
“Hua‘er. Apakah kamu merasakan energi besar di Lembah Sembilan Suci?” Shen Lao samar-samar merasakan aura yang besar di sekitar Lembah Sembilan Suci.
“Konon disini ada harta pusaka. Tetapi aku tidak tahu secara pastinya karena tidak ada yang dapat memastikannya. Ini adalah lembah milik Keluarga Jia. Pasti ayah memberikannya padamu karena suatu alasan.” Jia Huaran menjawab.
“Aku harus lebih mengenal Paman Song...” Shen Lao menganggukkan kepalanya.
Setelah mengisi tenaga dengan memakan masakan buatan Ling Qiuyu, Shen Lao segera berjalan memasuki Lembah Sembilan Suci bersama Jia Huaran, Kakek Nue dan Feng En.
Shen Lao memang menaruh masakan Ling Qiuyu ke dalam Segel Ruang Tak Terbatas karena dirinya sangat menyukai masakan buatan gadis berambut hitam kecoklatan itu.
“Menurutmu dimana lokasi harta pusakanya?” Shen Lao menatap ramah Jia Huaran yang berjalan disampingnya.
Jia Huaran menaruh jari telunjuknya di dagu dan berpikir, “Dimana ya?” Ekspresi Jia Huaran yang menggoda membuat Shen Lao mencubit lembut pipinya.
“Lao, tidak ada yang mengetahui tempatnya. Tetapi aku bisa mengantarmu ke sebuah gua yang menurutku tempat itu menyembunyikan sesuatu.” Jia Huaran menambahkan. Tangannya memegang lembut telapak tangan Shen Lao dan menggenggamnya.
“Kakek Nue, Senior Feng En. Aku akan pergi sebentar bersama Tuan Putri. Kalian berdua tunggulah disini.” Shen Lao langsung berjalan bersama Jia Huaran menuju gua.
Kakek Nue dan Feng En terdiam membisu.
“Pemimpin tidak akan melakukan sesuatu pada Tuan Putri bukan?” Feng En bertanya dengan nada berbisik.
“Lebih baik kita membantu mereka.” Kakek Nue langsung mendatangi penduduk yang sedang bergotong-royong.
___
Jia Huaran membawa Shen Lao ke tempat yang ada di ujung Lembah Sembilan Suci, dan tidak ada orang lain yang mengikuti mereka.
“Saat kecil, aku melihat gua ini. Tetapi orang lain tidak dapat melihatnya. Apa kau dapat melihat gua di depan kita, Lao?” Jia Huaran menunjuk mulut gua yang mengeluarkan aura berwarna jingga dan merah.
“Aku melihatnya. Aura ini bukanlah aura yang berasal dari dunia kita...” Shen Lao bisa mengetahui berkat ingatan warisan Roh Dewa.
Ketika Shen Lao dan Jia Huaran berjalan mendekati gua sambil berbincang. Sebuah aura yang mencekam keluar dari mulut gua.
Mulut Jia Huaran terbuka lebar, bayangan mengerikan nampak dari dalam gua. Sementara Shen Lao menatap tajam bayangan tersebut.
“Pemilik Jelmaan Tubuh Dewi Pengobatan. Kau mengajak pemuda yang dapat melihat gua ini. Sepertinya kau bukan pemuda biasa.”
“Hua‘er...” Shen Lao menarik lembut tangan Jia Huaran agar sembunyi dibelakangnya.
“Sepertinya kau diusir dari Dunia Siluman bukan? Apa tujuanmu mendiami gua ini?” Shen Lao melepaskan Aura Raja Naga dan menatap tajam bayangan tersebut.
“Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa tujuanmu kemari?” Bayangan di dalam gua juga melepaskan aura dalam jumlah besar hingga benturan aura memanas di udara.
Setelah Shen Lao menjawab. Bayangan itu tertawa, kemudian menunjukkan wujudnya yang mana membuat Shen Lao dan Jia Huaran terbelalak melihatnya.
Wujud Roh Siluman Agung ini melebihi gunung, ketika seluruh aura yang berada di dalam gua keluar. Tubuhnya berwarna putih dengan sembilan ekor berwarna jingga dan merah.
“Siluman Agung Rubah Ekor Sembilan?” Shen Lao dan Jia Huaran sama-sama dibuat terkejut.
“Pemuda yang menarik. Selain dapat melihatku. Kau juga mendapatkan hati dari Tubuh Jelmaan Dewi Pengobatan. Kau sepertinya terjebak dalam takdir yang merepotkan bukan?” Siluman Agung itu bertanya.
Shen Lao baru mengetahui jika Jia Huaran memiliki Tubuh Jelmaan Dewi Pengobatan. Orang di Keluarga Jia yang dapat melihat gua tempat persembunyian Siluman Agung hanyalah Jia Huaran.
Singkat cerita, Rubah Ekor Sembilan termasuk dalam sembilan Siluman Agung yang diusir dari Dunia Siluman akibat melindungi harta pusaka yang dapat menyegel Sembilan Kekacauan Surgawi.
Pemimpin Dunia Siluman sekarang adalah siluman yang menginginkan kehancuran dunia. Karena tidak sejalan, akhirnya sembilan Siluman Agung melakukan perlawanan. Tetapi mereka dikalahkan dan melarikan diri ke dunia manusia demi menjaga sembilan harta pusaka yang dapat menyegel Sembilan Kekacauan Surgawi.
“Kekuatan kami, para siluman yang terusir semakin melemah. Pemuda, apa kau mau melakukan kontrak darah denganku?” Rubah Ekor Sembilan bisa merasakan Shen Lao merupakan orang yang dapat menemukan kekuatan Sembilan Kekacauan Surgawi dan menyegelnya.
“Jika kau melakukan kontrak darah denganku. Maka aku akan membantumu membangun kota ini dan aku akan menjaganya.” Rubah Ekor Sembilan menambahkan.
Shen Lao mendengarkan cerita dari Rubah Ekor Sembilan. Siluman Agung ini akan mempercepat proses pembangunan kota menggunakan auranya ketika malam hari. Selain itu Rubah Ekor Sembilan akan menjadi penjaga Kota Shenling ini.
“Bagaimana menurutmu, Hua‘er? Ini tidak buruk bukan...” Shen Lao menggigit jari jempolnya.
Jia Huaran kurang lebih memahami cerita Rubah Ekor Sembilan. Tetapi dia baru mengetahui dirinya memiliki Tubuh Jelmaan Dewi Pengobatan.
“Aku akan melakukan kontrak darah denganmu, Rubah Ekor Sembilan...” Ingatan warisan Roh Dewa bermunculan di kepalanya, “Lagipula aku akan memenuhi permintaan Roh Dewa. Sembilan Kekacauan Surgawi salah satunya.”
Rubah Ekor Sembilan menyeringai, “Teteskan darahmu pada salah satu ekorku ini.”
Shen Lao meneteskan darahnya ke salah satu ekor Rubah Ekor Sembilan yang berwarna jingga. Seketika tubuh Rubah Ekor Sembilan berubah menjadi sebuah giok berwarna hitam.
‘Ini adalah Giok Segel Kematian. Salah satu harta pusaka yang dapat menyegel kekuatan dari Sembilan Kekacauan Surgawi. Setelah aku tiada, kekuatanku yang tersisa akan membangun kota ini dan menjaganya. Kau juga bisa menggunakan auraku untuk hal lain...’
Setelah menjelaskan sesingkatnya. Suara Rubah Ekor Sembilan menghilang bersama hawa keberadaannya.
Shen Lao dan Jia Huaran kembali. Mereka berdua menemui Kakek Nue dan Feng En sebelum kembali ke Ibukota Jiaran.
Dalam perjalanan Shen Lao menjelaskan pada Jia Huaran tentang ingatan warisan Roh Dewa dan Sembilan Kekacauan Surgawi. Jia Huaran yang mendengarnya hanya membisu dengan wajah yang terlihat khawatir.
“Aku akan mendukung jalan yang kamu pilih. Jangan ragu untuk bercerita padaku, aku akan selalu menjadi tempat bersandarmu...” Jia Huaran membenamkan wajahnya ke dada Shen Lao dan memejamkan matanya.