
"Tunggu ! aku baru ingat, Kamu kan selalu ngepoin kehidupan aku, kamu itu sangat fans sama aku ia kan sayang?" ucap Daren.
"Apa sih kak, orang biasa aja " kilah Fany yang masih gengsi mengakui bahwa sebenarnya ia adalah salah satu fans suaminya.
"Ngaku aja, aku punya buktinya kok." ucap Daren turun dari ranjang.
Pria itu berjalan ke arah lemari, lalu mengambil dus berukuran sedang dan membawanya ke atas tempat tidur.
Pria itu menyeringai dan menumpahkan seluruh isi dus tersebut.
"Lalu ini semua apa ?" tanya Daren bersedekap di hadapan istrinya.
Fany yang melihat foto-toto suaminya dan beberapa album suamianya menutup mulutnya tak percaya, kini wajahnya semakin memerah.
"Kok semua ini ada sama kak Daren?" tanya Fany.
Susah payah ia menyembunyikan album dan foto-foto suaminya, tapi sekarang foto-foto itu ada di hadapannya, dan lebih horornya lagi yang menemukan semua itu adalah suaminya.
"Aku menemukan semua ini di lemarimu saat aku mencari sesuatu." jawan Daren santai.
"Terus kenapa kalau itu semua punya aku? toh itu dulu sebelum aku bertemu langsung dengan kak Daren, sekarang aku sudah...."
"Sudah apa, hm?" potong Daren.
Daren terus mendekatkan wajahnya ke ke wajah istrinya, semakin dekat, membuat Fany menggeser duduknya hingga ke pinggir ranjang.
Jleb
Tangan Fany tidak menyentuh kasur lagi membuat tubuhnya terhuyung kebelakang. Reflek ia mengalungkan tangannya di leher suaminya.
Daren menyeringai ini adalah kesempatan baginya. "Ayo katakan sudah apa hm?" ulang Daren.
"Ka...karena se...karang ak...aku sudah bersama kak Daren, jadi aku tidak membutuhkan itu semua." sungguh bukan itu yang ingin di katakan Fany, tapi ia tahu jika ia salah bicara maka tubuhnya akan terhempas ke lantai.
"Tentu saja, kamu kan sudah memiliki aslinya dan tentunya lebih tampan." ucap Daren narsis.
"Iya kak Daren benar, kalau begitu bantu aku bangun." pinta Fany.
Sungguh posisinya sekarang, membuat jantungnya tidak aman.
"Katakan dulu bahwa kamu mencintaiku !" titah Daren.
Fany diam saja, lidahnya terasa keluh untuk mengatakan itu.
"Ayo katakan !" pinta Daren. "Ya udah kalau nggak mau." Daren menyentuh lengah Fany yang masih setia melingkar di lehernya, pria itu bersiap melepas tangan istrinya.
"Sa...tu du...a ti.."
"Aku cinta kamu." teriak Fany.
"Kamu siapa, hm?" tanya Daren sok polos.
"Ais, nih orang nyebelin banget sih, ya Kamu lah masa ia setan." batin Fany.
"Kak Daren." lirih Fany.
"Iya aku kenapa?" tanya Daren menahan senyumnya.
"Aku mencintaimu kak Daren suamiku." teriak Fany memejamkan matanya.
"Aku juga cinta sama kamu istriku." ucap Daren mengecup kening Fany dan menarik gadis itu kembali duduk di atas tempat tidur.
Blus
Rona merah menyebul begitu saja di pipi gadis itu.
"Yang, pipi kamu merah, kamu demam?" goda Daren menyentuh pipi Fany yang memerah.
"Udah ah, nyebelin tau nggak !" kesal Fany menghempaskan tangan Daren.
Tring.
"Siapa ?" tanya Daren penuh selidik saat mendengar suara notifikasi di ponsel istrinya.
"Kak Radit." jawab Fany dan membaca pesan dari Radit.
"Ngapain dia hubungin kamu malam-malam gini?" ketus Daren, raut wajahnya tidak seperti tadi.
"Urusan pekerjaan kak?" jawab Fany.
"Jangan bilang Radit salah satu mantan kamu !" tuduh Daren.
"Ya kali aku pacaran sama kak Radit, nggak mungkinlah, orang aku angap kak Radit kakak aku sendiri nggak lebih."
"Bagus deh kalau gitu." jawab Daren datar.
"Boleh aku tidur di pangkuan kamu?" tanya Daren.
Tanpa menunggu jawaban istrinya, pria itu mendaratkan kepalanya di paha gadis itu.
"Mikirin apa sih yang?" tanya Daren saat melihat Fany diam saja sedari tadi.
"Aku cuma masih nggak percaya kak Daren secepat itu mencintaiku." jawab Fany.
"Kok ngomongnya gitu?"
"Secara kak Daren sudah kenal dengan kak Elina sudah sepuluh tahun lebih, masa ia semudah itu kakak bisa melupakannya? Aku jadi takut suatu saat nanti kakak Daren melupakanku seperti apa yang kak Daren lakukan pada kak Elina, secara kita baru kenal beberapa bulan ini, dan itu tentu saja membuat kak Daren lebih muda melupakanku."
"Fany, jangan ngomong gitu aku nggak suka." ucap Daren datar.
"Sampai kapan kak Daren mencitaiku? sebulan, dua bulan? atau setahun?" Fany terus saja bicara dan menghiraukan ucapan Daren.
Pertanyaan Fany sontak mengundang emosi pria itu, untuk apa coba istrinya mempertanyakan cintanya? apa dia ragu akan ketulusan cintanya?
Pria itu bangun dari tidurnya lalu duduk menghadap istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan. Pria itu mengenggam tangan Fany dengan erat.
"Dengarkan aku, kamu dan Elina itu berbeda. Saat aku dekat dengan Elian, aku merasa seperti anak kecil yang selalu butuh kasih sayang ibunya. Tapi saat bersamamu aku merasa menjadi diri sendiri, menjadi lebih dewasa dan tidak bergantung, selalu memikirkan cara bagaimana caranya untuk melindungimu dan membahagiakanmu. Jadi intinya selama ini aku tidak mencintai Elina tapi aku hanya bergantung padanya, mungkin karena aku sudah begitu lama bersamanya."
"Dan tentang pertanyaanmu tadi, jawabku adalah selamanya, aku akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Aku akan berusaha untuk selalu ada untukmu, selalu di sampingmu menemanimu kala suka maupun duka." ucap Daren mengecup punggung tangan Fany.
"Janji." Fany mengulurkan jari kelingkingnya kehadapan suaminya.
"Aku tidak bisa janji, karena kita tidak tahu takdir kita kedepannya, tapi aku akan berusaha untuk itu." ucap Daren yang tidak ingin menjanjikan apapun pada Istrinya.
"Maaf karena sempat meragukanmu." tanpa abah-abah Fany memeluk tubuh kekar suaminya.
"Udah nggak apa-apa, aku tahu ke khawatiranmu. Ya udah kita tidur yuk udah tengah malam." Daren mengelus rambut istrinya dan melepas pelukannya.
Gadis itu mengeleng. "Kak Daren tidur duluan saja, aku masih ada pekerjaan." ucap Fany dan turun dari rajang.
"Mau kerja apa lagi yang, udah tengah malam besok aja." cegah Daren.
"Tapi aku harus menyerahkan desain itu besok." jawab Fany.
"Ya udah, kerjaannya di sini saja, aku akan nemenin kamu." pinta Daren.
"Hmm."
Gadis itu kembali ke kamar suaminya membawa beberapa kertas dan juga pensil di tangannya, ia lalu duduk di meja kerja suaminya.
"Ngapain di situ, kerjanya di sini aja, nanti aku bantuin." tawar Daren menepuk ranjang yang di tidurinya.
Akhirnya Fany mengerjakan pekerjaannya di atas ranjang, bersama suaminya, di mana Daren tiduran di pangkuannya, bukannya mempermudah, pria itu malah mempersulitnya. Bagaimana tidak, bagaimana caranya coba Fany bisa mengambar jika pria itu tidur di pangkuannya.
"Gimana kalau yang ini di pindahin kesini, kayaknya lebih cocok deh." Ide Daren mengoreksi gambar istrinya.
"Oh iya ya, kok aku nggak kepikiran." ucap Fany girang dan mengubah gambarnya menerima ide suaminya.
Fany melirik suaminya, dan tersenyum saat melihat pria itu tertidur pulas menghadapnya. Ya Daren pindah dari pangkuan Fany saat gadis itu mengeluh bahwa kakinya keram.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Readers karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.
Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭.