
Malam berganti pagi dan sinar rembulan berganti dengan kehangatan sinar matahari. Sinar-sinar hangat itu menembus jendela bangunan yang memiliki sembilan lantai.
Ling Qiuyu membuka matanya dan melihat Shen Lao sedang memeluk tubuhnya. Pemuda ini sudah bangun lebih dulu dari dirinya. Rambut Ling Qiuyu berantakan, lehernya penuh dengan tanda merah, belum lagi bagian dada dan perutnya. Perlahan dia melirik sekelilingnya dan tampaklah bercak darah bercampur cairan disekitar selimut yang menutupi tubuhnya.
“Ah...” Ling Qiuyu melenguh saat tubuhnya tidak dapat digerakkan. Kemudian dia melirik Shen Lao yang menatapnya penuh makna.
“Tuan Muda Shen, bukankah tadi malam kamu belum makan?” Perkataan Ling Qiuyu membuat Shen Lao gemas hingga pemuda ini mengecup pipinya.
“Aku masih kenyang karena tadi malam.” Lalu Shen Lao berbisik di telinga Ling Qiuyu dan menggendong tubuh gadis ini ke kamar mandi.
“Apa badanmu terasa sakit?” Shen Lao menatap wajah Ling Qiuyu yang terlihat begitu lemas.
“Hmmm...” Ling Qiuyu menggumam karena jujur saja dirinya tidak mempunyai tenaga. Bahkan dia pingsan tadi malam
Shen Lao memandikan tubuh Ling Qiuyu sebelum membasuhnya dengan handuk dan menaruhnya kembali ke ranjang.
“Ini akan membantu memulihkan tenagamu...” Shen Lao mengambil Buah Aura dan menuangkan Air Mata Phoenix ke dalam gelas.
“Tuan Muda Shen, jika orang tuaku mencariku bilang saja aku sedang membersihkan kamarmu...” Ling Qiuyu berkata dengan nada lirih namun terdengar begitu lembut.
Shen Lao mengecup kening Ling Qiuyu lembut, “Jangan lupa dimakan...”
“Suapin...” Ling Qiuyu menatap Shen Lao yang hendak pergi keluar dari kamarnya.
Shen Lao tertawa canggung dan mengupas Buah Aura menggunakan pisau kecil.
“Istirahat yang cukup. Hari ini kamu tidur seharian agar nanti malam tenagamu pulih...” Ling Qiuyu tersenyum mendengar ucapan Shen Lao.
“Hmmm...” Ling Qiuyu hanya menggumam sambil mengunyah Buah Aura.
Shen Lao dan Ling Qiuyu saling berbincang dan bercanda. Ling Qiuyu menerima suapan demi suapan yang dilakukan Shen Lao penuh kasih sayang.
“Hari ini bukannya kamu mendapat undangan untuk ke istana?” Ling Qiuyu mencoba duduk di tepi ranjang. Sekujur tubuhnya merasakan kehangatan dan tenaga yang mengalir. Gadis ini melihat masa lalu Shen Lao saat keduanya mengarungi malam bersama.
Hari ini sebenarnya Shen Lao dan Ling Qiuyu mendapatkan undangan ke istana karena Kaisar Jia Song berniat merundingkan sesuatu dengan Shen Lao.
“Aku ingin membangun kota. Dan nama kota itu akan kuberi nama Shenling...” Shen Lao memeluk perut Ling Qiuyu dan membenamkan wajahnya pada leher gadis itu.
“Tuan Muda...”
“Qiuyu, sebut namaku dengan benar...”
“Lao, terimakasih. Mulai saat ini aku akan mendukungmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu...” Ling Qiuyu menyentuh tangan Shen Lao yang melingkar di perutnya. Shen Lao membisikkan sesuatu di telinga Ling Qiuyu yang mana itu membuat gadis ini memerah wajahnya dan mengangguk lirih.
Shen Lao mengeluarkan sebuah liontin berwarna ungu dan cincin. Dia mengalungkan liontin itu pada leher Ling Qiuyu.
“Ini adalah Liontin Dewi Kesuburan.” Shen Lao menatap wajah Ling Qiuyu yang memerah dan menerima liontin pemberiannya.
“Cincin ini akan menjadi pelindung saat aku jauh darimu.” Setelah cincin pemberian Shen Lao terpasang di jari manis Ling Qiuyu, mereka berdua saling menatap satu sama lain.
“Terimakasih, Lao.” Ling Qiuyu mengecup pipi Shen Lao.
“Aku juga berterimakasih padamu.” Shen Lao mengelus perut Ling Qiuyu sambil menatap wajah gadis itu.
Keduanya berpelukan lama sebelum Ling Qiuyu terlihat begitu lemas dan tertidur.
___
“Tuan Muda, apakah kau melihat Qiuqiu? Kadang-kadang dia sedang sibuk di dapur. Mari sarapan pagi bersama...” Wajah Ling Xie nampak bahagia hari ini.
“Nona Qiuyu sedang membersihkan kamarku...” Shen Lao menjawab. Kemudian dia melihat Ling Han datang dengan wajah yang berseri-seri.
“Bibi Xie, aku masih kenyang. Barusan aku sudah sarapan pagi bersama Nona Qiuyu.”
Perkataan Shen Lao membuat Ling Han dan Ling Xie tersedak. Tak lama mereka berjalan menuju ruang makan, kemudian Shen Lao langsung berpamitan menuju istana.
“Suamiku, di lantai sembilan hanya dihuni Qiuqiu dan Tuan Muda Shen. Jangan-jangan...” Ling Xie menebak-nebak. Kemudian Ling Han memeluknya dari belakang.
“Berkat Tuan Muda Shen, aku masih dapat bertemu denganmu dan Yu‘er. Lagipula Yu‘er juga menyukainya. Aku hanya ingin memberikan satu syarat padanya jika ingin memiliki Yu‘er...”
“Hmm, apa itu syaratnya?” Ling Xie tampak penasaran.
“Kita tunggu dia berbicara kepada kita. Tuan Muda Shen pasti akan membicarakan tentang anak kita kedepannya. Aku yakin dia pemuda yang bertanggung jawab...”
Setelah berkata demikian, Ling Han dan Ling Xie mulai sarapan pagi bersama.
____
“Selamat pagi Tuan Muda!”
“Pagi, kalian semua...” Shen Lao melihat Kakek Nue dan beberapa pendekar baru memberi hormat padanya.
“Kalian harus siap bekerja. Aku akan membuka cabang baru di beberapa kota. Jadi jangan berleha-leha saat banyak waktu istirahat!”
Shen Lao berkata sambil memperhatikan puluhan pendekar Sembilan Harta Phoenix yang sedang berlatih di aula lapangan latihan.
Tanpa basa-basi, Shen Lao langsung menuju istana untuk menemui Jia Song. Ratusan prajurit militer menyambut dan memberi hormat padanya.
“Paman Lu, jika kau butuh sesuatu untuk meningkatkan kemampuanmu. Datanglah ke Sembilan Harta Phoenix, temui orang bernama Kakek Nue dan Senior Feng En.” Shen Lao menepuk pundak Panglima Lu Bu dan berjalan memasuki istana.
“Terimakasih Tuan Muda Shen...” Panglima Lu Bu melihat sendiri bagaimana kemampuan Shen Lao sehingga ini akan menjadi hal baik untuk menjalin kerjasama dengan Sembilan Harta Phoenix.
Di ruangan istana terlihat Jia Song, Yao Ran dan Jia Huaran sedang menunggu kedatangan Shen Lao. Mereka bertiga langsung mengajak Shen Lao makan bersama.
Hidangan lezat tersaji di atas meja. Shen Lao duduk disamping Jia Huaran. Tidak ada satupun yang mengobrol saat mereka berempat makan. Tak lama Yao Ran membuka obrolan setelah selesai menghabiskan makanan.
“Kekasihmu yang bernama Nona Ling tidak ikut?” Yao Ran sengaja menyinggung hal ini. Jia Song dan Jia Huaran langsung menatap Shen Lao.
“Bibi Ran, Nona Qiuyu sedang ada kesibukan...” Shen Lao beralasan. Mana mungkin dia mengatakan bahwa semalam terjadi sesuatu antara dirinya dan Ling Qiuyu.
‘Dia tidak menyangkal jika Nona Ling menjadi kekasihnya. Apakah Huahua akan dicampakkan...’ Pikir Yao Ran.
“Lao‘er, Paman Song memberikan ini padamu...” Jia Song menepuk tangannya, “Pelayan!”
Jia Song memberikan seratus juta keping emas kepada Shen Lao. Hanya Jia Huaran yang mengetahui bagaimana kekayaan yang dimiliki Shen Lao dan dia belum memberitahu hal ini pada ayahnya.
“Apa ada yang kau inginkan lagi?” Jia Song menatap tajam Shen Lao yang tidak terlalu tertarik dengan uang sehingga dia menjadi penasaran. Jia Song berpikir Shen Lao menginginkan sesuatu yang lain.
Yao Ran dengan sedikit bercanda menanggapi perkataan suaminya, “Apakah kau menginginkan Huahua?”