
Shen Lao melihat Chi Rong benar-benar mempelajari setiap ingatan warisan Roh Dewa Phoenix dengan baik. Shen Lao dengan susah payah mencari dan menggali ingatan tentang kekuatan Phoenix yang cocok dengan Chi Rong.
Kurang lebih salju-salju yang berjatuhan di sekitar Chi Rong perlahan membentuk sayap yang indah. Perempuan ini terbang di dekat Shen Lao sambil melepaskan aura pembunuh untuk mengintimidasi lawannya.
Shen Lao menatap Chi Rong dengan seksama. Shen Lao menyadari dirinya masih begitu muda, tetapi mental dan fisiknya lebih dewasa berkat pelatihan yang dia lakukan selama dua belas tahun di Jurang Abadi.
“Rong‘er, terus lepaskan seluruh aura tubuhmu. Aura Dewi Phoenix dan Aura Salju Kekal milikmu bercampur dengan aura tubuhmu yang lama...” Shen Lao menghindari puluhan tebasan pedang yang mengarah padanya sambil mempersingkat jarak antara dirinya dengan Fu Shuang, “Aku yakin kamu dapat menguasai kekuatan Phoenix Es. Kekuatan unsur milikmu mampu mengeluarkan potensi yang sebenarnya dengan menguasai kekuatan Phoenix Es...”
Saat Aura Dewi Phoenix mulai memenuhi seluruh pori-pori tubuh Chi Rong maka secara perlahan aura tubuh yang lama miliknya akan menghilang. Aura Dewi Phoenix lebih murni, bahkan Aura Salju Kekal akan menjadi senjata yang mematikan sebagai pendampingnya.
Chi Rong menganggukkan kepalanya lirih mendengarkan penjelasan Shen Lao. Tak lama pemuda berumur tujuh belas tahun yang telah menjadi suaminya itu menyuruhnya mendekat. Shen Lao membisikkan sesuatu padanya, Chi Rong mendengarkan dengan seksama sebelum dia melepaskan Aura Salju Kekal lebih besar dari sebelumnya.
Shen Lao memegang pundak Chi Rong, kemudian terbang dengan kecepatan tinggi menyambut tebasan pedang Fu Shuang.
“Aku tidak menyangka kau masih sempat berbincang dengan istrimu saat bertarung melawanku dan pasukan dari Kekaisaran Ma!” Fu Shuang memutarkan tubuhnya, kemudian mengayunkan pedangnya lebih lincah dari sebelumnya.
Shen Lao menajamkan matanya sekaligus pedangnya. Dia menyambut setiap serangan yang dilepaskan Fu Shuang dengan sempurna. Benturan kedua pedang antara dirinya dan Fu Shuang benar-benar nyaring memenuhi Benteng Angin Utara yang telah menjadi tempat pertempuran.
Banyak prajurit militer Kekaisaran Ma yang hendak mendekati Chi Rong, tetapi tubuh mereka mendadak lemas dan menggigil kedinginan saat jarak antara mereka dengan Chi Rong semakin mendekat.
Shen Lao hanya mengarahkan seluruh Aura Raja Naga dan Aura Raja Phoenix ke arah Chi Rong untuk melindungi perempuan itu.
Sementara Chi Rong sedang melakukan konsentrasi secara penuh untuk mengeluarkan seluruh potensi kekuatan dari Phoenix Es.
Pertukaran serangan Shen Lao dan Fu Shuang berlangsung sengit, namun satu hal yang membuat Chi Rong khawatir karena samar-samar aura milik Shen Lao semakin melemah. Sementara Chi Rong merasakan energi besar mengalir di sekitar perutnya.
Setelah melakukan pertukaran serangan hebat sekitar tiga puluhan menit, akhirnya Shen Lao melepaskan tebasan pedang yang membentuk kepala Burung Phoenix Api pada Fu Shuang untuk menjaga jarak antara dirinya dengan musuhnya itu.
‘Sepertinya aku harus membentuk lingkaran tenaga dalamku lebih besar. Aku rasa Rong‘er sekarang...’ Shen Lao tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak menyangka akan menikah dengan seorang perempuan cantik dengan julukan Peri Bunga ketika umurnya baru menginjak tujuh belas tahun. Terlebih Shen Lao merasa Chi Rong akan mengandung anaknya.
“Gege, biarkan aku membantumu...” Chi Rong berdiri di samping Shen Lao dengan penampilan yang berbeda. Kecantikannya semakin menawan. Memang julukan Peri Bunga bukan isapan jempol belaka.
Shen Lao terpana melihat Chi Rong. Dia tidak menyangka istrinya ini dapat menggunakan kekuatan Phoenix Es dalam waktu singkat. Terlebih lagi Chi Rong harus membuang aura tubuhnya yang lama, melakukan semua itu butuh waktu dan Chi Rong dapat melewatinya.
“Istrimu ini sangat cantik.” Fu Shuang menyeringai saat melihat Chi Rong menatapnya geram dan dia menyadari Shen Lao sudah di ambang batas.
Shen Lao menyadari kekuatannya diserap oleh Chi Rong lebih tepatnya energinya dihisap oleh sesuatu yang didambakan Shen Lao dan Chi Rong, dan dia tidak menyangka dampaknya begitu luar biasa. Shen Lao tidak bisa menyalahkan Chi Rong karena bagaimanapun perempuan itu hanya menerima setiap permintaannya.
Chi Rong menyadari wajah Shen Lao yang memerah, dia ingin menanyakan penyebabnya tetapi sekarang mereka berdua harus mengalahkan Fu Shuang terlebih dahulu.
Tebasan pedangnya lebih mematikan dari sebelumnya, jika lawan Chi Rong adalah seorang pendekar suci maka pendekar itu sudah dipastikan mati. Tetapi bagi Fu Shuang yang telah mencapai pendekar bumi, tebasan Chi Rong dapat dia mentahkan dengan mudah.
“Terlalu lemah...” Fu Shuang mengayunkan pedangnya mementahkan tebasan pedang Chi Rong.
Saat Fu Shuang mengira Shen Lao tidak dapat bergerak justru pemuda itu menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan dengan bantuan Chi Rong.
“Seni Napas Phoenix!” Mulut Shen Lao mendesis saat dia mengolah Seni Napas Phoenix dengan kasar, “Teknik Ketiga Pedang Dewa Malam : Membelah Malam!”
Fu Shuang berekspresi buruk karena bagaimanapun dirinya telah tertipu oleh Shen Lao. Terlebih dia tidak mengantisipasi Shen Lao memiliki kemampuan untuk melepaskan tebasan sekuat ini.
Dada Fu Shuang tertebas, darah segar memenuhi jubahnya yang penuh dengan sobekan dan sayatan. Luka dalam yang dialaminya termasuk parah. Fu Shuang segera mengeluarkan sebuah pil berwarna putih dan menelannya.
Sekarang Fu Shuang menatap Shen Lao penuh kebencian. Pil yang Fu Shuang telan adalah Pil Bulan Putih yang sangat berharga dan harganya juga sangat mahal setara dengan uang yang Fu Shuang simpan selama lima tahun.
“Keparat!” Mata Fu Shuang merah penuh kemarahan dan menatap ke satu arah yakni Shen Lao.
“Apa aku terlihat lemah dimatamu?” Shen Lao tidak habis pikir karena bertemu dengan pendekar bumi yang meremehkan kemampuannya.
Saat Fu Shuang melepaskan satu tebasan yang membentuk badai, Shen Lao dan Chi Rong menyambutnya secara bersamaan.
“Teknik Kombinasi Pedang Ganda ~ Sembilan Harta Phoenix!”
Shen Lao dan Chi Rong mendaratkan tebasan kombinasi yang membentuk sembilan sayap tajam Phoenix. Ledakan menggema di udara saat tebasan keduanya berbenturan dengan tebasan Fu Shuang.
Shen Lao dan Chi Rong menggelengkan kepalanya, nama teknik kombinasi pedang yang mereka gunakan membuat keduanya tanpa sadar tertawa lirih.
Fu Shuang tidak menyangka Shen Lao dan Chi Rong dapat menahan tebasan pedangnya. Memang tenaga dalam Shen Lao semakin berkurang, tetapi bagaimanapun tenaga dalam dan aura tubuhnya terserap di tubuh Chi Rong sehingga setiap serangan yang dilepaskan Chi Rong sangat mematikan.
Yang paling ketakutan saat melihat kemampuan Shen Lao dan Chi Rong dapat menahan setiap serangan Fu Shuang adalah Ma Xuruo.
Ma Xuruo memperhatikan kondisi pertarungan dengan seksama, “Sial! Dasar tidak berguna!” Tanpa pikir panjang Ma Xuruo melarikan diri menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Shen Lao dan Chi Rong menyadari Ma Xuruo melarikan diri, mereka berdua tidak mengejar melainkan fokus menghadapi Fu Shuang yang masih belum tumbang dan mereka kalahkan.
___
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.