
“Seni Napas Es!” Bing Jinxia memulai serangan pertama dengan mengolah pernapasan halus dan melepaskan sepuluh tapak tangan yang dingin.
Shen Lao menyambutnya dengan tenang dan memperhatikan pergerakan Bing Jinxia yang tidak menyia-nyiakan aura dan tenaga dalam.
“Apa kau menahan diri Saudara Shen?” Bing Jinxia mengembuskan napasnya dari mulut membuat udara tercium wangi, namun saat Shen Lao tersenyum tipis menikmati harum wangi udara dari mulut Bing Jinxia, seketika udara disekitarnya membeku.
“Nona Bing, apa aku terlihat menahan diri dimatamu?” Shen Lao melepaskan aura pembunuh yang mencekam setelah berkata demikian. Seketika pergerakan Bing Jinxia menjadi terbatas.
Walau sebenarnya Shen Lao tidak perlu melakukan itu, tetapi demi tidak mengecewakan Bing Jinxia dirinya ingin perempuan dari Istana Bulan Biru itu melihat sendiri kemampuannya.
“Sudah berapa orang yang kau bunuh Saudara Shen?” Bing Jinxia mengangkat alisnya dan membalas tindakan Shen Lao dengan melepaskan aura pembunuh terbesarnya.
Shen Lao tertawa pelan, “Kau tahu, aku membunuh semua orang yang meremehkanku dan berani menyentuh wanitaku. Selain itu, aku ini tidak lebih dari pembunuh berdarah dingin. Bisa dibilang aku menikmati darah dari orang yang kubunuh.”
Seketika Shen Lao menghilang dari pandangannya dan membuat Bing Jinxia tidak melepaskan kewaspadaannya sedikitpun. Pergerakan Shen Lao yang begitu cepat membuat para Tetua Lembah Bunga Persik dan Benteng Tombak Selatan berdecak kagum.
“Nona Bing, aku tidak membenci perempuan yang mirip dengan Rong‘er.” Shen Lao tersenyum dan menyentuh kening Bing Jinxia.
“Jangan bercanda saat bertarung denganku!” Bing Jinxia melepaskan hawa dingin berjumlah besar, “Teknik Penciptaan Es - Benteng Kekal!”
“Aku tidak bercanda! Buka matamu, jika kau bergerak sedikit saja aku bisa membunuhmu!” Shen Lao menatap dingin Bing Jinxia dan melepaskan Aura Raja Naga serta Aura Raja Phoenix secara bersamaan.
Bing Jinxia berkeringat dingin tubuhnya saat menyadari seribu pedang tak kasat mata ada disekelilingnya. Bahkan pelindung es miliknya sama sekali tidak berpengaruh dihadapan Shen Lao.
“Menunduklah!” Shen Lao berkata dengan tenang, sedangkan Bing Jinxia tertunduk saat sebuah pisau kecil beracun mengincarnya dari arah penonton.
Gerakan penonton yang melempar pisau racun yang profesional. Shen Lao menebak orang yang berniat menjatuhkan Bing Jinxia memiliki kemampuan Pendekar Bumi Tahap Menengah.
“Nona Bing, apa kau menyadarinya?” Shen Lao menatap tajam Bing Jinxia yang terkejut dengan tindakannya.
‘Bahkan diriku dan Saudari Chi tidak berkutik dihadapannya. Dimatanya kami hanyalah seorang perempuan yang pantas dilindungi...’ Bing Jinxia merasa kesal mengingat jarak antara dirinya dengan Shen Lao begitu jauh, terlebih usia Shen Lao yang paling muda diantara empat peserta yang lolos ke babak final dan kemampuannya justru tertinggi dan terkuat.
“Nona Bing hanya ingin mengukur kemampuan anda bukan? Tidak perlu bertarung sampai terluka ataupun salah satu dari kita mati. Nona Bing memiliki potensi yang besar untuk tumbuh. Tubuh anda sangat istimewa, aku bisa merasakannya setiap Nona Bing melepaskan hawa dingin.” Shen Lao menatap dingin Bing Jinxia yang pucat pasi mendengar ucapannya.
Baru kali ini Bing Jinxia melihat Shen Lao menatap dingin dirinya, tatapan itu seolah-olah mencerminkan dirinya yang menatap dingin setiap lelaki.
Kondisi tubuhnya hanya Bing Caoji yang mengetahuinya. Menurut Bing Coaji tidak ada lelaki yang dapat membantu perkembangan Bing Jinxia mencapai puncak dunia persilatan karena kondisi tubuhnya, namun setelah mendengar ucapan Shen Lao seluruh tubuhnya mendadak lemas.
“Tubuh anda selalu mengeluarkan hawa dingin yang tidak wajar. Bibir anda membiru dan pucat, namun sebenarnya anda ingin memiliki seorang teman. Setiap anda berada didekat Yu‘er dan Hua‘er, anda merasa kesakitan bukan? karena tidak mampu mengontrol aura dan memilih membuat tubuh anda mengalami luka dalam.” Shen Lao menggerakkan seluruh pedang tak kasat mengelilingi Bing Jinxia agar perempuan itu tidak bisa bergerak.
Bing Jinxia menggenggam tangannya, seketika tubuh Shen Lao membeku. Namun Bing Jinxia membekukan tubuh ilusi yang diciptakan Shen Lao.
“Ilusi Api Phoenix...” Shen Lao bergumam pelan dan tersenyum tipis menatap Bing Jinxia yang melebar matanya.
“Nona Bing, aku tidak bermaksud lancang berkata panjang lebar tentang kondisi tubuhmu. Tetapi setidaknya kau harus cukup kuat untuk mengalahkanku. Lampauilah diriku ini selagi kau masih hidup.” Shen Lao sama sekali tidak membenci perempuan yang memiliki sifat seperti Bing Jinxia.
Mendengar ucapan Shen Lao membuat Bing Jinxia tersenyum dan mengangkat kedua tangannya, “Aku kalah telak. Kau benar-benar luar biasa Saudara Shen dapat mengetahui kelemahanku bahkan kondisi tubuhku.”
Shen Lao mengulurkan tangannya pada Bing Jinxia, “Maaf, apa aku membuatmu takut barusan?”
Bing Jinxia menggelengkan kepalanya dan menyambut uluran tangan Shen Lao padanya, “Tidak, justru kau membuat jantungku berdebar kencang. Apakah kau tahu Saudara Shen, saat Ibuku meninggal, aku hanya menunjukkan sifatku pada Ayah dan Saudari Chi.”
“Hmmm...” Shen Lao mendengarkan Bing Jinxia yang bercerita singkat.
“Saat berada didekatmu dan Saudari Chi maupun Nona Ling dan Tuan Putri, aku merasakan kehangatan yang telah lama tidak kurasakan. Pada akhirnya aku sadar, jika diriku ingin sebuah keluarga dimana seorang anak memiliki ayah dan ibu yang utuh.” Bing Jinxia tersenyum tipis sebelum melanjutkan perkataannya, “Melihat Saudari Chi hamil membuatku ingin melihat sendiri bagaimana kalian membangun sebuah keluarga. Kau adalah lelaki yang hebat, Saudara Shen.”
Shen Lao tersipu malu namun saat menyadarinya, seketika Shen Lao mendecakkan lidahnya, ‘Sial, kenapa aku yang tersipu malu!’
She Bai yang sedang melihat Shen Lao dan Bing Jinxia berbincang, menangkap Chi Rong yang tengah berjalan ke arena pertandingan dikejar Chi Sumei dari belakang.
“Gege!” Chi Rong berteriak.
“Ada apa Rong‘er?” Shen Lao tersenyum ke arah Chi Rong.
“Tolong aku!” Chi Rong kembali berteriak, perempuan dari Istana Bulan Biru ini tidak dapat mengendalikan tubuhnya.
“Apa maksudmu-” Sebelum Shen Lao menyelesaikan perkataannya, Chi Rong sudah menusuknya dengan pedang.
Shen Lao menahannya, “Rong‘er...” Shen Lao melepas pedang yang dipegang Chi Rong lalu memeluk lembut istrinya, kemudian matanya menatap Ju Xiulan yang melompat ke arena pertandingan bersama empat pria yang memakai tudung dan topeng.
“Kalian dari Bunga Kuno! Apa maksud kalian bertindak seperti ini?!” She Bai menatap empat pria dibelakang Ju Xiulan yang terlihat mencurigakan.
“Sungguh tragis, aku tidak menyangka melihat suami mati ditangan istrinya sendiri.” Ju Xiulan tersenyum mengejek Chi Rong, tak lama pria yang memakai tudung melepaskan tudung dan topeng mereka.
“Junior Ju, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Namun sangat disayangkan karena orang tuamu telah mati semenjak mereka menentang untuk tunduk pada Kaisar Ma!” Pria berambut merah dengan jenggot panjang menyeringai.
Ju Xiulan pucat pasi wajahnya, matanya menatap pria itu penuh kebencian, “Beraninya kau mengingkari janji! Jadi selama ini aku hanya... Tidak, kau membuatku membunuh orang tak bersalah! Selama ini aku percaya nyawa orang tuaku lebih berharga daripada orang asing! Kau! Kau sama sekali tidak memiliki perasaan, Senior Ruo!”
Ju Xiulan melepaskan sebuah pukulan pada pria yang menjabat sebagai Patriark Bunga Kuno, namun justru Ju Xiulan yang mendapatkan pukulan telak diperutnya.
“Diam! Setelah ini kau akan menjadi budakku! Tubuhmu itu istimewa Saudari Ju! Aku yang akan mengambil Badan Perawan Suci milikmu itu!” Pria itu menginjak kepala Ju Xiulan.
Hanya Shen Lao dan She Bai yang mendengar ucapan Ju Xiulan, sementara itu Chi Rong dan Bing Jinxia bertanya-tanya.
“Pemuda ini yang membunuh Pilar Tujuh Bintang! Kalian dari Lentera Iblis Tunggal dan Sekte Pedang Dosa, saatnya melakukan pembantaian!” Pria yang menginjak kepala Ju Xiulan bersuara lantang.
Sebelum Shen Lao menyadari yang terjadi, suara ledakan diluar Arena Bunga Persik terdengar begitu keras. Terlebih dibangku penonton telah terjadi pertarungan.
“Rong‘er, jangan menjauh dariku. Ini perintah jangan membantahnya!” Shen Lao menatap tajam Chi Rong setelah mengetahui kemampuan empat pria yang datang bersama Ju Xiulan.
“Gege...” Chi Rong merasakan firasat yang tidak enak mengingat ucapan Jia Huaran.