
“Apa aku tidak mengganggu kalian?” Bing Jinxia merasa sungkan karena bagaimanapun Shen Lao, Chi Rong dan Ling Qiuyu adalah keluarga, saat ditawari sarapan pagi bersama tentu membuat Bing Jinxia malu.
“Kau tidak perlu merasa sungkan, Xiaxia. Mungkin berapa tahun lagi kau dan Hua‘er akan menjadi korban keganasan Gege selanjutnya.” Chi Rong berkata dengan nada yang tenang, sedangkan Shen Lao merasa tidak terima mendengarnya.
“Keganasan?” Bing Jinxia dan Jia Huaran sama-sama kebingungan.
“Rong‘er, kau pikir suamimu ini apa?” Shen Lao menatap tajam Chi Rong.
Namun saat Chi Rong menatap tajam dirinya, segera Shen Lao menundukkan kepalanya.
“Diam! Bukankah kau memang begitu. Dasar tidak peka!” Chi Rong mendecakkan lidahnya setelah melihat Shen Lao takut pada dirinya.
“Sudah, sudah. Rongrong jangan marah-marah terus, tidak baik untuk kesehatan anak kita.” Ling Qiuyu datang membawa sup hangat dan teh herbal buatan Jia Huaran.
“Silahkan dinikmati, Lao‘gege.” Ling Qiuyu menghidangkan sup hangat dan teh herbal pada Shen Lao terlebih dahulu sebelum yang lain.
Melihat bagaimana Ling Qiuyu melayani Shen Lao membuat Bing Jinxia kagum, sementara dia mempertanyakan ketakutan Shen Lao pada Chi Rong.
“Saudara Shen, aku melihatmu selalu bersikap kasar dan dingin pada orang lain, tetapi mengapa dihadapan kami kau terlihat berbeda?” Bing Jinxia bertanya secara tiba-tiba.
Mendengar itu Ling Qiuyu tersenyum, sedangkan Chi Rong mendengarkan penjelasan Jia Huaran tentang teh herbal, hanya Shen Lao yang diam dan menatap tajam Bing Jinxia.
“Aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa, Nona Bing.” Mendengar jawaban Shen Lao membuat Bing Jinxia membungkuk pelan.
“Maafkan aku karena telah menanyakan hal itu padamu.” Melihat sikap Bing Jinxia yang meniru Ling Qiuyu membuat Chi Rong dan Jia Huaran tertawa pelan.
“Kakak Xiaxia, kau tidak perlu bersikap formal kepada Lao.” Jia Huaran memandang wajah Bing Jinxia yang cantik namun sikap Bing Jinxia terkadang membuatnya tertawa karena lucu.
“Xiaxia, sepertinya kau menyukai suamiku...” Chi Rong mengeledek dan membuat Ling Qiuyu tersedak saat meminum teh herbal setelah melihat Shen Lao yang bersikap tenang seolah-olah pemuda itu tidak menyangkal jika Bing Jinxia pantas menjadi pendamping hidupnya.
Sebelum Bing Jinxia menjawab, Shen Lao menepuk kedua tangannya untuk mencairkan suasana karena Chi Rong menanyakan hal yang membuat suasana pagi diteras penginapan menjadi canggung.
“Baiklah, lebih baik kita sarapan pagi.” Shen Lao segera berdoa sebelum menikmati sarapan pagi bersama empat perempuan yang menjadi idaman setiap laki-laki.
Melihat Shen Lao membuat Panglima Lu Bu dan Chi Sumei menggelengkan kepalanya.
“Beruntung sekali dia, bahkan cucuku jatuh hati padanya. Tetapi aku tidak keberatan karena Rong‘er adalah istri pertamanya.” Chi Sumei berkata dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Sementara Panglima Lu Bu berekspresi rumit karena bagaimanapun dia melihat Shen Lao yang berdarah dingin saat membunuh lawannya. Melihat Shen Lao dimarahi Chi Rong adalah hal yang baru baginya.
“Saudari Chi, maafkan anakku yang sarapan pagi ditempat penginapanmu.” Bing Caoji sebenarnya ingin melihat Bing Jinxia, dan perkataannya tentu hanya alasan.
Chi Sumei menunjukkan senyum lain, “Xiaxia sepertinya menyukai Lao‘er, begitu sebaliknya. Ikhlaskan saja Xiaxia menjadi istri Lao‘er, aku jamin dia akan hidup bahagia karena pemuda itu telah mendapatkan pengakuanku.”
Mendengar ucapan Chi Sumei membuat Bing Caoji berhenti bernapas selama beberapa detik.
“Apa kata dunia jika Lao‘er memiliki Peri Bunga dan Dewi Es yang menjadi istrinya?” Bing Caoji tanpa sadar berkata demikian.
“Palingan banyak orang yang iri dengan Lao‘er. Lagian dia menikahi wanita idaman seperti Yu‘er, dan kau lihat sendiri anak Kaisar Jia sekalipun akan dijadikannya sebagai istri yang entah keberapa. Pemuda mengerikan...” Chi Sumei justru membangga-banggakan Shen Lao sampai membuat Bing Caoji menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga melihat Bing Jinxia dan Chi Rong duduk diruang tengah untuk berlatih, sedangkan Shen Lao dipijat tubuhnya oleh Ling Qiuyu dan Jia Huaran.
“Aku pulang dulu, Saudari Chi. Sepertinya aku memang harus siap-siap melepaskan anakku...” Bing Caoji termakan ucapan Chi Sumei.
Chi Sumei hanya tertawa mendengarnya, sedangkan Panglima Lu Bu kembali ke penginapan untuk mengisi waktu luangnya dengan bermeditasi.
Chi Sumei menatap Shen Lao yang terlihat sedang menikmati pijatan Ling Qiuyu dan Jia Huaran.
“Lao, tubuhmu sangat keras, aku lelah.” Jia Huaran berhenti memijat dan masuk kedalam untuk melihat Bing Jinxia dan Chi Rong berlatih.
Sedangkan Ling Qiuyu juga berhenti memijat, namun memberi tanda pada Shen Lao agar tidur dipangkuan pahanya.
Shen Lao menatap kedua kaki Ling Qiuyu yang jenjang lalu menaruh kepalanya dicelah pada istri keduanya itu.
“Yu‘er, apa kau belum merasakan perbedaan? Apa kau tidak mual dan sebagainya?” Shen Lao bertanya pelan dan menggoyangkan kepalanya seolah-olah menikmati pangkuan paha Ling Qiuyu.
Ling Qiuyu memegang rambut Shen Lao dan tersenyum, “Untuk saat ini belum, tetapi aku rasa sebentar lagi tanda-tandanya akan muncul.”
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Shen Lao kembali bertanya.
“Hmmm, intuisi wanita jangan pernah diremehkan. Aku bahkan bisa menebak jalan pikiranmu yang sekarang ingin meminta jatah padaku bukan?” Ling Qiuyu tersenyum manis dan mencubit gemas pipi Shen Lao.
“Sebelum babak final, kita harus rutin melakukannya, Yu‘er. Semoga saja kau bisa menyusul Rong‘er.” Shen Lao tertidur setelah berkata demikian, Ling Qiuyu hanya tersenyum tanpa sempat menjawab.
‘Dulu dia begitu kecil, tetapi sekarang...’ Ling Qiuyu mengingat Shen Lao mungil yang tidur dipangkuannya, dan itu membuatnya tersenyum sendiri saat mengingatnya.