Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 72 - Lembah Bunga Persik


Setelah berjalan melewati bukit dan pegunungan, akhirnya Shen Lao dan rombongannya sampai di Lembah Bunga Persik.


Tempat yang pertama mereka kunjungi adalah sebuah rumah makan, Shen Lao memesan hidangan terlezat yang dapat disajikan rumah makan.


Bing Caoji dan Bing Jinxia yang telah kehabisan uang dalam perjalanan menerima tawaran Shen Lao untuk makan bersama.


“Lao‘er, pesankan arak terbaik disini...” Bing Caoji berbisik pelan pada Shen Lao yang sedang duduk didekat Chi Rong.


“Pelayan, berikan aku arak terbaik.” Mendengar Shen Lao yang memesan arak, Ling Qiuyu dan Chi Rong tersedak.


“Gege, apa kau pernah meminum arak?”


“Lao‘gege, apa kau pernah meminum arak?”


Chi Rong dan Ling Qiuyu sama-sama bertanya, Shen Lao menggaruk kepalanya dan menjelaskan jika Bing Caoji yang memesannya.


“Ayah, jangan memanfaatkan kebaikan Saudara Shen!” Bing Jinxia menatap Bing Caoji yang berkeringat dingin.


“Xiaxia, semakin lama kau mirip dengan Ibumu.” Bing Caoji berkata pelan dan memilih diam.


Shen Lao yang tahu Bing Caoji takut dengan Bing Jinxia terkekeh pelan, Bing Jinxia menatapnya tajam.


“Saudara Shen, tadi malam aku melihatmu pergi dengan Nona Ling. Kemana kalian pergi?” Pertanyaan Bing Jinxia membuat Shen Lao memucat wajahnya saat Chi Rong dan Jia Huaran menatapnya, sementara Ling Qiuyu salah tingkah.


“Suatu saat kau akan mengetahuinya, Nona Bing.” Shen Lao tersenyum tipis, membuat Bing Jinxia memalingkan wajahnya.


“Ehem! Lebih baik kita menikmati hidangan ini.” Bing Caoji berkata dengan tenang, memecah kecanggungan.


Tanpa sepengetahuan Bing Jinxia, segera Bing Caoji mengambil satu guci arak dan meminumnya. Melihat itu, Shen Lao menahan tawanya karena melihat ekspresi Bing Jinxia yang menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ayahnya.


Shen Lao menikmati hidangan yang disajikan pelayan penginapan, sementara Chi Rong menggoda Bing Jinxia yang terlihat berbeda dari biasanya.


“Xiaxia, apa kau tertarik dengan Gege? Hati-hati, dia itu bukan pemuda yang menjadi idamanmu seperti yang kau ceritakan padaku...” Chi Rong berbicara cukup pelan saat melihat Bing Jinxia makan, seketika Bing Jinxia berhenti mengunyah karena hampir tersedak.


“Saudari Chi, kamu sendiri mengapa bisa jatuh hati padanya? Aku tidak percaya, orang yang membenci laki-laki justru telah menikah. Terlebih...” Bing Jinxia menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang menanggapi ledekan Chi Rong.


“Kau akan mengetahuinya suatu saat, Xiaxia...” Tanggapan santai Chi Rong membuat Bing Jinxia penasaran.


“Kau sudah berubah, Saudara Chi.” Bing Jinxia berhenti mengambil sayuran dengan sumpitnya.


“Ya, mungkin karena dia.” Chi Rong melirik Shen Lao, lalu menyantap hidangan kembali.


Selesai menikmati hidangan, Shen Lao dan Ling Qiuyu membayar, lalu melanjutkan perjalanan menuju Lembah Bunga Persik.


Sesampainya di Lembah Bunga Persik, rombongan Shen Lao disambut oleh seorang pemuda yang merupakan jenius Lembah Bunga Persik.


“Senior, selamat datang di Lembah Bunga Persik. Junior akan mengantarkan rombongan Senior menuju penginapan.” Feng Erlong memiliki wajah yang tampan dan kulit yang putih, sikapnya yang sopan membuat Jia Huaran terkesima, sementara Chi Rong dan Bing Jinxia datar menanggapinya, hanya Ling Qiuyu yang memejamkan matanya setelah melihat wajah Feng Erlong.


“Nona Ling, murid-murid Lembah Bunga Persik akan mengantar rombongan Sembilan Harta Phoenix menuju penginapan.” Feng Erlong melirik Ling Qiuyu sesaat sebelum mengalihkan pandangannya menatap Bing Jinxia dan Chi Rong.


Saat Feng Erlong sedang berbasa-basi, Chi Sumei datang menghampiri Shen Lao dan membuat kaget Bing Caoji, Bing Jinxia maupun Feng Erlong karena sikap Matriark Istana Bulan Biru itu terlihat sangat ramah kepada Shen Lao.


“Lao‘er, apa kau menjaga Rong‘er dengan baik?” Chi Sumei tanpa malu menepuk pundak Shen Lao dan bertanya.


Shen Lao tersenyum tipis, “Nenek Sumei, aku menjaga Rong‘er dengan baik.” Shen Lao melirik Chi Rong yang tersipu malu.


Bing Caoji berdeham sebelum angkat bicara, “Saudari Chi, kau panggil Nenek! Sedangkan aku kau panggil Senior! Lao‘er, panggil aku Kakek Bing!”


“Hah?” Shen Lao terkejut melihat sikap Bing Caoji, bahkan Bing Jinxia mengalihkan pandangannya karena sikap ayahnya.


“Senior, baiklah, baiklah. Kakek Bing, aku akan pergi dulu ke penginapan.” Shen Lao mengikuti Chi Sumei yang menuntunnya, sementara Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran mengikutinya dari belakang.


Melihat sikap Matriark Istana Bulan Biru dan Patriark Gunung Es Utara kepada Shen Lao, ekspresi Feng Erlong berubah seketika.


‘Siapa pemuda itu?’ Feng Erlong merasa Shen Lao memiliki latar belakang yang tidak sembarangan.


Selama perjalanan menuju penginapan, Jia Huaran lebih banyak diam dan mengingat wajah Feng Erlong, melihat sikap Jia Huaran, Shen Lao menggelengkan kepalanya.


Memang Shen Lao akui sosok Feng Erlong memiliki paras yang rupawan, sesampainya di penginapan, Shen Lao diberikan kamar khusus yang digunakan Sembilan Harta Phoenix, sementara Chi Rong tidur dikamar milik Istana Bulan Biru bersama Jia Huaran dan Chi Sumei.


Penginapan yang disediakan oleh Lembah Bunga Persik untuk Istana Bulan Biru dan Sembilan Harta Phoenix sangat berdekatan.


Shen Lao tidak langsung tidur setelah sampai dipenginapan, melainkan segera berendam di kolam air panas bersama Ling Qiuyu.


Dipenginapan sebelah, Chi Sumei memberikan sejumlah arahan pada Chi Rong yang sedang hamil. Melakukan pertarungan sangat berbahaya, tetapi Chi Sumei berharap Chi Rong tidak terlalu keras memaksakan kondisi tubuhnya.


Hanya Jia Huaran yang duduk diteras depan setelah mandi dan menatap pohon persik.


Di kolam air panas, Shen Lao memejamkan matanya dan mendesah pelan, “Ah, sangat nikmat.” Tangannya menahan kepala Ling Qiuyu.


Ling Qiuyu tersenyum menanggapinya, “Lao‘gege, tenang saja, aku tidak akan tertarik dengan lelaki lain selain dirimu.”


Ling Qiuyu menggoda Shen Lao yang terlihat sedang cemburu, Shen Lao tersenyum pelan sebelum menarik tubuh Ling Qiuyu kedalam pelukannya.


“Aku tahu itu, karena kamu sudah mengenalku sejak aku kecil, Yu‘er.” Saat Shen Lao menggodanya, Ling Qiuyu memerah wajahnya.


“Dahulu mungkin aku yang duduk dipangkuanmu, tetapi sekarang telah berbeda...” Shen Lao mengangkat tubuh Ling Qiuyu lembut, sebelum memposisikan tubuh mereka sedekat mungkin.


Suara Ling Qiuyu tercekat, diiringi gerakan lembut Shen Lao yang memegang pinggang ramping Ling Qiuyu untuk bergerak seirama.