
"Kak apa yang kamu lakukan." ucap Fany mencegah tangan kekar suaminya, yang akan melakukan hal gila.
"Aku juga ingin seperti mereka yang bisa jalan dengan pasangannya tanpa ada penyamaran." jawab Daren melepas satu persatu penyamarannya.
"Tapi kamu beda kak, semua orang akan menyorotimu." Fany memperingatkan.
"Tidak masalah, toh kamu istriku." jawabnya dengan senyuman mengembang, ia juga melepaskan penyamaran yang melekat di wajah istrinya.
Daren menggenggam tangan istrnya memasuki Mall, tujuan utamanya adalah Bioskop.
Gadis itu sesekali menjerit saat menonton, bagaimana tidak, Ia mengira suaminya akan mengajaknya nonton Film romantis, tapi realita tak sesuai ekspektasi, suaminya malah mengajaknya nonton film horor.
Namun itulah yang di inginkan Daren, sedari tadi istirnya memeluk lengannya, ia tahu betul Fany paling takut dengan yang namanya hantu.
Namun pria itu sangat kesal, belum juga ia menikmati pelukan istrinya, seseorang sudah mengenalinya dan mulai mengaggunya.
"Kamu kak Daren kan? ia kan?" tanya seorang gadis yang duduk di samping Daren.
"Ah demi apa aku bisa nonton barang kak Daren." teriak gadis itu, dan tentu saja mengundang perhatian seluruh manusia di dalam ruangan itu.
Keduanya mengedarkan pandangannya, dan membuang nafas kasar saat orang-orang mulai mengerumuninya untuk meminta foto dan menghiraukan Film yang tengah berlangsung.
"Satu, dua...tiga...Kabur !" teriak Daren menarik tangan istrinya keluar dari ruangan itu.
Keduanya terus berlari, hingga jauh menghindari kejaran para Fans-fans yang ingin berfoto dengannya.
Keduanya mengatur Nafas, duduk di sebuah bangku yang kosong. "Gila, fans-fans kak Daren aktif banget." keluh Fany mengusap keringat di pelipis dan juga keningnya.
"Hahaha, ternyata jalan seperti ini sangat menyenangkan ya." ucapnya ikut mengusap keringat di wajah istrinya.
"Haus nggak?" tanyanya.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Tunggu di sini ya, aku beli minum dulu." ucapnya dan berlalu pergi.
Beberapa menit kemudian, pria itu kembali membawa dua botol air mineral dingin, dan dua botol minuman dingin.
Pria itu menyerahkan minuman dingin yang telah di bukanya terlebih dahulu pada istrinya.
"Minum dulu" ucapnya.
Gadis itu mengambil pemberian suaminya. "Makasih." ucapnya dengan senyuman.
"Mau kemana lagi hmm?" tanya Daren pada istrinya.
"Gimana kalau kita ke area bermain, aku ingin kesana." ucapnya dengan tatapan berbinar.
Pria itu mengembangkan senyumnya, "Ayo !" Daren meraih tangan istrinya dan kembali mengengamnya, berjalan ke lantai 2 di mana tempat bermain.
Keduanya terus tersenyum, mencoba semua permain yang bisa di mainkan oleh orang dewasa, Di mulai dari memasuki area Timezoon, di mana banyak permaian di dalamnya seperti, Space Travelling, Temple Run, dan banyak lagi permainan lainnya.
Keduanya terus berlari, untuk kesekian kalinya akibat ulah Fans-Fansnya.
"Hahahaha." tawa Fany pecah di ikuti dengan tawa Daren yang tak kalah asiknya, keduanya merasa puas hingga tak terasa hari mulai gelap.
"Mau es krim nggak?" tawar Daren saat melihat penjual es krim.
Gadis itu lagi-lagi mengangguk.
Pria itu menarik tangan isrinya menuju di mana penjual Es krim berada. "Pak Es krim nya 4 ya." ucap nya menaikkan 4 jari tangannya.
"Rasa apa tuan?" tanya penjual sopan.
"Itu di tanya" Daren menyenggol lengan istrinya.
"Aku?" Fany memastikan.
"Hmm." gumam Daren.
Gadis itu menyebutkan satu persatu rasa Es krim yang di sukainya.
Baru saja keduanya akan duduk untuk menikmati Es krimnya, Ia sudah mendegar teriakan dari berbagai arah.
Keduanya lagi-lagi berlari, dan memutuskan kembali ke mobil untuk istirahat dengan tenang.
Daren hanya bisa tersenyum menikmati raut wajah kebahagian istrinya, baru kali ini ia melihat istrinya tertawa lepas dan itu membuatnya senang.
"Mau cobain punya aku nggak." tawar Daren menyodorkan Es krim yang sudah di makannya.
Gadis itu lagi-lagi mengangguk, mengambil Es krim di tangan suaminya dan menyerahkan Es krim yang sudah di makannya pada suaminya.
Tanpa banyak tanya Pria itu memakan Es krim bekas Fany.
"Kak Daren nggak jijik gitu memakan bekas aku?" tanya gadis itu mengerutkan keningnnya.
"Nggak, emang kenapa kamu penyakitan?" jawab Daren seenaknya.
"Ya nggak gitu tapi.....Ngapain natap aku kayak gitu?" tanya Fany, merasa salting melihat tatapan suaminya.
Wajah Daren semakin dekat, tangannya terulur ke bibir istrinya di mana terdapat bekas Es krim di sana. Tersadar dengan apa yang ia lakukan, ia membersihkan bibir istrinya yang belepotan dengan punggung tangannya, ia masih gengsi jika harus bersikap lembut dan romantis pada istrinya.
"Ais kak, sakit tahu." kesal Fany menepis tangan suaminya.
"Harusnya kamu berterimakasih, aku kan udah bersihin bibir kamu yang belepotan itu. Makannya kayak anak kecil aja." ucap Daren datar, walau ia salah tingkah sendiri dengan perbuatannya, dan juga sedikit menyesal karena membuat Fany kesal.
"Kalau nggak ikhlas nggak usah di bersihin, aku bisa sendiri." gerutu Fany.
"Hmmm."
Pria itu melajukan mobilnya meninggalkan area perkiran mall.
Pria itu sesekali melirik istrinya yang senyum-senyum sendiri.
"Gimana senang nggak?" Daren memecah keheningan.
Gadis itu menolah kesumber suara mengembangkan senyum paling bahagianya "Senang banget, makasih ya." ucapnya.
"Hari ini dan kapan saja, jangan pernah bersedih hanya karena tatapan orang lain padamu, jadilah diri sendiri tanpa memikirkan tatapan dan pikiran orang lain." jelas Daren, Ia tahu apa yang di khawatirkan Fany selama bersamanya. Ia tahu bahwa istrinya merasa tidak pantas bersanding dengannya hanya karena memikirkan tatapan orang lain.
"Kamu tahu, aku belajar cukup lama untuk itu semua, belajar mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Tapi yang aku lihat kamu belajar degan cepat tentang itu." lanjutnya
Gadis itu terdiam, merasa aneh dengan perkataan terakhir suaminya, ia merasa kata-kata itu mengandung arti lain.
"Sebagai seorang Idol kamu menarik banyak perhatian, seharusnya kamu menikmati itu semua. Tapi dari perkataanmu barusan, sepertinya kamu tidak menikmatinya dan merasa di rugikan.
Pria itu tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan, memutar tubuhnya menghadap istirnya, mencoba tersenyum tapi senyum itu hanyalah palsu untuk menutupi raut wajahnya yang sendu.
"Sebenarnya keinginan ku sangatlah sederhana, menjadi penyanyi yang luar biasa dan aktor berbakat, tanpa harus menjadi bintang yang sangat terkenal. Tapi anehnya, aku harus menjadi bintang terkenal dulu agar semua orang bisa menikmati suaraku, melihat bakat, dan usah kerasku."
Gadis itu hanya menganguk-angguk mencoba memahami perkataan suaminya, ia tidak menyangka ternyata seorang bintang terkenal juga bisa tertekan, bahkan lebih parah dari yang kita bayangkan.
Daren merongoh saku celananya, mengambil benda pipih yang sempat berbunyi. Pria itu tersenyum melihat notifikasi yang masuk. Ia memperlihatkan ponselnya pada Fany.
"Lihatlah, kita hanya melakukan hal-hal umum layaknya pasangan lain, namun kita masuk pencarian teras." ucapnya senyum sinis.
"Sangat membosankan bukan." lanjutnya.
Sedetik kemudian, keduanya tertawa merasa lucu dengan kehidupan mereka yang selalu di usik oleh orang lain.
-
-
-
-
TBC
Author balik lagi loh🤣 ada yang kangen sama author nggak?🤭 kurasa Nggak ya🤣😁
Kalian kan hanya rindu sama babang Daren dan juga neng Fany.
Jangan lupa buat neng Fany semangat dengan memberikannya bunga mawar yang indah⚘, dan untuk babang Daren, buat dia strong dengan memberikannya segelas kopi☕.
Salam hangat dari Auhtor potato🙏, semoga kalian tetap setia menunggu Babang Daren dan Neng Fany🥰👍💪.