Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
RUMAH KAYU


Aldora diam tidak menjawab. Ia ingin sekali menjawab Tidak, karena Aldora tidak yakin dia akan bisa menganggap latihan itu hanya sebuah LATIHAN. Namun ia tidak bisa mengatakan penolakannya secara terang terangan mengingat status pria di hadapannya sekarang adalah seorang putra mahkota.


"Maaf Yang Mulia. Tapi seorang pria tidak bisa bertanding dengan seorang wanita walaupun hanya sebuah latihan," jawab Aldora dengan menunduk.


"Baiklah, tidak masalah. Aku akan bertanding dengan Leon saja. Ayo, Leon" Riccardo sedikit berteriak saat mengajak Leon agar Leon dapat mendengarnya.


"Apa kamu ingin menjadi penonton, nona?" Tanya Riccardo kepada Aldora yang melamun menatap tempat latihan khusus raja, ratu, atau permaisuri.


Di samping bangunan itu terdapat sebuah bangunan yang hampir jadi. Persentase jadinya mungkin 98%. Dengan diantara bangun itu terdapat lorong kecil yang menghubungkan.


Riccardo melirik apa yang ditatap Aldora sambil melamun.


"Itu tempat latihan Raja dan Permaisuri. Tapi Raja dan Permaisuri hampir tidak pernah menggunakan bangunan itu," jelas Riccardo.


Aldora mengangguk mengerti. Ya, dia sangat sangat mengerti.


"Nona Alvina," panggil Leon berusaha memperingati Aldora untuk menjawab pertanyaan Riccardo sebelumnya.


"Hm?" Aldora membalas tanpa menatap Leon.


Perasaannya saat ini kembali campur aduk.


"Yang Mulia, saya masih ingin berlatih memanah. Yang Mulia bisa berlatih dengan Tuan Leon," ucap Aldora dengan menunduk setelah menyadari kesalahannya.


"Baiklah, Leon ayo" ajak Riccardo seraya berjalan kedalam bersama Leon.


Setelah memastikan bahwa Riccardo dan Leon masuk, Aldora berjalan ke arah papan panah.


Untung saja Riccardo tadi mengusir semua para pengawal dari tempat latihan agar dia bisa lebih leluasa berlatih.


Aldora berdiri di depan papan panahan. Di tariknya anak panah yang menancap di papan. Aldora melirik ketempat latihan Raja dan Permaisuri, ingatannya kembali pada belasan tahun silam.


"Papa, Al juga mau punya tempat pribadi kayak punya Papa. Tapi tempatnya harus di samping tempat ini, di situ" ucap Aldora seraya menunjuk tempat kosong di samping tempat latihan Papanya.


"Tapi kan Al sudah punya tempat pribadi kayak Papa di sana," Mama Aldora menunjuk tempat latihan khusus pewaris tahta.


"Gak mau, Al gak mau tempat itu. Tempatnya jauh dari punya Papa. Al mau yang di dekat Papa. Tempat Al juga harus bisa nembus ke tempat Papa. Biar Al bisa suka hati latihan di tempat Papa atau di tempat Al," ucap Aldora keras kepala.


Papa Aldora tertawa kecil lalu berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan putrinya.


"Iya nanti Papa buatkan untuk Al dimanapun Al mau," ucap Papa Aldora sambil mencubit lembut pipi putrinya.


"Yey, Papa yang terbaik" ucap Aldora.


Mama Aldora hanya bisa tersenyum bahagia melihat putri dan suaminya.


Papa, kamu sungguh memenuhi ucapanmu. Andai kejadian itu tidak terjadi pasti saat ini aku sedang berlatih di dalam sana bersama Papa dan Uncle.


ucap Aldora dalam hati dengan tatapan terpaku menatap gedung itu.


Al ingi masuk ke dalam. Tapi, ini bukan saatnya. Al tidak mau membuat orang curiga.


Aldora kembali berkata dalam hati.


Tring...


Sebuah notifikasi dari ponsel Aldora membuyarkan perang batinnya.


Al, hari ini Uncle akan pergi. Uncle ada sedikit urusan, kami jaga dirimu baik baik. Maaf karena Uncle meninggalkanmu. Tapi ini mendesak, kamu masih ingat dengan Uncle Vito? Ya dia yang sudah banyak membantu kita, Uncle Vito saat ini sedang sakit dan Uncle akan menjenguknya. Mungkin Uncle akan kembali seminggu kemudian.


Kapan Uncle akan berangkat? ~ Tanya Aldora.


Sekarang Uncle sudah di bandara. Sampai jumpa minggu depan Tuan Putri. ~ balas Uncle Penrod.


Aldora memasukkan ponselnya kedalam tas lalu kembali ketempat asal dan mulai berlatih memanah.


Entah sudah berapa lama berlalu, tapi langit sudah terlihat cerah. Namun Aldora masih tetap asik dengan latihan memanahnya.


Aldora melirik ke samping karena merasakan ada yang memperhatikannya.


"Apa anda sudah selesai, nona?" Tanya Riccardo yang tadi memperhatikan Aldora.


Aldora meletakkan busur dan panahnya ke tempat semula menandakan bahwa dia sudah selesai.


"Matahari sudah berada di atas, apa anda masih ingin di sini nona?" Tanya Riccardo.


"Tidak, Yang Mulia" jawab Aldora.


"Nona, saya akan mentraktir anda makan siang setelah itu saya akan mengantar anda pulang," ucap Riccardo.


"Tidak perlu, Yang Mulia. Saya ingin pulang sekarang, ada urusan mendadak," ucap Aldora memberi alasan.


"Baiklah, salah satu pengawalku akan mengantar anda pulang," ucap Riccardo.


Semua pengawal ini seharusnya adalah pengawalku bukan pengawalmu.


Tangan Aldora terkepal dan matanya lagi lagi menunjukkan kebencian teramat besar kepada sosok pemuda di hadapannya.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri" ucap Aldora berusaha keras berbicara dengan tenang.


Namun karena dia tidak bisa mengendalikan ekspresinya. Aldora memberikan salam penghormatan dan langsung pergi tanpa menoleh.


Aldora tidak langsung pulang ke apartemen. Dia memilih pergi ke hutan yang dulunya adalah tempat liburannya bersama kedua orang tuanya.


Dari luar memang hutan ini selalu terlihat seperti hutan liar namun siapa yang menyangkan bahwa di dalam hutan itu adalah tempat yang istimewa bagi Aldora.


Aldora masuk ke dalam hutan. Ia ingin melihat rumah kayu yang ada di dalam hutan itu. Apakah rumah itu masih dalam keadaan baik atau malah sebaliknya.


Deg! jantung Aldora seakan berhenti berdetak.


Rumah kayunya sekarang dalam keadaan buruk. Danau buatan yang mengelilingi rumah kayu itu dalam kondisi kering. Taman bunga yang ada di sana tampak hancur.


Dengan langkah ragu Aldora masuk ke dalam rumah kayu. Rumah kayu itu memang masih kuat karena terbuat dengan kayu terbaik namun kondisi rumah itu sangat kacau.


Aldora menghembuskan nafas lega ketika melihat rumah kayu itu yang masih tampak seperti semula. Ada sofa di ruang tamu, kamar orang tua dan kamarnya juga masih dalam kondisi yang baik, dapurnya pun masih tampak cantik. Hanya berdebu saja.


Aldora mengambil sapu yang ada di rumah itu dan mulai membersihkan rumah kayunya tercinta itu.


"Rumah yang hebat, kamu dapat bertahan setelah belasan tahun tak diurus. Tapi jangan khawatir aku akan rajin kemari dan akan selalu mengurusmu," ucap Aldora berbicara dengan rumah kayu itu.


Mulai dari kamarnya, dapur, ruang tamu, kamar orang tuanya, dan tempat kerja Papanya Aldora sudah membereskannya.


Dia pergi keluar dari rumah kayu dan mulai membersihkan halaman sekitar rumah kayunya.


Rumah kayu ini menyimpan banyak kenangan juga untuknya dan kedua orang tuanya. Yang mengetahui tempat ini hanyalah orang tuanya dan juga dia sendiri.


Menurut cerita Papa Aldora, tempat ini dibuat khusus oleh Papa Aldora sebagai hadiah pernikahan untuk Mama Aldora. Dan setiap sekali sebulan mereka bertiga akan menginap di rumah kayu itu.