
Setelah pertarungan antara Shen Lao melawan Hao Fan, sekarang babak delapan besar memasuki putaran terakhir dimana hanya menyisakan dua pertandingan.
“Mari kita beralih ke pertandingan selanjutnya!” She Bai menatap bangku peserta sebelum dua nama peserta yang akan bertanding, “Untuk Chi Rong dari Istana Bulan Biru dan Dao Xhialun dari Lembah Bunga Persik silahkan maju kedepan!”
Chi Rong terlihat santai saat berjalan karena dia tidak ingin orang-orang menyadari perubahan pada dirinya, terutama bagian perutnya yang agak membuncit.
Sedang Dao Xhialun mengamati Chi Rong dengan seksama setelah berada ditengah lapangan.
“Maaf jika aku menanyakan hal ini Saudari Chi. Apa kau dan Saudara Shen memiliki suatu hubungan?” Dao Xhialun melemparkan pertanyaan yang membuat Chi Rong tersentak, “Kalian berdua terlihat sangat dekat. Bahkan aku merasa aneh melihat ada seorang pendekar dari Istana Bulan Biru yang bersentuhan dengan laki-laki. Aku perhatikan dari kemarin, kau mencubit dan menginjak Saudara Shen.”
“Saudari Dao...” Chi Rong memejamkan matanya dan tersenyum, “Apa kau memiliki kebiasaan buruk melihat orang lain senang?”
Dao Xhialun melipat kedua tangannya didadanya, “Hah? Apa maksudmu Saudari Chi?”
She Bai menghela napas melihat kedua gadis jelita dihadapannya bertengkar bahkan mengabaikan keberadaan dirinya, ‘Apakah semua gadis sekarang seperti ini? Mereka berdua daritadi memperebutkan pemuda yang menyelamatkan Shang‘er... Bukankah Shang‘er menyukai Lun‘er?’
She Bai menarik napas panjang dan melepaskan aura tubuhnya, seketika Chi Rong dan Dao Xhialun terdiam.
“Ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku!” Mata She Bai menatap tajam keduanya, segera Chi Rong dan Dao Xhialun mundur beberapa ke belakang.
“Sungguh kehormatan bagiku bisa melawan Peri Bunga dari Istana Bulan Biru yang merupakan jenius muda.” Dao Xhialun menarik pedangnya dan mengalirkan tenaga dalam pada bilah pedangnya.
“Baiklah pertandingan ketiga babak delapan besar Turnamen Bunga Persik dimulai!” Tepat setelah She Bai mengumumkan pertandingan, Dao Xhialun melesat kearah Chi Rong dan menebaskan pedangnya dari kejauhan.
Chi Rong hanya berdiri ditempat karena bagaimanapun dia merasa percaya diri bisa mengalahkan Dao Xhialun tanpa harus bergerak dari tempatnya.
“Pernapasan Bulan...” Chi Rong menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya, sebelum melepaskan aura tubuhnya dan memanipulasinya menjadi salju.
Dao Xhialun merasakan hawa dingin yang masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Saat itu juga konsentrasinya buyar karena Chi Rong menciptakan es berbentuk pedang yang terbang kearahnya.
‘Aku tidak bisa mendekatinya! Cara bertarungnya seolah-olah mengatakan pada diriku jika dirinya kesulitan untuk bergerak. Ada apa sebenarnya?’ Dao Xhialun mengimbangi serangan Chi Rong dan melepaskan berbagai tebasan pedang tajam dari kejauhan.
Pertukaran serangan yang singkat itu berhasil membuat Dao Xhialun mempersingkat jaraknya dengan Chi Rong. Namun saat jarak keduanya semakin mendekat, Chi Rong kembali menciptakan tombak serta pedang yang menahan pergerakan Dao Xhialun.
“Cara bertarungmu lebih mirip Dewi Es dari Gunung Es Utara, Saudari Chi.” Dao Xhialun mengatur napasnya yang mulai terengah-engah, bisa dibilang Dao Xhialun memiliki kemampuan dibawah Chi Rong karena Dao Xhialun sendiri merupakan Pendekar Suci Tahap Awal, sementara Chi Rong merupakan Pendekar Agung Tahap Awal.
Perbedaan yang jauh membuat Chi Rong tidak perlu membuang energinya, bukannya meremehkan. Tetapi Chi Rong sadar dirinya harus menjaga pergerakannya demi buah hati didalam kandungannya.
Setelah melihat Dao Xhialun bergerak tidak teratur, segera Chi Rong menyatukan kedua tangannya dan mengolah pernapasan bulan.
“Aura Salju Kekal - Gema Musim Dingin!”
Saat Dao Xhialun tidak menyadari salju-salju yang berjatuhan disekitarnya dan menyentuh tubuhnya, seketika hembusan angin kencang disertai hawa dingin memenuhi sekitar Dao Xhialun, dimana gadis dari Lembah Bunga Persik itu tidak dapat berkutik setelah tubuhnya menggigil dan melemah saat mendengar suara telapak tangan Chi Rong yang menepuk.
‘Kemampuan apa ini? Aku kalah?’ Dao Xhialun tanpa menangis saat mengetahui dirinya kalah, beruntung hembusan angin membuat jarak pandang penonton sulit melihat.
Chi Rong menggelengkan kepalanya dan menatap Dao Xhialun, “Saudari Dao, kau hebat. Seharusnya kau merasa bangga.”
Mendengar ucapan itu dari Chi Rong, Dao Xhialun sedikit kesal. Tetapi mau bagaimana lagi karena dirinya benar-benar telah dikalahkan.
“Cantiknya...” Tanpa sadar mulut Dao Xhialun bergumam pelan.
“Pemenangnya Chi Rong dari Istana Bulan Biru!” She Bai mengumumkan Chi Rong menjadi pemenangnya, kemudian memanggil dua peserta terakhir setelah melihat Chi Rong dan Dao Xhialun kembali ke bangku penonton.
“Untuk dua peserta terakhir silahkan maju kedepan!” Tanpa menyebut kedua nama peserta terakhir, She Bai menatap Bing Jinxia dan Mu Shang yang sudah berjalan ke tengah lapangan.
Saat melihat Bing Jinxia dan Mu Shang berada dihadapannya, segera She Bai menyuruh keduanya mengambil jarak.
“Ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku...” She Bai memperhatikan Bing Jinxia dan Mu Shang, sebelum memulai pertandingan terakhir babak delapan besar.
“Baiklah, dengan ini pertandingan terakhir babak delapan besar dimulai!” She Bai segera mengamati jalannya pertandingan dari udara.
Mu Shang menarik pedangnya dan mengamati Bing Jinxia yang hanya berdiri sama seperti Chi Rong dipertandingan sebelumnya.
‘Shen Lao dan Peri Bunga Istana Bulan Biru telah lolos ke babak final. Mereka berdua sudah pasti akan mewarisi posisi Pendekar Empat Penjuru bersama perempuan genit dari Bunga Kuno, aku harus menang melawan Dewi Es bagaimanapun juga!’ Mu Shang maju sambil mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya.
Namun setelah berada dijangkauan Bing Jinxia, seketika tubuhnya membeku dan tidak dapat digerakkan. Terlebih Mu Shang tidak menemukan Bing Jinxia dimanapun.
“Eh? Dimana dia?” Mu Shang tidak menyangka akan seperti ini, terlebih dirinya membeku.
Dengan aura tubuh dan tenaga dalamnya yang dia keluarkan secara bersamaan, Mu Shang menghancurkan es yang membekukan tubuhnya. Namun setiap es yang membekukan tubuhnya hancur, maka tubuhnya kembali diselimuti es secara perlahan.
“Aku tidak bisa kalah disini!” Mu Shang kembali melepaskan tenaga dalamnya, namun seketika dihadapannya muncul sejumlah pedang es yang berterbangan.
“Menyerahlah atau aku akan membekukan tubuhmu!” Bing Jinxia muncul disamping Mu Shang dengan tatapan dinginnya.
Mu Shang menelan ludah melihat Bing Jinxia yang bergerak lebih cepat darinya. Saat disuruh menyerah, tentu Mu Shang tidak akan melakukan itu.
Mu Shang tersenyum menyeringai, “Walau kau mematahkan seluruh tulangku, aku tidak akan menyerah!”
Bing Jinxia menghela napas panjang sebelum melepaskan aura tubuhnya dan memanipulasi udara disekitarnya agar menjadi dingin.
Cukup cepat tubuh Mu Shang membeku seluruhnya, bahkan Mu Shang mengetahui dirinya tidak dapat menghancurkan es yang membekukan seluruh tubuhnya.
“Bertahanlah, jika selama tiga puluh menit kau tidak dapat bergerak. Maka aku yang akan menjadi pemenangnya.” Bing Jinxia memejamkan matanya lalu menatap She Bai yang terbang diudara, “Bukankah peraturannya begitu, Tetua She?”
She Bai menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kemampuan Bing Jinxia yang berkembang pesat. Tentu She Bai senang karena banyak generasi berbakat dialiran putih dan netral.
“Ya, peraturannya seperti itu. Tetapi aku tidak menyangka ada cara seperti ini selain menyiksa lawannya.” Ujar She Bai sambil tertawa.
Mendengar itu Mu Shang mengumpat, ‘Kenapa Guru She malah tertawa? Muridmu ini dibekukan! Ah, sial! Aku hampir kehabisan napas!’
Dalam kurun waktu tiga puluh menit, Mu Shang tidak dapat menghancurkan es yang dimanipulasi Bing Jinxia. Dan itu tentu menjadi kekalahannya tepat setelah She Bai mengumumkan Bing Jinxia sebagai pemenangnya.
“Pemenangnya Bing Jinxia dari Gunung Es Utara!” She Bai menambahkan jika babak final akan diadakan empat hari lagi.
Empat peserta yang akan bertanding di babak final Turnamen Bunga Persik antara lain, Bing Jinxia, Chi Rong, Ju Xiulan dan Shen Lao.