
"Apa lo mau nyiksa gue hah !" teriak Daren, nafasnya naik turun, bercampur emosi dan juga lelah.
Radit bangkit dari duduknya, ia tidak menyangka Daren semarah ini padanya. "Kenapa kau semarah ini? bukankah sudah seharusnya dalam syuting, kita mengulang beberapa adengan jika kurang memuaskan." ucapnya santai.
"Tapi ini sudah kelewatan, apa lo kira gue robot yang tidak akan lelah melompat dan menaiki tangga berulang kali !" Daren masih emosi.
"Baiklah, kalau kau lelah, kita istirahat dulu sebentar." ujar Radit meletakkan naskah yang di pegangnnya.
"Hah !" Daren membuang nafas kasar, ia mengembangkan senyumnya, tapi bagi Deon senyuman itu sangatlah menakutkan.
"Masalah lagi." gumam Deon.
"Kenapa harus istirahat sebentar? bagaimana kalau kita istirahat untuk selamanya ! Gue Daren Danuwinarta, menyatakan hari ini resmi kaluar dari proyek sialan ini." teriaknya penuh emosi.
Pria itu berjalan menuruni tangga, berjalan melewati Radit dan menumbruk tubuh Radit begitu saja.
"Kak !" panggil Deon berusaha mengejar Daren, ia tidak mau karena emosi, bosnya itu menyesal di kemudian hari. Bagi Deon penyesalan adalah neraka terkejam dalam hidup.
"Kak bagaimana ini?" tanya Nathan.
"Lo nggak usah khawatir, bubarkan saja para crew, besok kita akan syuting adengan lain dulu." ucap Radit menepuk pundak Nathan yang terlihat gelisah dan juga ragu.
"Ada lagi yang ingin lo tanyakan?" lanjut Radit saat melihat keraguan pada diri Nathan.
"Anu kak, itu..." ucap Nathan ragu.
"Katakan saja." ucap Radit senyum.
"Apa kak Radit suka sama kak Fany." ucap Nathan.
Pria itu curiga bahwa Radit bersikap seperti ini karena cemburu melihat kedekatan Fany dan Daren.
Bukannya marah Radit malah tersenyum, menepuk-nepuk pundak Nathan yang terlihat takut.
"Gue tahu apa yang lo khawatirkan, tenang saja, gue bukan orang seperti itu. Gue nggak mungkin mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan urusin pribadi."
"Maaf." ucap Nathan merasa bersalah karena menuduh Radit yang bukan-bukan.
"Nggak apa-apa, sana urus para crew, besok pagi-pagi sekali kita akan syuting adegan Keysa dulu." ucap Radit dan berlalu pergi.
***
Daren menghiraukan teriakan Deon, dan melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, melaju terus tanpa arah.
Pria itu menghentikan mobilnya di depan sebuah butik, menyandarkan punggung kekarnya ke sandaran kursi, mengatur nafas dan mengendalikan emosinya.
Pria itu membuka matanya setelah merasa sedikit tenang, ia mengedarkan pandangannya. "Ngapain gue malah kesini?" gumanya dan turun dari mobil sport merahnya.
Dert...dert...dert.
Ponsel Daren berdering namun ia enggan untuk menjawabnya, apa lagi saat mengetahui siapa si penelfon itu. Pria itu langsung menolak panggilan masuknya, dan mengetik beberapa kalimat untuk penelfon itu.
"Gue pengen sendiri dulu" isi pesan.
Pria itu melangkah masuk kedalam butik, dan mendapati seorang gadis tengah duduk di meja resepsionis seorang diri, entah apa yang di kerjakan gadis itu.
Entah mengapa memandangi gadis itu membuat hatinya sedikit tenang.
Daren memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, saat melihat gadis itu mengangkat kepalanya.
Gadit itu mengerutkan keningnya, ia merasa mengenali pria yang sedang membelakanginya.
"Kak Daren !" panggilnya.
Daren yang di panggil, segera merubah raut wajahnya dan terlihat biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.
"Benarkan kak Daren, ngapain kesini?" tanya Fany, ya gadis itu adalah Fany istrinya.
"Kebetulan lewat saja tadi, trus liat butik ini masih buka jadi aku iseng masuk." kilahnya terus berjalan mendekat kearah istirnya.
"Oh, kirain jemput aku." gumam Fany dan melanjutkan aktifitas mengambarnya.
"Kenapa belum pulang, ini udah tengah malam loh." tanya Daren.
"Masih banyak pekerjaan kak." jawab Fany tanpa menghentikan kegiatannya.
Pria itu mengedarkan pandangannya, memandangi satu persatu desain yang tertempel di dinding. "Kamu yang buat" tanyanya.
"Cantik." gumam Daren.
"Kak Daren memujiku?" tanya Fany, Ia ingin memastikan apa benar suaminya itu memuji karyanya.
"Hmm." Daren hanya derhem.
"Sepertinya suasan kak Daren lagi nggak baik ya? ada masalah apa? apa kak Daren bertengkar dengan kak Radit? kak Daren habis di marahin kak Radit?" tanya Fany berjalan mendekat ke arah suaminya.
Ya Fany dapat langsung menebak bahwa Daren punya masalah, karena jika suaminya itu sedang tidak mood atau banyak pikiran maka pria itu malas berdebat. Dan buktinya ia baru saja memuji keryanya, dan tentu saja itu salah satu kode agar menghindari perdebatan.
"Nggak ada yang berani merahin aku." ucap Daren datar dan mengalihkan pandangannnya kearah lain.
"Benar, nggak akan ada yang berani marahin kak Daren, berbeda denganku yang hanya seorang asisten, setiap hari selalu di marahi oleh bos sendiri ataupun pelanggan, dan lebih parahnya lagi saat di rumah aku akan di MARAHI SUAMI SENDIRI." ucap Fany menekankan kata terakhirnya.
"Bukankah faktanya kita saling memarahi?" Daren tak mau kalah, enak saja bukankah dia yang selalu teraniaya saat di rumah.
"Ya tentu saja dan aku yang selalu menang bukan." ucap Fany bangga.
Pria itu terdiam tidak tahu harus menjawab apa lagi jika berdebat dengan istrinya, hingga ia tersadar akan satu hal.
Pria itu menatap tajam istrinya. "Tunggu, jadi selama ini kamu selalu di marahi di luar rumah?" tanyannya.
Gadis itu menganguk. "Mau gimana lagi, itu sudah takdirku dan aku sudah terbiasa dengan itu." jawab Fany santai.
Daren mengusap wajahnya dengan kasar merasa kesal dengan pernyataan istrinya barusan, ia baru tahu ternyata istrinya sering di marahi, di bentak tapi tidak melawan sama sekali.
"Kamu sering di marahi dan di bentak di luar rumah dan diam saja ? tapi kamu selalu memarahiku dan tidak ingin mengalah dariku jika di rumah." kesal Daren, ia tidak terima di perlakukan seperti ini, kenapa Fany hanya melawannya saja.
"Di rumah dan di luar itu berbeda kak, di rumah tidak ada yang namanya atasan ataupun bawahan, tapi diluar aku adalah karyawan dan tentu saja jika tidak ingin mendapat masalah ya diam saja, selama itu di batas wajar. Lagi pula aku bukan anak kecil, yang suka merajuk dan ingin di bujuk jika sedang marah, kita itu sudah dewasa di mana dunia tak sesederahan yang kita pikirkan." jelas Fany.
"Deg." kata-kata Fany menusuk hati Daren, kata itu seperti sebuah sendiran bagi pria itu, di mana ia selalu lari dari masalah, dan menunggu seseorang mendatanginya dan membujuknya untuk kembali, dan malam ini ia mengulangi kesalahan itu.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Daren memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Sedikit lagi, kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Tapi sudah sangat larut, aku harus bangun pagi besok." tolak Fany yang tidak ingin mendapat marah dari bosnya.
"Sebentar saja."
"Tapi....."
"Aku tidak terima penolakan, hmm." raut muka Daren berubah dingin.
"Kebiasan deh, sukanya maksa." gerutu Fany namun tetap ikut ajakan suaminya.
-
-
-
-
-
-
-
TBC
"Napa lo thor, lambat amat up nya?" readers
"Huh, nggak semangat up, part sebelumnya kurang rame😌." author.
"Semangat dong thor, ia gue bakal ramein part ini agar lu semangat up nya." readers
"Janji lu ya." author.
"Iya thor." readers
SELAMAT MEMBACA🥰💪