Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Getar Asmara Mulai menggores hati sang Gadis Pecinta Asap.


Zha nampak mengibas selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Pandangannya menyebar ke sekeliling ruangan kamar yang nampak tak asing namun tidak terlalu di ingatnya itu. Zha berusaha mengingat apa yang terjadi, hingga seseorang membuka pintu dan mendekatinya.


"Bagaimana keadaan mu.?"


"Hall..! Di mana aku.?"


"Kau di kamar ku, tenanglah. Dokter sudah mengeluarkan peluru dari tubuhmu dan sudah mengobati lukamu. Sebentar lagi kau akan pulih kembali." jawab Halilintar kini duduk di samping Zha yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Di mana elang.?" tanya Zha.


"Elang sudah kembali ke markas , dan Ayahku sengaja membawa mu kemari." jawab Halilintar.


"Aku harus pulang sekarang. Terimakasih sudah menolongku." Zha menjajakkan kakinya di lantai dan meraih sepatu miliknya yang tergeletak di sana lalu terburu memakai.


"Zha , tinggallah disini untuk sementara waktu, setidaknya sampai kau benar benar pulih." Halilintar mencoba mencegah Zha.


"Tidak Hall, aku sudah merasa baik, hanya sedikit pusing saja. Itu tidak akan berpengaruh apa apa." Zha kini sudah berdiri.


"Zha.. Ku mohon tinggallah sebentar saja."


"Hall, aku sudah membuat perjanjian dengan Ayahmu, dan aku tidak ingin mengingkarinya." ucap Zha menatap pria yang kini berdiri di hadapan nya itu.


"Perjanjian..?" Halilintar bertanya ,ia tidak mengerti dengan ucapan Zha.


"Jaga diri mu baik baik Hall, Aku harus pergi." Zha melangkah , namun ia menghentikan langkahnya ketika Hanzero dan Azkayra memasuki kamar Halilintar kemudian menghampiri mereka.


"Tuan, Terimakasih sudah menolongku dan aku , mulai detik aku akan menepati janjiku. Permisi.!" ucap Zha menunduk tanpa menatap wajah mereka lalu meneruskan langkahnya. Tapi Hanzero menahan langkah Zha dengan memegang pergelangan Zha.


Sesaat Zha terdiam sebelum akhirnya menoleh perlahan menatap wajah pria yang masih menahan tangannya itu.


"Bukan kah kau pernah mengatakan jika aku tidak bersalah, jadi aku tidak perlu meminta maaf.?" tanya Hanz melepaskan tangan Zha.


"Benar Tuan," Jawab Zha melirik Azkayra yang tersenyum lembut padanya.


"Baiklah , bagaimana jika aku menarik ucapan ku dan membatalkan perjanjian kita?" tanya Hanzero menoleh pada istri nya yang mengangguk.


"Tidak perlu Tuan, sepertinya urusan kita juga sudah selesai sampai di sini dan aku tidak perlu lagi bertemu dengan Halilintar dan Nyonya Azkayra. Jadi Tuan tidak perlu membatalkan perjanjian kita." ucap Zha.


"Ah ya.. Kau benar. Tapi apa kira kira putra ku akan memaafkan aku jika kau benar benar keluar sekarang juga dari rumah ini.?" tanya Hanz kini membuat Zha cepat menoleh pada Halilintar yang memasang wajah kecewa pada Ayahnya.


"Kalian adalah keluarga romantis, kehadiran ku pasti tidak akan berpengaruh apa pun. Bukan kah begitu Hall.? " kini Zha bertanya pada Halilintar yang menghampiri nya.


"Tinggal lah di sini sementara saja Zha, apa kau tidak memikirkan perasaan ku.?" Halilintar menarik cepat tubuh Zha dan membawanya dalam pelukannya. Zha yang tersentak pun serta Merta menarik tubuhnya merasa begitu malu akan sikap Halilintar yang tidak peduli jika ada kedua orang tuanya di depan mereka.


"Percuma Zha, Papa dan Mama ku sudah mengetahui hubungan kita. Tidak ada guna nya kau menghindar." ucap Halilintar semakin mempererat dekapannya.


"Hall, lepas."


"Tidak Zha, aku mungkin melepaskan mu lagi. Apa kau lupa jika kita sudah menjadi sepasang kekasih.?"


"Tidak Tuan, ini tidak seperti yang Halilintar katakan! Dia hanya membual!" ucap Zha melirik Hanzero yang malah tersenyum melihat kelakuan putranya begitu juga dengan Azka.


"Ayo kita pergi Hanz, kita tidak boleh menganggu sepasang kekasih ini." ucap Azka.


"Kau benar Azka, baik lah. Urusan kita memang sudah selesai Zha. Sekarang selesaikan urusan mu dengan Putraku. Kau harus bertanggung jawab karena sudah meracuni Putra ku." ucap Hanz melingkarkan lengannya pada pinggang Azka dan membawanya melangkah.


Sementara Zha yang masih tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari keluarga Samudra semakin kesal pada Halilintar.


"Apa lagi ini Hall.?" Zha sudah memasang tatapan mematikan miliknya.


"Dengar kan aku, Aku sudah mendengar semua pengakuan Ayah ku tentang apa yang ia lakukan padamu. Ayah ku menyesal Zha. Jika kau tidak mau tinggal untuk beberapa hari saja di sini dia pasti semakin merasa bersalah." ucap Halilintar yang sudah melepaskan belenggu nya dan kini menarik tubuh Zha agar duduk di ranjang.


"Aku sama sekali tidak memikirkan nya, aku tidak pernah menyalahkan Ayah mu sedikit pun. Orang lain pasti akan melakukan hal yang sama jika tau siapa aku Hall, aku hanya wanita iblis yang tidak akan pernah pantas berada di rumah ini apalagi untuk dekat dengan seorang Putra Hanzero seperti mu." jawab Zha kini dengan wajah datar nya.


"Tidak Zha, Tidak seperti yang kau pikirkan." ucap Halilintar memutar wajah Zha hingga menghadap padanya.


Dan kita akan bersama untuk selamanya." ucap Halilintar menatap Zha dan kedua bola mata tajam itu.


"Kau tidak akan mengerti Hall, keluarga Samudra akan mendapatkan kesulitan jika aku berada di tengah tengah kalian."


"Itu tidak masalah, Kami sudah memikirkan nya dengan matang dan kami sudah mengambil keputusan dengan apapun resikonya. Bagaimana.? Kau mau kan.?"


"Maaf Hall, aku tidak bisa." sahut Zha terburu melangkah membuka pintu.


"Pergi lah. Aku memang tidak pantas untuk mendapatkan hati wanita iblis seperti mu Zha.!" Teriak Halilintar buat Zha menghentikan langkahnya.


"Kau memang tidak punya perasaan apapun padaku, aku saja yang tidak tau diri terlalu berharap dan bermimpi agar kau bisa mencintai ku seperti aku mencintai mu. Tapi kenyataan nya aku hanya pria lemah yang menyedihkan, yang tidak berguna dan tidak bisa melindungi wanita yang kucintai. Aku hanya bisa merepotkanmu dan membuat masalah dalam hidupmu." celoteh panjang lebar Halilintar.


"Baik lah, aku akan tinggal disini Tuan Muda..!" Zha memutar tubuhnya dan kembali masuk lalu duduk kembali di tepi ranjang. Melihat itu Halilintar tersenyum senang.


"Benarkah.?"


"Ya.. Aku ingin menyenangkan hati mu.!! Agar kau berhenti memaki diri mu sendiri. Puas..!!"


"Aku senang sekali Zha.. Aku bahagia." Halilintar Kembali memeluk Zha.


"Sudah lah, aku mau mandi." Zha mendorong tubuh Halilintar.


"Baik lah, kau mandi lah. Aku akan menyiapkan ganti mu. Setelah itu kau harus turun. Aku menunggu mu di meja makan." ucap Halilintar sambil menyodorkan handuk pada Zha yang langsung menyambarnya dan bergegas masuk ke kamar mandi tanpa menjawab lagi. Sementara Halilintar keluar dari kamar.


Setelah beberapa waktu Zha nampak keluar dari kamar mandi masih dengan balutan handuk di tubuhnya.


"Apa yang kau lihat..?" ucap Zha pada Halilintar yang sudah berada di dalam kamar itu lagi dengan mata yang tak lepas dari tubuh Zha.


"Tidak Zha, aku .. Aku belum pernah melihat mu seperti ini."


"Kenapa..? Kau berpikir mesum.?" Zha melangkah mendekati ranjang tanpa peduli jika Halilintar sudah bergetar menahan sesuatu ketika melihat jelas kulit leher Zha dan paha mulus nya.


"Ahh..!!" Hall memutar tubuh nya menghindari tubuh Zha yang kini sudah berada tepat di depan nya.


"Hall.." Zha menarik tangan Halilintar.


"Cepat lah ganti, kau jangan memancing Ku." ucap Halilintar tetap tidak mau menoleh pada Zha.


"Siapa yang memancing mu..? Aku harus ganti pakai apa.? Aku hanya ingin meminjam baju mu mesum."


"Nih. Pakai ini." Hall menyodorkan pakaian pada Zha dan mau tidak mau matanya kembali menangkap pemandangan yang membuat nya gemetar itu.


Saat Zha meraih pakaian itu, Halilintar nampak memejamkan kan matanya dan membuang nafas berat nya kemudian menarik cepat tubuh Zha.


"Hall,.!" Zha terperangah namun ia tidak sempat menghindar ketika Halilintar sudah melummatt habis bibir nya dan mendorong tubuhnya hingga terlentang di atas ranjang dan Halilintar kini sudah menindih nya.


"Hall, kau gila.!!"


"Maaf Zha, aku tidak bisa menahan nya." bisik Hall kembali mellumatt bibir Zha dan menarik sedikit turun handuk yang melilit tubuh Zha lalu segera menghujaninya dengan bibirnya.


"Hall, Ah.!" Zha mendessah lirih ketika Hall bermain di dada nya dan kini kembali pada bibirnya. Keduanya kini saling mellumatt dan bertukar Saliva untuk beberapa waktu lama nya hingga saling melepaskan pagutan nya untuk sejenak mengisi oksigen pada paru paru mereka dan kembali mengulang aksi mereka.


Berakhir kecupan panjang Halilintar di kening Zha. Dan Halilintar membenahi kembali Handuk Zha.


"Aku mencintai mu." ucap Hall menatap wajah Zha yang nampak memerah menahan malu ketika Zha menyadari tingkah konyol nya yang membalas cummbuan Halilintar dengan semangat bahkan sempat mendesahh berkali kali.


"Aku menunggu mu di luar." Ucap Halilintar melangkah keluar kamar.


Dan Zha segera meraih pakaian yang sudah di siapkan Halilintar tadi dan berburu mengenakan kan nya tanpa peduli baju apa yang ia kenakan itu. Sesekali Zha membuang nafas dan tersipu sendiri membayangkan kejadian barusan.


Sudah bisa di pastikan ,jika saat ini getar asmara mulai menggores hati Sang Gadis Pecinta Asap ketua Mafia Poison Of Death yang sangat di takuti siapa pun di segala penjuru kota.


___________________