My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 78


"Eghhh." Fany meregangkan otot-ototnya, menyesuaikan cahaya lampu di dalam ruangan itu.


Ia mengedarkan pandangannya, merasa asing dengan keadaan kamarnya.


"Udah bangun?" Daren keluar dari kamar mandi, memakai celana sebatas lutut dan kaos oblong putih.


"Udah sampai ya?" gumam Fany masih mengumpulkan nyawanya.


Daren menaikkan alisnya. "Sampai kemana? emang kamu tahu kita ke mana?"


"Nggak." ucapnya polos mecepol rambutnya asal memperlihatkan leher jenjang indah miliknya.


"Emang kita di mana kak?"


"Bandung."


"Jauh amat."


"Kan liburan sayang." Daren menghampiri istrinya yang masih setia duduk di pinggir ranjang. Mengecup lembut kening istrinya seperkian detik. "Udah sana mandi!"


"Mandiin!" ucapnya manja.


"Beneran?" Daren memastikan.


"Tapi boong, wlee." Fany cekikikan berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.


Seperkian detik, Fany keluar dari kamar mandi dan menghampiri Daren yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Kok nggak mandi?" heran Daren.


"Masih harum ih, mau cium nih." Fany memeluk Daren, mempersilahkan pria itu menghirup aroma tubuhnya. "Lagian aku nggak punya baju ganti, kak Daren sih liburannya tiba-tiba, kan nggak ada persiapan." gerutunya masih dengan posisi yang sama.


"Manja amat istri aku, ada apasih, hmm?" Daren mengurai pelukannya, menatap intens wajah Fany yang hari ini terlihat sangat manja.


"Pegen aja, emang nggak boleh." Fany mendelik.


"Boleh dong sayang. Sini peluk lagi." Daren merentangkan tangannya.


Tanpa ba bi bu Fany kembali menumburuk tubuh kekar Daren menengelamkan wajah di dada bidang pria itu.


"Aku lapar, belum makan dari tadi siang."


"Mau makan dulu atau mandi?"


"Ih udah di bilangin aku nggak punya baju."


"Kata siapa, hmm. Itu apa" tunjuk Daren pada koper di samping lemari.


Fany mengikuti arah tatapan suaminya, dan benar saja, di sana ada dua koper yang di kenali kopernya dan koper suaminya.


"Sana mandi kamu bau tau nggak." usir Daren mendorong pelan tubuh Fany masuk kedalam kamar mandi.


"Nggak mau."


Cup


"Sana cepat, atau gue hukum mau?" ancam Daren setelah mengecup bibir Fany yang di manyungin wanita itu.


***


Setelah makan malam, seperti biasa keduanya akan bersantai menonton TV, tapi ingat satu hal, jika mereka ada di depan TV, bukan mereka yang ngeliatin, tapi TV ngelitin mereka.


"Kok liburannyan tiba-tiba gini? aku belum izin loh sama bos aku." Fany memulai pembicaraan.


"Udah Izin, dan liburannya juga nggak tiba-tiba, udah aku rencanain di jauh-jauh hari."


"Kok aku nggak tau?"


"Ya emang aku nggak mau kasih tau, masalah?"


"Dih nyolot." sewot Fany.


"Sayang!"


"Hmmm." gumam Fany sibuk nyemil di pangkuan Daren.


"Mau? nih." Fany menyodorkan kripik kentang ke mulut Daren.


"Bangun dulu aku mau ambil sesuatu." Daren mengoyang-goyangkan pahanya menyuruh Fany untuk bangun.


Daren melangkah mendekati laci, mengambil beberapa amplop kecil dan memberikannya pada Fany.


"Di baca!" titahnya.


Fany menatap datar amplop itu, ia tahu amplop itu berupa surat dari ibunya. Fany enggan menyentuhnya.


"Ambil!"


"Enggak!" tolak Fany sibuk menatap TV di depannya walau tidak fokus hanya mengalihkan perhatian.


"Di baca dulu, siapa tau ibu mau nyampein sesuatu sama kamu." bujuk Daren.


"Sayang." bujuk Daren. karena itulah tujuannya membawa Fany ke bandung.


Hening, Fany bergeming di tempatnya, menghiraukan segala bujukan dan ocehan Daren di sampingannya, bahkan wanita itu kini berjalan menuju ranjang, tidur membelakangi Daren.


Daren menghela nafas, ia harus banyak-banyak bersabar menghadapi istri kecilnya. Daren paham betul sekeras kepala apa istrinya.


Daren melangkah mendekati istrinya, duduk di pinggir ranjang, sekali lagi membujuk wanita itu. "Di baca dulu ya, setelah itu kamu bisa memutuskan mau gimana selanjutnya." bujuk Daren lembut.


"AKU NGGAK MAU, JANGAN PAKSA AKU!!!" Bentak Fany.


Daren memejamkan matanya, mencoba untuk tidak terpancing dengan tindakan Fany yang kelewatan.


"Nggak baik lo ngebentak suami, nggak takut dosa kamu?" Daren mencoba menegur Fany dengan candaanya.


"Maaf." lirih Fany.


"Nggak papa." Daren mengelus lembut rambut Fany. "Di baca ya!"


"Nggak." tolak Fany, tapi kali ini lebih lembut.


"Yaudah nggak papa. Kamu nggak mau baca kan? jadi bisa dong aku bakar, dari pada di simpan cuma jadi sampah."


"Bakar aja." tantang Fany. Toh suaminya tidak merokok otomatis pria itu tidak mempunyai korek.


Tanpa menyahuti perkataan angkuh Fany, Daren membuka laci dan memgambil korek gas, menyalakan korek api itu tepat di hadapan Fany.


"Jangan." cegah Fany.


"Yaudah di baca sayang!" Daren gemas sendiri melihat tingkah istrinya.


"Iya, tapi temenin aku!" pintanya.


Daren melebarkan senyumnya, beranjak naik ke tempat tidur, menyadarkan tubuhnya di kepala dipang, "Sini!" Ia menepuk-nepuk dadanya menyuruh Fany mendekat.


"Mau baca yang mana dulu." tanyanya setelah Fany bersandar di dadanya.


Daren menyerahkan surat yang baru saja di tunjuk Fany. "Aku yang pegang atau kamu?"


"Aku aja." sahut Fany mulia membuka salah satu amplop dan membaca


Dear:


Anakku Fany.


Hy gadis kecilnya mama, gimana kabar kamu sekarang nak? kamu bahagiakan di sana bersama keluarga ayah kamu? mama rindu banget sama kamu, tapi maafin mama ya karena nggak bisa nemuin kamu.


Iya mama tahu kamu pasti sekarang benci sama mama. Maafin mama yah, mama ninggalin kamu dan memisahkan kamu dengan adikmu. Mama sebenarnya nggak tega ninggalin kamu nak, tapi mama juga nggak bisa jika membawa kalian berdua, mama nggak punya uang untuk membiayai anak cantik mama, jadi mama mutusin ninggalin kamu bareng keluarga ayah, agar bisa hidup dengan layak.


Mama ninggalin Fany bukan karena mama nggak sayang sama Fany, mama sayang banget sama anak mama yang cantik ini. Tapi mama nggak sanggup sayang, mendapat hinaan dan juga cibiran dari keluarga ayah kamu. Setiap hari mamah di maki, menyalahkan mama atas kematian ayah kamu. Mereka mengatakn bahwa mama pembawa sial dalam hidup ayahmu.


Mama sayang Fany, mama rindu sama Fany, yang sehat-sehat ya sanyang.


Tes


Tes


Tes


Air mata Fany terjun begitu saja membasahi pipinya dan juga kertas di gengamannya. Jadi selam ini ibunya nggak benci sama dia? jadi selama ini ibunya tersiksa batin tinggal bersama keluarga ayahnya.


"Hiks...hiks...hiks..." tangis Fany semakin jadi saat merasakan usapan di lengannya.


"Nangis aja jangan di tahan." pinta Daren mencium puncul kepala Fany.


"Maafin Fany bu." lirih Fany dalam isakannya.


"Nangis sepuasnya, tapi setelah ini jangan nyalahin diri sendiri, dan jangan benci ibu lagi ya!" bujuk Daren.


Fany mengangukkan kepalanya.


"Besok mau kan ziarah ke makam ibu?"


"Aku nggak tau makam ibu di mana." jawab Fany sesegukan.


"Makam ibu ada di sini, besok kita kesana."


Inilah alasan Daren membawa Fany ke Bandung selain liburan, ia juga ingin mengunjugi mertuanya, sekalian membuat Fany berdamai dengan kesalahan pahaman antar ibu dan anak.


"Tau dari mana."


"Dari Nathan."


"Udah puas nangisnya?" Daren mengusap bekas air mata di pipi Fany dengan ibu jarinya. Mengecup ke dua mata Fany yang memerah.


...****************...


...TBC...


...SELAMAT MEMBACA!!!!...