My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 54


"Ada apa nih ribut-rubut ?" tanya wanita paruh baya yang baru saja datang entah dari mana.


Wanita paruh baya itu mendekat dan berkacak pinggang.


"Bibi !" Daren melepas ngengaman tangannya pada Fany dan memeluk wanita paruh itu.


"Nggak usah so dramatis, bibi masih marah sama kamu." ucap bibi Ajeng mendorong tubuh kekar Daren agar melepaskan pelukannya.


"Bi, kenalin istri aku, cantik kan?" ucap Daren memperkenalkan Fany pada bibi Ajeng.


Fany semakin menundukkan kepalanya, malu, itulah yang dia rasakan, apa lagi Daren memujinya di depan keluarganya.


"Oh jadi ini istri kamu? cantik." puji bibi Ajeng.


"Makasih bi." ucap Fany.


"Kalian nggak capek apa beridiri terus? oma udah pegal tau." ucap Oma Jelita dan mendaratkan tubuhnya di sofa.


Yang lain ikut duduk.


"Fany, sini duduk sama bibi." tawar bibi Ajeng menepuk-nepuk tepat duduk di sampingnya. Ya tanpa bertanya, Ajeng bisa tahu nama Fany, kalian tahu sendirikan siapa Daren? semua orang tahu itu.


Gadis itu menatap suaminya. Daren yang tahu itu segera menganguk dan melepaskan gengaman tangannya.


Gadis itu bangkit dari duduknya, menghampiri bibi Ajeng dengan jantung yang berpacu hebat, ini baru pertama kalinya Fany deg-deg an bertemu orang baru, pasalnya orang-orang di hadapannya adalah keluarga suaminya, tapi yang menjadi pertanyaan Fany? kenapa hanya bibi dan Oma di mana orang tua suaminya?


"Kok kamu mau nikah sama Daren?" tanya Ajeng setelah Fany duduk di sampingnya.


Fany menelan salivanya dengan kasar.


"Nggak usah tengang gitu." ucap Ajeng senyum dan mengelus punggung tangan Fany, salah Ajeng sendiri suka ngomong tanpa di saring dulu.


"Maksud bibi, kok kamu mau sih sama si Daren? padahalkan Daren orangnya emosian trus jorok lagi." ucap Ajeng menjelek-jekkan Daren di hadapan Fany.


Fany diam saja, tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan bibi Ajeng, ia tahu perkataan bibi Ajeng hanya sebuah candaan, tapi ia takut salah bicara.


"Jangan bilang kamu di paksa ya sama anak nakal ini." tebak Ajeng menatap tajam Daren, ia tahu betul bagaimana sikap keponakannya itu, 11, 12 dengan Elvan.


"Ng...nggak bi, kak Daren nggak maksa Fany kok, Fany nikah sama kak Daren karena memang Fany cinta sama kak Daren." jawab Fany berhasil membuat Daren tersenyum.


"Tuh dengar sendirikan, aku nggak maksa dia, kita nikah emang saling cinta." bela Daren.


Daren mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, mencari sosok yang sedari tadi tidak muncul batang hidungnya.


"Nyari siapa Ren?" tanya Oma Jelita.


"Manusia nyebelin sama manusia kulkas mana Oma? kok dari tadi Daren nggak liat?" tanya Daren.


"Maksud kamu Elvan sama Kevin?" bibi Ajeng memperjelas.


Fany hanya diam menyimak.


"Elvan, Kevin? siapa lagi mereka? memangnya kak Daren punya saudara berapa?" batin Fany.


"Kalau Elvan udah 2 bulan lebih nggak pulang kerumah, dia sibuk ngurusin pabrik di Bali." jawab Oma Jelita.


"Manusia kulkas?" tanya Daren.


"Jangan salah kamu Ren, sekarang kakak kamu itu bukan lagi manusia kulkas, tapi penghangat ruangan." jawab Ajeng.


"Kok bisa?" Daren mengerutkan keningnya, tidak mungkin si gunung es bisa hangat gitu aja.


"Makanya, jangan kabur dari rumah, datang-datang bawa anak orang, nikah nggak bilang-bilang pula, kalau kamu tuh bukan idol terkenal, kami tidak akan tahu kamu itu sudah nikah, masih hidup atau mati." cerocos Ajeng.


"Bi !" Daren memelas, ia tidak ingin di omeli untuk sekarang, ia datang kerumah ini hanya untuk memperkenalkan Fany pada keluarganya, agar istrinya itu tahu asal-usulnya, itu saja.


"Daren !" suara berat Oma.


"Iya Oma." jika sudah begini ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Nyesel Daren menanyakan keberadaan si manusia kulkas, ujung-ujungnya ia kena omel. Pria itu mengira keluarganya sudah melupakan kesalahannya, melihat ia di sambut baik-baik di rumah ini, ternyata ia salah, ia di sambut baik-baik karena ia membawa istrinya.


"Marahnya bentar aja Oma, Daren malu di liat sama istri Daren." pria itu memelas.


"Biarin, biar istri kamu tahu, bagaimana kelakuan kamu selama ini." ucap Oma Jelita.


"Yaudah, Oma boleh marah, Daren akan diam." akhirnya pria itu mengalah juga.


Bukannya ibah, Fany malah ingin tertawa melihat perdebatan Oma Jelita dan suaminya, ada ya orang mau marah pake bilang dulu? trus yang mau di marahin pake nego dulu, keluarga aneh. Itulah kesan pertama yang di dapatkan gadis itu.


"Apa kamu tidak pernah berfikir saat pergi dari rumah, bahwa orang-orang rumah akan khawatir mencarimu? bahkan selama 2 tahun lebih kamu pergi tidak pernah ada kabar tentangmu. Jika bukan karena dubutmu kami tidak akan tahu bahwa kamu ada di Korea. Bahkan kamu menikah tidak memberitahukan Oma, dan Oma harus tahu dari berita yang menyebar, apa kamu tidak pernah menggap keluarga ini lagi? Oma tahu kamu kabur karena tertekan dengan keadaan, tapi kenapa kamu tidak membicarakan pada Oma? Oma tidak pernah memaksamu untuk mengurus perusahaan. Kamu bahkan tega meninggalkan keluarga ini saat kakakmu Kevin terpuruk karena di tinggal istrinya. Harusnya kamu membantu Oma bukan malah pergi dan malah memperkeruh suasana."


"Apa kamu tahu bagaimana kakakmu Kevin berjuang mempertahankan Adhitama? dalam keadaannya yang sedang kacau? kamu satu-satunya harapan Oma waktu itu, tapi kamu malah pergi, Elvan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunggu perintah dari Kevin."


"Udah marahnya Oma?" tanya Daren saat melihat Oma Jelita diam saja.


"Udah." jawabnya.


"Maafkan Daren Oma, Daren egois." ucap Daren merasa bersalah, ia bahkan tidak memikirkan perasaan keluarganya dan malah kabur demi mencapai keinginnya untuk menjadi seorang Idol.


"Oma udah maafin kamu." jawab Oma Jelita.


"Fany, maafin Oma ya karena marahin suami Kamu." ucap Oma Jelita tidak enak pada.


"Nggak apa-apa Oma, memang kak Daren harus di marahin." Fany bahkan tidak membela suaminya, baginya suaminya itu salah, karena pergi dari rumah selama bertahun-tahun tanpa kabar.


"Jangan senang dulu kamu, Kevin masih dendam saka kamu Ren, siap-siap aja nerima hukuman darinya, bentar lagi dia pulang, bibi udah ngabarin dia bahwa kamu ada di rumah, katanya dia mau pulang makan siang sama kita."


***


Fany membantu bibi Ajeng memasak dan menyiapkan makan siang bersama. Sementara Daren sibuk dengan ponsenya di ruang tamu, ia sebenarnya ingin mengoda istrinya, tapi ia segera mengurunkan niatnya saat melihat bibi Ajeng yang super duper galak ada di dapur bersama istrinya.


"Assalamualaikum, Oma, bibi." teriak Anin yang baru saja datang bersama suaminya.


"Wa'alaikumussalam, kak Kevin." sambut Daren.


Bugh !!!!


"Mas !" teriak Anin menarik tangan Kevin agar tidak memukul Daren untuk ke dua kalinya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Wah bakal ada perang nih🤔.


Yang penasaran siapa itu Kevin bisa cek novel sebelah ya TERPAKSA MENIKAH.


Hay para readers tercintanya author, hari ini hari senin loh, jangan lupa vote nya yah🥰🙏.


Komentar kalian adalah semangatku.


SELAMAT MEMBACA !!!