My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 24


"Assalamualaikum." Fany mengucap salam berbarengan dengan membuka pintu ruangan Radit.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh" jawab Radit mengembangkan senyumnya dan mepersilahkan Fany dan Nathan duduk di sofa. "Silahkan duduk !" pintanya.


"Maaf ya kak, membuat kak Radit menunggu, soalnya tadi kesasar." Fany merasa tidak enak membuat Radit menunggu.


"Santai aja kali, kayak siapa aja" sahut Radit.


"Oh iya kak, ini Nathan." Fany memperkenalkan Nathan pada Pria itu walau pria itu sudah mengenalnya.


"Nathan." Nathan mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati, Radit menyambut uluran tangan Nathan. "Nga nyangka ya kamu bisa setampan ini, padahal dulu mah.... ah nga usah di bahas dah." puji Radit, tidak menyangka Nathan akan tumbuh menjadi sosok yang sangat tampan.


"Biasa aja." bukannya senang, Nathan malah malu di puji oleh Radit.


"Hhhmmm jadi lupain Fany nih, kek cewek aja saling muji kalalu sudah ketemu." gerutu Fany yang merasa di abaikan oleh dua pria tampan di hadapannya.


Setelah bersenda gurau dengan tawa yang begitu renyah, akhirnya Fany benar-benar di cuekin karena Nathan dan Radit sibuk membicarakan pekerjaan yang akan Nathan kerjakan mulai besok. Sungguh keadaan yang berbalik, biasanya cowok lah yang di cuekin jika ceweknya bertemu temannya, tapi nasib Fany sungguh berbeda di buat author.


Radit dan Nathan mengalihkan pandangannya dan menatap Fany saat mendengar ponsel gadis itu berdering. "Lanjutkan saja !" Fany menolak panggilan masuk di ponselnya takut menggangu konsentrasi keduanya.


Ponsel gadis itu kembali berdering membuat kedua pria itu kembali memperhatikannya. Gadis itu melemparkan senyumnya. "Baiklah, gue akan angkat." Fany memutuskan menjawab panggilan dari suaminya. Ya Daren lah yang sedari tadi menelfonnya, entah apa yang akan di bicarakan sang pria arogan yang sikapnya seperti anak-anak.


"Assalamualaikum, ada apa kak ?" Fany langsung mengajukan pertanyaan, karena merasa aneh tiba-tiba Daren yang menelfonnya.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, lu ada di mana sekarang ?" bukannya menjawab Daren malah balik bertanya ingin tahu di mana keberadaan istrinya sekarang.


"Ngapain nih orang nanya-nanya keberadaan gue? nga biasanya." Fany membatin semakin aneh dengan pertanyaan suaminya.


"Lu di mana sekarang !!" Daren mulai kesal, karena istrinya belum juga menjawab pertanyaannya.


"Gue...ada di kantor kak Radit." Fany merasa ragu menjawab pertanyaan suaminya, Ia takut pria itu akan menganggapnya menggoda Radit. Gadis itu tahu betul bagaimana Daren dengan mulut dan lidahnya itu yang bisa mengeluarkan kata-kata tajam tanpa memperdulikan perasaan orang lain.


"Ngapain !" Daren sedikit membentak. "Lu sekarang ke ruang ganti, gue tunggu, nga pakai lama !" pertintah Daren tak terbantahkan.


"Hah !"


"Lu nga budek kan ! apa gue yang harus kesana ?" ucap Daren. Ia sebenarnya tahu bahwa Fany sedang ada di kantor Radit. Ia hanya ingin menguji kejujuran istrinya. Pria itu mengetahui berita itu dari salah satu kru yang mengatakan istrinya datang dan sepertinya ingin memberikan kejutan padanya, mendengar itu Daren dengan sigap menghubungi Fany.


"Gue yang akan kesana, tapi gue nga tahu ruang gantinya." Fany bingung harus kemana melihat tempat syuting yang begitu luas dan ada beberapa gedung besar.


"Gedung besar di sebalah kanan." ucap Daren langsung menutup ponselnya.


"Nih orang kenapa sih, bikin kesal aja" gerutu Fany berjalan terus kearah kanan di mana gedung besar yang di sebutkan suaminya.


Lama Fany keliling di gedung besar tempat yang Daren sebutkan, namun ia belum juga menemukan ruang ganti yang di sebutkan suaminya. "Gila nih gedung gede banget, di mana coba gue bisa menemukan kak Daren, mana sepi lagi." Gadis itu masih mengerutu dan terus menapaki anak tangga mencoba mencari keberadaan Daren.


Seketika mata Fany berbinar merasa senang, orang yang di carinya selama ini muncul di hadapannya. "Nona Keysa." sapanya pada Keysa yang baru saja keluar dari ruang ganti bersama manajernya.


"Nona maafkan saya atas kesalahan saya waktu itu karena tidak bisa datang tepat waktu." Fany menyatukan tangannya di depan dada dengan tatapan memohon berharap Keysa memaafkannya.


"Baby sadarlah, wanita di hadapanmu bukan karyawan biasa, dia adalah istri Daren." pria bertulang lunak yang tak lain adalah manajer Keysa mencoba mengingatkan agar tidak terlibat masalah dengan Daren, manusia yang tidak punya perasaan jika seseorang menggangu kehidupannya.


"Memang kenapa kalau dia istirnya Daren ? bagi gue di tetaplah pelayan." ucap Keysa yang begitu merendahkan Fany, dan gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ingin kehilangan pekerjaannya.


"Baby jaga ucapanmu." manajer Keysa tak bosan-bosannya memperingati.


"Lu mau dapat maaf dari gue kan ?" Keysa menyeringai.


"Iya, apapun akan saya lakukan asal bisa mendapat maaf dari nona." Fany begitu bersemangat.


"Kalau begitu, lu bersihkan sepatu gue." Keysa mengayun-ayunkan kakinya kearah Fany.


"Gila nih cewek, apa gue segitu rendah di matanya, apa semua aktris dan aktor sikapnya seperti ini di belakang layar ?" Fany geram sendiri namun tidak bisa berbuat apa-apa jika ingin mendapatkan maaf dari Keysa.


"Beby, sudahlah sebaiknya kita pergi saja." manajer Keysa yang bernama Jeny menarik tangan Keysa agar menjauh dari Fany.


Keysa menghempaskan tangan Jeny. "Ayo tunggu apa lagi !" Keysa masih menunggu reaksi gadis itu.


"Ada apa ini ? dan kenapa kak Fany bisa bersama nona Keysa ?" tanya Deon yang baru saja dari luar hendak masuk keruangan Daren namun yang di dapatinya istri bosnya sedang di lecehkan.


"Ini, gue mau minta maaf sama nona Keysa karena kesalahan saya dulu, dan nona Keysa menyuruh saya membersihkan sepatunya tapi saya tidak punya sapu tangan. Apa lu punya sapu tangan?" Fany memulai aksinya, memanfaatkan keberadaan Deon agar mendapat maaf dari Keysa tanpa harus merendahkan diri. Dari sorot mata manajer Keysa gadis itu dapat menyimpulkan bahwa manajernya Keysa takut pada Daren. Entah takut karena apa, mungkin takut di jadikan wanita seutuhnya oleh Daren. Canda readers.


Deon bukannya menanggapi perkataan Fany, malah melemparkan tatapan tajam pada manajernya Keysa. Mungkin jika di artika, sorot mata Deon menyiratkan peringatan, bahwa jika Keysa bertingkah lagi makan kau menanggung sendiri akibatnya.


"Beby lebih baik kita pergi saja." ajak Jeny.


"Gue nga mau pergi sebelum dia memberikan sepatu gue." Keysa masih kekeh dengan pendiriannya tanpa meperdulikan perasaan manajernya yang sudah was-was mendapat tatapan begitu tajam oleh Deon.


Seketikan Jeny semakin tegang saat melihat pria gagah keluar dari ruang ganti dan mengampiri mereka.


"Sayang ternyata kamu ada di sini"


-


-


-


-


-


TBC


Terima kasih para Readers karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Komentar dan Vote kalian adalah semangatku😊🥰😁🙏