
“Jahanam! Kau telah menodai cucuku bahkan membawa dua gadis yang lain!” Chi Sumei mengalirkan tenaga dalam pada bilah pedangnya, “Aku akan membunuhmu!”
Shen Lao tidak menghentikan tindakan Chi Sumei. Setelah menceritakan semuanya dan niatnya untuk menikahi Chi Rong, dalam sekejap Chi Sumei menatap dirinya penuh kebencian. Wajar saja, dan Shen Lao siap menerima akibatnya walau harus kehilangan nyawanya di tangan Chi Sumei.
Saat tebasan pedang Chi Sumei mengenai kulit leher Shen Lao, Chi Rong melepaskan hawa dingin.
“Nenek, jangan bunuh dia!” Chi Rong berlari menghampiri Shen Lao, meninggalkan Jia Huaran dan Ling Qiuyu yang tersenyum.
Chi Sumei memejamkan matanya. Dia tidak menyangka cucunya akan melindungi Shen Lao.
“Rong‘er, dia telah menodaimu! Dan lihat sendiri bagaimana kelakuannya!”
Chi Rong bisa mengerti mengapa neneknya bisa marah. Dia menatap Shen Lao yang masih berdiri tidak bergeming, bahkan tatapan hangat bercampur dingin itu masih sama seperti saat pertama mereka berdua bertemu.
Perlahan Chi Rong menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, dan Shen Lao yang menyelamatkannya.
“Jika Nenek ingin membunuh Shen Lao! Maka Nenek harus membunuhku!” Semua pendekar perempuan di Istana Bulan Biru saling berbisik setelah mendengar perkataan Chi Rong.
Chi Sumei melempar pedangnya dan mencekik leher Shen Lao. Dia memeriksa denyut nadi pemuda itu, dan alangkah terkejutnya saat mengetahui kondisi tubuh dan kutukan langka yang baru pertama kali dia ketahui.
“Kutukan apa ini? Di jantungmu terdapat enam racun yang mematikan, tidak ini adalah kutukan...” Chi Sumei menghela napas berkali-kali melihat raut wajah Shen Lao, Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran secara bergantian.
“Rong‘er, apa kau sudah menerima keteguhan hatinya itu...” Chi Sumei menjelaskan keinginan Shen Lao dan penyebab kedatangan pemuda itu ke Pegunungan Suxue.
Liontin yang Shen Lao berikan kepada Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran memiliki tiga kekuatan teleportasi. Jika mereka bertiga dalam bahaya, maka Shen Lao akan langsung datang ke tempat dimana mereka berada. Sejauh apapun itu jarak yang memisahkan mereka.
“Chi Rong, aku ingin meresmikan hubungan kita. Aku akan menikahimu, sesuai janjiku, aku akan datang kembali padamu setelah menuntaskan sedikit ambisi kecilku...” Shen Lao memegang tangan Chi Rong dan mengusap cincin yang melingkar di jari manis gadis cantik itu.
Shen Lao membisikkan sesuatu di telinga Chi Rong dengan lembut, “Jadilah wanitaku dan pendamping hidupku...”
Chi Rong memejamkan matanya sesaat dan melihat pendekar perempuan dari Istana Bulan Biru yang menatap lekat-lekat situasi ini.
“Aku akan menjadi wanitamu dan pendamping hidupmu...” Chi Rong berbisik pelan dan memalingkan wajahnya yang memerah.
“Sekarang bukan saatnya untuk itu...” Chi Rong menunjuk kondisi di Istana Bulan Biru. Tanah bersalju itu dipenuhi darah dan mayat yang bergelimpangan, Chi Rong merasa bahagia karena Shen Lao melamarnya dalam keadaan seperti ini.
Tetapi tetap saja Chi Rong tidak ingin terlalu mesra dengan Shen Lao dihadapan orang lain.
Shen Lao tersenyum dan melepaskan aura tubuhnya, ‘Rubah Ekor Sembilan, gunakan kekuatan auramu untuk membentuk rumah di Jurang Abadi. Rumah untukku dan kebanggaanku...’
Chi Sumei menggelengkan kepalanya dan memegang pundak Shen Lao beserta Chi Rong.
“Pemuda bermarga Shen, Lao‘er, jagalah cucuku ini. Walau dia lebih tua lima tahun darimu. Tetapi bagaimanapun dia adalah seorang perempuan...”
“Dan Rong‘er kau telah dewasa. Ini adalah pilihanmu. Ini adalah hidupmu. Asalkan kau bahagia, aku tidak akan melarangmu...” Setelah berkata demikian Chi Sumei menjelaskan kepada seluruh anggotanya tentang kebenaran mengapa Istana Bulan Biru dilarang berhubungan dengan laki-laki.
Setelah Chi Sumei menjelaskan, Matriark Istana Bulan Biru ini memimpin anggotanya untuk membekukan tubuh pendekar dari Kekaisaran Ma dan Sekte Pedang Dosa, lalu menghancurkannya berkeping-keping.
___
Bunga salju bermekaran di Pegunungan Suxue. Seminggu telah berlalu, dan suasana di Istana Bulan Biru begitu ramai. Dari ratusan perempuan yang datang menghadiri pernikahan, hanya satu laki-laki yang ada di Pegunungan Suxue.
Paviliun Bunga Salju tampak indah berbeda dari hari-hari biasanya. Di dalam ruangan sedang diadakan proses pernikahan antara Shen Lao dan Chi Rong. Makanan dan minuman terbaik yang merupakan kebutuhan pendekar menjadi makanan lezat bagi perempuan Istana Bulan Biru.
Hari ini Chi Rong terlihat cantik dalam balutan busana pernikahan berwarna putih, seputih salju. Kain putih yang tipis menutupi wajah cantiknya, walau tertutup tetapi kesan kecantikannya tetap terlihat anggun dan menawan.
Penghulu yang merupakan kenalan Chi Sumei memimpin acara pernikahan. Setelah melewati beberapa proses acara, penghulu menyuruh kedua pasangan pengantin untuk bersujud tiga kali kepada Chi Sumei sebagai bentuk penghormatan.
Semua perempuan yang melihat langsung proses pernikahan tertegun. Terutama ketika melihat ketampanan Shen Lao ataupun kecantikan Chi Rong.
Jia Huaran dan Ling Qiuyu tersenyum bahagia, Ling Qiuyu juga ingin secepatnya menikah dengan Shen Lao. Namum berbeda dengan Jia Huaran yang ingin menikmati hidupnya lebih lama.
Dua gadis ini melihat jelas bagaimana senyum tipis Shen Lao yang menghangatkan jiwa mereka.
Secara perlahan-lahan Shen Lao menyibakkan kain penutup wajah yang menutupi kecantikan Chi Rong.
Kulit pipi seputih salju yang bersemu merah membuat jantung Shen Lao berdebar kencang. Dengan penuh kelembutan Shen Lao mengecup kening Chi Rong.
Setelah ritual pernikahan selesai, ratusan pendekar perempuan Istana Bulan Biru memberi ucapan selamat pada Shen Lao dan Chi Rong.
“Lao, Kakak Rongrong, selamat.” Jia Huaran memeluk Shen Lao dan Chi Rong secara bergantian.
“Selamat untuk kalian berdua...” Ling Qiuyu bersalaman dengan Shen Lao dan Chi Rong.
Sebelum acara pernikahan, Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran sudah mengobrol akrab. Mereka bertiga sama-sama mengetahui bagaimana sifat Shen Lao, bahkan Chi Rong tertegun saat mengetahui Shen Lao telah memikirkan masa depan untuk mereka bertiga, dan tentunya untuk enam yang lainnya juga.
“Lao, Kakak Rongrong, kami akan memberi kalian waktu untuk berdua...” Jia Huaran mengedipkan matanya dan pergi menemui Chi Sumei.
“Kalau begitu, aku pergi dulu...” Ling Qiuyu tersenyum manis kepada Shen Lao dan Chi Rong, lalu menyusul Jia Huaran dan Chi Sumei.
Perlahan malam menyambut dan memancarkan sinar lembut rembulan.
Setelah Shen Lao dan Chi Rong memasuki portal menuju Jurang Abadi, Chi Rong takjub melihat rumah mewah berdiri di dekat danau dan pepohonan rindang.
Shen Lao memeluk tubuh Chi Rong dari belakang dan berbisik lembut, “Semua ini aku persiapkan untuk kalian...”
“Gege...” Chi Rong menundukkan kepalanya karena malu. Sementara Shen Lao menggendong tubuh Chi Rong memasuki rumah megah yang dibuat langsung oleh aura Siluman Agung Rubah Ekor Sembilan.
Shen Lao menatap dalam wajah cantik yang merah merona dan tersipu malu itu sambil terus melangkahkan kakinya.
____
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.