
Setelah kepergian Keysa dan Nathan, keduanya memutuskan untuk menonton drama Vincenzo.
"Lihat deh kak, song joong-ki demagenya nggak main-main ya, jadi pengen deh nikah sama mafia." celoteh Fany tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop milik suaminya.
"Ilih duda kok di banggain." cibir Daren, yang sedari tadi tidak berminat ikut nonton bareng istrinya, namun karena paksaan, ia harus apa?
"Duda nggak pa-pa, yang penting apa? banyak duitnya." Fany menyanyi tepat di telinga suaminya.
"Aku juga banyak duit, dan yang terpenting tampan dan masih perjaka." Daren membanggakan dirinya sendiri, karena sudah sangat kesal dengan sikap istrinya yang terus memuji pria lain di hadapannya, walau ia tahu itu hanya virtual semata.
"Tapi duda lebih berpengalaman." Fany semakin gencar membuat suaminya kesal, ia sangat suka raut wajah kesal suaminya.
"Fany stop memuji pria lain di hadapan gue !" meledak sudah emosi Daren.
Fany tersentak kaget mendapat bentakan dari suaminya, ia tidak menyangka suaminya akan marah hanya karena memuji seorang aktor, yang jelas-jelas tidak nyata baginya.
Gadis itu menundukkan kepalanya, takut menatap netra suaminya.
"Ak...aku."
"Jangan nunduk jika bicara dengan suamimu, itu tidak sopan." Daren menggakat dagu istrinya agar gadis itu menatapnya.
"Kamu bilang duda lebih berpengalaman kan? apa kamu perlu bukti bahwa perjaka lebih mengoda, hm?"
Daren mendorong tubuh Fany, membuat gadis itu tertidur di atas sofa, Daren menghimpit tubuh mungil istrinya, mengecup bibir tipis gadis itu.
Cup
"Kak apa yang kamu lakukan?" lirih Fany, berusaha lepas dari kungkugan suaminya, ia takut suaminya hilang kendali.
"Mau membuktikan bahwa perjaka lebih mengoda." Daren menyeringai dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Pria itu ******* bibir istrinya, menarik tengkuk gadis itu agar ciumannya semakin dalam.
"Humpp, kak!" Fany memukul-mukul dada bidang suaminya, saat akan kehabisan nafas.
Daren menghentikan aktivitasnya, menarik tubuh istrinya agar kembali duduk, mendekapnya dalam pelukannya. "Maaf aku kelepasan, aku tidak suka jika kamu memuji pria lain di hadapanku." ucapnya.
Fany tersenyum dan membalas pelukan suaminya. "Kak Daren nggak salah, seharusnya aku tidak memancing emosi kakak." lirihnya.
Daren melepaskan pelukannya, menangkup pipi istrinya dan sekali lagi mengecupnya. "Jangan panggil aku kakak, aku itu suamimu bukan kakak kamu."
"Lalu aku harus panggil apa? ya kali manggil nama, kan lebih nggak sopan." protes Fany.
"Panggil aku suamiku !" bujuknya.
Hah? geli rasanya jika ia harus memanggil suaminya dengan sebutan suamiku, ia tidak terbiasa menyebut itu, dan lidahnya terasa kelu.
"Yang, ayo panggil aku." rengek Daren.
Uh sungguh mengemaskan wajah suaminya, itu, ingin rasanya Fany menciumnya, tapi malu.
"Suamiku." beo Fany.
"Iya istriku."
Tuh kan, wajah Fany terasa panas, sudah di pastikan pipinya merona lagi.
"Gembel tau nggak." Fany memukul lengan suaminya, malu-malu.
"Gombal sayang."
***
Makan malam tiba, biasanya mereka akan malam berdua, sekarang tidak, mereka makan malam berlima, dengan Keysa, Nathan, dan Radit. Ya Fany membujuk suaminya agar mau mengundang mereka bertiga makan malam. Dan tentu saja tidak segampang itu Fany membujuk suaminya, ia harus menggoda dan mengikuti kemauan mesum suaminya.
"Tumben ngajak gue makan malam bersama, emang nggak ada yang marah gitu?" Radit memecah keheningan, dan melirik Daren.
"Gue sengaja ngundang kalian, makan malam, sekalian mau berterima kasih sama kak Radit karena sudah mempertahankan kak Daren." ucap Fany.
"Oh itu, gua hanya mempertahakan prinsip gue." jawab Radit.
Kelimanya makan dalam diam, sampai di mana suara Daren memecah keheningan di antara mereka.
"Gimana kalau kita minum-minum setelah ini, hitung-hitung menjernihkan pikiran." usul Daren reflek mendapatkan pelototan dari Fany.
Mebayangkannya saja sudah membuat Fany bergidik ngeri, gadis itu belum lupa bagaimana kelakuan kedua manusia itu jika sedang mabuk.
"Nggak." tolak Fany.
"Setuju." ucap Radit dan Keysa barengan, semenatar Nathan diam saja sedari tadi.
"Bocah igusan nggak usah ikutan, gue minumnya sama pak Radit saja." ucap Daren melirik istrinya.
Daren dan Radit yang nyatanya tidak bisa minum, sudah tepar setelah menghabisan beberapa botol minuman.
Daren merangkul Radit. "Bro, jujur sama gue, lo mempertahankan gue karena istri gue kan?" tanyanya serak, khas orang mabuk.
Radit membalas rangkulan Daren, bahkan menepuk-nepuk pungung Radit. "Jangan suudzon lo jadi orang, gue pertahankan lo karena emang kinerja lo bangus." jawabnya.
Fany hanya bisa menopang dagu memperhatikan interaksi konyol kedua Pria di hadapannya. Pria yang tidak pernah akur, namun sangat akur jika sedang mabuk.
"Jangan coba-coba lo ngerebut Fany dari gue di itu istru gue." oceh Daren.
"Tergantung kesempatan." jawab Radit.
"Brengsek lo." Daren mendorong tubuh Radit, membuat pria itu terjungkal kelantai.
"Istrii gue mana?" lirih Daren, mencari Fany di bawah meja, di bawah piring, bahkan di dalam mangkuk.
Fany yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya, bisa-bisanya suaminya itu betingkah konyol, mana mungkin ia akan ngumpet di bawah pirin atau di dalam mangkuk, emang tubuhnya sekecil semut.
Fany melangkah mendakti suamianya, merangkul lengan suaminya agar tidak ternjatuh. "Kak, hey, aku ada di sini, istrimu ada di sini." ucapnya.
"Kamu istirku? hahahaha." Daren tertawa.
Dengan susah payah, Fany membawa tubuh kekar suaminya kedalam kamar setelah menyuruh Nathan untuk membawa Radit pulang.
"Kamu siapa? di mana istriku?" rancau Daren.
"Dasar suami goblok, sama istri sendiri aja nggak kenal." gerutu Fany.
"Aku istrimu." jawab Fany.
"Bukan, kamu bukan istriku, istriku itu cantik." elaknya namun masih memeluk Fany.
Bruk.
Tubuh Daren tejatuh di atas ranjang, dan tidak lupa menarik Fany.
"Kenapa kamu memeluk aku hah? jika sampai istriku lihat dia akan marah." lirihnya namun tak melepaskan pelukannya pada tubuh mungil di atas tubuhnya.
Fany terkekeh geli, mengemaskan sekali suaminya ini.
"Emang istri kamu galak ya?"
"Istriku aku tuh galak banget tahu, tapi aku cinta sama dia. Kamu mau tahu rahasia nggak?" tanya Daren.
"Rahasia apa emangnya?"
"Selama aku menikah dengan istriku, aku tuh nggak pernah muji dia, aku selalu mengatainya jelek. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, istri aku tuh cantik, unik, dan imut. Aku hanya tidak ingin memuji karena gengsi, takut juga dia ke geeran."
"Ini rahasia ya, jangan berita tahu dia, takut di jadi sombong."
Fany tak henti-hentinya tersenyum, kelakuan suaminya benar-benar lucu.
"Jika istrimu cantik, kenapa kamu memelukku, nggak takut istri kamu marah?" tanya Fany.
Hening
Tidak ada jawaban sama sekali dari Daren.
"Suamiku." panggil Fany. Namun tetap saja Daren terlelap.
Fany mengecup kening Daren. "Suamiku." panggilnya lagi.
Kali ia lebih berani, mengecup hidung mancung dan bibir suaminya. "Suamiku."
"Uh gemas bangat sih." Fany memeluk suaminya begitu erat.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Kasian babang Daren lagi mabuk, pasti besok pagi kepalanya pusing, jangan lupa ngasih kopi ya biar pusingnya reda.
Jangan lupa ramaikan di kolom kementar, dan tambahkan sebagai cerita favorit kalian agar mendapat notif setiap up.
SELAMAT MEMBACA !!!