
Para musuh yang menyerang Mansion milik Zha akhirnya tumbang juga. Sebagian yang masih bernafas memilih untuk mundur teratur menyelamatkan nyawa mereka masing masing dengan membawa kekalahan. Terlebih setelah mendengar kabar jika ketua mereka yang tak lain adalah kerabat Gustavo sudah tewas.
Sementara Halilintar dan Elang beserta anak buah nya saat ini sudah berhasil menghancurkan sarang kerabat Gustavo yang ternyata benar adalah dalang dari penghianatan Alya dan juga penyerangan Mansion nya.
Halilintar terlihat sedang mengintrogasi Alya yang sudah berhasil mereka ikat di sebuah tiang. Wanita yang tak lain adalah bekas sekretaris nya itu.
Namun sebelum Halilintar selesai dengan urusan nya dengan Alya, tiba tiba saja raut wajah nya berubah pucat seketika setelah menerima kabar dari Alexa tentang Zha yang akan melahirkan.
"Kita pulang sekarang!" ucap Elang yang juga mendengar kabar Alexa lewat handphone milik Halilintar.
Tanpa menjawab Halilintar bergegas setengah berlari ke arah mobil.
"Bereskan wanita ular itu dan bersih kan dengan benar!" perintah Elang pada anak buah nya yang langsung mematuhi nya, sesaat sebelum akhirnya Elang berlari menyusul Halilintar.
Kepanikan begitu jelas tergambar di wajah Halilintar , ia duduk bersandar di jok mobil dan Elang kini mengambil alih untuk mengemudi karena tidak mungkin membiarkan Halilintar menyetir dengan keadaan perasaan nya yang sedang kacau.
Perasaan takut, panik dan khawatir bercampur di benak Halilintar mengingat jadwal kelahiran Zha masih sekitar sepuluh hari lagi. Apalagi di tambah Zha melahirkan di waktu penyerangan Mansion nya. Halilintar masih saja tidak bisa tenang sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dimana Zha di masuk kan, meskipun Alexa sudah mengatakan jika Zha baik baik saja.
"Ya Tuhan, lindungi istri ku. Sisakan kami kesempatan untuk bahagia." bisik Halilintar masih terdengar oleh Elang.
"Tenangkan Hati mu Hall?" Elang berusaha menenangkan Halilintar.
"Bagaimana aku bisa tenang. Semua ini salahku. Jika saja hari ini aku tidak pergi. Mansion tidak akan di serang. Dan Zha tidak akan melahirkan pada waktu yang di luar perkiraan dokter. Aku takut. Aku takut terjadi sesuatu pada Zha hingga mengakibatkan dia kontraksi dan melahirkan lebih awal."
"Kau harus yakin jika semua akan baik baik saja. Zha wanita yang kuat." kembali Elang mencoba menenangkan. Padahal di dalam hati nya sendiri, ia bahkan ingin menjerit. Ia pun takut, takut sekali jika terjadi apa apa pada adik semata wayang nya itu. Terlebih ketika mengingat jika Zha harus melahirkan dua bayi sekaligus.
Bayangan kehilangan satu satunya sahabat sekaligus adik nya itu terus terlintas di benak Elang. Namun pria itu sekuat mungkin menyembunyikan dengan rapi demi pria yang saat ini tengah duduk di samping nya itu. Pria yang sedang di landa kekhawatiran yang dalam, agar dia bisa lebih tenang.
Halilintar melihat gedung tinggi menjulang di hadapan nya menandakan jika mereka sudah tiba di kawasan rumah sakit. Halilintar langsung keluar dari mobil setelah Elang mematikan mesin mobilnya.
Dengan Kemeja hitam , lengan bajunya yang di gulung sampai siku, dua kancing atas terbuka di tambah rambut acak acakan nya Halilintar melangkah di dampingi Elang yang keadaan nya sama persis seperti dirinya serta tiga pengawal bertubuh tinggi besar di belakang mereka membuat semua mata menatap mereka dengan penuh keheranan. Mereka memasuki rumah sakit tanpa mempedulikan banyak mata yang memandang mereka itu, terus melangkah menuju ruangan di mana Zha berada.
Di sana sudah terlihat Aisyah dan Alexa serta Hanzero dan juga Azkayra yang langsung berlari memeluk putra nya.
"Mam, bagaimana keadaan Zha?" tanya Halilintar dengan wajah pias nya.
"Tenang lah putra ku."
"Mam, aku bertanya bagaimana keadaan Zha Mam.?"
"Hall.. Putri kembar mu sudah lahir dengan selamat." Hanzero yang menjawab sambil menepuk bahu Putra nya.
"Demi Tuhan.. Jawab pertanyaan ku. Aku menanyakan keadaan istriku??" jerit Halilintar.
"Tolong jawab!! Pa..??"
"Zha banyak mengeluarkan darah. Saat ini dokter sedang berusaha." jawab Hanzero terlihat pria itu sedang menahan sesak di dadanya.
Mendengar itu, wajah Halilintar memerah, jantung nya terasa berhenti dan seketika tulang belulang nya lemas. Ia jatuh terduduk di lantai.
"Tidak! Jangan ambil istri ku. Jangan Tuhan... Ku mohon..!" terdengar isak dari mulut Halilintar.
"Bu,. Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga putrimu. Aku Sungguh suami tidak berguna."
"Hall.. Jangan menyalahkan dirimu. Ibu tau kau sedih. Tapi alangkah baik nya jika kita berdoa , semoga Istrimu selamat." ucap Aisyah mencoba memberi dorongan semangat untuk menantu nya.
" Lihat ibu nak? Ibu juga pernah seperti istrimu. Bahkan lebih buruk dari itu. Harus melahirkan Elang secara terpaksa. Dan melahirkan Zha di saat kritis. Tapi ibu selamat. Apalagi istri mu. Dia wanita yang kuat. Kau tau itu kan? Zha pasti akan bisa melewati ini . Semua akan baik baik saja." ucap Aisyah.
Halilintar mengangkat wajahnya, menatap sang ibu mertua nya.
"Bangun lah nak? Apa kau tidak ingin melihat putri kembar mu? Mereka menunggu untuk bisa menatap pertama kali orang tua nya." ucap Aisyah kembali sambil memegang kedua bahu Halilintar.
Perlahan Halilintar bangun, mengusap air matanya dengan punggung telapak tangan nya, mencoba tegar dan mengumpulkan tekad nya untuk mengusir ketakutan di hatinya, lalu menoleh pada Papa nya.
"Temui mereka Hall.. Dengan begitu, kau akan mendapat kan kekuatan tersendiri. Percayalah!" ucap Hanzero.
"Apa kau perlu teman untuk menemui Putri kembar mu? Aku akan menemani mu." ucap Elang menepuk bahu Halilintar.
Halilintar mengangguk. Kedua nya kini melangkah ke ruangan khusus di mana di sana putri kembar yang sudah berhasil di lahir Zha berada. Meninggalkan Aisyah , Alexa, Hanzero dan juga Azkayra yang langsung terlihat sedih sesaat setelah Halilintar sudah menjauh.
Baik Aisyah maupun Azka sama sama meneteskan air mata dan terisak. Tidak bisa di bohongi jika saat ini mereka sangat takut dan khawatir sama hal nya dengan Halilintar, hanya saja di depan Halilintar mereka berpura pura tegar supaya Halilintar bisa tenang.
Di dalam sana, Halilintar mendekati sebuah ranjang bayi.
Dua bayi perempuan yang manis dan imut, satu bayi beriris mata biru dan satunya berwarna Coklat itu seperti sedang tersenyum menatap nya.
"Putri ku??" jemari Halilintar menyentuh pipi bayi bermata biru dan berganti menyentuh yang satu nya lagi.
Kedua bayi itu menggeliat merasakan sentuhan lembut di pipi mereka.
Tergulir senyum di sudut bibir Halilintar, namun air matanya turut menetes menyertai senyuman nya.
Baru saja Halilintar mengulurkan tangan nya untuk mengambil bayi nya, suara Alexa memanggil nya.
"Tuan muda.!"
Halilintar menoleh.
"Dokter ingin bertemu dengan anda."
Menangkap wajah gusar Alexa , Halilintar tidak ingin bertanya tetapi langsung berlari untuk menemui sang Dokter.
"Apa yang terjadi pada istri ku??" tanya Halilintar ketika sudah berada di hadapan sang Dokter , melirik ibu dan mertuanya yang terisak.
Sebelum dokter itu sempat menjawab, Hanzero sudah mendekati Halilintar.
"Hall,. Zha butuh donor darah . Sementara persediaan darah di Rumah Sakit ini yang sama dengan Zha tidak ada. Dan tidak ada satu pun di antara kita yang mempunyai darah yang cocok dengannya."
_______________________________