Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 65 - Semalam Berempat


Jia Huaran tidak banyak bicara dalam perjalanan setelah duduk manis dipangkuan Shen Lao.


“Ini apa? Kenapa ada sesuatu yang mengganjal?” Jia Huaran kebingungan dan berbisik pelan. Tangannya hendak menyentuh sesuatu yang mengganjal itu, namun tangannya segera ditepis oleh Shen Lao.


“Hua‘er, jangan bergerak...” Ucap Shen Lao dengan sedikit bergetar. Mendengar ucapan Shen Lao membuat Chi Rong dan Ling Qiuyu tertawa lirih.


Jia Huaran tidak berkata apapun lagi selain pasrah. Shen Lao sendiri tidak dapat fokus dalam perjalanan sehingga dia juga hanya pasrah mengikuti syarat konyol Elang Petir.


Saat hari menjelang malam, biasanya Jia Huaran meminta untuk beristirahat. Selain untuk menjaga stamina Chi Rong yang sedang hamil, Elang Petir yang merupakan Binatang Roh tidak bisa terus-terusan berada di dunia manusia.


“Rong‘er, apa kamu tidak kedinginan?” Shen Lao mengeluarkan jubahnya dan menyelimuti tubuh Chi Rong.


“Aku lebih suka dingin...” Sifat Chi Rong yang keras kepala ini membuat Shen Lao tersenyum.


Shen Lao dengan lembut mengecup kening Chi Rong sebelum membisikkan sesuatu yang membuat wajah Chi Rong bersemu merah.


Chi Rong menganggukkan kepalanya pelan dan mengikuti Shen Lao yang menuntun dirinya pergi ke suatu tempat.


Sementara itu Ling Qiuyu dan Jia Huaran yang sedang memasak berbincang pelan sambil memandangi langit malam yang berbintang.


Ling Qiuyu membuat makanan yang mudah dimakan khusus untuk Chi Rong. Setelah semuanya siap, Ling Qiuyu dan Jia Huaran menunggu kedatangan Shen Lao dan Chi Rong, namun keduanya tidak kunjung datang.


Sekitar satu jam setelah menunggu, akhirnya Ling Qiuyu dan Jia Huaran memutuskan untuk mencari keberadaan Shen Lao dan Chi Rong namun saat mereka berdua berdiri dari dekat perapian, Shen Lao dan Chi Rong datang.


Wajah Shen Lao nampak terlihat lebih cerah, sementara Chi Rong berekspresi kecut. Ling Qiuyu yang melihat ini menjadi penasaran.


‘Apa Lao‘gege melakukan itu dengan Rongrong?’ Dalam hati Ling Qiuyu menebak.


Ling Qiuyu mendekati Chi Rong dan mengajak gadis yang tiga tahun lebih muda darinya itu untuk makan malam. Kondisi Chi Rong yang sedang hamil membuat Ling Qiuyu khawatir, namun tatapan terarah tajam pada Shen Lao.


Shen Lao mengetahui jika Ling Qiuyu menatap tajam dirinya, sehingga dia menelan ludah dan memakan hidangan dengan hati-hati.


Selesai makan malam, Shen Lao mengajak Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran untuk tidur lebih awal. Namun setelah Chi Rong dan Jia Huaran tertidur, Ling Qiuyu membangunkan Shen Lao dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.


Saat malam semakin larut dan keadaan semakin sepi, Ling Qiuyu melemparkan puluhan pertanyaan yang membuat Shen Lao menggelengkan kepalanya pelan.


“Lao‘gege, aku tahu diusiamu ini nafusmu sangat tinggi, tetapi ingat Rongrong sedang hamil! Kamu apakan Rongrong?”


Baru kali ini Shen Lao melihat Ling Qiuyu marah padanya, “Yu‘er, aku tidak tahu kamu memiliki sisi seperti ini-”


“Jawab pertanyaanku!” Ling Qiuyu menatap tajam Shen Lao.


“Apa hanya itu? Aku rasa kamu tidak menceritakan semuanya!” Ling Qiuyu masih tidak percaya dengan perkataan Shen Lao.


Shen Lao menghela napas panjang dan menceritakan semuanya. Saat wajah Ling Qiuyu memerah karena mendengar ceritanya, Shen Lao tertawa lirih.


“Yu‘er, kita kembali sekarang. Malam ini aku beruntung karena melihat sisi dirimu yang lain...” Shen Lao mengelus rambut Ling Qiuyu.


Seketika angin berhembus disekitar mereka. Shen Lao memegang dagu Ling Qiuyu dan mengangkatnya lembut, “Jangan bicara apapun lagi. Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kalian dan anak-anak kita nantinya.”


Ling Qiuyu melebar matanya saat Shen Lao mengecup bibirnya. Matanya memejam karena mendengar perkataan Shen Lao. Beberapa saat kemudian, Ling Qiuyu menutup bibirnya rapat-rapat dan menahannya dengan telapak tangannya.


____


Kicauan burung dan sinar hangat matahari membuat Shen Lao terbangun. Shen Lao melihat Chi Rong yang masih tertidur lelap, sementara Jia Huaran tidak ada didekat perapian. Hanya Ling Qiuyu yang terlihat begitu kelelahan karena semalaman harus menuruti kemauannya.


Saat Shen Lao hendak bangkit berdiri dan membuat sarapan pagi, Ling Qiuyu memegang tangannya, “Lao‘gege, biarkan aku yang membuat sarapan...”


“Tidak apa-apa, biar aku saja yang memasak sarapan pagi untuk kalian bertiga. Lagipula masakanku tidak terlalu buruk...” Ucap Shen Lao penuh percaya diri. Ling Qiuyu hanya menggelengkan kepalanya dan bangkit berdiri sambil mengambil bahan-bahan makanan, mengabaikan Shen Lao yang sudah berkata penuh percaya diri.


Ling Qiuyu justru masih merasa malu karena semalam memarahi Shen Lao, tetapi pemuda itu tetap seperti biasanya karena membuatnya kewalahan.


Saat Ling Qiuyu sedang membuat sarapan pagi, Jia Huaran datang dengan rambut yang basah karena sehabis mandi. Gadis yang seumuran dengan Shen Lao ini memperhatikan rambut Ling Qiuyu yang berantakan.


Memang mereka berempat tidur hanya beralaskan tikar dihutan, tetapi bagaimanapun melihat rambut hitam kecoklatan Ling Qiuyu yang berantakan membuat Jia Huaran penasaran.


“Sepertinya Kakak Qiuqiu kelelahan. Biarkan aku saja yang memasak.” Jia Huaran menawarkan diri.


“Huahua, lebih baik kamu siapkan minuman untuk kita. Sekaligus minuman khusus untuk Rongrong...” Ujar Ling Qiuyu yang menolak secara halus tawaran Jia Huaran.


“Baiklah, ngomong-ngomong kenapa rambut Kakak Qiuqiu sangat berantakan? Apa karena semalam tidak bisa tidur?” Jia Huaran bertanya dan memasang ekspresi wajah yang membuat Ling Qiuyu menelan ludah.


“Huahua, apa semalam kamu mendengarnya?” Ling Qiuyu justru balik bertanya dan membuat Jia Huaran kebingungan.


“Mendengar apa? Tadi malam aku tidur nyenyak karena mempersiapkan diri untuk mendengarkan ocehan burung menjengkelkan itu!” Jia Huaran menggerutu dan membuat Ling Qiuyu bernapas lega.


“Lebih baik Kakak Qiuqiu mandi dulu di sungai. Aku akan menjaga ini sebentar.” Saat Jia Huaran kembali menawarkan diri untuk membantu, Ling Qiuyu tidak menolaknya.


Beberapa saat kemudian, didekat perapian mereka berempat menyantap sarapan pagi dengan lahap. Shen Lao, Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran siap melanjutkan perjalanan menuju Lembah Bunga Persik.


Saat mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan, Ling Qiuyu tertidur pulas sambil menyenderkan punggungnya pada punggung Shen Lao, sementara Chi Rong mengobrol dengan Jia Huaran yang duduk dengan manisnya dipangkuan Shen Lao.