
"Kak Daren tahu dari mana hari ini adalah hari spesial ?" seulas senyum terbit di bibir gadis itu.
"Ya jelas gue tahu lah, mana mungkin gue lupa sama anniversary persahabatan gue yang ke sepuluh dengan Elina." jawab Daren.
"Oh, baguslah, jadi hari ini gue bisa istirahat dengan tenang." ucap Fany acuh dan kembali masuk kedalam kamarnya.
"Tuh anak kenapa lagi? pagi-pagi udah murung. Ah bodoh amat, lebih baik gue pergi sekarang menemui Elina." gumam pria itu.
Sementara di dalam kamar, seorang gadis tengah duduk di pinggir ranjang dengan perasaan kecewa dan juga sedih. Ternyata suaminya sama sekali tidak mengingat hari spesialnya dan malah mengingat anivnya bersama manajernya.
"Ah ia gue lupa, tidak ada yang tahu hari spesial gue selain ayah." Gadis itu hanya bisa positif thinking pada suaminya, menganggap tidak ada yang tahu hari kelahirannya karena data-data dirinya di palsukan tidak sesuai dengan kelahirannya.
"Aku memilih mencintaimu dalam diam kak, karena dalam diam tidak akan ada penolakan. Dan aku memilih mencintaimu dalam kesepian, karena dalam kesepian tidak akan ada yang memilikimu selain aku." batin Fany memandangi foto suaminya.
Entah sejak kapan rasa itu ada, namun gadis itu tidak bisa mengelak bahwa dirinya sekarang mencintai suaminya.
"Hei Fany, sejak kapan lu jadi melo gini, sadarlah kau tidak pantas di cintai oleh kak Daren." maki gadis itu pada dirinya sendiri.
"Ah sebaiknya gue ke butik aja."
gadis itu memutuskan kebutik hari ini, walau tidak ada jadwal. Dan gadis itu berhasil melupakan kesediahnnya berkat temannya Kirana.
Gadis itu mengfokuskan pikirannya pada desain-desain di hadapannya hingga kefokusannya buyar saat mendegar ponselnya berdering.
Fany menatap malas ponselnya saat mengetahui siapa penelfon itu namun ia tetap menjawabnya.
"Assalamualaikum kak."
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, kamu sibuk nga?" tanya pria itu.
"Nga, ada apa?" tanya Fany malas.
"Sebentar lagi Deon akan datang menjemputmu jadi bersiap-siaplah !" perintah Daren.
"Tapi gue...."
Tut...
Belum selesai gadis itu bicara pria itu sudah memutuskan sambungan telfonnya.
"Ais apaansih kak Daren, seenak jidatnya aja." gerutu Fany namun tetap bersiap-siap tidak ingin Deon menunggunya terlalu lama.
Dan benarnya saja, selang beberapa menit Deon datang juga.
" Assalamualaikum, nona Fany nya ada?" tanya Pria itu pada seorang wanita yang sedang sibuk di meja resepsionis.
Bukannya menjawab gadis itu malah memandang wajah tampan pria itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Nga bisa dapetin bosnya, asistenya pun jadilah." batin Kirana dengan senyuman mengembang.
Deon mendegus kesal tidak suka jika seseorang menatapnya sperti itu, ya Deon bukanlah pria seperti Daren yang sedikit cerewet, melainkan ia adalah pria cuek dan dingin, Ia hanya ingin berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya saja.
"Hei nona" Pria itu mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Kirana.
"Ah iya itu, ada." Kirana salah tingkah sendiri.
"Kak Deon." panggil Fany mendekat ke arah pria itu.
Pria itu hanya menoleh tanpa ada niatan menyahuti panggilan istri bosnya.
"Ran gue balik dulu ya, entar balik lagi." pamitnya dan menarik pria itu keluar dari butik.
"Fiks gue mundur sebelum berjuang, melihat tatapanya saja gue ngeri sendiri." lirih Kirana setelah kepergian dua orang manusia itu.
Deon membukakan pintu kursi penumpang untuk gadis itu, namun bukannya masuk, gadis itu malah membuka pintu samping kemudi dan duduk dengan tenang.
Deon hanya mengela nafas panjang, sudah tahu bagaimana sikap menyebalkan gadis di sampingnya.
"Emangnya kita mau kemana sih kak?" gadis itu memecah keheningan.
"Gue juga nga tahu." jawab pria itu acuh.
"Ais cuek amat sih, untung tampan" lirih gadis itu.
"Nga ngomong apa-apa kok." jawab Fany.
Gadis itu kembali diam, merasa kesal dengan tingkah pria di sampingnya yang tidak bisa di ajak ngobrol sama sekali.
"Apa mungkin kak Daren ingat dengan hari ulang tahunku ? tapi dia pura-pura lupa karena ingin memberi kejutan." batin Fany tanpa sadar menerbitkan senyumnya, merasa senang ternyata suaminya tidak lupa dengan ultahnya.
Gadis itu meraba dada sebelah kirinya merasai debaran jantungnya yang mulai tidak normal.
"Benar apa kata kak Daren, gadis ini memang aneh dan unik, tapi kenapa ia tidak bisa mencintainya dan malah mengejar wanita lain, apa dia tidak kasihan dengan gadis kecil ini?" Deon sekali-kali melirik gadis di sampingnya.
Fany mengenyitkan keningnya saat mobil van hitam itu berhenti di sebuah toko perhiasan di mana di depannya banyak sekali wartawan.
"Loh kok berhenti kak?" tanyanya.
"Kak Daren nyuruh gue antar kak Fany kesini." jawab pria itu tanpa ekspresi lalu membukakan pintu mobil untuk istri bosnya yang sama sekali tidak bergeming di tempatnya.
"Ais kak Deon ih, udah di bilangin jangan panggil aku kakak, emang aku setua itu apa?" Fany mencebik merasa kesal dengan panggilan asisten suaminya, bisa-bisanya dia di panggil kakak padahal Pria itu lebih tua 3 tahun darinya.
Bukannya menjawab, pria itu malah pergi meninggalkan gadis itu yang masih mengerutu di dalam mobil.
Setelah susah payah Fany melewati para reporter yang terus menyakana hal-hal yang tidak bisa di jawabnya akhirnya ia sampai juga di sebuah ruangan VIP di mana suaminya tengah menunggu dengan seorang wanita seksi yang terlihat cantik.
Gadis itu mendudukan tubuhnya di samping suaminya.
"Ada apa kak Daren menyuruhku datang kesini?" tanya gadis itu.
"Pilihlah, yang mana paling cantik" pinta pria itu menunjuk beberapa kalung berlian di atas meja yang entah tak terhitung jumlahnya, dan tentunya limited edition.
Tanpa banyak tanya gadis itu melihat-lihat kalung berlian di atas meja, seketika matanya terhenti pada sebuah kalung berlian dengan permata angsa putih yang sangat indah dan cantik.
Baru saja tangan munggil itu hendak menyentuhnya, terdengar suara bisikan dari suaminya.
"Pilihlah kalung yang menurutmu cocok untuk Elina." bisik Daren di telinga istrinya.
"Deg" sekali lagi gadis itu menelan kekecewaan untuk kedua kalinya, ternyata suaminya memanggilnya bukan untuk membelikannya kalung tapi hanya untuk memilihkan kalung untuk wanita lain.
Tapi bukan Fany namanya jika tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya. Ia adalah gadis yang sangat pandai menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman dan sikap menyebalkannya.
"Kayaknya ini cocok deh kak." tunjuk gadis itu pada kalung berlian bercampur emas.
"Emang ya kalau udah saling jatuh cinta, selera aja pasti sama." pegawai itu hanya senyum melihat sepasang suami istri di hadapannya. Ya sebelum Fany datang Daren terlebih dahulu memilih kalung itu, tapi ia juga butuh pendapat istrinya.
"Saling cinta apanya coba? cinta bertepuk sebelah tangan ia." batin Fany tapi tetap memperlihatkan senyumnya.
"Yaudah, saya ambil yang ini sama yang itu saja." tunjuk Daren pada pilihan pertamanya untuk Elina dan juga menunjuk kalung yang hendak di ambil istrinya tadi.
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.
Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭