Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 42 - Istana Bulan Biru II


Hei Wu adalah lawan paling tangguh setelah Lei Wu. Pria sepuh yang sekarang menghancurkan lima ratus pedang tak kasat mata lainnya itu membuat Shen Lao memutar otaknya.


Sambil bertukar serangan, Shen Lao mencoba mengimbangi kecepatan tebasan Lei Wu dalam mengayunkan pedangnya.


“Ada apa? Kekuatan Phoenix ini tidak pernah aku lihat sebelumnya! Mungkin hanya pernah kudengar dari cerita legenda, tetapi hari ini aku akan menangkapmu hidup-hidup dan mengorek semua informasi yang kau punya!” Hei Wu melepaskan tebasan memutar dan membuat Shen Lao terpental beberapa meter ke belakang.


Shen Lao mengepakkan kedua sayap yang berwarna api merah dan api biru itu. Dia tentu tidak akan membiarkan Hei Wu hidup setelah membuat Chi Rong menangis.


Shen Lao melihat Hei Wu mengejarnya dan memberikan dua puluh pukulan tepat di perut dan dadanya. Sekujur tubuh Shen Lao terasa menyakitkan, kekuatan Hei Wu jauh lebih hebat dari Lei Wu dan setiap serangannya lebih dahsyat dari Lei Wu.


Selepas menerima dua puluh pukulan, Shen Lao memainkan pedangnya dengan lincah dan memberikan tebasan dalam di perut Hei Wu. Dia tidak memberikan celah bagi Hei Wu untuk bertindak.


‘Pedang miliknya ini!’ Hei Wu mengangkat alisnya sebelum melepaskan api yang membara pada bilah pedangnya.


Shen Lao menyambut tebasan berapi-api itu dan kembali melepaskan tebasan dari segala arah. Walau dirinya telah beberapa kali terkena serangan telak, tetapi kondisi tubuh Shen Lao berbeda.


Api biru menyembuhkan kulitnya yang melepuh, sementara api berwarna merah terus menyembuhkan sekujur tubuhnya yang tersayat.


“Monster...” Hei Wu menyeringai dan mengejek Shen Lao.


“Hah? Monster katamu?” Shen Lao tertawa geli, “Jangan bercanda, rasa sakit karena seranganmu sangat terasa!”


Hei Wu melepaskan sebuah tebasan yang dipenuhi energi pedang, “Kupikir kau akan senang ketika aku memanggilmu monster seperti pendekar dari Sembilan Raja Hitam!”


“Monster adalah makhluk tidak berakal! Jangan samakan diriku dengan makhluk rendahan seperti monster!”


Hei Wu tersentak kaget karena tidak menyangka perkataannya memancing kemarahan Shen Lao.


“Aku akan membunuh orang-orang yang kau sebut monster itu!” Di dalam pikirannya, Shen Lao mengingat bayangan tiga orang dari Lentera Iblis Tunggal.


Tebasan pedangnya menjadi menajam dan dipenuhi aura berwarna hitam pekat, “Teknik Kedua Pedang Dewa Malam ~ Pembasmi Malam!”


Tebasan yang dipenuhi energi pedang itu mengenai perut Hei Wu lebih dalam. Wajah Hei Wu berubah menjadi pucat pasi, dia tidak mengira kemampuan Shen Lao tiba-tiba meningkat karena provokasinya.


“Apa kau tahu? Aku paling suka menusuk orang yang suka mengoceh sepertimu dengan pedang!” Ketika Pedang Dewa Malam hampir mengenai wajah Hei Wu, sebuah tebasan menyilang berhasil dilesatkan Hei Wu.


“Apa kau sungguh dari Kekaisaran Jia?” Hei Wu mengambil sebuah pil dan menelannya, “Bahkan aku tidak pernah melihat teknik dan orang sepertimu di Sembilan Raja Hitam!”


Shen Lao menggelengkan kepalanya pelan, “Kekaisaran Jia adalah tanah airku. Dan jangan samakan aku dengan sembilan orang itu!”


Seribu pedang tak kasat mata yang dipenuhi aura berwarna merah dan ungu berterbangan. Pedang-pedang itu dilapisi aura yang membara dan bergerak secepat kilat menyerang Hei Wu dari berbagai arah.


Shen Lao menatap ke bawah dan bergerak dengan kecepatan tinggi mendekati Chi Sumei. Sementara Hei Wu menyembuhkan lukanya dan menghentikan pendarahannya.


“Senior Chi, perkenalkan namaku Shen Lao.” Tangannya mengambil beberapa sumber daya setelah memberi hormat.


Ketika Buah Es dan Apel Es dipegang Chi Sumei, ekspresi pendekar agung dari Kekaisaran Ma dan Ruo Niu terkejut, bahkan Zhi Lhuo langsung menatap Shen Lao dengan seksama.


“Junior, serahkan perempuan itu padaku. Dan terimakasih karena telah membantu kami, Istana Bulan Biru.” Chi Sumei menatap Shen Lao dengan seksama. Dia memperhatikan Shen Lao dari ujung rambut hingga ujung kaki.


“Semua ini berkat Peri Bunga.”


Chi Sumei memasang tatapan menyelidik, ‘Rong‘er pernah tersenyum lepas ketika mendengar kabar tentang pemuda bernama Shen Lao. Apakah dia...”


Chi Sumei melompat ke atas dan akan menanyakan kebenarannya setelah menghabisi Ruo Niu.


“Pemuda itu sangat tampan, aku akan menjadikannya sebagai kekasihku...” Ruo Niu terkekeh keras dan menyambut tebasan pedang Chi Sumei dengan pukulan tangannya.


“Sayangnya dia tidak tertarik dengan nenek tua bangka sepertimu!” Ketika Chi Sumei berkata demikian, dahi Ruo Niu mengkerut.


Keduanya langsung bertukar serangan dengan jurus yang dahsyat dan berkali-kali melepaskan jurus yang hebat.


Bersamaan dengan Chi Sumei dan Ruo Niu yang bertukar serangan, Shen Lao memukul mundur Zhi Lhuo.


“Shen? Aku tidak menyangka masih ada keturunan Keluarga Shen! Apa kau tidak tertarik pergi ke kota itu?”


Zhi Lhuo sengaja memancing kemarahan Shen Lao, namun pemuda ini tetap bersikap tenang.


“Kau bukanlah salah satu dari mereka. Jangan dendam padaku, karena aku akan membunuhmu!” Shen Lao melancarkan tebasan beruntun yang membuat Zhi Lhuo terpental puluhan meter ke belakang.


Zhi Lhuo melepaskan tenaga dalam berjumlah besar dan membuat bilah pedangnya dipenuhi aura berwarna merah. Dalam satu kali tebasannya, dia membuat tebasan berbentuk kepala singa yang membara.


Shen Lao menyambutnya namun tebasan Zhi Lhuo meledak. Tubuh Shen Lao langsung terhempas ke bawah, dan dengan sekuat tenaga dia mengepakkan kedua sayapnya.


‘Pendekar bumi dari sekte besar memang beda dibandingkan penjilat...’ Shen Lao kembali mendekati Zhi Lhuo dan melepaskan tebasan yang memancarkan energi pedang berwarna hitam pekat, ”Teknik Pertama Pedang Dewa Malam ~ Satu Cahaya Mengoyak Kegelapan!”


Bersamaan dengan Shen Lao yang berhasil mendaratkan tebasan secepat kilat pada tubuh Zhi Lhuo, serangan dari belakang yang dilepaskan Hei Wu membuat tubuh Shen Lao terbelah menjadi dua bagian.


___


Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like dan komentar. Ingin baca lebih? Vote dong. Vote kagak minta crazy up. Etdah, baca gratis ngeluh mulu.


Satu lagi, kalau engga suka sama novel ini mending engga usah baca. Engga maksa soalnya. Dari novel pertama Kagutsuchi Nagato, aku liat mana pembaca yang ngikutin dari awal sampai akhir, mana yang kasih suport bagus dan mana pembaca yang rewel sok kritik. Udah nerka-nerka tapi baca terus.


[Jing Yang]


Aku tidak butuh orang yang menemaniku saat di awal perjalanan saja, tetapi aku ingin melihat siapa yang bertahan menemani perjalananku sampai akhir nanti.


Menuju Senja.


Selamat menikmati karya yang lahir dari keresahan dan ketidakpastian.