
Suasana di ruang makan dipenuhi suka cita, terlihat Chi Rong dan Chi Sumei kagum dengan kemampuan memasak Ling Qiuyu.
Shen Lao tersenyum bahagia karena bagaimanapun Ling Qiuyu adalah istri idaman. Dan perempuan itu akan menjadi istrinya.
“Gege, maaf aku tidak pandai memasak...” Bisik Chi Rong lembut.
Shen Lao mencubit pipi Chi Rong lembut, “Tidak perlu dipikirkan. Bukankah aku sudah mengatakan padamu, kita harus saling melengkapi.”
Chi Rong menganggukkan kepalanya dan memilih diam karena Chi Sumei, Ling Han, Ling Xie dan Hua Ruoruo menatapnya.
“Bagaimana kau bisa memasak seenak ini, Yu‘er? Kau adalah istri idaman. Sungguh beruntungnya Lao‘er karena mendapatkanmu...” Chi Sumei berkata sambil menghirup aroma makanan, “Rong‘er dan Hua‘er saja sudah memiliki kemampuan di bidang masing-masing, Lao‘er, bagaimanapun kau harus tetap hidup demi orang-orang yang menyayangimu ini.”
“Iya, Nenek Sumei...” Shen Lao menjawab. Tentu saja dia saat ini bahagia, hanya pembawaan Shen Lao yang terkesan dingin tetap terlihat dalam ketenangannya.
“Nenek Sumei, memasak adalah hobiku. Selain itu, kami harus saling melengkapi.” Ling Qiuyu menjawab dengan suara lembut.
Ling Han yang mendengar perkataan anaknya hanya tersenyum sendiri, tak lama mereka makan malam bersama dengan hidangan lezat yang dimasak Ling Qiuyu.
____
Setelah makan malam bersama, Shen Lao, Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran mendiskusikan rencana mereka kedepannya, terutama pernikahan Ling Qiuyu dan Turnamen Bunga Persik.
Beberapa menit setelah berbincang, Ling Qiuyu masuk ke dalam kamarnya karena telah lelah. Bagaimanapun gadis ini tidak memiliki fisik seorang pendekar seperti Chi Rong dan Jia Huaran. Bahkan Jia Huaran sendiri merasakan kelelahan setelah melakukan perjalanan dari Pegunungan Suxue menuju Ibukota Jiaran. Tuan Putri Kaisar Jia itu menyusul Ling Qiuyu dan tidur di dalam kamar gadis berusia dua puluh lima tahun itu.
Yang tersisa hanya Shen Lao dan Chi Rong yang duduk sambil menikmati minuman buatan Jia Huaran. Kehangatan dari minuman hangat yang mereka berdua minum mulai terasa disekujur tubuh mereka.
Shen Lao menatap lekat wajah Chi Rong, kemudian dia menjelaskan kepada Chi Rong untuk menguasai Aura Salju Kekal dan melatih tubuh Dewi Bunga.
Tentu setelah mendengar penjelasan Shen Lao, Chi Rong mendengus kesal karena sembilan hari mereka setelah pernikahan, Chi Rong memang berkali-kali berendam di Kolam Petir, Kolam Aura dan Danau Pengobatan, tetapi dia hanya menikmati masa-masa pernikahannya dengan Shen Lao.
“Kenapa kamu tidak menjelaskannya saat kita berada di Jurang Abadi selama sembilan hari?” Chi Rong dengan sengit bertanya.
“Waktu itu aku hanya ingin menikmati waktu kita berdua, Rong‘er...” Shen Lao membelai rambut Chi Rong dan mengecup keningnya, sementara Chi Rong mencubit perut Shen Lao.
“Baiklah, tetapi ingat, tugasmu hanyalah membimbingku dan melatihku, tidak ada yang lainnya.” Chi Rong berdiri dan menatap Shen Lao yang mendekatinya.
Tanpa menjawab, Shen Lao merengkuh tubuh Chi Rong dan langsung membuka portal menggunakan Cincin Portal menuju Jurang Abadi.
Sesampainya di Jurang Abadi, Shen Lao dan Chi Rong langsung menuju Kolam Petir untuk melakukan penempaan tubuh Chi Rong.
Chi Rong melepaskan pakaian satu demi satu dengan gerakan yang lembut, Shen Lao tetap terlihat tenang setelah melihat pakaian yang dikenakan Chi Rong terlepas sepenuhnya.
“Gege...” Chi Rong menatap tajam Shen Lao yang menatap tubuhnya dengan seksama.
Kemudian Shen Lao melepaskan seluruh pakaiannya, sebelum masuk ke dalam Kolam Petir menyusul Chi Rong. Saat ini Kolam Petir terlihat seperti air biasa karena belum ada benturan aura manusia dengan aura yang ada di dalam kolam.
“Rong‘er, apa kamu ingat? Setelah aku merenggut kesucianmu saat itu...” Shen Lao memeluk tubuh Chi Rong dari belakang, “Sekarang aura dan tenaga dalammu lebih murni, dan aku sama sekali tidak menyesalinya karena aku mencintaimu. Sembilan hari ke depan aku akan memastikan dirimu menembus Pendekar Agung Tahap Menengah, Rong‘er...”
Chi Rong memegang tangan Shen Lao dan menyadarkan kepalanya pada bahu suaminya itu, “Gege, saat itu aku takut kamu sama seperti laki-laki yang lainnya. Tetapi kamu berbeda. Apa kamu tahu? Aku tidak menyesal sama sekali karena kamu yang merenggut kesucianku. Selain itu kamu tampan, tetapi kamu sama sekali tidak menyombongkan dirimu. Aku menyukai sifatmu yang terkadang hangat dan terkadang juga terlihat dingin.”
Shen Lao tersenyum lalu mengusap seluruh tubuh Chi Rong sambil mengalirkan Aura Salju Kekal yang dia dapat dari Siluman Agung Harimau Salju. Shen Lao melakukan ini demi kebaikan Chi Rong.
Tangannya menyentuh perut Chi Rong dan mengusapnya, “Rong‘er, apa kamu siap dengan semua ini?”
Chi Rong mengecup pipi Shen Lao lembut, “Sebenarnya aku takut hamil, tetapi Gege, aku akan memenuhi kewajibanku sebagai istrimu.”
Shen Lao membelai rambut Chi Rong dan menghirup wangi rambut hitam yang panjang dan terurai itu.
Tak lama air Kolam Petir berwarna emas, Chi Rong masih tetap tenang ketika sambaran kilat petir berwarna emas memenuhi kolam. Tetapi setelah air di dalam Kolam Petir berubah menjadi ungu, sensasi kulit yang langsung bersentuhan dengan air kolam terasa berbeda.
Chi Rong tersentak kaget saat merasakan energi besar masuk ke dalam pori-pori tubuhnya disertai rasa sakit yang luar biasa karena penyiksaan petir yang dimaksud Shen Lao terasa begitu menyakitkan.
Chi Rong menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, tetapi Shen Lao berbisik lembut di telinganya agar jangan melukai bibirnya.
“Rong‘er, tahanlah sebentar. Tubuhmu berbeda dengan Yu‘er dan Hua‘er, tetap bertahanlah. Kamu adalah wanitaku, aku yakin kamu dapat melewatinya...” Tanpa Chi Rong sadari tubuh Shen Lao mendadak lemas karena menyerap sembilan puluh sembilan persen rasa sakit Chi Rong, lalu menyalurkan seluruh khasiat penyiksaan petir ke dalam tubuh Chi Rong, wanita yang telah menjadi istrinya itu.
“Aaaahhhh!” Chi Rong terus berteriak, hingga akhirnya penyiksaan petir diakhiri dengan tubuh Shen Lao yang menimpa tubuhnya.
Chi Rong menahan tubuh Shen Lao dan melihat wajah pemuda tampan yang telah suaminya yang terlihat pucat, sementara dirinya merasakan tubuhnya mengalami perbedaan.
Chi Rong tersentak kaget saat merasakan aliran darahnya berbeda bahkan sekarang dirinya memiliki Tulang Naga Perak. Perlahan Chi Rong mencoba memeriksa denyut nadi Shen Lao, setelah mengetahui pengorbanan Shen Lao, Chi Rong meneteskan air matanya.
“Gege...” Chi Rong menggoyangkan tubuh Shen Lao. Bagaimanapun dirinya telah mencapai Pendekar Agung Tahap Awal, tentu saja penyiksaan petir yang dialami Chi Rong berbeda dengan Ling Qiuyu dan Jia Huaran.
Shen Lao batuk pelan dan menyeka air mata Chi Rong dengan lembut, “Jangan menangis, Rong‘er. Ini kewajibanku sebagai suami untuk melindungimu...” Shen Lao mengecup kelopak mata Chi Rong.
Chi Rong memeluk tubuh Shen Lao dengan erat, dia merasa bahagia karena Shen Lao merupakan suami idaman yang telah lama dia dambakan.
Shen Lao membalas pelukan Chi Rong sebelum melanjutkan proses penempaan tubuh Chi Rong.
____
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.