Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 93 - Jurang Hantu


Shen Lao menarik Rantai Neraka Suci dan tersenyum tipis, “Apa kau pikir bisa membunuhku?”


Ruo Long memusatkan tenaga dalamnya pada tangannya yang putus. Dia sadar baik dirinya maupun Shen Lao diambang batas, namun dibandingkan Shen Lao, tenaga dalam miliknya masih banyak.


“Yang kubutuhkan adalah kemenangan, apapun itu caranya.” Ruo Long menyeringai dan bergerak secepatnya menggunakan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa lalu mencekik leher Chi Rong dan membawanya ke tepi Jurang Hantu.


“Walau berakhir mati, aku akan mati dengan tertawa!” Ruo Long menatap tajam Shen Lao yang berlari kearahnya.


“Apa kau tidak peduli dengan nyawa istrimu ini?!” Ruo Long berteriak, seketika Shen Lao berhenti berjalan.


“Rong‘er!” Shen Lao tidak berpikir jernih melihat istrinya merintih kesakitan saat lehernya dicekik Ruo Long.


“Kau tahu apa yang terjadi jika aku menendang perutnya?” Ruo Long memusatkan tenaga dalam pada kedua kakinya.


“Keparat! Berani kau sentuh dia, kau akan mati!” Shen Lao berteriak.


“Hahaha, jika aku mati! Dia juga akan mati!” Ruo Long hendak melepaskan tendangan pada perut Chi Rong, namun seketika gerakan terhenti saat Ju Xiulan berhasil mendaratkan jarum pada leher Ruo Long.


“Dasar keturunan pelacur! Beraninya kau mengganggu pertarunganku!” Saat Ruo Long melempar tubuh Chi Rong ke Jurang Hantu.


“Hentikan!” Jantung Shen Lao berhenti berdetak melihat tubuh Chi Rong jatuh kebawah, namun disaat yang bersamaan dia terkejut melihat Ju Xiulan bergerak cepat mendorong tubuh Chi Rong dengan sekuat tenaganya.


Begitu juga dengan Bing Jinxia yang menahan tendangan Ruo Long saat hendak menginjak perut Chi Rong.


“Kenapa kalian berdua menggangguku?!” Ruo Long tidak percaya saat dirinya hendak membunuh kandungan diperut Chi Rong justru Ju Xiulan dan Bing Jinxia menghalanginya.


Shen Lao bergerak cepat menangkap tangan Bing Jinxia, namun dari belakang Ruo Long tertawa lantang.


Melihat bagaimana Ju Xiulan menolong dirinya, serta Shen Lao dan Bing Jinxia yang terjatuh. Chi Rong goyah hatinya, matanya melebar dan tidak mampu mengontrol Aura Salju Kekal yang meledak-ledak menghancurkan formasi kubah yang mengunci tenaga dalam pendekar aliran putih dan netral.


Ruo Long terkejut dan segera menoleh ke belakang, “Baiklah, sebelum aku mati setidaknya aku akan menikmati tubuhmu dihadapan mereka semua-”


Tubuh Ruo Long membeku dan hancur saat Chi Rong berteriak histeris.


“Gege!”


Chi Rong berlari mendekati Jurang Hantu dan menangis sekencang-kencangnya. Tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang membangkitkan Aura Salju Kekal sepenuhnya, Chi Rong tidak menyadari jika itu akan membahayakan kesehatan bayinya.


“Gege! Gege! Gege!”


Bersamaan dengan kubah yang perlahan-lahan menghilang, Chi Rong pingsan tak sadarkan diri saat Chi Sumei menotok lehernya.


“Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini...” Chi Sumei menangis dan memeluk tubuh cucunya itu. Matanya menatap Jurang Hantu yang gelap dan konon memiliki kedalaman tak terbatas.


Bing Caoji juga tidak percaya melihat anaknya jatuh kedalam Jurang Hantu bersama Shen Lao.


“Xiaxia...” Bing Caoji terduduk lemas. Jing Taohen segera menghampirinya.


“Saudara Bing...” Jing Taohen terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun dia mengurungkan niatnya saat melihat raut wajah Bing Caoji yang depresi.


‘Pemuda itu membunuh tiga dari Sembilan Raja Hitam serta satu Pilar Tujuh Bintang. Seharusnya aku yang mati, pemuda itu tidak pantas menerima semua kepahitan ini.’ Jing Taohen menghela napas panjang dan memandang sekelilingnya yang telah hancur berantakan.


“Hatiku tersayat melihat generasi muda yang berbakat meninggal terlebih dahulu...” Jing Taohen menatap kedalaman Jurang Hantu.