Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 51 - Kamu Tidak Selemah Apa Yang Kamu Pikirkan


Setelah menguasai Tubuh Dewi Bunga dan Tubuh Dewi Salju, Chi Rong merasakan perbedaan besar dalam tubuhnya. Bahkan Aura Salju Kekal dapat dia kuasai.


Setelah sembilan hari berada di dalam Jurang Abadi, Chi Rong membasuh tubuhnya yang dipenuhi dengan keringat peluh dirinya dan Shen Lao. Dia melihat Shen Lao yang sedang tertidur lelap.


Baru kali Chi Rong melihat Shen Lao tertidur kelelahan setelah pergumulan panjang mereka. Chi Rong berjalan tertatih karena merasakan sakit di pangkal pahanya.


“Apa masih sakit?” Shen Lao bertanya. Saat melihat Chi Rong berjalan tertatih.


Chi Rong menoleh dan melihat Shen Lao yang baru saja bangun, “Hmmm... Ini salah siapa? Dasar...”


“Bukankah kamu menyukainya?” Shen Lao beranjak dari tempat tidur, kemudian menarik tangan Chi Rong.


“Gege, sudah...,” tolak Chi Rong seraya menolak halus tangan Shen Lao yang menarik tubuhnya.


Shen Lao menunduk dan mencium perut Chi Rong, kemudian tersenyum tipis, “Rong‘er, aku benar-benar kelelahan...” Telapak tangannya mengusap lembut perut Chi Rong.


Chi Rong pasrah dan duduk di pangkuan Shen Lao, suaminya ini berulang kali mencium perutnya.


“Gege, aku mau mandi...” Chi Rong menggerutu pelan.


Setelah itu Shen Lao menggendong tubuh Chi Rong. Dia tetap bersikeras, seperti biasa mereka berdua mandi bersama di dalam Kolam Aura.


Shen Lao dan Chi Rong memang selalu mengunjungi Sembilan Harta Phoenix setelah berlatih, dan setiap mereka kembali, Jia Huaran selalu membuatkan minuman hangat.


“Aku rasa minuman yang dibuat Hua‘er sangat berkhasiat...” Shen Lao menggumam pelan sambil meremas gundukan kenyal dan membelainya lembut.


Chi Rong langsung memukul perut Shen Lao, “Sudah cukup! Kita keluar dari Jurang Abadi!”


Shen Lao mengikuti Chi Rong dari belakang. Mereka berdua kembali ke Sembilan Harta Phoenix setelah sembilan hari berada di Jurang Abadi.


____


Sesampainya di Sembilan Harta Phoenix, Shen Lao dan Chi Rong langsung disambut Ling Qiuyu dan Jia Huaran yang telah menunggu kedatangan mereka.


“Lao, aku sama sekali tidak membantu...” Ling Qiuyu menundukkan kepalanya.


Jia Huaran dan Chi Rong memegang pundak Ling Qiuyu. Mereka berdua menenangkan Ling Qiuyu yang terlihat kurang mempercayai dirinya.


Shen Lao menghela napas panjang. Walau Ling Qiuyu paling tua diantara Chi Rong dan Jia Huaran, tetapi Ling Qiuyu membedakan dirinya dengan Chi Rong ataupun Jia Huaran.


“Yu‘er, mungkin kamu tidak sehebat harapanmu, tetapi kamu juga tidak selemah apa yang kamu pikirkan...” Shen Lao mendekati Ling Qiuyu, Chi Rong dan Jia Huaran, “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, tetaplah menjadi diri sendiri. Ya, aku sendiri tidak pandai di dalam bidang pengobatan. Bahkan aku tidak pandai memasak. Aku ingin kita berempat saat ini saling melengkapi, Yu‘er, Rong‘er, Hua‘er...”


Wajah Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran sedikit memerah setelah mendengarkan perkataan Shen Lao.


“Maat atas kelancangan saya, Tuan Muda.” Shen Lao melirik Kakek Nue yang datang membawakan sebuah informasi baru kepadanya.


Shen Lao menyuruh Ling Qiuyu agar membawa Chi Rong dan Jia Huaran ke lantai bawah, kemudian dia menghampiri Kakek Nue untuk mendengarkan laporan yang akan disampaikan oleh Kakek Nue.


Shen Lao dan Kakek Nue berbincang seputar perkembangan Sembilan Harta Phoenix, memang akhir-akhir ini perkembangan Sembilan Harta Phoenix semakin meningkat pesat.


Tetapi satu informasi yang membuat darah Shen Lao mendidih adalah pembantaian yang dilakukan salah satu pangeran Kekaisaran Ma bersama pasukan militer di kota perbatasan antara Kekaisaran Jia dan Kekaisaran Ma.


“Tuan Muda, sebenarnya kecantikan Nona Muda sudah terdengar ke beberapa kekaisaran. Dan Tuan Putri juga tentunya...” Kakek Nue tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat raut wajah Shen Lao dipenuhi kemarahan.


Kakek Nue menjelaskan bahwa pangeran Kekaisaran Ma ini akan melakukan pergerakan menuju Benteng Angin Utara.


“Mereka akan menaklukkan Benteng Angin Utara bersama tiga ribu tiga ratus pasukan militer...” Kakek Nue menjelaskan.


Shen Lao memijat keningnya dan mengajak Kakek Nue menemui Jia Song di Istana Jia.


____


Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.


Buat kalian yang suka dengan novel karya Pena Bulu Merah, apalagi yang sudah ngikutin dari Kagutsuchi Nagato bisa follow author dan masuk grup chat author. Dan buat yang benar-benar menyukai karya Pena Bulu Merah bisa masuk grup wa nantinya.