My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 83


Di atas mobil Daren uring-uringan sendiri, memikirkan hubungan Radit dan juga Elina. Pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Duduk tak tenang di dalam mobil.


"Sebenarnya hubungan mereka apasih, kalau emang si Radit suka sama Elina, terus kenapa tadi dia senyum-senyum sendiri nyebut-nyebut nama istri gue. Arghhh!" pusing Daren.


Rasa penasaran dan juga cemburu mendominasi pikiran Daren saat ini. Penasaran bagaimana hubungan Elina dan Radit. Cemburu ada seseorang nyebut-nyebut nama istrinya, apa lagi seseorang itu dia kenal suka dengan istrinya.


"Kalau emang Radit suka sama istri gue? lah ngapa dia nggak jijik minum bekas Elina?" Daren benar-benar trauma melihat malam itu, dengan santainya Radit meneguk minuman bekas Elina. Ya walau itu hanya perkara biasa bagi sebagian orang, tapi tidak bagi pria satu ini.


Daren memeringkan tubuhnya, menghadap sang asisten. "Yon menurut lo gimana?"


Deon begidik tak tahu, acuh, seakan tuli. "Ya udah sih, ngapain di urusin. Malah itu bagus buat hubungan kalian." jawabnya acuh fokus menyetir.


Jika boleh jujur, Deon risih mendegar ocehan Daren.Secara dia suka ketenangan.


"Gue penasaran!" ucap Daren penuh tekanan.


"Langsung telfon orangnya susah amat."


"Ide bagus." Daren beralih mengambil ponselnya, kali ini dia akan menanyakan langsung pada yang bersangkutan.


"Tunggu, kok loh merintah gue? lo berani jutek-jutekin gue? gue bos lo ya!" Daren baru tersadar, akan kelakuan Deon.


"Lo nggak tau gue siapa?" Deon dengan wajah datarnya


"Lah malah nanya, gue nggak takut sama lo." tantang Daren.


***


Di lain tempat, Fany mengisi waktu senggangnya dengan memasak makan malam, bersama seseorang.


"Tumben kak Radit ke rumah? nggak ada kerjaan?" tanya Fany menyodorkan potongan-potongan, daun bawang dan juga beberapa sosis pada Radit.


"Pengen aja sih, gabut gue di rumah terus." jawab Radit sibuk mengaduk nasi goreng di atas wajan.


Fany terus memperhatikan Radit menyiapkan makan malam. "Kak Radit nggak berubah ya, malah makin jago masaknya." puji Fany pertopang dagu di atas meja.


Radit hanya menangapi dengan kekehan.


"Oh iya kak, lain kali kalau main kerumah, kabarin dulu ya, takutnya kak Daren nggak ada di rumah seperti sekarang."


Radit menaikkan alisnya.


"Tau sendirikan kak Daren orangnya cemburuan, kalau dia tau kak Radit ada di sini bisa ngamuk."


"Gue cuma bertamu loh, nggak ngapa-ngapain sama kamu, jadi nggak ada yang perlu di takutin."


"Terserah kak Radit dah." pasrah Fany.


"Fany, video gue dong, pakai ponsel lo aja, kalau perlu buat story, atau sekalian Live keknya bagus deh." usul Radit di angguki oleh Fany.


Dert...dert...dert.


Atensi Fany teralihkan. "Ponsel kak Radit bunyi tuh." tunjuk Fany dengan dagunya.


"Batuin gue jawab telfonnya Fan, gue nggak bisa nih." keluh Radit sibuk menata nasi goreng.


Fany menuruti permintaan Radit, berjalan menuju meja makan di mana jas Radit tersampir rapi di kursi. Dia merongoh saku jas pria itu.


Fany ragu menjawab panggilan di ponsel Radit, seketika tangannya gemetar.


"Siapa kok nggak di angkat?"


"Kak Daren." cicitnya.


"Ya uduh angkat aja." santai Radit, tanpa memperdulikan air muka Fany yang berubah.


"Tap-"


"Siapa tah penting." potong Radit.


Fany mengatur nafasnyan, lalu menjawab panggilan dari suaminya.


"Assalamualaikum Kak."


"Loh kenapa lo yang jawab, mana Radit? kalian sedang bersama? ngapain, di mana!" intonasi Daren seketika meninggi, membuat Fany menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Fany jawab gue!"


"Ak...aku di rumah." cicit Fany.


"Ngapain dia kerumah? dan ngapain lo biarin dia masuk? lo tahu sendiri di rumah nggak ada orang Fany!" emosi Daren.


"Gue nggak suka, ada yang masuk kerumah gue, apalagi gue nggak ada dirumah, lo itu perempuan Fany." kesal Daren.


"Maaf." lirih Fany. Jujur dia sangat takut pada Daren saat ini, dia tahu betul bagaimana seramnya Daren jika sedang cemburu. Dan baru saja dia membangunkan singa tidur.


"Mana Radit!" ucap Daren dengan suara datarnya, tidak ada lagi kelembutan untuk Fany.


Fany segera memberikan ponsel itu pada pemiliknya.


"Ngapa lo nelfon gue?" santai Radit.


"Santai dong, gue cuma ngunjungin adik gue."


"Adik dari hongkong, lo nggak punya ikatan darah sama Fany, dan ingat dia istri gue bukan adik lo, keluar dari rumah gue sekarang!!"


Tut


Panggilan berakhir begitu saja. Daren melemparkan ponselnya begitu saja. Mendegar pria masuk kedalam rumahnya dan berduan dengan istrinya sungguh membuat darahnya mendidih.


"Yon tancap gas !"


Daren mengepalkan tangannya, mencoba meredakan emosinya, tapi susah, emosinya sudah di ubun-ubun minta di puaskan.


"Arrrgghhh." Daren meninju Dasbor si hadapannya.


Kembali lagi pada Fany, bukannya pergi Radit malah terlihat santai menghidangkan makanan di atas meja.


"Bukannya ngusir kak, tapi sebaiknya kakak pulang aja, takutnya kak Daren hilang kendali." Fany sebenarnya tak enak mengusir Radit.


"Mending lo makan dulu, cobain masakan gue."


Fany menatap penuh curiga pada Radit, sepertinya ada yang di rencanakan pria di hadapnnya. Tidak mungkin Radit sesantai ini jika tidak ada rencana sebelumnya.


"Kakak kok santai banget? apa ada hal yang gue lewatkan." Fany bersedekap dada, urusan Daren nanti dia yang urus, sekarang dia penasaran apa maksud kedatangan Radit sebenarnya.


"Ngaku sama gue, atau gue marah sama kakak." ancam Fany.


"Maaf." Radit merasa bersalah, menyangkut pautkan urusan pribadinya dan Fany, tapi ini satu-satunya cara untuk bertemu dengan orang yang membuatnya nyaman belakangan ini.


"Loh kok malah minta maaf." Heran Fany.


"Gue sebenarnya sengaja mancing emosi Daren. Dan satu-satunya cara yang buat Daren emosi ya deketin kamu, karena gue tahu Daren orangnya cemburuan."


"Terus hubungannya sama kak Radit apa?" Fany semakin bingung, bahkan rasa laparnya hilang seketika.


Radit tersenyum, ternyata otak Fany tak secerdas yang dia kira. "Gue tahu suami lo itu baby besarnya Elina. Setiap emosi atau punya masalah pasti datangnya pada Elina. Dan nantinya Elina yang akan menyelesaikan masalah itu."


Fany mengut-mangut mencoba memahami penjelasan Radit. "Oh jadi kak Daren mancing keributan cuma ingin ketemu kak Elina gitu? parah lo pertaruhin rumah tangga gue, demi kabahagian lo. Egois lo kak." Fany geleng-geleng tak percaya, dengan nada bercanda.


Radit mengaruk tengkuknya yang tak gatal sama seki. "Ya gitu deh, soalnya Elina susah bat Dah di deketin, dia ngehindar mulu sama gue." curhat Radit.


"Tapi gue jamin, Daren nggak bakal nyakitin lo." janji Radit.


"Hmmm, gue tau, kak Daren kan cinta banget sama gue." pede Fany.


"Semangat ngejar cintanya kak Elina."


"Pasti." jawab Radit tak kalah semangatnya.


Radit mengambil sepiring nasi goreng di atas meja. "Sebelum itu, lo cobain dulu masakan gue?" Daren menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Fany.


Brak!!!


Pintu terhempas begitu kasar kala Pria bertubuh tegap masuk kedalam rumah, Darahnya kembali mendidih melihat pria lain mencoba menyuapi istrinya.


"Bren*sek lo!!!"


Bugh


Prank


Radit tersungkur ke lantai di ikuti piring pecah dan nasi bertaburan di mana-mana. Dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, pukulan Daren lumayan juga, tapi dia harus menerimanya, sebagai hukuman atas kesalahannya barusan.


Daren menarik kerah kemeja Radir kemudian menyeretnya keluar. "Pergi lo dari rumah gue!!" Daren menutup pintu cukup keras.


Pintu kembali terbuka menampilkan sosok pria bertubuh tegap dengan wajah memerah menahan emosi. Melempar jas biru ke arah Radit. "Ambil barang lo, dan jangan pernah menginjakkan kaki lo di rumah gue lagi, jika lo sayang nyawa lo." ucap Daren kembali membanting pintu rumahnya.


...TBC...



Diam aja deh, dari pada di amukin😑



Ngapain lo liat-liat, nggak tau apa gue lagi Emosi.


...****************...


Gimana dengan nasib Fany setelah ini?


...Jangan lupa like...


...Jangan lupa komen...


...Jangan lupa vote...


...Jangan lupa favoritkan...


...SELAMAT MEMBACA !!!...