My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 62


Matarihari mulai terbit menyinari sang bumi, namun sepasang kekasih tidak terusik sedikitpun, oleh pancaran cahayanya.


Fany mengeliat dalam pelukan suaminya, mengumpulkan nyawanya lalu duduk di atas tempat tidur.


Pergerakannya otomatis mengusik tidur nyenyak suaminya.


Pria itu membuka matanya, dan menarik tangan istrinya agar kembali berbaring di sampingnya, memeluk pinggang gadis itu dan membungkusnya dengan selimut.


"Mau kemana yang? masih pagi ini." ucap Daren serak khas bangun tidur.


"Itu kayaknya ada tamu deh." Fany berusaha lepas dari dekapan suaminya.


"Nggak ada, kamu salah dengar."


"Tapi..."


"Udah, mending kamu puas-puasin meluk aku, cium juga boleh." goda Daren menaikkan sebelas alisnya.


"Apaan sih kak." Fany meneggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Ayo dong yang, lakuin lagi yang kayak tadi malam itu, ayo peluk dan cium aku, terus manggil-manggil SUAMIKU." Daren menahana senyumnya menirukan suara Fany saat menggilnya dengan sebutan suamiku.


"Nggak usah ngarang deh kak." sungguh ingin rasanya Fany menghilang sekarang juga, mengingat bagaimana ia seagresif itu kemarin malam.


"Yang minum siapa yang mabuk siapa, tapi aku suka loh kamu yang agresif, rasanya tuh uh mantap." Daren mengedipkan matanya mengoda.


"Apa ia kemarin malam dia hanya pura-pura mabuk? duh totol banget gue." batin Fany.


"Aku benaran mabuk sayang." ucap Daren yang tahu isi pikiran istri kecilnya.


Fany mendogak menatap wajah tampan suaminya walau baru bangun tidur. "Tapi kok tahu?" bodoh pertanyaan apa yang barusan keluar dari mulutnya, itu sama saja ia mengakui semua perkataan suaminya.


Daren mengecup kening Fany. "Mau tau banget, atau mau tau aja." Daren paling suka jika istrinya kesal.


"Kak!" kesal Fany.


"Dalem sayang?" bisik Daren tepat di telinga Fany, bahkan dengan jahilnya ia mengigit kecil kuping istrinya.


Sunggu pagi-pagi seperti ini, jantungnya di paksa olahraga, belum lagu bulu kudungnya meremang mendegar bisikan Daren yang begitu lembut di telinganya.


"Nggak jadi, udah lepasin, aku mau mandi." pinta Fany, yang masih dalam kungkugan suaminya.


"Moorning kiss dulu dong." rengek Daren.


"Nggak mau, nggak suka, gelay." ucap Fany menirukan suara yang lagi viral.


"Cepat atau gue cium!" ancamnya.


"Ck, apa bedanya coba." gerutu Fany.


"Aku yang cium atas kamu yang cium?" tanya Daren.


Sungguh pilihan yang menjebak bagi Fany, mau pilih manapun tetap saja menguntung bagi suaminya.


Cup


Fany mengecup bibir Daren sekilas. Ya gadis itu lebih memilih mencium dari pada di cium, ia tahu betul bagaimana modus pria di hadapannya.


Daren mengembangkan senyumnya.


Cup


"Itu hadiah dariku karena menciumku." ucapnya tanpa dosa.


"Udah cepetan tahu dari mana?" Fany masih kepo soal yang tadi.


Daren melempaskan pelukannya pada Fany, dan mengambil ponselnya di atas nakas, mencari sesuatu dan memperlihatkannya pada gadis itu.


Fany melotot tak percaya, jadi selama ini Daren tidak mendengarkan perintahnya. Ia membating ponsel Daren begitu saja dan turun dari ranjang. Berjalan keluar dari kamar tanpa memperdulikan panggilan suaminya.


Daren meruntuki kecerobohannya, ia lupa bahwa Fany menyuruhnya mencopot semua CCTV di dalam apartemennya. Dan sekarang lihat, istrinya sedang marah karena memperlihatkan rekaman di mana Fany tegah mencium dan memeluknya. Rekaman yang tidak sengaja ia lihat setelah sholat subuh tadi malah membuatnya bertengkar dengan istrinya.


"Akh." Daren mengacak-acak ramburnya frustasi.


Pria itu menyusul istrinya yang tegah berkutat di dapur. Memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu istrinya. "Maaf." lirihnya.


"Udah deh kak, nggak usah ganggu aku masak!" Fany mencoba melepaskan lengan kekar yang melingkar di perutnya, namu nihil tenaganya tidak sekuat tenaga suaminya.


"Jangan marah dong yang." bujuk Daren.


Fany tak mengubris perkataan Daren, dan malah sibuk melanjutkan pekerjaanya, walau agak kesusahan dan risih karena suaminya.


"Sayang." rengek Daren.


"Udah deh kak, omangan kak Daren itu nggak bisa di percaya, beberapa hari yang lalu katanya 'Iya besok aku suruh Deon untuk melepasnya' mana buktinya!" kesal Fany.


"Maaf yang, aku hanya ingin mengabadikan momen bahagia kita itu aja, aku janji besok lusa akan menyuruh Deon." bujuk Daren.


"Nggak, aku maunya sekarang!"


"Besok lusa ya, aku masih ingin mengabadikan momen kita." Daren terus membujuk Istrinya.


"Iya sayang."


"Yaudah, lepasin." pinta Fany.


Sebelum melapaskan pelukannya, Daren terlebih dahulu mengecup pipi istrinya.


***


Setelah sarapan dan beres-beres rumah, Fany memutuskan menonton Drama korea di ruang tamu, tentu saja memakai laptop suaminya.


Semenatar Daren? ia sibuk dengan ponselnya, toh selama beberapa hari ini tidak ada job untuknya karena masalah yang belum juga selesai.


"Liatin apaan sih kak, kok serius amat?" tanya Fany, setelah drakornya selesai.


Daren terkesiap dan buru-buru keluar dari media sosialnya. "Ng...nggak." jawab Daren.


"Kok gugup gitu, liat apaan sih." Fany mulai kepo, apa yang membuat suaminya segugup itu. Ia semakin mendekat pada Daren.


"Nggak, aku nggak liat apa-apa." ucap Daren santai.


Karena penasaran Fany merebut ponsel Daren. Sedetik kemudian gadis itu berteriak dan melempar ponsel suaminya ke atas Sofa.


"Kak Daren nyebelin tau nggak!!!" kesalnya dan meninggalkan Daren yang tegah tertawa di ruang tamu.


Setelah tubuh gadisnya tidak terlihat lagi, Daren menghentikan tawanya, menatap tajam ponselnya. "Gue janji akan selalu jaga lo, nggak akan gue biarin seseorang nyakitin lo, mau itu fisik atau hati lo sekali pun." tekad Daren.


Seharian ini, Fany benar-benar di buat kesal oleh suaminya, bagaimana tidak, setelah makan siang, ia bahkan tidak di perbolehkan bermain hp.


Fany yang melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi, buru-buru mengambil ponselnya di atas nakas, namun suara bariton mengagetkannya.


"Fany!" tegur Daren.


Fany cengegesan. "Loh bukannya ke kamar mandi ya?"


"Aku lupa sesuatu." Daren mengambil ponselnya berserta ponsel Fany dan kembali masuk kedalam kamar mandi.


Malampun tiba, tapi Fany belum bisa menyentuh ponselnya sedetikpun, membuatnya uring-uringan sendiri.


"Kak, ponsel aku mana." rengek Fany, ia tidak akan tahan jika tidak memegang ponsel sehari saja.


Daren diam saja, dan fokus bermain game.


"Kak!" kesal Fany mengigit lengan suaminya.


"Sakit yang." rintih Daren.


"Yaudah balikin ponsel aku." regeknya.


Karena tak tega, Daren menyodorkan ponselnya.


Bukannya menerima, Fany malah mengeleng. "Ponsel aku."


"Yaudah kalau nggak mau." ucap Daren acuh dan kembali menyembunyikan ponselnya.


"Yaudah mana."


Bukannya senang, Fany malah ngambek, bagaimana bisa suaminya itu memberinya ponsel tanpa kuota bahkan wafi saja tidak bisa tersambung.


"Aku ngambek ya." ancam Fany.


"Udah yang, nggak usah ngambek gitu, ini demi kebaikan kamu, tidak lama kok." bujuk Daren.


"Tau ah kesal tau nggak, seharian nggak aktif, kenapa sih?" kesalnya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Ayo siapa yang tahu kenapa bang Daren nggak ngebiarin neng Fany pegang hp, ralat bukan nggak ngebiarin, cuma ngga boleh main sosmed untuk sementara waktu?


Jangan lupa ramaikan di kolom komentar, dan tambahkan sebagai cerita favorit kalian.


SELAMAT MEMBACA !!!