Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 24 - Kudeta Yang Gagal Dan Terculiknya Ling Qiuyu


Prajurit yang sedang berkumpul di halaman depan terkejut melihat puluhan orang memisahkan diri. Tiba-tiba nafsu membunuh datang dari arah sekelompok orang yang memisahkan diri.


“Kalian siapa?!” Salah satu prajurit langsung menodongkan tombaknya. Belum sempat bergerak dia sudah diserang, namun serangan pisau kecil itu ditepis dengan tangan kosong oleh Shen Lao.


“Aku belum makan malam dan kalian malah melakukan serangan. Menyebalkan!” Shen Lao langsung membentuk sepuluh pedang tak kasat mata menggunakan Ilmu Pedang Tanpa Wujud.


Prajurit yang memisahkan diri sama sekali tidak percaya setelah mengetahui tingkat kemampuan Shen Lao.


“Bagaimana ada pendekar bumi disini?!” Salah satu prajurit yang memisahkan diri ketakutan.


“Apa dia salah satu dari Sembilan Raja Hitam? Atau Pendekar Empat Penjuru?!” Yang lainnya menanggapi.


Sebelum mereka menyadari, sepuluh pedang tak kasat mata menembus perut mereka dan berayun membunuh satu demi satu pengkhianat.


Shen Lao menyisakan satu prajurit yang memisahkan diri, “Satu orang masih hidup. Aku ingin bertanya satu hal padamu...”


Belum selesai Shen Lao berbicara, prajurit itu melepaskan suar ke atas langit memberi tanda pada pendekar gabungan dari Gunung Hitam dan Sekte Pedang Darah bahwa rencana mereka telah gagal.


“Cih!” Shen Lao langsung memotong kepala prajurit itu.


Asap berwarna merah keemasan itu menerangi langit malam yang gelap. Shen Lao langsung terbang ke udara, sementara prajurit yang di bawah arahan Panglima Lu Bu bergerak disetiap penjuru istana.


Shen Lao melihat ada sekelompok orang yang datang dengan kecepatan tinggi menuju istana. Dua diantaranya merupakan pendekar suci.


“Setidaknya bawa satu atau dua pendekar bumi untuk melawanku!” Shen Lao membentuk pedang tak kasat mata dan mengontrolnya dengan aura dari kejauhan.


“Aura Raja Naga!” Ketika pendekar gabungan dari Gunung Hitam dan Sekte Pedang Darah menghancurkan gerbang, mereka langsung disambut dengan aura yang mencekam.


“Apa ini? Tubuhku tidak dapat digerakkan!”


“Sialan! Apa-apaan ini?! Apakah pintu masuk istana adalah gerbang gaib?!”


“Siapa dia? Bagaimana mungkin ada pendekar bumi disini!”


Seketika pendekar gabungan dari Gunung Hitam dan Sekte Pedang Darah yang hendak melakukan kudeta menatap ke satu arah yakni Shen Lao.


“Sekitar berapa orang? Satu, dua, tiga, ah, jumlah kalian tidak perlu. Rencana kudeta kalian telah gagal. Jadi bagaimana? Mau mati ditanganku? Atau prajurit istana?” Shen Lao dengan gaya bicaranya yang tenang dan dingin turun menghampiri dua pendekar suci yang tak lain adalah Hei Ju dan Zu Gu.


“Siapa kau?! Kami tidak memiliki urusan denganmu?!” Hei Ju bergetar ketakutan ketika merasakan Aura Raja Naga milik Shen Lao.


“Orang seperti kalian bisa lupa dengan mudah orang-orang yang telah kalian bunuh bukan?” Shen Lao melepaskan tenaga dalam, membentuk sepuluh pedang tak kasat, bertahap jumlahnya semakin bertambah hingga terbentuklah seribu pedang.


“Apa kalian bisa melihatnya?” Shen Lao memperlihatkan seribu pedang yang sudah berada di leher setiap pendekar gabungan dari Gunung Hitam dan Sekte Pedang Darah.


“Kami belum membunuh satupun prajurit! Bagaimana mungkin!” Hei Ju berteriak histeris setelah mengetahui dirinya tidak memiliki kesempatan untuk menang, ataupun melarikan diri hidup-hidup.


Sementara Zu Gu menatap Shen Lao tajam, ‘Jika aku mati, setidaknya saudara kembarku telah masuk ke dalam istana. Aku yakin dia telah menculik Tuan Putri!’


Shen Lao mengeluarkan sebuah pedang yang berwarna hitam pekat. Nama pedang yang dia ambil dari Jurang Abadi merupakan salah satu dari dua puluh dua pusaka yang ditempa Dewa.


“Biarkan aku membunuh kalian menggunakan Pedang Dewa Malam.” Sekejap tubuh pendekar yang tidak dapat bergerak terjatuh satu demi satu.


“Pendekar muda Shen ini...” Panglima Lu Bu tidak dapat berkata apapun. Di depan gerbang istana, tumpukan mayat menggunung.


Sebelum Shen Lao menanggapi perkataan Panglima Lu Bu, Jia Huaran berlari ke arahnya bersama Jia Song, Yao Ran dan Ling Xie yang berwajah pucat.


“Lao! Kakak Qiuqiu diculik! Aku... aku...” Teriak Jia Huaran yang membuat Shen Lao melebarkan matanya.


“Kalian berdua...” Shen Lao langsung melepaskan Aura Raja Naga lebih besar dari sebelumnya, lalu menebas kepala mereka dengan satu kali tebasan.


Shen Lao langsung memegang pundak Jia Huaran dan mencengkeramnya. Ling Xie yang melihat anaknya dibawa pergi menangis.


“Lao, karena aku, Kakak Qiuqiu...” Jia Huaran bercerita singkat jika dirinya mengajak Ling Qiuyu ke kamarnya. Saat keduanya memasuki kamar, dua prajurit langsung menculik Ling Qiuyu karena mengira gadis itu adalah Jia Huaran.


“Dan Jendral Guan membunuh salah satu prajurit.” Tambah Jia Huaran.


“Tuan Putri jangan merasa bersalah. Aku akan menyelamatkan Nona Qiuyu.” Shen Lao langsung terbang mengudara dan melebarkan aura tubuhnya mencari hawa keberadaan Ling Qiuyu.


“Nona Qiuyu!” Dahi Shen Lao mengerut ketika tidak dapat merasakan hawa keberadaan Ling Qiuyu, dia tidak bisa menahan dirinya untuk mengerahkan seluruh emosinya untuk mencari keberadaan Ling Qiuyu.


“Sial! Kenapa aku bisa seceroboh ini!” Sekilas Shen Lao mengingat perkataan Jia Huaran tentang Jendral Guan. Segera dia langsung menajamkan matanya dan bergerak kembali ke istana.


Shen Lao terbang dan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Jia Huaran, disana ada tubuh prajurit yang tergeletak. Walau belum mati, tetapi dia merasakan denyut nadi prajurit itu berdetak.


“Selamatkan Yang Mulia...” Prajurit itu hendak mengatakan sesuatu ketika napasnya semakin lemah, “Panglima Guan... orang itu... menebasku tanpa alasan...”


Shen Lao menggendong tubuh prajurit itu dan membawanya keluar istana, “Tuan Putri! Tolong sembuhkan prajurit ini!”


Mata Shen Lao tertuju pada Jendral Guan yang memucat wajahnya.


“Lao, bukankah prajurit ini pengkhianatnya...”


“Bukan...” Shen Lao mengambil Pedang Dewa Malam dari Segel Ruang Tak Terbatas, “Tetapi pria sialan ini lah pengkhianatnya!”


Tebasan Shen Lao begitu cepat memotong tangan Jendral Guan.


“Jendral Guan. Bagaimana mungkin...” Jia Song terkejut, begitu juga dengan Panglima Lu Bu.


Sebelum keduanya bereaksi lebih, Jendral Guan langsung mengayunkan pedangnya dengan tangan kanannya yang masih terpasang.


“Matilah! Aku selama ini hanya menunggu kesempatan ini! Namaku yang sebenarnya adalah Zhong Guan!” Jendral Guan berteriak bersamaan dengan tangan kanannya yang terputus, “Eh?”


Shen Lao langsung menatap Jendral Guan tajam, “Dimana Nona Qiuyu berada?!”


Jendral Guan menyeringai, “Nama marganya adalah Ling. Sekarang dia akan menjadi mainan! Pria itu pasti sudah sampai di Kota Zhongdu! Aku yakin—”


Shen Lao langsung memotong tubuh Jendral Guan menjadi dua bagian sebelum terbang dengan kecepatan tinggi menuju Kota Zhongdu.


“Sial! Nona Qiuyu, maafkan aku!”