My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 51


Deon menghampiri Daren yang sedang bersiap untuk melakukan syuting setengah jam lagi, pria itu mengernyitkan keningnya saat tak melihat seseorang yang di lihatnya tadi.


"Kak Fany mana?" tanyanya mendaratkan tubuhnya di samping Daren.


Daren menoleh. "Ngapain lu nanyain Fany?" tanyanya di sertai tatapan tajamnya.


"Nggak, tadi gue nggak sengaja liat kak Fany di gerbang depan, gue kira dia nemuin lu, makanya gue nanya." jawab Deon acuh.


Tanpa banyak bicara pria itu bangkit dari duduknya, ia tahu kemana istrinya itu pergi jika tidak menemuinya di lokasi syuting.


***


"Sepakat ya!" ucap Radit mengakhiri obrolan seputar bisnis meraka.


Brak !!


Suara gebrakan pintu begitu nyaring terdengar di telinga Radit dan juga Fany, keduanya menoleh dan betapa terkejutnya Fany saat melihat suaminya berjalan kearahnya dengan tatapan yang begitu tajam.


Tanpa kata, pria itu menarik pergelangan tangan Fany dengan kasar, dan menariknya keluar dari ruangan Radit.


"Kak apaan sih, sakit tahu nggak." gadis itu terus memberontak, pergelangan tangannya begitu nyeri akibat cengraman Daren yang begitu kuat.


Namun pria itu seperti tuli, tak mendengarkan rintihan kesakitan istrinya dan terus menariknya kesebuah ruangan di mana tak seorang pun melewatinya. Pria itu menghempaskan begitu saja tubuh mungil Fany.


"Ngapain !"


"Ketemu kak Radit, nggak liat !" jawab Fany kesal, ia tidak tahu kesalahannya di mana, kenapa tiba-tiba pria di hadapannya ini datang marah-marah tidak jelas dan malah menyakitinya.


Rahang Daren mengeras mendegar jawaban Fany yang tidak sesuai keinginannya, gadis itu malah semakin memancing emosinya. "Jadi ini yang kamu bilang kembali ke kehidupan masing-masing ia ! lu mau hidup bebas trus bisa dekat-dekat dengan Radit !" bentak Daren, mencengkram lengan Fany kuat-kuat.


"Bu...bukan" gadis itu tak mampu lagi bicara, keberaniannya di kalahkan dengan rasa sakit pada lengannya, ini pertama kalinya ia melihat Daren semarah ini.


"Sakit kak." lirih Fany menghempaskan tangan kekar itu pada lengannya.


"Jangan temui dia lagi !" titah Daren tak terbantahkan.


Gadis itu kembali menatap Daren, kali ini tatapannya begitu tajam. "Nggak, aku akan tetap menemui kak Radit !" ucap Fany dengan lantang.


"Mana yang lebih penting bagimu, aku atau dia !" bentak Daren, emosi kembali memenuhi dirinya.


"Kak Radit lebih penting dari apapun, aku sudah lama mengenalnya, aku tinggal dengannya hingga aku lulus SMA, dia selalu menjagaku, jadi tidak ada alasan bagiku untuk membenci apa lagi menjauhinya." jujur Fany.


"Baiklah." ucap Daren dan melangkah pergi meninggalkan Fany seorang diri di dalam gudang.


Sebelum benar-benar keluar dari ambang pintu, pria itu berhenti membalikkan tubuhnya. "Apa kamu tahu? di dalam hati dan kehidupanku, Kamu itu tidak pernah ada dan tidak penting sama sekali." teriaknya dan berlalu pergi.


Sepeninggalan Daren, gadis itu merosotkan tubuhnya ke lantai, menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya meluapkan segala kepedihan hatinya, bukan sakit karena di bentak oleh suaminya bukan.


"Aku tahu kak Daren tidak mencintaiku, aku tahu kak Daren tidak pernah menganggapku, tapi apa harus ia mengatakan itu di hadapanku ?" lirih Fany dalam tanggisnya, sakit rasanya mendegar pernyataan itu langsung dari suaminya.


"Kenapa kau tidak ingin menceraikanku jika kau tidak mencintaiku? apa kau mau membuatku jadi pembantu di rumahmu?" teriaknya, mengelurkan seluruh unek-unek di dalam hatinya, walau pria itu tidak mungkin mendengarnya.


***


Daren melangkah masuk ke ruang ganti, di sana sudah ada Keysa dan beberapa crew lainnya menyiapkan segala kebutuhan yang akan di pakai untuk syuitng nanti.


Cit.....


Pria itu menarik kursi dengan kasar sehingga menimbulkan suara aneh. Mendudukkan tubuhnya begitu saja di depan cermin lebar.


"Ngapain lu liat-liat, sana kerjain apa yang harus lu kerjain." bentaknya pada salah satu staf yang tidak sengaja ia lihat lewat pantulan cermin.


"Baik kak." gadis itu menunduk. Mencari aman lebih baik pikirnya.


Keysa yang terus memperhatikan keributan di seberang cermin bangkit dari duduknya. Gadis itu menghampiri Daren dan mendudukkan tubuhnya di meja rias Daren.


"Lu ada masalah apa? datang-datang marah-marah." tegur Keysa bersedekap.


Daren menoleh dan memutar bola mata jenggah. "Bukan urusan lu." jawabnya.


Bukannya kesal, Keysa malah terkekeh melihat raut wajah kusut Daren. "Lu bertengkar kan sama Fany?" tanya Keysa memastikan.


"Gue bilang bukan urusan lu."


"Tentu saja itu urusan gue, kak Fany itu calon kakak ipar gue, otomatis masalah lu jadi urusan gue. Ceritakan aja siapa tau gue bisa bantu !" pinta Keysa.


"Nanya apa?"


"Di saat apa lu mikirin seseorang?" tanya Daren.


Gadis itu menyetuh dagunya. "Tergantung sih, kalau gue dalam ke susahan, gue pasti mikirin Jeny. Kalau gue lagi butuh uang, gue mikirin ayah. Jadi intinya gue mikirin seseorang yang berbeda di situasi berbeda pula." jawab Keysa.


Ingin rasanya Daren menghilang dalam ruangan itu, kenapa ia harus bertanya pada gadis yang jelas-jelas kekurangan otak.


"Kalau lu lagi nggak di situsi apapun, lu bakalan mikirin siapa?" lanjut Daren.


Gadis itu mengetuk-getuk dagunya dengan jari telunjuk. "Kalau tidak dalam situasi apapun, gue akan selalu memikirkan seseorang yang sangat gue cintai seperti Nathan misalnya." jawabnya dengan senyuman yang mengembang, apa lagi saat membayangkan wajah tampan calon imamnya, ya walau ia belum masuk islma karena orang tuanya yang melarang.


"Apa aku benar-benar mencintai Fany." batin Daren.


"Jangan bilang lu cinta lagi sama wanita lain? wah ini ngga bisa di biarin, gue laporin sama kak Fany." ancam Keysa dan berlalu pergi.


Pria itu mengacak-acak rambutnya, ia teringat kata-katanya tadi saat bertengkar dengan Fany. "Akh, bodoh, kenapa mulut gue harus ngeluarin kata-kata itu tadi, sekarang Fany pasti sangat terluka karena kelakuan gue." gumam Daren.


***


Setelah pulang syuting, Daren kembali menyusuri gudang tempatnya bertengkar tadi namun ia tak menemukan gadisnya di sana. Pria itu memutuskan untuk pulang.


Pria itu melangkah masuk kedalam apartemennya, namun gelap gulita, dan sudah di pastikan Fany belum pulang. "Kemana dia? sudah malam begini belum pulang?" gumamnya.


Sebelum ke kamarnya, pria itu menyempatkan diri masuk kedalam kamar istrinya, memastikan barang-barang istrinya masih ada di dalam, ia takut Fany kabur dari rumah.


Daren merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah membersihkan diri.


Kruk...kruk...kruk.


Pria itu memegangi perutnya "Sabarya, kita tunggu mama pulang dulu baru makan." ucapnya mengelus perutnya.


Daren mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kamu sibuk nggak?" tanya Daren setelah sambungan terhubung.


"Dikit sih, ini lagi nyiapin kontrak iklan kamu" jawab Elina.


"Ada yang ingin aku bicarakan"


"Apa? bicara aja!" pinta Elina.


"Kita makan malam besok jam 7 malam, nanti aku ceritain." ucap Daren.


"Baiklah, kamu atur saja, Daren ak....."


"Sudah dulu ya" Daren buru-buru memutus sambungan telfonnya saat mendegar pintu kamar sebelah di buka.


Pria itu bernafas lega, saat melihat istrinya sudah ada di rumah.


-


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa Vote, like, dan komennya🙏😊


SELAMAT MEMBACA