
Kakek tua itu memandang Shen Lao dengan seksama, “Terima kasih anak muda, aku tidak menyangka melihat seorang pendekar jenius muda yang baik hati...”
Shen Lao tersentak kaget karena dia tidak mengira sang kakek tua dapat mengetahui kemampuannya hanya dengan memandang dirinya.
“Kau berbuat baik dan berniat menolongku hanya karena ingin melihat kecantikan putriku dari dekat bukan?” Dengan prasangka buruknya, sang kakek tua bertanya. Shen Lao tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
“Maaf saja Senior. Walau umurku masih muda, tetapi aku sudah memiliki dua istri yang cantik...” Shen Lao membalikkan badannya dan memberi isyarat pada kakek tua dan perempuan muda untuk naik ke atas kapal, “Mari naik. Kapal ini akan segera berangkat.”
Kakek tua itu mengangkat alisnya, ‘Dua istri? Sombong juga bocah ini...’ Tanpa menaruh curiga, kakek tua itu naik ke atas kapal bersama perempuan yang merupakan anak semata wayangnya.
“Xiaxia, menurutmu bagaimana? Pemuda itu tampan dan merupakan seorang pendekar bumi. Apa kau tidak tertarik padanya?” Kakek tua itu bertanya pada perempuan yang tetap bersikap tenang.
“Aku tidak tertarik...” Jawab perempuan itu pelan. Namun samar-samar perempuan ini merasakan aura yang sangat dia kenal.
‘Apa Saudari Chi berada didekat sini?’ Batin perempuan itu bertanya-tanya.
Tak lama Shen Lao datang mengajak sang kakek dan sang perempuan untuk makan malam bersama. Sikap Shen Lao yang alami membuat sang kakek sedikit tertarik.
“Siapa namamu anak muda?” Sang kakek bertanya, dan Shen Lao yang berdiri memperkenalkan dirinya.
“Namaku Shen Lao.” Dengan singkat Shen Lao menjawab.
“Shen Lao...” Kakek tua itu menggumam pelan sebelum memperkenalkan dirinya sebagai Bing Caoji dan perempuan yang anak semata wayangnya sebagai Bing Jinxia.
“Aku pernah mendengar marga Shen sebelumnya? Namaku Bing Caoji. Kau bisa memanggilku Kakek Bing.” Kakek tua yang bernama Bing Caoji menatap perempuan berparas cantik yang merupakan anak semata wayangnya, “Seperti yang kau lihat, Xiaxia berumur dua puluh satu tahun. Sebagai rasa terima kasihku, aku bisa memberimu satu kesempatan untuk mendekatinya.”
“Bing Caoji? Nama ini sama dengan Patriark Gunung Es Utara...” Shen Lao sempat terkejut namun perkataan Bing Caoji yang terakhir membuatnya tertawa pelan.
Perempuan berumur dua puluh satu tahun yang sedari tadi memperhatikan Bing Caoji dan Shen Lao hanya memasang wajah datar, tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali.
“Xiaxia, sini. Aku ingin kau belajar sesuatu dari pemuda ini. Sangat jarang bahkan aku tidak pernah mendengar ada seorang pendekar bumi yang berusia tujuh belas tahun. Semoga kau bisa memetik beberapa pelajaran darinya.” Bing Caoji menyuruh Bing Jinxia mendekat. Sementara tangannya sudah memegang sebuah guci berisi arak yang disediakan pemilik kapal.
“Jangan bercanda. Ayah hanya mencari alasan agar bisa menikmati arak bukan?” Bing Jinxia mengambil guci yang ada ditangan Bing Caoji, lalu menaruhnya kembali di meja.
‘Ketahuan...’ Bing Caoji sedikit kesal. Shen Lao yang memperhatikan sikap Bing Caoji dan Bing Jinxia serta kedekatan keduanya hanya tersenyum tipis.
“Silahkan dinikmati...” Shen Lao menawarkan hidangan yang telah disajikan diatas meja.
Tanpa menunggu lebih lama, Bing Caoji mulai menyantap hidangan bersama Shen Lao. Beberapa saat barulah Bing Jinxia mulai sedikit mencicipi hidangan lezat yang telah disediakan di atas meja.
“Anak muda, aku pernah mendengar kabar burung jika seorang pemuda bermarga Shen melakukan pembantaian terhadap Keluarga Zhong. Apa itu benar?” Bing Caoji kelepasan saat berbicara sehingga membuat meja makan di atas kapal menjadi canggung.
“Maaf Senior, kita baru saja saling kenal. Aku tidak bisa menceritakan masalah pribadiku pada orang yang belum mendapatkan kepercayaanku.” Nada berbicara Shen Lao yang terdengar angkuh membuat Bing Jinxia menatap tajam pemuda itu, sedangkan Bing Caoji menunjukkan ekspresi yang berbeda.
Bing Caoji justru tertarik dengan sikap alami Shen Lao. Banyak pemuda yang bersikap sopan hanya karena ingin mengenal anaknya, tetapi Shen Lao sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan sedikitpun pada anaknya.
‘Pemuda ini memiliki aura yang unik. Aku merasa bisa akrab dengannya...’ Bing Caoji memegang guci berisi arak, namun tangannya ditepis Bing Jinxia.
Bing Jinxia hanya duduk manis dan memejamkan matanya, mendengarkan cerita ayahnya. Perempuan cantik yang terkenal dengan julukan Dewi Es ini sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan dengan cerita ayahnya.
Bing Jinxia sendiri penasaran dengan aura dingin yang sekilas muncul secara tipis-tipis ditubuh Shen Lao. Aura ini sangat dia kenal, dan Bing Jinxia ingin menanyakannya secara langsung kepada Shen Lao tetapi dia mengurungkan niatnya.
Shen Lao yang merasa diperhatikan Bing Jinxia menatap balik perempuan tersebut. Keduanya saling menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya menoleh seolah-olah hanya ingin saling menyapa.
Bing Caoji hanya mengelus jenggotnya karena melihat anak perempuannya menatap laki-laki. Baru kali dia melihat anak perempuannya menatap laki-laki lebih dari lima detik.
Setelah mengobrol lama, akhirnya Shen Lao sedikit mengenal karakter Bing Caoji. Dia pernah mendengar langsung dari cerita Ling Qiuyu dan Chi Rong tentang Patriark Gunung Es Utara yang terkenal tegas, tetapi malam ini Shen Lao melihat sisi lainnya dari Patriark Gunung Es Utara.
Walau harus Shen Lao akui anak dari Patriark Gunung Es Utara memiliki kecantikan yang menandingi Chi Rong, tetapi Shen Lao sama sekali tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan saat melihat sendiri kecantikan sang Dewi Es dari Gunung Es Utara.
“Senior, terimalah uang ini.” Shen Lao memberikan sejumlah uang kertas pada Bing Caoji setelah kapal yang dia tumpangi menepi.
Bing Caoji tidak menerima uang pemberian Shen Lao, “Anak muda, aku dan Xiaxia akan melanjutkan perjalanan langsung menuju Lembah Bunga Persik. Sampai bertemu disana, jika membutuhkan sesuatu selagi aku masih menyanggupinya. Maka aku akan membantumu.”
Shen Lao menaruh kembali uang yang hendak dia berikan pada Bing Caoji. Setelah Bing Caoji berpamitan, Bing Jinxia memberi hormat padanya dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Baru kali ini Shen Lao menemukan seorang perempuan yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padanya. Terlebih Bing Jinxia terlihat begitu dingin dan pendiam. Bahkan seingatnya, Bing Jinxia hanya berbicara ketika menegur Bing Caoji.
Setelah Bing Caoji dan Bing Jinxia menjauh, Shen Lao mengetuk pintu kamar yang digunakan Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran. Beberapa saat kemudian ketiga perempuan yang melakukan perjalanan bersamanya itu keluar kamar.
“Kakak Qiuqiu, aku tidak butuh istirahat.”
“Rongrong, kau harus istirahat yang cukup. Aku khawatir dengan anak kita.”
Shen Lao kebingungan saat melihat dua istrinya berdebat kecil. Memang Chi Rong memiliki kondisi tubuh yang unik, tetapi tetap saja Shen Lao khawatir dengan kondisi kehamilan Chi Rong.
“Ah, Gege.” Chi Rong berjalan ke arah Shen Lao dan berjinjit pelan, “Bantu aku...”
“Rong‘er, malam ini kita istirahat. Besok baru kita lanjutkan perjalanan menuju Lembah Bunga Persik.” Shen Lao mengelus rambut Chi Rong. Akhirnya Chi Rong diam dan menuruti perkataan Shen Lao.
Ling Qiuyu dan Jia Huaran bernapas lega. Karena mereka berdua akhir-akhir ini sadar jika Chi Rong lebih sensitif semenjak hamil muda.
Ling Qiuyu yang berjalan mendekati Shen Lao mengangkat alisnya, “Lao‘gege, aku mencium wangi perempuan dibadanmu.”
Seketika Chi Rong menatap tajam Shen Lao, sementara Jia Huaran menutup mulutnya karena melihat wajah Shen Lao yang ketakutan.
“Tunggu, aura ini...” Chi Rong samar-samar merasakan aura yang tidak asing disekitar Shen Lao, ‘Xiaxia?’
“Perasaanmu saja Yu‘er...” Shen Lao berkata sambil mengajak mereka bertiga turun dari kapal.
“Terima kasih Tuan Muda. Berhati-hatilah...” Pemilik kapal melambaikan tangannya saat Shen Lao menjauh.
Setelah Shen Lao, Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran menjauh. Pemilik kapal tersenyum sementara tubuhnya gemetaran, “Mangsa baru yang menggoda. Terlebih mereka ada tiga, tidak empat.”