Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
RENCANA UNTUK PARA RAKYAT


Aldora hanya mengangguk.


Aldora tidak berani berkata apapun karena dia yakin saat dia bicara suaranya akan bergetar.


Yang dia lakukan hanyalah berusaha menetralkan ketakutannya. Menunggu Riccardo menyuruhnya untuk pergi.


Tapi Riccardo tidak mengusirnya dia malah membaca berkas berkas. Seolah olah kehadiran Aldora tidak mengganggunya.


"Nona Alvina tolong kerjakan laporan ini," ucap Riccardo seraya menyerahkan sebuah berkas.


Aldora mengangguk dan mengambil berkas itu.


Tangan Aldora bergetar memegang berkas itu.


Aldora kuatkan dirimu.


Tiga kata itu selalu dia ulangi berharap mendapat kekuatan.


Tangan kiri Aldora memegang tangan kanannya yang memegang berkas. berusaha memberikan topangan pada tangan kanannya.


Ketukan di pintu membuat Riccardo yang sedang menatap tangan Aldora beralih kearah pintu.


"Masuk," ucap Riccardo.


Terlihat Leon yang membuka pintu dan langsung menutupnya.


Leon memberikan salam penghormatan lalu berjalan mendekat ke arah Riccardo.


"Berikan suratnya Leon," ucap Riccardo.


Leon tampak ragu sambil menatap Aldora merasa terganggu akan kehadiran Aldora.


Walau sedang menunduk Aldora dapat merasakan tatapan tajam dari Leon kepadanya.


Aldora sedikit berdehem agar menetralkan suaranya.


"Saya pergi dulu Yang Mulia," ucap Aldora seraya bangkit berdiri.


"Nona Alvina, anda masih harus menyelesaikan tugas yang saya berikan. Saya memerlukan laporannya untuk besok," ucap Riccardo.


Aldora hanya mengangguk pasrah dan kembali duduk untuk mulai menyelesaikan tugasnya agar cepat selesai dan dia bisa pergi dari sini.


Dia merasa dirinya sedang berada diruang sempit tanpa oksigen saat berada disini. Entah kenapa rasanya Aldora sangat sulit untuk bernafas dengan benar.


"Leon tidak apa, dia adalah asistenku. Dan aku percaya padanya," ucap Riccardo.


Percaya? Cih... Orang seperti kalian tidak akan tahu makna dari kata percaya.


Ucap Aldora dalam hati.


"Yang Mulia, saya akan mengerjakan di sofa saja," ucap Aldora yang tanpa mendengar persetujuan Riccardo langsung berjalan ke arah sofa.


Setelah membaca surat itu lagi lagi Riccardo menghela nafas berat.


"Kenapa sulit sekali untuk menemukan gadis biasa itu? Lagian, kenapa Papa terlihat sangat khawatir dengan gadis bernama Aldora G itu," keluh Riccardo.


Tadi pagi, Marchioness yang kemarin diberi nasihat oleh Aldora datang menemui Raja untuk mengatakan keluhan tentang rakyat biasa bernama Aldora.


Saat Marchioness itu menyebutkan nama gadis itu adalah Aldora G, Raja Heren langsung tersentak kaget. Hal itu terjadi seperti yang diperkirakan oleh Aldora. Dia sengaja menyebut namanya agar Marchioness itu menjadi perantara pengantar pesan peperangan secara tidak langsung kepada Raja Heren yang tentu saja merasa panik dan cemas mengetahui bahwa anak adiknya kembali.


Sesuai hukum yang telah ditetapkan oleh Ratu Gloretha yang tidak bisa diubah oleh siapapun tanpa terkecuali menyatakan bahwa anak pertama dari seorang Raja atau Ratulah yang akan menduduki tahta. Namun anak itu harus sehat secara fisik maupun psikis. Walaupun Raja Heren adalah anak pertama, dia memiliki cacat dalam fisik itu sebabnya tahta dialihkan kepada adiknya, Raja Jarrel. Dan karena anak Raja Jarrel masih hidup dan sehat tentu saja hak atas tahta menjadi milik anak Raja Jarrel tersebut.


"Yang Mulia, menurut cerita yang saya dengan dari para pelayan Aldora adalah salah satu pemberontakan yang ingin menggulingkan kekuasaan Yang Mulia Raja," ucap Leon memberitahukan.


"Betulkah seperti itu? Tapi untuk apa Raja secemas itu? Dia hanya tinggal menghukumnya saja jika memang orang itu salah. Lagian dia hanyalah gadis biasa," ucap Riccardo.


"Yang Mulia, saya sudah menyelesaikan laporannya," ucap Aldora seraya meletakkan laporan yang sudah selesai dia kerjakan.


"Saya pergi dulu," ucap Aldora yang langsung memberikan salam penghormatan dan pergi.


Aldora menghela nafas lega setelah berhasil keluar dari istana. Rasanya seperti dia baru saja keluar dari kandang singa.


Aldora menghirup udara dengan kuat kuat seakan akan dia baru bisa menghirup udara bebas setelah bertahun tahun terkurung dan tak dapat melakukannya.


Aldora menghentikan taksi yang lewat dan menaikinya. Ia pergi ke apotek untuk memberikan makan malam kepada semua orang yang tinggal ditempat kumuh itu. Barulah setelah itu dia kembali ke apartemen.


Di apartemen, Aldora memilih memikirkan rencana selanjutnya untuk para pendukung Papanya. Berusaha menghilangkan sedikit ketakutan yang masih melekat dipikirannya.


"Letak rumah mereka semua akan berada di sekitar danau. Sebelum rumahnya jadi mereka akan menggunakan tenda. Dan untuk makannya mereka bisa memancing di sungai yang ada di sebelah barat untuk sementara sebelum danaunya dibersihkan dan ada ikan di dalamnya. Untuk rumah kayu... mereka tidak boleh memasukinya. Di rumah itu ada foto Papa dan Mama juga aku. Jika mereka melihatnya mereka pasti akan terkejut. Aku masih belum ingin identitas ku terbongkar dengan cara seperti itu dihadapan rakyat Papa.... Untuk nasinya selama beberapa hari ini aku akan memberikan mereka beras. Mereka harus memasak dengan menggunakan kayu. Hitung hitung untuk persiapan kemandirian mereka sewaktu waktu diperlukan," Aldora berkata sambil mencoret coret kertas berusaha menggambarkan letak rumah yang akan dibangun para rakyat untuk tempat tinggal mereka.


"Tapi tentang uang itu, aku yakin dia bukanlah pengikut Papa. Aku juga yakin bahwa bukan hanya dia yang penghianat masih ada yang lainnya.... Aku tidak bisa mencabut tumbuhan dengan menyisakan akarnya. Aku harus mencabut akarnya bersama dengan tumbuhannya," ucap Aldora ketika teringat tentang sejumlah uang yang dia lihat tadi.


"Oh ya, Ratu Delaney pernah menghadapi situasi seperti ini. Berusaha mencari penghianat diantara sekelompok pendukung. Dan caranya, aku masih ingat dengan jelas. Aku akan melakukan cara itu untuk mencarinya. Dalam waktu dekat ini aku akan melakukan aksinya," ucap Aldora ketika teringat akan cerita tentang Ratu Gloretha dari buku sejarah yang pernah diceritakan Mamanya.


Setelah itu Aldora melipat kertas yang telah dia coret coret dan memasukkannya kelaci. Barulah setelah itu dia berjalan menuju kasur dan 'selamat datang alam mimpi'.


***


Keesokan harinya,


Hari ini Aldora menghandle semua pekerjaan Riccardo di perusahaan karena hari ini Riccardo dan juga pengawalnya Leon tidak masuk kerja.


Aldora pergi menuju sebuah restoran ternama untuk bertemu dengan utusan perusahaan Jerman. Untuk menandatangi kontrak perjanjian.


Aldora datang dengan tepat waktu keruangan VIP restoran ternama di kota Retha untuk melakukan pertemuan kerja.


"Selamat siang Nona, saya Hanz, asisten Tuan Aaric," seorang pemuda langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Aldora sedikit mengernyitkan dahinya karena dia merasa pernah bertemu dengan pria dihadapannya ini. Namun tangannya tetap terulur untuk berjabatan dengan pemuda bernama Hanz.


"Siang, saya Alvina asisten Tuan Riccardo. Utusan perusahaan Gloretha," ucap Aldora seraya menarik kembali tangannya setelah 3 detik bersalaman.