
Daren menyempatkan waktu untuk mengantar Fany ke butik sebelum ke lokasi pemotretan.
"Jangan ceroboh." ucap Daren mengingatkan setelah mobil terpakir aman di depan butik.
"Iya." sahut Fany meraih tangan Daren kemudian mencium punggung tangan pria itu.
Daren mengebangkan senyumnya, mengecup kening Fany sedikit lama. "Aku nggak bisa jemput kamu hari ini, kamu pulangnya di antar Deon ya."
"Aku bisa naik taksi kak." tolak Fany tidak ingin merepotkan Deon.
"Aku nggak nerima penolakan, hmm."
Fany menghela nafas. "Baiklah, sekalian aku kenal lebih jauh sama Deon."
"Jangan dekat-dekat sama dia." ucap Daren datar
Jika kalian mengira Daren akan cemburu melihat kedekatan Deon dan istrinya itu salah besar. Daren tika akan cemburu melihat Deon dekat dengan istrinya, tapi ia takut istrinya kenapa-napa.
"Ih kenapa?"
"Jangan maksa dia, apa lagi buat dia kesal, bahaya." peringatan Daren. "Sana turun gih."
Fany menggangukkan kepalanya, membuka pintu mobil hendak turun, sebelum suara bariton menghentikan langkahnya. "My Wife" panggilnya.
Fany kembali duduk kemudian menoleh seolah bertanya ada apa lagi, bukankah pria itu yang menyuruhnya turun tadi?
"Morning kiss nya mana?"
Fany memutar bola mata jenggah, jadi hanya karena itu Daren mencegahnya keluar dari mobil. Tanpa menyahuti Daren, Fany langsung menyambar bibir pria itu lalu buru-buru turun dari mobil.
"Hati-hati kak." ucapnya dan berlari kecil masuk kedalam butik.
***
"Sibuk banget." tegur pak Wirawan.
Fany terkesiap, ah saking seriusnya ia tidak menyadari keberadaan bosnya di dalam ruangan. "Pagi pak." ia membungkuk memberi hormat.
Wirawan hanya menarik ujung bibirnya, melangkah mendekati meja Fany, memperhatikan apa yang sedang di lakukan asistennya itu. "Ngerjain apa? bukannya belakangan ini butik nggak sibuk-sibuk amat?"
"Ini pak, saya mempersiapkan sketsa untuk perlombaan nanti." jelas Fany memperlihatkan skesta gaun pernikahan setengah jadi, saking susahnya mendapat inspirasi.
"Oh jadi kamu jadi ikut?" Wirawan mangut-mangut.
"Iya pak, menurut Bapak sketsa mana yang bagus?" Fany memperlihatkan beberapa sketsa pada Wirawan.
Wirawan dengan teliti memperhatikan sketsa-sketsa yang di buat Fany, mungkin ada tiga sketsa, dua sudah jadi, dan satunya lagi OTW.
"Kamu dapat ide dari mana sketsa ini? unik banget." koreksi Wirawan. "Tapi saya lebih suka model yang ini sih, terlihat simpel tapi anggung gitu, cocok buat acara Indoor ataupun Outdoor."
"Ini belum selesai?" tanya Wirawan memperhatikan sketsa belum selesai. "Rencanya mau di gimanain?"
"Saya rencanya mau buat sketsa gaun pengantin setelan celana. Mungkin pemilihan celana untuk gaun pengantin belum begitu familiar. Tapi bagi pengantin yang berjiwa bebas dan ingin tampil beda, sangat cocok dengan gaun pengantin setelah celana."
"Wah saya salut dengan pemikiran cerdas kamu Fan, semoga sketsamu ini bisa di terima." Wirawan sekali lagi di buat kagum akan pemikiran unik Fany, benar-benar di luar dugaan, ah sayang sekali Fany hanya lulusan SMA.
Tapi tidak apa-apa, gelar tak menjamin seseorang sukses. Tergantung bagaimana minat dan usaha kita. Bagi kalian jangan berkecil hati hanya karena lulusan SMA. Manfaatkan kelebihan kalian untuk meraih kesuksesan. Dan untuk kalian yang mempunyai gelar, semangat dan jangan menyerah mengejar mimpi kalian.
***
Fany bangkit dari duduknya saat mendegar pintu utama terbuka, Ia dapat menebak pasti itu adalah suaminya. Fany menyambut Daren dengan senyumnya.
Fany meraih jas Daren lalu mencium punggung tangan pria itu. "Sibuk banget ya, sampai pulangnya telat banget?"
"Iya sayang." Daren tak lupa mengecup kening istrinya mengamit pinggang wanita itu menuju kamar.
"Kak Daren mandi gih! aku akan siapkan makan malam."
"Hmm." gumam Daren berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Sebelum keluar dari kamar, Fany terlebih dahulu menyiapkan baju ganti untuk suaminya, tak lupa memungut pakaian kotor Daren di atas sofa. Biasa pria itu sangatlah jorok, meletakkan apapun semaunya, kebiasaan yang tidak pernah berubah semenjak mereka menikah.
Fany melirik suaminya yang selesai makan, membuatnya buru-buru menghabiskan makannya, ia sangat tahu suaminya tidak akan minum sebelum ia selesai makan.
"Nggak usah buru-buru gitu, kesedak baru tahu rasa kamu." peringatan Daren.
Fany menghiraukan perkataan Daren, meneguk minumnya hingga setengah lalu memberikannya pada Daren.
Seperti biasa Daren akan meminum gelas bekas Fany tepat di mana bibir Fany menyentuhnya.
Ya itulah kegiatan Daren setelah makan, Ia akan menunggu gelas bekas Fany, entah tapi ada kenyamanan tersendiri dalam melakukannya.
"Kak Daren kok suka banget sih minum atau makan bekas aku, nggak jijik gitu?" heran Fany.
"Nggaklah, masa ia jijik sama bekas makan kamu, orang tiap hari nyosor bibir kamu juga." ucap Daren tanpa sensor. "Lagian itu buat aku nyaman."
Ada kebahagian tersendiri di hati Fany, ia merasa sangat di hargai oleh Daren, semoga pria itu tidak berubah.
Fany menyusul Daren masuk kedalam kamar setelah membereskan bekas makan malam mereka. Ia mendapati suaminya tidur tengkurap di depan laptop, tentu saja menonton bola, nggak mungkin dia nonton drama, ya kecuali drama dia sendiri sambil muji-muji diri sendiri.
Fany naik ke atas ranjang, ikut tengkurap di samping Daren dengan tangan melingkar di leher Daren.
"Kak." panggilnya manja.
"Apa sayang?" Tanya Daren tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop, namun tangannya terus memainkan jari-jari mungil Fany.
"Aku kan ikut lomba gitu, terus persayaratannya tuh, kita harus posting sketsa yang kita buat di Ig." jelas Fany.
Daren mengembangkan senyuman, pantas saja Fany berani mendekatinya ternyata ada maunya.
"Terus?" Acuh Daren sok nggak ngerti.
Fany merengut, kini Ia semakin nakal, menggeser tubuhnya hingga di atas Daren masih dengan tengkurap. Melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, memajukan wajahnya hingga pipi mereka bersentuhan. "Kak Daren maukan bantuin aku? sekali ini aja, kak Daren ikut posting terus nge tag aku. Tapi jangan curang nyuruh mereka ngelike postingan aku, Aku nggak mau mereka ngelike dan komen tanpa suka sama sketsa yang aku buat." bujuknya.
"Kan ada maunya, turun." sahut Daren.
Fany merengut, ternyata usahanya sia-sia, lihat, bahkan pria yang bisanya mesum itu tidak tergoda, apa ia kurang agresif?
Daren sangat senang melihat raut cemberut Fany. Ia melingkarkan kaki panjangnya megurung Fany yang sedang duduk sila. Memeluk posesif pinggang rampin istrinya.
"Maaf ya, aku nggak bisa, sekarang akun aku dalam mode promosi salah satu brend ternama. Jika tiba-tiba aku posting sketsa kamu trus nge tag akun kamu sama akun resmi butik kamu, itu bisa jadi masalah besar." Daren mencoba memberi pengertian pada Fany.
"Iya nggak papa."
"Udah jangan cemberut gitu." Daren mencubit geme pipi cubi Fany. "Aku akan nyuruh Elina buat promosiin sketsa dan butik tempat kamu bekerja, okey." janji Daren.
"Makasih. Aku ke toilet dulu." ucap Fany melepaskan kungkung Daren pada tubuhnya dan berlari kecil masuk kedalam kamar mandi.
...****************...
...TBC...
Giman pendapat kalian?
Ada yang mau di tanyakan? silahkan?
...SELAMAT MEMBACA !!!!...