
Author punya kejutan loh sama kalian, yuk cepetan di baca
Daren menatap frustasi gadis di hadapanya, sedari tadi merengek pengen hujan-hujan di taman dekat apartemen.
"Boleh ya?" bujuk Fany menunjukkan pupi eyessnya.
"Nggak!" tolak Daren.
"Pliss, sekali aja." Fany bergelayut manja di lengan Daren. "Ini keinginana anak kamu loh." Fany mengusap pelan perutnya.
"Nanti kamu sakit sayang."
"Yaudah, malam ini kamu tidur di luar." Ancam Fany, masuk kedalam kamar.
Daren membelalakkan matanya. Dia tidur diluar? jangan sampai itu terjadi, dia tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk sang istri.
Dengan langkah gontai, Daren ikut masuk kedalam kamar, duduk di pinggir ranjang dengan Fany memungunginya. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh mungil Fany.
"Sayang."
"Udah sana, nggak usah dekat-dekat, Kamu itu emang nggak pernah nurutin kemauan aku." Suara Fany terdengar serak, kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.
Daren mengusap kasar wajahnya, dia takut istrinya sakit jika hujan-hujanan, namun dia juga tidak ingin mengecewakan Fany.
Daren kembali menarik selimut yang membungkus tubuh Fany. "Jangan nangis sayang." Pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. "Kita main hujan-hujanan, tapi janji nggak pakai drama lari-larian."
Mendengar itu, Fany bangun dari tidurnya. Menganguk antusias. "Janji."
***
"Sayang jangan lari-lari." kejar Daren.
"Sini kak, asik tau hujan-hujanan sambil lari-lari kayak di film-film india gitu." serunya sambil berlari, melambaikan tangannya.
Daren mengeleng kepala frustasi melihat ke aktifan Fany di taman. Dia berlari kemudian menangkap tubuh mungil gadis itu. "Udah cukup lari-larinya." Daren memandang wajah pucat Fany. "Kamu pucay sayang, kita pulang."
Tanpa abah-abah Daren mengendong Fany ala bridal stail masuk kedalam apartemen, tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Dia menurunkan tubuh Fany pelan-pelan kedalam bathub lalu mengisinya air hangat. "Mandi yang benar, jangan main air."
Sebelum keluar dari kamar mandi, dia mencium kening Fany.
Fany menahan tangan Daren. "Nggak mau mandi bareng?"
"Boleh?"
"Iya, aku mau mandi bareng kamu."
Daren senyum kikuk, mengusap puncuk kepala Fany. "Nanti aja ya, takut kebablasan." ucapnya lembut kemudian keluar dari kamar mandi.
Fany memandang Daren sendu, keinginnya untuk mandi bareng gagal sudah.
***
Tok...tok...tok.
"Paket."
Daren menghentikan aktifitas minumnya, saat mendegar teriakan dari luar. Dia membuka dan memperlihatkan wajah dinginnya.
"Saya nggak pesan apapun." tolaknya tanpa basa-basi.
Kurir tersebut menatap paket dan Daren secara bergantian. "Tapi di sini tertera alamat anda pak."
"Atas nama Daren Danuwinarta, benarkan?" kurir tersebut memastikan.
"Benar."
Kurir tersebut menyerahkan paket yang di pegangnya. "Silahkan di tanda tangani surat tanda terimanya pak!"
Tanpa menyahut, Daren mengambil paket tersebut setelah itu menandatangani kertas yang di sodorkan kurir tersebut.
Dia membuka kotak persegi tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat potongan-potongan tikus mati dan beberapa bercak darah di dalamnya.
Daren beralih pada secarik kertas di dalamnya. Dia mengeram kesal setelah membaca surat itu.
"Shit." umpatnya.
Rahangnya mengeras, siapa gerangan yang berani mengancamnya seperti itu, jika dia tahu orangnya, maka orang itu tidak akan lepas sebelum nyawanya hilang.
Sebelum membuang paket tersebut, Daren memotret beberapa untuk di jadikan petunjuk. Setelah itu membuangnya kedalam tempat sampah, takut Fany akan melihatnya dan histeris.
Fany? buru-buru Daren berlari masuk kedalam kamar takut terjadi hal buruk pada sang istri.
"Sayang!" panggil Daren lantang dengan raut wajah khawatir.
Tidak ada sahutan bahkan Fany tidak ada di dalam kamarnya.
"Fany!" suara Daren mengelegar.
"Aku ada di kamar mandi kak." sahut Fany.
Bruk
"Akhh" pekik Fany.
"Sayang."
"Fany!"
"Hei kamu kenapa?"
Panik Daren, tanpa menunggu sahutan lagi dia mendobrak pintu kamar mandi.
Tubuh Daren menegang seketika melihat keadaan Fany yang tegelatak di atas lantai dengan darah mengalir di kedua kakinya. Tubuhnya limbung, kakinya lemas tak sanggup menopang berat badannya.
"Ka..kak....sa-kit." erang Fany.
Tak terasa air mata Daren mengalir begitu saja melihat Fany kesakitan.
"Ja...gan...nangis ak...aku nggak papa." ucapnya lirih, sekuat tenaga Fany tersenyum pada Daren setelah itu terkulai lemas.
"Fany!" teriak Daren menarik Fany kedalam pelukannya dengan tubuh bergetar. Jika dia tahu kejadiannya seperti ini, dia tidak akan meningalkan Fany sendirian di kamar mandi.
***
Daren mondar-mandir di depan ruangan ICU, keadaannya sangat kacau, sudah setengah jam namun belum ada dokter yang keluar dari ruangan keramat itu.
Hanya ada Deon yang setia menemaninya di depan ruangan itu. "Lo harus kuat, demi mereka." Deon menepuk beberapa kali pundak Daren untuk menenangkan calon ayah yang sedang kacau itu.
Daren mengeleng, mengusap wajahnya kasar." Gue nggak becus jaga mereka Yon." lirihnya.
"Ini bukan salah lo."
"Gimana ke adaan kak Fany." tanya Nathan ngos-ngosan karena berlari.
Deon mengeleng sebagai jawaban, belum ada yang tahu bagaimana ke adaan Fany di dalam sana.
Daren tak menyahut, dia hanya melirik orang-orang yang semakin berdatangan. Di sana sudah berdiri, Nathan, Keysa, Radit dan juga Elina.
Jika kalian mengira keluarga Adhitama akan datang, itu tidak mungkin, Daren bahkan tidak mengabari tentang kehamilan Fany pada Oma. Sekarang dia sedang menjaga jarak dengan keluarganya.
Bukan karena tak suka, tapi menghidari mereka dari bahaya, belakangan ini Daren merasa ada yang mengawasinya diam-diam.
"Keluarga nyonya Fany?" ujar Dokter yang baru saja keluar dari ruangan ICU.
Atensi Daren teralihkan, buru-buru dia menghampiri Dokter yang menangani istrinya. "Saya suaminya dok. Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok."
"Tidak ada yang perlu di cemaskan tuan, keduanya baik-baik saja. Sebentar lagi nyonya Fany akan di pindahkan ke ruang rawat inap."
Daren menghela nafas lega mendegar kabar baik tersebut.
Daren terus memandangi wajah pucat istrinya di atas brangkar. Menunggu Fany yang tak kunjung sadar juga, kata dokter pengaruh obat.
Seseorang menepuk pundak Daren. "Makan dulu Ren, lo belum makan dari siang." ujar Elina.
"Gue nggak lapar." sahutnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah pucat Fany.
"Sebaiknya kalian pulang, udah tengah malam."
Elina menghela nafas, Dia memilih untuk pergi memberi waktu Daren dengan Fany, dia tahu Sekarang Daren sedih.
Dia memberi kode pada yang lainnya agar ikut pulang. Awalnya Nathan menolak, tapi luluh juga dengan bujukan Radit.
Mereka pamit satu persatu, menyisakan tiga orang di dalam ruangan itu yang tak lain Deon.
"Yon."
"Hmm."
"Perketat penjangaan di sekitar Fany, tapi jangan sampai orang menyadari itu."
"Maksud lo pengawal bayangan?" Deon memperjelas.
"Selidiki juga paket yang gue fotokan tadi!"
"Siap." ujar Daren dan berlalu pergi.
Kini tinggal mereka berdua di dalam kamar inap tersebut. Daren terus menggengam tangan dingin Fany, sesekali mengecupnya.
"Cepat bangun sayang, aku nggak suka kamu diam gini. Aku rindu bawelnya dan keceriaan kamu."
Daren beralih pada perut rata Fany, mengusapnya perlahan. "Yang kuat ya cebong, bantu papi bangunin mami." bisiknya
"Iya Papi."
...TBC...
...****************...
Jangan lupa spam komen di kolom kementar ya.