My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 85


Sepulang bekerja, Fany tidak langsung pulang kerumah, dia mampir kerumah Elina, atas undangan Elina sendiri untuk makan malam bersama.


Entah, apa yang akan di bicarakan Elina padanya, hingga tiba-tiba ia di undang, tapi itu tersasa aneh baginya.


Dia mengucapkan salam sebelum masuk kedalam apartemen mewah manajer Daren.


Elina menyambutnya riang. "Gue kira lo nggak bakal datang." ucapnya.


"Maaf, gue telat kak, soalnya banyak pelanggan tadi." Fany tidak enak membuat Elina menunggu.


"Santai aja kali." Elina berusaha mencairkan suasana.


"Tumben kak Elina ngajak makan malam, cuma berdua pula." tanya Fany sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ah nggak papa." Elina mencoba rileks. "Gimana hubungan lo sama Daren, baik-biak aja kan? dia nggak main fisik atau nyakitin lo malam itu?"


"Nggak kak, dia nggak ngapa-ngapain gue."


Fany semakin aneh dengan tingkah Elina, sedari tadi wanita itu mengajaknya bicara, sepertinya sengaja mengulur waktu, padahal mereka sudah selesai makan.


Atensi keduanya terahlikan pada benda pipi tegeletak di atas meja.


"Kak Radit." gumam Fany, kini dia melirik Elina.


Namun yang di lirik bergemin di tempatnya, menatap malas ponselnya yang sedari tadi berdering masih dengan penelfon yang sama.


"Kok nggak di angkat kak?" Fany menaikkan alisnya.


Elina mengelengkan kepalanya. "Nggak penting."


Fany membentuk mulutnya huruf O lalu mengalihkan perhatiannya pada ponselnya, ada beberapa pesan masuk. Dia tersenyum kemudian membalas pesan itu.


"Kak sebaiknya angkat dulu deh, siapa tau penting." pinta Fany sekali lagi, saat ponsel Elina kembali berdering.


Elina menghela nafas kasar, menjauh dari Fany kemudian menjawab panggilan dari sutradara gila itu.


Fany senyum penuh arti, kini dia tahu mengapa Elina mengundangnya makan malam secara tiba-tiba. Ternyata manajer suaminya itu mencoba menghindari ajakan Radit.


Tak lama kemudian Elina kembali, dengan raut wajah cemberut, sudah di pastikan kali ini Radit menang lagi.


"Maaf banget ya Fan, gue harus pergi ada urusan mendesak soalnya."


"Iya kak, santai aja, semoga berhasil."


***


Hari yang sangat melelahkan dan juga membahagiakan untuk Fany, akhirnya sketsanya selesai juga, dan di serahkan pada Art Galeri, tinggal menunggu pengumuman.


Besar harapan Fany untuk menang, lumayan bisa kuliah gratis, ya walau selama ini Daren tidak melarangnya kuliah, bahkan suaminya pernah bilang, bahwa dia akan menyekolahkan dirinya.


Tapi itulah Fany, gadis yang tak suka merepotkan orang lain.


"Fany makan malam bareng mau nggak?" tawar Kirana.


"Next time ya."


"Ok gue pulang dulu, bay." Kirana melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam taksi.


Fany membalas lambaian tangan Kirana dengan senyuman.


Malam ini dia ingin merayakan kebahagiaannya bersama suami tercinta, mungkin makan malam diluar menyenangkan.


Fany segera mengambil benda pipih dalam tasnya, menghubungi Daren.


"Assalamualaikum kak."


"Waalaikumsalam sayang, kamu udah pulang?"


"Baru aja, kak Daren masih ada kerjaan?"


"Iya sayang, ini masih ada beberapa sesi pometretan lagi, kenapa?"


"Rencana aku mau ngajak kak Daren makan malam di luar, tapi ya udah lah."


"Next time, ya."


"Iya, assalamualaikum." Fany memutuskan sambungan telfonnya tanpa menunggu Daren menjawab salamnya.


Ada rasa kecewa saat Daren tak punya waktu untuknya, tapi dia tidak boleh egois, Daren bekerja juga untuk dirinya, untuk menafkahinya.


Pupus sudah harapannya, dia menghela nafas panjang, tidak masalah, dia bisa makan malam sendiri di restoran, untuk merayakan hari kebahagiannya.


Langkah Fany terhenti memasuki restoran lebih dalam, saat matanya tak sengaja menangkap seseorang yang sangat dia kenal duduk dengan seorang wanita.


Menolak makan malam dengan alasan sibuk bekerja, lalu siapa di sana yang sedang tertawa menikmati makan malam dengan seorang wanita.


Kenapa Daren tidak jujur saja padanya bawah dia sedang di luar makan malam dengan seseorang, kenapa harus berbohong?


Rasa laparnya seketika hilang, Dia berbalik keluar dari restoran itu, terlalu menyakitkan jika harus melihatnya tertawa dengan wanita lain. Fany mencoba positif thingking, mungkin wanita itu rekan kerjanya.


Namun satu pertanyaan yang terus mengganggunya. Kenapa harus berbohong?


***


Fany memutuskan memasak untuk mengalihkan sakit hatinya, membuat banyak makanan yang entah siapa yang akan memakanannya.


"Auw." Fany mengadu kesakitan saat tangannya tak sengaja menyentuh tutup panji panas. Dia meniup-niup tangannya yang melepuh. Meneteskan air matanya, bukan karena sakit di tangannya, tapi sakit di hatinya yang tak kunjung reda.


"Assalamualaikum, sayang aku pulang!"


Fany buru-buru menghapus air matanya, dia tidak ingin Daren tahu bawah dia sedang menangis. Fany mencoba bersikap biasa saja, di depan Daren, biarlah dia simpan sendiri masalah ini, sampai Daren jujur padanya.


"Udah pulang kak?" Fany menyabut Daren seperti biasa.


"Iya sayang." Daren mencium kening Fany.


Entah saat ini, ciuman itu begitu menyakitkan untuknya, ingin rasanya ia menangis.


"Kak Daren pasti lapar bekerja seharian, jadi malam ini aku masak banyak."


"Oh ya ? ah kebetulan sekali aku belum makan."


Miris sekali, bahkan sekarang Daren berbohong.


"Yaudah sana mandi, aku akan siapkan makanannya." Fany mendorong pelan tubuh kekar Daren masuk kedalaman kamar.


Dia menyiapkan baju ganti untuk Daren, setelah itu melangkah keluar. Namun langkahnya terhenti saat mendegar suara aneh di dalam kamar mandi. Fany melangkah mendekat.


"Huek...huek...huek."


Fany senyum miris mendegar itu, sebegitu besarkah niat Daren menyimpan kebohongan itu? sampai ia rela menyiksa dirinya dengan mencoba mengeluarkan makan di dalam perutnya.


Fany mengembangkan senyumnya, saat melihat Daren mendekat ke meja makan, dengan sigap dia menyiapkan makan malam untuk Daren. Sekali lagi Fany akan berusa memancing Daren, apakah pria itu akan tetap berbohong atau jujur.


Sungguh jika Daren jujur, Fany akan memafkannya.


"Ayo makan kak!" ujar Fany saat melihat Daren hanya memandang makan di hadapannya tanpa berniat menyentuhnya.


"Nggak enak ya?" lirih Fany dengan nada kecewa.


"Apa susahnya sih kak jujur aja, jangan nyiksa diri gitu." batin Fany.


Fany terus memerhatikan Daren, mengunyah makanan di dalam mulutnya, kelihatan sekali bawa Daren terpaksa memakanannya.


"Lelet banget makannya, sini biar aku aja yang suapin." Fany mengambil alis piring di depan Daren.


Fany terus menyuapi Daren, namun tidak ada perlawan dari pria itu. Daren terus mengunyah suapan demi suapan darinya, membuatnya kesal sendiri.


Tak


Fany meletakkan sendok sedikit kasar. "Udah jangan di paksain, kalau memang nggak lapar. Biar aku saja yang makan." ucapnya, menyendokkan makanan kedalam mulutnya.


Fany semakin menuduk, mencoba menyembunyikan wajahnya, dia tak tahan lagi, air matanya merembes keluar begitu saja. Ah sial kenapa dia terlalu lemah jika menyangkut soal perasaan.


Daren menatap heran Fany, dia menarik dagu gadis itu agar menatapnya dan dia kaget mendapati Fany berlinanga air mata.


"Kenapa nangis, hmm. Ada yang sakit?" Daren panik mengusap lembut bulir bening yang membasahi pipi mulus istrinya.


"Hati aku sakit kak." namun itu hanya mampu Fany suarakan dalam hati.


Fany menepis tangan Daren. "Nggak papa, pengen nagis aja."


...TBC...


...****************...


...Jangan lupa Vote...


...Jangan lupa Like...


...Jangan lupa komen...


...Jangan lupa favoritkan...


...SELAMAT MEMBACA !!!...