Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 27 - Tulang Rusukku Yang Patah


Lei Wu segera menginstruksikan pada pendekar dari Gunung Hitam dan Sekte Pedang Darah untuk menyerang semua tahanan beserta Shen Lao.


Lei Wu melepaskan pukulan yang dipenuhi tenaga dalam dan aura. Api membara disekitar kepalan tangannya dan serangannya memiliki daya hancur yang besar.


Shen Lao mengamati dengan baik pergerakan Lei Wu dan dia membiarkan Tetua Gunung Hitam dan Tetua Sekte Pedang Darah menyerangnya dari belakang.


Shen Lao bergerak cepat memutar tubuhnya memotong tangan Tetua Gunung Hitam yang menyerangnya dari belakang, lalu kembali mengayunkan pedangnya membunuh Tetua Sekte Pedang Darah yang menyerangnya dari samping.


Dalam satu kali tebasannya, Pedang Dewa Malam memotong tubuh Tetua Gunung Hitam menjadi dua bagian. Kurang lebih Tetua Sekte Pedang Darah berakhir sama seperti Tetua Gunung Hitam.


Shen Lao mengangkat jari telunjuknya dan memberi tanda pada semua Tetua Gunung dan Tetua Sekte Pedang Darah agar segera maju bersamaan melawan dirinya.


Tindakan Shen Lao ini memancing amarah mereka. Serangan dari berbagai arah justru membuat Shen Lao tersenyum lebar.


Gerakannya dalam memainkan pedang begitu lincah. Bahkan serangan pukulan dari Lei Wu masih dapat dia hindari walau dirinya menghadapi pendekar yang lain.


Shen Lao menarik napas panjang ketika puluhan pedang mengarah padanya. Dalam satu tarikan napasnya, Shen Lao memotong tangan para Tetua dalam satu kali gerakan yang tajam dan mematikan.


“Tidak mungkin! Apakah dia termasuk Pendekar Empat Penjuru?!”


“Sial! Kita tidak mungkin bisa mengalahkannya!”


Shen Lao membentuk pedang tak kasat mata dan mengontrolnya sambil menghabisi satu demi satu Tetua.


“Aku merasa Keluarga Zhong tidak pernah berurusan denganmu sebelumnya. Siapa sebenarnya dirimu?!” Lei Wu panik karena melihat Shen Lao dengan mudah mengontrol sepuluh pedang tak kasat mata sambil bertarung.


Shen Lao melepaskan Aura Raja Naga dalam jumlah besar ke arah ratusan pendekar gabungan dari Gunung Hitam dan Sekte Pedang Darah.


“Kakek Nue! Bunuh mereka!” Shen Lao melihat para tahanan tidak segan-segan membunuh orang-orang yang telah menindas dan menyiksa mereka.


“Rasakan ini! Kau pernah menjambak rambutku sialan!”


“Tangan ini yang telah membunuh istriku! Mati!”


“Kau pernah meludahi wajahku bukan? Biarkan aku memotong kepalamu itu!”


Tidak butuh waktu lama untuk menghabisi ratusan pendekar ketika Shen Lao kembali menggerakkan pedang tak kasat mata untuk menghabisi mereka.


“Ilmu Pedang Tanpa Wujud ~ Memburu Mangsa!”


Shen Lao menatap Lei Wu yang memucat wajahnya. Dari tiga ratusan orang lebih, hanya dia yang tersisa. Walau keduanya sama-sama pendekar bumi, tetapi jumlah lingkaran tenaga dalam milik Shen Lao lebih besar dan lebih murni.


“Ada apa? Aku dengar kau adalah orang yang tidak segan membunuh orang dan menyukai pembantaian. Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau baru pertama kali merasakan keputusasaan dan ketakutan?!”


Semua tahanan ikut bergidik setelah mengetahui kemampuan Shen Lao. Tumpukan mayat yang bergelimpangan memenuhi jalanan. Bahkan membanjiri jalanan dan masuk ke dalam selokan.


Kakek Nue melihat ada banyak penduduk yang melihat pertarungan dari kejauhan. Wajah mereka justru bahagia ketika melihat banyak pendekar aliran hitam yang mati.


“Nona Qiuyu! Aku akan kalahkan orang ini untukmu!” Shen Lao melirik Ling Qiuyu yang mencoba melihat dengan seksama pertarungan dirinya.


Ketika Ling Qiuyu mengangguk, Shen Lao langsung bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah Lei Wu.


“Ini bukan lagi pertarungan mereka untuk mendapatkan hak kebebasan, melainkan hanya kau yang melakukan pembantaian!” Lei Wu hampir mengumpat setelah jarak antara dirinya dan Shen Lao semakin singkat.


“Hah, terus apa masalahmu?” Shen Lao melepaskan satu tebasan yang ditahan dengan baik oleh Lei Wu.


“Kau terlalu arogan anak muda!” Lei Wu melepaskan aura pembunuh. Seketika kedua tangannya dipenuhi aura hitam pekat, pukulannya mengenai perut Shen Lao dengan telak.


“Ini ternyata pukulan dari pendekar bumi? Tidak buruk juga, tulang rusukku ada yang patah.” Shen Lao justru tersenyum lebar seolah-olah dia menikmati rasa sakit.


Lei Wu merasa Shen Lao telah terluka parah karena tadi merupakan pukulan penghancur organ dalam yang paling mematikan. Sekarang Lei Wu penuh percaya diri menyerang Shen Lao.


Kepalan tangan Lei Wu masih diselimuti aura pembunuh, Shen Lao tidak menghindarinya, melainkan menyambut pukulan Lei Wu menggunakan tapak tangannya setelah dia menaruh Pedang Dewa Malam ke Segel Ruang Tak Terbatas. Shen Lao tersenyum menyeringai dan mengalirkan tenaga dalam pada sekujur tubuhnya.


“Peremuk Tulang!”


Wajah Lei Wu menyeringai dan melepaskan pukulan yang dipenuhi tenaga dalam dan aura dalam jumlah besar. Sementara Shen Lao juga melepaskan pukulan yang dipenuhi tenaga dalam.


KRUK!!!


“Matilah anak muda... Uhuk...” Senyuman lebar di wajah Lei Wu menghilang ketika dia merasakan tulang-tulang remuk dan hancur.


Shen Lao menarik napas singkat, “Pukulanmu boleh juga, tetapi belum cukup untuk meremukkan tulangku!”


Perkataan Shen Lao membuat wajah Lei Wu pucat. Tidak butuh waktu lama untuk pria ini mati ketika Shen Lao membentuk sepuluh pedang tak kasat mata yang memotong seluruh bagian tubuhnya menjadi bagian kecil.


“Kepala ini akan kujadikan hadiah!” Shen Lao melempar kepala Lei Wu ke arah rumah kediaman Keluarga Zhong, “Makan penjaga kalian ini!”


Pertarungan Shen Lao melawan Lei Wu tidak berlangsung lama. Para tahanan yang menyaksikan pertarungan Shen Lao tergugah, mereka ingin mengikuti pemuda ini.


“Sepertinya mereka terlalu mengandalkan uang...” Shen Lao menarik napas panjang dan menghembuskan api berbentuk naga dari mulutnya.


Api itu membakar mayat-mayat yang tergeletak di jalanan. Pemandangan ini membuat semua orang bergidik ngeri.


“Nona Qiuyu, ikut denganku...” Shen Lao menatap Ling Qiuyu yang sedikit pucat wajahnya, “Maaf, apakah kau takut padaku?”


“Mmm...” Ling Qiuyu menggelengkan kepalanya dan mencoba menenangkan dirinya.


Shen Lao mengajak semua tahanan untuk masuk ke dalam kediaman Keluarga Zhong. Ling Han dan Kakek Nue berlari mengikuti Shen Lao yang memegang tangan Ling Qiuyu dengan santainya.


Di dalam rumah mewah milik Keluarga Zhong, Kepala Keluarga Zhong dan seluruh anggotanya menahan napas setelah melihat pembantaian dari jendela.