
Sepanjang perjalanan Zha tidak membuka suaranya, gadis itu hanya diam dan menatap lurus ke depan, lain hal dengan pemuda yang tengah duduk mengendalikan setir di sebelahnya itu, ia terus berbicara ke sana kemari sambil terus melirik Zha sampai tangan Zha menepuk ringan wajahnya ketika satu lirikan tertangkap basah oleh Zha.
"Apa yang kau lihat.?"
"Jelas wajah kekasih ku lah, kau keberatan.?"
"Ya, aku keberatan..!!"
"Ah Zha,.. apa yang membuat mu keberatan.? Itu tidak akan membuat kulit mu lecet.!!"
"Diam..!! Aku tidak suka. Fokus lah menyetir atau aku yang akan membawanya.!!"
Halilintar lagi lagi hanya bisa menghela nafas , ia harus semakin bersabar menghadapi kekasihnya yang mempunyai hati sedingin es itu.
Laju kendaraan masih terus berlanjut di jalanan aspal hingga beberapa saat.
Zha menoleh ke arah Halilintar ketika ia menangkap sesuatu yang mencurigakan.
"Ada yang mengikuti kita."
Halilintar cepat melirik ke arah spion. Benar saja beberapa mobil di belakang seperti sengaja sedang mengikuti mereka.
Halilintar memutar setir mobil nya dan berusaha mengecoh mereka dengan terus membelok ke setiap tikungan yang ada.
Namun sial, tiga mobil di belakang mereka terus mengejar.
Aksi kejar kejaran pun berlanjut hingga jauh dari keramaian kota dan memasuki berkebunan yang di penuhi pohon pohon menjulang tinggi hampir seperti hutan. Ya , tepat nya sebuah hutan buatan. Ketiga mobil itu berhasil mengejar dan kini memepet mobil Mereka.
Brug....!!!
Satu mobil berhasil menghantam mobil milik Halilintar dari samping kiri membuat mobil Halilintar oleng.
Beruntung Halilintar masih bisa menguasai kemudi dan terus melajukan mobil nya dengan cepat, namun sayang Halilintar tidak menyadari jika sebuah pohon sudah berada di depan mobil nya membuat Zha sontak menjerit.
"Awas Hall...!!!"
Menyadari sesuatu akan terjadi Halilintar menginjak rem dengan begitu cepat dan tepat, tapi...
Bruakkk....!!!!
Benturan terjadi. Mobil Halilintar tetap menabrak pohon tersebut.
Halilintar mengusap kening nya yang berdarah dan segera meraih tubuh Zha.
"Zha.!!"
"Hem.!" ucap lirih Zha mengangkat kepalanya yang terbentur.
"Kau tidak apa apa.?"
Zha hanya menggeleng sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, beruntung tidak terjadi apa apa yang berat pada mereka.
"Cepat keluar Zha, mobil ini akan meledak.!" Halilintar segera menendang pintu mobil dan menarik cepat tubuh Zha dan membawanya berlari menjauh.
Benar saja , sesaat setelah mereka menjauh terdengar ledakan dahsyat , mobil Halilintar benar benar meledak.
Mereka kini terduduk di bawah pohon sambil mengatur nafas mereka yang terlihat naik turun , sekali lagi merasa beruntung bisa selamat dari ledakan itu.
"Kita harus cepat pergi, mereka pasti masih mencari kita." ucap Halilintar di balas anggukan Zha, dan baru saja Halilintar hendak berdiri sebuah pukulan cepat tak terduga melayang di tengkuk nya membuat tubuh Halilintar tersungkur.
Ketika Halilintar membalik kan badan nya berusaha untuk bangkit, sebuah kaki kekar menginjak dada nya dengan kuat di susul
Moncong pistol berada tepat di atas kepalanya.
Terkejut dengan apa yang terjadi, Halilintar melirik ke arah Zha, satu Pria sudah menempel kan pistol tepat di kepala gadis itu dan satu pria sudah membekuk tangan Zha ke belakang.
"Ikut kami dan jangan melawan!"
Baik Zha maupun Halilintar sama sama tidak bisa berkutik karena sama sama menjadi sandera.
Zha hanya bisa menurut saja ketika dua pria yang sudah menguasai nya itu menggiringnya untuk melangkah.
Halilintar melirik pria tegap yang wajahnya di tutup kain hitam seperti nya sengaja menyembunyikan identitasnya itu sudah siap menarik pelatuk nya. Halilintar spontan menangkap kaki pria itu dengan kedua tangan nya dengan sangat cepat tanpa terduga oleh pria itu lalu memutar nya kuat hingga pria itu jatuh ke tanah. Tanpa memberi kesempatan untuk menarik pelatuk nya Halilintar menginjak tangan pria itu menyebabkan pistol itu terlepas dan Halilintar segera menyambar nya.
Dor...!!!!
Satu peluru lepas ,meskipun dengan jarak yang terbilang jauh tapi peluru itu tepat mengenai pria yang tengah menodong Zha dan menggiring Zha, pria itu jatuh tersungkur.
Melihat itu Zha tidak menyia nyia kan kesempatan. Kaki Zha mengait kaki pria yang masih memegangi nya dan menghantam nya segera setelah berhasil membuat pria itu ambruk. Tak sampai di situ Zha menginjak leher pria itu dan menggilas nya dengan kuat sampai terdengar suara seperti suara ranting patah.
"Zha, ayo cepat..!!" Halilintar memberi kode pada Zha untuk segera pergi. Zha langsung berlari ke arah Halilintar yang langsung meraih tangan nya dan membawa nya berlari bertepatan dengan beberapa pria yang sudah menuruni mobil mobil mereka.
Dengan terus menoleh ke belakang untuk memastikan mereka yang berusaha mengejar, Halilintar membawa Zha berlari terus ke dalam hutan buatan itu dengan menyelinap di sela sela pohon.
Suara tembakan berkali kali terdengar jauh di belakang.
Halilintar dan Zha masih berlari semakin jauh ke dalam hutan , tidak menyadari jika di depan mereka adalah sebuah tebing.
Sial nya Kaki Zha terperosok. Halilintar yang menyadari itu cepat menyambar tangan Zha berusaha menahan nya dan menarik kuat. Namun sayang kedua nya malah tergelincir ke bawah bersamaan dan tubuh Zha yang lepas dari genggaman tangan Halilintar jatuh kesebuah parit berair.
Halilintar yang selamat dari parit cepat mengangkat tubuh Zha yang sudah basah.
"Zha..!!" Halilintar menepuk pipi Zha yang tak sadarkan diri itu dan membaringkan nya dengan posisi kepala Zha di pangkuan nya.
Terdengar Zha terbatuk dan membuka matanya.
"Hall..!! Sakit." rintih Zha memegang punggung nya.
Halilintar membopong tubuh Zha dan membawa nya melangkah menyusuri jalan setapak yang ada tidak jauh dari tempat mereka.
Melihat sebuah gubug kecil di ujung jalan, Halilintar membawa Zha kesana.
"Kita istirahat di sini dulu." Halilintar membaringkan tubuh Zha di dalam gubug kecil itu.
"Seperti nya punggung ku patah Hall.!" rengek Zha sambil berusaha untuk duduk menyandarkan punggung nya di dinding gubug.
"Benarkah, ..? coba ku bantu." ucap Halilintar memijat punggung Zha.
"Ah, sakit Hall...!!" jerit Zha.
"Tidak apa, ini hanya akibat benturan. Sebentar lagi akan sembuh." ucap Halilintar.
"Siapa kira kira mereka tadi.? Aku tidak mengenali nya." ucap Zha.
"Kau saja tidak mengenali mereka , Apalagi aku..?" sahut Halilintar masih memijat punggung Zha.
"Seperti mereka bukan dari Klan manapun."
"Lalu.. siapa lagi musuh yang mengincar mu kalau bukan dari sesama Mafia.?" tanya Halilintar.
"Tapi aku bisa mengenali nya jika mereka memang bukan dari Klan mafia manapun." tegas Zha.
"Atau jangan jangan..!!" Halilintar seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jangan jangan apa Hall..?"
"Ah.. Sudah lah, yang penting kita selamat dulu, kita bisa mencari tau nanti.!" potong Halilintar.
"Ini semua salahmu. Kenapa tidak membawa senjata apapun. Sudah tau kalau tidak ada satu pun senjata ku yang tersisa karena tinggal di rumah mu." ucap Zha kesal.
"Sudah lah Zha, lihat lah baju mu basah. Kau harus melepas nya." sahut Halilintar mengalihkan pembicaraan yang pasti nya akan berujung perdebatan itu.
Zha memegang baju nya yang memang basah dan menyebabkan Zha merasa kedinginan.
"Lepas saja, kau bisa memakai kaos ku. Aku bisa memakai jaket ini saja." ucap Halilintar melepas jaket yang ia kenakan untuk menutupi kaos nya.
Zha mengangguk setuju.
Halilintar yang sudah selesai melepas kaos nya lalu membantu Zha untuk melepas baju gadis itu.
"Hei..!! Apa yang kalian lakukan..!! Kalian berbuat mesum ya..!!" Suara orang dari arah belakang mengagetkan mereka, Halilintar menoleh , menyadari beberapa orang sudah berada di belakang mereka dengan cepat ia menutup tubuh Zha yang hanya mengenakan bra itu dengan jaket nya.
"Pak, ini tidak seperti yang kalian lihat. Sungguh, kami tidak melakukan apapun..!" ucap Halilintar mencoba memberi penjelasan, tapi mereka yang sepertinya adalah warga setempat itu tidak mudah percaya dengan apa yang mereka lihat.
Zha yang tak kalah terkejut nya itu segera mengenakan kaos Halilintar di balik punggung Halilintar yang sengaja menutupi nya dari mata warga.
"Kita bawa saja mereka ke rumah kepala desa untuk mempertanggung jawab kan perbuatan mesum mereka.!!" ucap salah satu dari mereka.
"Benar itu, seret saja..." sahut yang lain nya.
"Tunggu dulu pak.. Kami tidak berbuat mesum seperti yang kalian tuduhkan.!!" Halilintar terus berusaha membela diri.
"Kalian pikir kami ini buta ya..?? Sudah tertangkap basah dan sudah membuka baju seperti itu, kalian masih mau mengelak..??" suara lantang seseorang dari salah satu mereka.
"Pak,. Kekasih saya tadi terjatuh ke parit dan baju nya basah. Saya hanya ingin menggantinya dengan baju saya , kami tidak melakukan apapun pak.. Sungguh..!!" Halilintar mencoba untuk terus menjelaskan ke salah pahaman itu.
_______________