
Kabar jatuhnya Ju Xiulan, Bing Jinxia serta Shen Lao kedalam Jurang Hantu terdengar Ling Qiuyu.
Saat hari menjelang malam, Ling Qiuyu menatap Jurang Hantu dengan tatapan sedih ditemani Jia Huaran.
“Lao‘gege, kenapa kau pergi secepat ini...” Ling Qiuyu tidak pernah berpikir sekalipun akan kehilangan Shen Lao.
Namun yang paling terpukul adalah Chi Rong yang merasa dirinya menjadi beban dan penyebab kematian Shen Lao, Bing Jinxia serta Ju Xiulan.
Perempuan dari Istana Bulan Biru itu mencoba berulang kali untuk terjun bunuh diri kedalam Jurang Hantu, namun Ling Qiuyu menampar wajah Chi sekeras mungkin.
“Rongrong! Apa kau lupa jika Lao‘gege sangat ingin melihat anak kita lahir?! Apa menurutmu dia akan senang melihatmu seperti ini?!” Ling Qiuyu menangis histeris dan menatap Chi Rong yang meneteskan air mata.
”Kakak Qiuqiu... Aku... Aku... Seharusnya aku yang mati...” Tubuh Chi Rong dipeluk Ling Qiuyu.
“Rongrong, jangan katakan itu. Aku mohon... Kau harus tetap hidup demi bayi yang Lao‘gege jaga dan juga demi keinginannya...” Ling Qiuyu menangis kembali disusul Chi Rong yang menangis lebih histeris.
Bahkan Jia Huaran menangis sendirian bersembunyi dibalik pohon persik. Dia mengingat perkataan Shen Lao yang akan menikahinya setelah sampai di Ibukota Jiaran.
“Lao‘gege, aku bersumpah tidak akan menikah dengan pria selain dirimu. Dan mulai saat ini aku akan menjaga Kakak Rongrong dan Kakak Qiuqiu.” Ucap Jia Huaran memantapkan tekadnya.
Bersamaan dengan itu, Tetua Lembah Bunga Persik mengadakan pertemuan dengan Chi Sumei, Bing Caoji sekaligus Kakek Nue dan Feng En.
Mereka membahas sosok Shen Lao yang menyelamatkan Lembah Bunga Persik dari kehancuran.
Kakek Nue menceritakan sosok Shen Lao yang pendendam namun memiliki kepedulian terhadap orang-orang disekitarnya.
“Dia adalah pemuda yang hebat. Aku sangat mengaguminya. Tetapi aku tidak menyangka dia akan pergi secepat ini...” Kakek Nue tidak bisa menutupi kesedihannya.
“Seharusnya aku sebagai orang tua lebih pantas mati dibandingkan mereka yang muda. Lao‘er bahkan Xiaxia...” Bing Caoji tidak melanjutkan perkataannya karena dirinya masih terguncang dengan kematian Bing Jinxia.
“Ini bukan salahmu, tetapi kesalahanku yang tidak dapat menyelamatkan cucumu. Jika aku berhasil bergerak lebih cepat dari Xiaxia, mungkin semua ini tidak akan terjadi...” Bing Caoji menyalahkan dirinya sendiri dan mengutuk kelemahannya.
“Kita berikan pemakaman pada mereka bertiga. Bagaimanapun mereka bertiga adalah penerus Pendekar Empat Penjuru. Baik itu Junior Shen, Junior Bing dan Junior Ju.” Ucap Jing Taohen mengajak semua orang yang ada di aula pertemuan untuk segera menuju Jurang Hantu.
Suasana ditepi Jurang Hantu dipenuhi suasana duka. Mereka semua yang hadir memberi penghormatan terakhir pada Shen Lao, Bing Jinxia serta Ju Xiulan.
Chi Rong masih tidak bisa memaafkan Ju Xiulan, tetapi dia penasaran dengan Ju Xiulan yang menyelamatkan dirinya.
‘Andai kau hidup, apakah kita bisa akrab Saudari Ju?’ Chi Rong menggelengkan kepalanya dan mengelus perutnya.
Chi Rong mencoba tersenyum namun air mata tetap menetes membasahi pipinya. Tidak ada sentuhan hangat dan lembut Shen Lao yang menyeka air matanya.
Hanya ada Ling Qiuyu dan Jia Huaran yang memeluk dirinya.
“Gege, aku berjanji akan menjaga dan melahirkan anak kita. Aku yakin dia akan menjadi anak yang hebat dan bisa membanggakan orang tuanya...” Chi Rong sakit hatinya saat mengatakan itu, menyadari masa depan tanpa Shen Lao membuatnya menangis histeris.
Ling Qiuyu memeluk erat Chi Rong yang menenggelamkan wajahnya kedadanya.
“Lao‘gege, aku akan mengingatmu seumur hidupku dan aku tidak akan mencari pengganti dirimu disisa umurku ini.” Ling Qiuyu tersenyum tabah dan mengelus punggung Chi Rong yang menangis histeris.
Setelah semua orang meninggal Jurang Hantu. Disana hanya menyisakan Jia Huaran yang tersenyum sendu menatap kegelapan Jurang Hantu.
“Lao‘gege, kau tidak perlu lagi khawatir soal Kakak Rongrong dan Kakak Qiuqiu, aku berjanji akan menjaga mereka berdua.” Jia Huaran menyeka air matanya sambil berjalan meninggalkan Jurang Hantu dengan perasaan sesak dalam dadanya.
Kisah perjalanan Shen Lao di Lembah Bunga Persik menjadi cerita yang tak habis dibaca. Mekarnya sang bunga yang tengah mengandung anaknya, tidak memadamkan api yang membara meski temaram.
____