My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 26


Perasaan Keysa tidak karuan setelah bertemu dengan Fany dan juga pujaan hatinya, sedari tadi Ia seperti setrika berjalan maju mundur membuat Jeny sakit kepala melihatnya.


"Gawat...ini benar-benar gawat." hanya kata itu yang terus keluar dari bibir mungil Keysa.


"Baby apa yang membuatmu khawatir ?" tanya Jeny.


"Matilah aku..." Keysa mengacak-acak rambutnya, mendaratkan tubuhnya di sofa, merasa lelah belum istirahat setelah sampai di rumahnya, perasaan khawatir dan takut menghantui pikirannya.


"Beby...."


"Jen apa sikap gue keterlaluan tadi pada kakak ipar gue ?" Keysa mempertanyakan sikapnya pada Fany sebelum bertemu dengan pujaan hatinya.


"Kakak ipar? siapa kak ipar lo ?" tanya Jeny khas pria betulang lunak.


"Siapa lagi kakak ipar gue kalau bukan istrinya kak Daren !" kesal Keysa melempar manajernya bantal sofa.


"Menurut lo gimana?"


"Gue harus gimana Jen? bagaimana jika kakak ipar gue dendam ." Keysa kembali mengacak-acak rambutnya mengingat perlakuannya pada Fany.


"Gimana jika dia dendam sama gue? trus nggak ngerestuin hubungan gue sama Nathan, terus jika dia ngerestuin gue, gimana kalau dia nyiksa gue setiap hari nyuruh gue mencium kakinya." Keysa terus membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi, sakin takutnya Fany tidak merestui hubungan mereka.


"Beby, nga usah menghayal terlalu jauh dulu, belum tentu juga Nathan suka sama kamu." Jeny reflek menutup mulutnya, sadar kesalahan apa yang barusa saja di lakukannya.


"Jeny !!" teriakan Keysa memenuhi seluruh ruangan, sangat kesal dengan perkataan manajernya barusan, bukannya membantu menenangkannya, malah membuatnya semakin down.


"Pergi lo dari rumah gue !" usir Keysa.


"Beby sudahlah lupakan saja Nathan." bujuk Jeny, ini bukan pertama kalinya Keysa gila karena laki-laki dan dalam hitungan hari, Keysa akan melupakan laki-laki itu, bahkan Daren saja bisa di lupakannya hanya dalam hitungan hari.


"Dia itu cinta pertama gue. Jeny, jangan panggil gue Keysa jika tidak bisa menaklukkan hati Nathan." tekad Keysa dan berlalu pergi meninggalkan Jeny di ruang tamu.


"Cinta pertama apanya? cinta kesekian kalinya ia, setiap melihat pria tampan ia akan mengatakan 'Jeny dia adalah cinta pertamaku' ." gerutunya, tentu saja setelah Keysa pergi. Jeny merasa heran pada dirinya sendiri yang sanggup bertahan menjadi manajer Keysa walau kadang gadis itu sering menyusahkannnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepanjang perjalan pulang kerumah, Daren terus mengerutu tidak jelas, mengeluarkan berbagai umpatan sakin kesalnya. Sudah berhari-hari Elina hilang entah kemana bahkan pesannya tak satupun di balas.


"Ngapain lu senyum-senyum ada yang lucu !" bentak Daren pada sopirnya. "Deon." panggilnya.


Deon yang mengerti arti panggilan Daren segera melaksanakan keinginan bosnya. "Berhenti !" perintahnya pada sopir, Ia tahu betul bagaimana sikap bosnya, tidak ada orang yang boleh tertawa ataupun senyum jika dirinya sedang kesal.


Deon menyuruh Sopir pribadi perusahaan turun dan mengambil ahli kemudi.


"Gue lapar, kita mampir makan malam dulu ya." Deon memecah keheningan.


"Gue nggak lapar." ucap Daren datar.


"Kenapa muka lo kusut gitu? kek kertas di remas aja." ledek Deon.


"Kemana Elina? apa dia sangat sibuk sampai-sampai tidak ada waktu membalas pesan gue ?" tanya Daren, karena jika bukan dirinya maka asistennya lah yang tahu di mana keberadaan Elina.


"Yang gue dengar sih, katanya dia keluar kota untuk liburan bos." jawab Deon santai.


"Ngapain dia liburan ? dengan siapa dia pergi, kemana tujuannya ?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Daren seperti pacar yang cemburu.


"Ya mungkin saja dengan pacarnya bos."


"Nggak mungkin dia pergi dengan pacarnya." Daren tidak akan terima jika Elina jadi milik orang lain lagi.


"Lah kenapa nga mungkin, dia kan sudah resmi bercerai." Deon semankin menyulut emosi bosnya. "Saran gue ya bos, mending lo itu fokus ke istri lo saja, apa lo nggak kasihan dengan kak Fany ?" lanjutnya menasihati bosnya.


"Lo itu asisten gue, atau asisten Elina, dari tadi ngebelain dia mulu !" kesal Daren.


"Ya asiten bos lah." jawab Deon tanpa dosa. "Mampir makan dulu yuk bos, gue udah lapar tau." lanjutnya.


"Tapi gue nggak lapar." jawab Daren tanpa dosa.


"Itu mah derita lo."


Akhirnya mereka sampai juga di apartemen Daren, setelah mengalami perdebatan yang tidak bermakna sama sekali, dan hanya menyiksa Deon.


"Kak Daren sudah pulang " sambut Fany dengan senyuman dan binar bahagia.


Daren mengerutkan keningnya merasa aneh dengan tingkah istrinya, tidak biasanya gadis itu menyambutnya ketika pulang syuting, ngajak bertengkar ia.


Dia menghampiri gadis itu, menumpu tangannya di meja makan memperhatikan istrinya menyiapkan makan malam yang begitu banyak dan termasuk mewah.


"Kelihatnnya lo sangat bahagia." Daren penuh selidik.


"Iya gue senang banget hari ini, akhirnya Nathan bisa dapat pekerjaan." jawab Fany tanpa membuat suaminya kesal.


Entah setan apa yang merasuki Fany sehingga bisa bersikap baik pada suaminya.


"Lo kenal Radit dari mana ?" tanya Daren penuh selidik, pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan saat bertemu di lokasi syuting tapi tidak sempat karena ulah Keysa yang ingin mempermalukan gadisnya. "Lo dekat sama dia?", lanjutnya.


"Gue hanya kenal, nggak dekat" jawab Fany seadanya. "Tunggu apa lagi, sana cuci tangan, kita makan malam bersama." lanjutnya.


"Lo kesambet apa di jalan, tumben amat baik sama gue?" akhirnya Daren mengeluarkan rasa penasarannya.


"Apa salah jika gue nyiapin makan malam untuk suami gue? lagian gue udah bilang tadi, ingin merayakan hari bahagia gue. Ayo cuci tangan, gue tunggu." pinta Fany lagi.


Daren menghela nafas panjang, melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Bukannya cuci tangan Ia sekalian madi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket bekerja seharian. Setelah mandi, bukannya keluar menemui istrinya yang sedang menunggunya, Ia malah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, memainkan ponselnya.


Pria itu memperhatikan istrinya lewat CCTV, memperhatikan setiap hidangan yang tertata rapi di atas meja makan. Ia mengelus perutnya, jujur saja Ia sangat lapar, namun gengsinya yang terlalu tinggi jika harus menuruti perintah istrinya.


Daren menelan salinya, tidak sanggup lagi memperhatikan hidangan lezat lewat CCTV saja. "Gue akan turun, tapi hanya untuk melihat-lihat dan tidak makan." itulah keputusan yang di ambilnya.


Dengan wajah datarnya, Ia mendaratkan tubuhnya di mana biasanya kepala keluarga duduk saat makan malam.


Fany menghampiri suaminya dan duduk di dekat pria itu, ini pertama kalinya ia duduk terlalu dekat saat makan malam, biasanya mereka akan duduk masing-masing di ujung meja. "Ayo makan lah." seru Fany ingin melihat reaksi Daren.


"Lo nga lagi racunin gue kan ?"



Daren mencurigai istrinya



Raut wajah bahagia Fany


-


-


-


-


-


TBC


Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.


Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.


Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭