
Dengan cepat Aldora langsung menggulung perban dan mengikatnya lalu berjalan sedikit tergesa menuju meja nakas.
"Halo Uncle," sapa Aldora memaksakan agar suaranya terdengar seperti biasanya.
"Al, apa kabar? Kamu baik baik saja kan disana?" Tanya Uncle Penrod.
"Ya, Al baik Uncle. Uncle apa kabar disana? Apa keadaan Uncle Vito sudah membaik?" Tanya Aldora.
"Uncle baik, Tuan Putri. Uncle Vito juga sudah membaik," jawab Uncle Penrod.
"Uncle, besok malam Riccardo meminta Al menemaninya Al menghadiri pesta dikediaman salah satu Duke," ucap Aldora memberitahu.
"Kamu setuju?" Tanya Uncle Penrod.
Aldora mengangguk.
"Turuti saja apa mau mereka sekarang. Buat mereka percaya bahwa kamu dapat dijadikan orang kepercayaan," ucap Uncle Penrod.
"Dan Uncle, beberapa hari yang lalu, Aldora membantu seorang anak yang diganggu seorang Marchioness. Aldora mengatakan nama Aldora G sebagai identitas Aldora kepada mereka," ucap Aldora menantikan tanggapan Uncle Penrod.
"Al, itu bukan rencana kita. Kenap kamu berbuat sesuatu tanpa berbicara dengan Uncle?" Tanya Uncle Penrod tampak keberatan.
"Uncle, Al mempelajari bahwa seseorang yang menyerang tanpa adanya peringatan hanyalah seorang pengecut. Dan Al bukan pengecut, Al adalah Putri Raja Jarrel. Al tidak mungkin melakukan sesuatu yang merusak nama Papa," ucap Aldora mengatakan pemikirannya.
"Uncle setuju dengan pemikiranmu itu. Tapi sebelum kamu bertindak katakan dulu pada Uncle. Agar Uncle dapat menilai apakah tindakan itu menguntung atau merugikan bagi pihak kita," ucap Uncle Penrod menasihati.
"Ya Uncle," ucap Aldora mengerti.
"Uncle, Aldora ada pekerjaan sebentar. Guten Morgen, Uncle" ucap Aldora. (Selamat pagi, Uncle)
"Guten Morgen, Prinzessin" balas Uncle Penrod dan membiarkan Aldora yang menutup telepon. (Selamat pagi, Tuan Putri)
Aldora mematikan telepon. Entah kenapa tiba tiba kepalanya merasakan sakit yang luar biasa hingga akhirnya dia tidak sanggup dan malah pingsan.
***
Di salah satu bandara Gloretha.
Yang Mulia, lihatlah. Sekarang putrimu sudah besar dan dapat berpikir layaknya seorang pejuang yang terhormat. Dia benar benar mengikuti jejak mu dan Yang Mulia Permaisuri.
Ucap Uncle Penrod seraya menatap langit seakan akan dia sedang berbicara dengan Raja Jarrel.
Uncle Penrod baru saja kembali ke Gloretha. Dia ingin memberikan kejutan kepada Aldora dengan kedatangannya.
Uncle Penrod menaiki taksi untuk kembali ke apartemen.
***
Uncle Penrod masuk ke apartemen dan mencari keberadaan Aldora. Pilihan pertamanya untuk mencari jatuh kepada kamar tidur Aldora.
"A-" Uncle Penrod tampak terkejut saat melihat tubuh Aldora yang tergeletak dilantai.
"Al," dengan panik Uncle Penrod mengangkat tubuh Aldora dan segera membawa Aldora ke rumah sakit dengan taksi yang berjajar di depan gedung apartemen.
Kini Uncle Penrod sedang berdiri didepan pintu ruang IGD dengan perasaan cemas menunggu kabar keadaan Aldora.
"Keluarga pasien perempuan yang baru saja datang," panggil dokter yang tidak tahu siapa nama pasien yang dia rawat karena Uncle Penrod belum mengisi daftar identitas pasien.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Uncle Penrod.
"Kondisi pasien belum stabil. Saat ini nyawa pasien masih dalam bahaya," jawab dokter setelah mereka berdua duduk berhadapan dengan dipisahkan sebuah meja.
"Kenapa kondisinya memburuk, dok? Apa dia menderita penyakit serius?" Tanya Uncle Penrod khawatir.
"Bukan penyakit, pasien mengalami keracunan. Racun ini cukup mematikan. Setelah 12 jam racun dibiarkan tanpa diobati kemungkinan besar penderita tidak akan selamat. Untunglah anda membawa pasien sebelum waktu itu," ucap dokter memberitahukan.
"Racun?" gumam Uncle Penrod merasa tidak asing dengan penjelasan dokter itu.
"Darimana racun itu bisa masuk kedalam tubuh nya, dok?" Tanya Uncle Penrod.
"Dari luka yang berada dilengan kirinya," jawab dokter.
"Luka?" Uncle Penrod malah merasa bingung sendiri.
"Ya, Tuan" jawab dokter.
Uncle Penrod terdiam berusaha memikirkan luka apa yang dimaksud si dokter.
"Tuan Penrod, ini adalah daftar obat yang harus ditebus. Anda bisa menebus di apotek rumah sakit sekalian membayar biaya perawatan pasien," ucap si dokter serata memberikan secarik kertas.
Uncle Penrod menerima kertas itu dan mengangguk tanda pamit.
Uncle Penrod mengisi semua data data yang diminta rumah sakit sekalian mengurus pembayaran Aldora. Uncle Penrod dengan sengaja memalsukan nama Aldora agar tidak ada yang curiga.
Setelah dari meja resepsionis, Uncle Penrod pergi ke bagian farmasi dan menyerahkan resep obat juga bukti pembayaran. Setelah menerima nomor antrian, Uncle Penrod duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk tempat pasien atau keluarga pasien menunggu.
***
Di kamar inap
Tanpa ada tanda tanda akan sadar, tiba tiba saja Aldora terbangun. Meraih sebuah baskom stainless yang ada di dekatnya dan memuntahkan cairan.
"Al kamu sudah sadar?" Uncle Penrod baru dapat bertanya setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya ketika melihat Aldora tiba tiba sadar.
"Uncle kenapa Uncle ada disini?" Tanya Aldora menatap Unclenya tak percaya.
"Uncle baru tiba tadi pagi. Dan saat di apartemen, Uncle melihatmu pingsan dan wajahmu tampak pucat. Uncle khawatir dan langsung membawamu ke rumah sakit," jawab Uncle Penrod.
"Kenapa Uncle mengambil resiko? Bagaimana jika ada orang yang mengenali wajah Uncle? Uncle bisa ditangkap," Aldora berkata dengan berbisik takut jika ada yang mendengar.
Walau mereka hanya berdua di ruang inap, namun tembok juga punya terlinga!!
"Al, sudah berapa kali Uncle katakan. Kesehatanmu nomor satu. Jika Uncle tertangkap biarlah, yang terpenting kamu selamat," ucap Uncle Penrod.
"Keselamatan Uncle juga penting. Mana mungkin Al mempertaruhkan keselamatan Uncle demi keselamatan Al. Lagi pula Al hanya kekurangan darah. Istirahat dirumah saja, Al akan pulih" balas Aldora.
"Jangan menganggap sepele, Al. Asal kamu tahu, kamu itu keracunan. Jika saja tadi Uncle tidak datang, maka.... Uncle tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padamu," ucap Uncle Penrod tampak sedih.
"Keracunan?" Aldora bertanya sambil menatap lengan kirinya yang disana terdapat luka terbalut rapi dengan perban.
"Racunnya berasal dari lukamu. Al... bagaimana bisa kamu terluka? Apa pelakunya orang suruhan kerajaan?" Tanya Uncle Penrod serius.
"Uncle ada penghianatan diantara pendukung Papa. Kemarin Al membasmi mereka. Saat itu salah satu dari mereka melukai Al dengan pedangnya. Dan Al pikir Al hanya merasa lemas karena banyaknya darah yang keluar. Mereka memang suruhan kerajaan. Tapi Uncle... darimana Uncle tahu bahwa itu orang suruhan kerajaan?" Tanya Aldora merasa penasaran.
"Uncle pernah terkena racun yang sama denganmu dulu. Bahkan Papa dan semua anggota keluargamu juga pernah terkena racun ini dan tidak terselamatkan," ucap Uncle Penrod.
"Uncle... apa maksudnya... racun ini berhubungan dengan pemberontakan yang terjadi belasan tahun lalu? Tanya Aldora dengan perasaan campur aduk.