Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 88 - Chi Rong Lumpuh


“Saudari Ju, apa kau berniat membuatku malu?” Chi Rong tidak menyangka Ju Xiulan dapat menghindari serangannya.


Ju Xiulan menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Chi Rong yang meronta, “Jangan banyak bergerak, perempuan hamil.”


Seketika hawa dingin memenuhi arena pertandingan dan membekukan seluruh tanaman yang menjalar. Ju Xiulan segera melompat ke belakang dan melepaskan aura tubuhnya guna menyelimuti seluruh tubuhnya.


Chi Rong terlihat tidak ingin menahan diri, kelemahan itu yang dimanfaatkan Ju Xiulan. Terlebih Chi Rong tidak bisa melepaskan seluruh kekuatannya karena usia kehamilannya.


“Perempuan cantik seperti dirimu lumpuh, maka tidak ada orang lain yang mengincar dirimu. Dunia ini sangat kejam, perempuan suram.” Ju Xiulan tiba-tiba menghilang dari pandangan Chi Rong sebelum muncul dibelakang tubuh Chi Rong.


“Seni Napas Racun!” Ju Xiulan menarik napas panjang sambil memperlihatkan jari-jari lentiknya yang memegang sepuluh jarum yang memancarkan aura berwarna hijau.


“Teknik Racun - Sepuluh Jarum Kelumpuhan!”


Semua orang terkejut saat mengetahui kemampuan Ju Xiulan meningkat pesat, bahkan Ju Xiulan sekarang menunjukkan dirinya sesungguhnya dimana dia merupakan seorang Pendekar Bumi Tahap Awal.


Punggung Chi Rong terkena racun yang melumpuhkan titik meridiannya, seketika Chi Rong tergeletak diarena pertandingan dengan tubuh yang lemas.


Bukan sampai situ saja, Ju Xiulan mengalirkan aura tubuhnya pada telapak tangannya sebelum mendaratkan tapak pada punggung Chi Rong.


“Teknik Racun - Cinta Satu Sisi!”


Terlihat Ju Xiulan tidak menunjukkan ekspresi apapun setelah berbuat demikian, melumpuhkan ilmu seseorang merupakan perbuatan tabu. Tindakan Ju Xiulan membuat She Bai menghentikan pertandingan dan mengeluarkan Ju Xiulan dari babak final.


“Aku tidak keberatan. Selama tujuanku berhasil. Bukankah wajar jika seorang perempuan melukai perempuan yang menaruh perasaan pada lelaki yang sama?” Ju Xiulan mengejek Chi Rong yang menatapnya penuh kebencian.


“Saudari Ju!” Chi Rong berteriak, seketika Chi Sumei memegang pundaknya.


“Rong‘er, tenanglah. Ingat anakmu.” Mata Chi Sumei menatap dingin Ju Xiulan.


“Junior Ju, aku akan memberi perhitungan padamu karena telah membuat cucuku seperti ini!” Tepat setelah Chi Sumei berkata demikian, Shen Lao muncul dan menyentuh tubuh Chi Rong.


“Gege!” Chi Rong memeluk tubuh Shen Lao dan menangis depresi.


Ju Xiulan tersenyum manis saat Shen Lao menatapnya tajam, setelah itu dia pergi ke bangku penonton yang dikuasai Bunga Kuno.


‘Racun ini?’ Shen Lao mengangkat alisnya karena menurutnya Ju Xiulan hanya menekan seluruh titik-titik meridian dan aura tubuh selama tiga bulan.


“Perempuan hamil itu harus tetap diam dan menjaga perkembangan bayinya. Semoga anakmu bisa lahir dengan selamat, Saudari Chi!” Ju Xiulan melambaikan tangannya membuat Chi Rong menangis.


“Rong‘er, tenanglah semua akan baik-baik saja.” Shen Lao mengecup kening Chi Rong membuat seisi Arena Bunga Persik yang melihatnya menjadi iri.


Karena bagaimanapun pemuda tampan dan perempuan cantik ini memiliki hubungan tersembunyi. Pikiran mereka mulai mengada-ada dimana Shen Lao merupakan kekasih dari Chi Rong.


“Bukankah pendekar dari Istana Bulan Biru dilarang menjalin hubungan dengan laki-laki?”


“Benar, tetapi Peri Bunga memeluk tubuh pemuda bermarga Shen bahkan pemuda bermarga Shen mengecup keningnya. Bukankah ini aneh?”


Para penonton saling berbisik sebelum akhirnya She Bai memanggil nama Shen Lao dan Bing Jinxia.


Shen Lao menyeka air mata Chi Rong karena istrinya ini memiliki ambisi yang besar. Sisi itu yang membuatnya menyukai Chi Rong.


“Rong‘er, Nenek Sumei. Entah apa yang dilakukan Saudari Ju, tetapi racun ini tidak membuat Rong‘er lumpuh.” Shen Lao berkata dengan tenang dan menjelaskan jika Ju Xiulan mau, maka dia akan membunuh Chi Rong bahkan membuatnya lumpuh seumur hidup.


“Sudah jangan menangis lagi. Kau sudah berjuang keras untuk ini. Tujuanmu tercapai karena telah mendapatkan gelar sebagai penerus nenekmu.” Shen Lao mencoba menenangkan Chi Rong yang merasa terpukul.


Chi Rong menarik napas panjang, “Gege, tetapi aku ingin memenangkan Turnamen Bunga Persik!”


Shen Lao tertawa pelan dan mengusap lembut rambut Chi Rong dengan gemas, “Memiliki ambisi boleh saja, tetapi jangan bertindak berlebihan. Kalau bayi kita kenapa-kenapa, maka kau akan menyesalinya, Rong‘er. Bukan hanya kau saja, tetapi aku sebagai suamimu akan merasa gagal melindungimu dan anak kita.”


Chi Rong terlihat mulai tenang setelah mendengar ucapan Shen Lao. Sifat Chi Rong yang berubah-ubah ini membuat Chi Sumei tersenyum sendiri.


Setelah bertemu Shen Lao, baru kali ini dia melihat cucunya bersikap seperti anak kecil dan terlihat manja.


“Jangan dendam dan tetap jaga kesehatanmu. Walau aku tidak pantas mengatakan ini karena aku sendiri seorang pendendam.” Shen Lao tersenyum saat Chi Rong berdiri dan mulai tenang.


Chi Rong menyadari dirinya yang tiba-tiba memeluk Shen Lao dan menangis. Melihat reaksi seluruh orang di Arena Bunga Persik membuat wajah Chi Rong tersipu malu.


Pandangan Chi Rong melihat Bing Jinxia yang berjalan mendekatinya, “Gege, Xiaxia, berjuanglah. Aku mendukung kalian berdua.”


“Seharusnya kau mendukung suamimu ini.” Shen Lao menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Chi Rong tertawa pelan mendengarnya.


“Tetapi Xiaxia adalah sahabatku.” Chi Rong tersenyum dan kembali ke bangku peserta dituntun Chi Sumei.


“Saudara Shen, bagaimana menurutmu?” Bing Jinxia berdiri disamping Shen Lao dan bertanya secara tiba-tiba.


”Maksud, Nona Bing?” Shen Lao sendiri tidak mengetahui maksud Bing Jinxia.


“Tindakan Saudari Ju. Aku tahu kalau dia sangat mencintaiku, karena Saudari Ju adalah pecinta sesama jenis. Tetapi aku tidak menyangka dia sampai melibatkan Saudari Chi.” Mendengar ucapan Bing Jinxia, seketika Shen Lao tersedak terlebih saat melihat Bing Jinxia mengatakan itu dengan ekspresi datar.


“Pecinta sesama jenis? Mungkin Nona Bing yang salah paham...” Shen Lao menghela napas panjang dan tidak percaya Bing Jinxia akan sepolos ini.


“Apa maksudmu Saudara Shen?” Bing Jinxia kembali bertanya.


Shen Lao bingung harus berkata apa, “Ah, tidak apa-apa Nona Bing. Lebih baik kita fokus ke pertandingan kita.”


Shen Lao tersenyum tipis saat melihat She Bai mendekati dirinya dan Bing Jinxia.


“Junior Shen, siapakah Peri Bunga dimatamu?” She Bai tiba-tiba bertanya karena penasaran.


“Kenapa Tetua She tertarik dengan hubunganku dengan Rong‘er?” Shen Lao tersenyum tipis sebelum melanjutkan perkataannya, “Rong‘er adalah istriku.”


Mendengar itu She Bai terkejut. Setengah percaya dan setengah tidak mempercayai ucapan Shen Lao.


Saat Shen Lao dan She Bai berbincang singkat, Bing Jinxia terlihat tidak sabar memulai pertandingan.


“Bisakah kita mulai pertandingannya?”


She Bai menghela napas panjang, sedangkan Shen Lao tersenyum tipis.


“Baiklah kalian berdua ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku!” She Bai memberi tanda pada Shen Lao dan Bing Jinxia agar menjauh dan mengambil jarak.


Setelah Shen Lao dan Bing Jinxia mengambil jarak, She Bai menarik napas panjang sebelum bersuara lantang, “Dengan ini maka pertandingan final Turnamen Bunga Persik dimulai!”