Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 73 - Tekad Teguh Mu Shang


Sejak melakukan perjalanan menuju Lembah Bunga Persik, Shen Lao selalu tidak memiliki waktu luang bersama Chi Rong dan Ling Qiuyu, sehingga dia sebisa mungkin membagi waktu untuk keduanya.


Setelah melakukan pertarungan singkat dengan Ling Qiuyu dikolam air panas, akhirnya Shen Lao dapat melatih kemampuannya diruang pribadi yang disediakan penginapan.


“Lao‘gege, jangan begadang. Besok adalah hari dimulainya turnamen...” Ling Qiuyu berkata dari balik pintu.


Shen Lao tersenyum tipis, “Lebih kau istirahat Yu‘er, maaf karena memintamu melakukan itu...”


Ling Qiuyu tersipu malu, “Jangan membahas hal itu!” Setelah itu tidak ada suara Ling Qiuyu.


Shen Lao melatih Seni Napas Phoenix dan Seni Napas Naga hingga tengah malam. Tak lupa dia berkomunikasi dengan Binatang Roh miliknya.


Cukup sulit berbicara dengan Naga Emas karena Shen Lao sendiri belum cukup mengendalikan kekuatan dari Binatang Roh yang melegenda itu.


Setelah hari semakin malam, Shen Lao menuju kamar Ling Qiuyu dan mendapati istrinya itu tertidur lelap dengan wajah kelelahan yang menampakkan senyum kepuasan.


Setelah itu Shen Lao berkunjung ke penginapan Istana Bulan Biru, disana dia melihat Chi Sumei yang sedang mengelus Chi Rong, dimana istri pertamanya itu tertidur dipangkuan Chi Sumei.


Shen Lao tersenyum tipis kemudian keluar penginapan, dia tidak melihat Jia Huaran dan itu membuatnya bertanya-tanya tentang keberadaan Tuan Putri Jia itu.


Saat Shen Lao sedang berdiri dengan tenang ditengah halaman, Chi Sumei datang menghampirinya.


“Tadi Hua‘er diajak berjalan keliling Lembah Bunga Persik oleh putra salah satu tetua disini.” Yang Chi Sumei maksud adalah beberapa saat yang lalu, Feng Erlong datang ke penginapan berniat mengajak Chi Rong untuk berjalan-jalan, tetapi Chi Rong menolaknya dengan alasan akan berlatih dengan Chi Sumei.


Ditolak ajakannya oleh Chi Rong, Feng Erlong mengajak Jia Huaran berkeliling Lembah Bunga Persik. Jia Huaran menerima ajakan Feng Erlong dengan penuh antusias, bahkan keduanya sempat bergandengan tangan saat berjalan keluar penginapan.


Mendengar itu, Shen Lao terlihat tetap tenang, “Aku pergi dulu, Nenek Sumei.”


Chi Sumei tersenyum melihat Shen Lao, pemuda itu bersikap ramah pada orang yang dia percaya. Tetapi sekilas Chi Sumei melihat tatapan dingin Shen Lao dan itu membuat dirinya terkejut.


Shen Lao berjalan menapaki jalanan, dimana pohon persik tumbuh dengan suburnya. Ada beberapa orang yang berjualan dipinggir jalan, Shen Lao membeli daging tusuk dan memakannya dengan lahap.


‘Lembah Bunga Persik adalah salah satu sekte terbesar di Kekaisaran Jia. Melihat banyaknya pendekar muda disini, aku rasa mereka sangat berbakat...’ Shen Lao memperhatikan beberapa pendekar muda yang berjalan dengan gagah dan terkesan arogan.


Shen Lao melanjutkan untuk mengelilingi Lembah Bunga Persik setelah membayar, tanpa sadar dia terus berjalan hingga sampai disebuah bangunan yang rapuh. Disana terdengar suara pedang yang saling bersentuhan.


“Kalian semua adalah pecundang karena mengeroyokku?!” Terlihat pemuda yang sebaya dengannya dikepung sekitar sepuluh pria berusia dua puluh lima tahun, Shen Lao menghela napas panjang.


“Aku tidak percaya kau mewakili Lembah Bunga Persik. Seharusnya hanya Tuan Muda Feng Erlong saja yang mengikutinya sebagai peserta laki-laki!” Salah satu pendekar muda menampar wajah pemuda yang sedang dikepung.


Lalu yang lainnya menghujani pemuda itu dengan pukulan dan tendangan yang penuh tenaga dalam. Pemuda itu mengerang kesakitan dan memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


Namun pemuda itu terlihat tidak menyerah dan tersenyum menyeringai saat melihat orang-orang yang mengeroyoknya menjauh beberapa langkah darinya.


“Guru She yang merekomendasikanku. Aku tidak akan mempermalukan namanya, aku pasti akan menjadi seorang pendekar yang mampu melindungi kedamaian didunia ini, apapun yang terjadi!” Pemuda itu tersenyum lebar.


Mendengar ucapan pemuda itu, sepuluh pendekar muda tertawa terbahak-bahak. Walau umur mereka lebih tua dan memperlakukan junior mereka dengan sangat parah, mereka sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan saat menyiksanya.


“Mu Shang! Kau hanyalah seonggok sampah dan tidak bisa dibandingkan dengan Tuan Muda Feng Erlong!” Sebuah pukulan mendarat kembali diwajah pemuda itu, “Jadi jangan bicara seolah-olah kau tokoh utama, bocah bodoh!”


Mu Shang menyeringai lebar, ‘Karena aku ingin Saudari Xhialun mengakui diriku dan memenuhi harapan Guru She!’


“Baiklah, aku akan memotong lehermu dengan rapi...” Salah satu seorang pendekar muda menarik pedangnya dan berjalan mendekati Mu Shang.


“Matilah!” Saat pedang itu hampir menyentuh leher Mu Shang, seketika tangannya berhenti dan tidak bisa digerakkan.


“Bukankah kalian masih satu sekte? Kenapa bertengkar seperti ini? Bukankah ini berlebihan?” Shen Lao dengan santai melepaskan tenaga dalamnya membentuk sejumlah pedang tak kasat mata untuk menahan tebasan pedang pendekar muda.


“Ini bukan urusanmu, orang luar!” Pendekar muda itu mengayunkan pedangnya pada Shen Lao, namun Shen Lao menghilang dari pandangannya dan memukul perutnya dengan telak.


“Saat kau mengayunkan pedangmu pada orang lain, berarti kau sudah bersiap untuk mati, kan?!” Shen Lao menginjak kepala pendekar muda yang dia pukul tepat setelah pendekar muda itu terkapar ditanah.


Melihat itu, sembilan pendekar muda yang lain segera menarik pedangnya dan menatap tajam Shen Lao tanpa menurunkan kewaspadaannya sedikitpun.


“Siapa kau? Beraninya kau mencari masalah dengan pendekar dari Lembah Bunga Persik?!”


“Setelah berurusan dengan kami! Kau tidak akan selamat!”


Shen Lao tersenyum dingin, “Lembah Bunga Persik? Aku tidak takut! Majulah kalian semua, walau bergabung sekalipun, aku tidak akan kalah dengan mudah!”


Aura pembunuh berjumlah besar seketika terlepas dan membuat sembilan pendekar muda berkeringat dingin bahkan kesulitan bernapas.


“Kami akan melaporkan ini pada Tuan Muda Feng Erlong! Aku pastikan dia membunuhmu!” Salah satu pendekar muda berteriak dan seketika tubuhnya mendadak lemas saat Shen Lao menghilang dan sudah berada dihadapannya.


“Apa kau mengancamku?” Shen Lao menatap dingin pendekar muda itu, sebelum menendang kepalanya dan memukul kepalanya.


Setelahnya dia menginjak kepala pendekar muda itu dan menatap tajam yang lainnya, “Cih, sekumpulan sampah yang mengandalkan nama besar sektenya! Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran! Suasana hatiku sekarang sedang tidak bagus!”


Suara Shen Lao bagaikan sambaran petir yang menggelegar, terlebih aura pembunuh yang dilepaskannya begitu mencekam.


Sepuluh pendekar muda berlari terbirit-birit menjauh dari Shen Lao. Mereka penuh ketakutan saat membayangkan aura pembunuh yang dilepaskan Shen Lao.


“Aduh, menyakitkan. Sial...” Pemuda yang dikeroyok berbaring ditanah, Shen Lao berjalan mendekati pemuda itu dan mengulurkan tangannya, lalu bertanya.


“Siapa namamu?”


Pemuda itu menjawab dan menyambut uluran tangan Shen Lao penuh antusias sekaligus kebingungan.


“Namaku Mu Shang.”


Shen Lao tersenyum tipis, “Mu Shang, aku tidak membenci orang sepertimu.”


Setelah itu Shen Lao berjalan kembali ke penginapan dan melambaikan tangannya pada Mu Shang yang tercengang.


‘Sial, dia benar-benar keren! Siapa dia?’ Mu Shang menatap Shen Lao penuh kekaguman.


Tindakan Shen Lao penuh misteri, namun pertemuannya dengan Mu Shang bisa dibilang sebagai awal terbentuknya sebuah kelompok paling mengerikan dan melegenda di Benua Tujuh Bintang.