa bekal makan siang ke lokasi syuting, makan siang spesial yang ia buat sendiri untuk suami tercintanya.


"Fany !" panggil seorang pria menghampirinya.


"Eh kak Radit." sapanya dengan senyuman manisnya.


"Ngapain?"


"Ini bawain makan siang untuk kak Daren." jawabnya menunjuk seorang pria yang sedang serius berbicara dengan asistennya.


Pria itu hanya bisa menganguk.


"Aku kesana dulu ya kak." pamitnya pada Radit.


Sementara Daren benar-benar tidak menyadari kehadiran istrinya, ia sedang sibuk bercerita dengan asistennya.


"Gimana?" tanyanya


"Belum ada kabar kak, sepertinya itu bukan hanya fans kak Daren deh, buktinya belum ada petunjuk sedikitpun, gue rasa pelakunya bukan orang sembarangan kak." jelas Deon, sudah hampir satu bulan lamanya, ia mencari pelaku penculikan namun nihil.


"Fany awas !" teriak Radit.


Brak !!!


-


-


-


-


TBC


Heh apa yang terjadi pada Fany?🤔


Readers : Ngapain senyum-senyum gitu thor?


Auhtor : Ini besok kan hari senin ya😊?


Readers : Iya kenapa thor?


Author : Bentar lagi kalian pada dapat vote kan ya.


Reader : Iya thor, emang kenapa?


Author : ih kamu mah gitu, aku kan mau vote kalian😊🥰


Readers : dasar auhtor maksa baget pengen di vote.


Auhtor : supaya semangat up nya.


Readers : iya deh thor nanti aku vote👍