
Untuk pertama kalinya Aldora menginjakkan kembali kakinya di tanah kelahirannya setelah belasan tahun lamanya.
"Ayo, Al" ajak Uncle Penrod mengajak Aldora untuk menaiki taksi.
Aldora menaiki taksi bersama Uncle Penrod. Sepanjang perjalanan menuju apartemen tempat tinggal mereka, Aldora terus saja menatap jalanan dari jendela yang sengaja ia buka kacanya.
Udaranya segar sama seperti belasan tahun lalu. Namun mata Aldora malah berkaca kaca karena mengingat sesuatu yang begitu menyakitkan baginya.
Aldora meninggalkan negara ini ketika usianya masih 6 tahun. Dan ingatannya tentang negara ini hitam putih. Ada sebagian yang dia ingat dan ada sebagian yang dia lupakan. Hal itu dikarenakan usianya yang masih berusia 6 tahun.
"Al, kita sudah sampai," ucap Uncle Penrod saat taksi sudah berada di depan gedung apartemen.
Aldora membuka matanya yang terpejam sepanjang jalan tadi dan mengarahkan pandangan matanya ke gedung di depannya.
Aldora turun dan mengikuti Uncle Penrod masuk ke dalam menuju apartemen mereka.
"Al, kamu istirahatlah. Besok kamu harus bersiap untuk mengikuti wawancara," ucap Uncle Penrod.
Aldora mengangguk dan menarik kopernya menuju kamar tidurnya.
***
Keesokan harinya.
Disinilah Aldora sekarang, di depan gedung pencakar langit, Perusahaan Gloretha.
Perjuanganmu dimulai, Aldora. Pa, Ma, bantu Al dari atas. Al akan berusaha membuat semuanya kembali ke posisi semula.
ucap Aldora dalam hati.
Aldora mulai masuk ke dalam gedung.
Banyak pegawai berlalu lalang tanpa memperhatikan dirinya. Ingatannya kembali kebelasan tahun lalu, dimana saat dia masuk ke dalam perusahaan semua pegawai berhenti dan memberinya salam penghormatan. Memberikannya perlakuan yang sangat spesial.
"Permisi, saya Alvina salah satu kandidat calon asisten Yang Mulia," ucap Aldora kepada orang di bagian front office.
"Pergilah kebagian HRD," ucap orang itu tampak ketus setelah mengamati penampilan Aldora.
Aldora pergi dari bagian front office. Ingatan masa lalunya kembali, dimana saat dia berada di perusahaan ini semua pegawai bersikap hormat dan tidak pernah berkata dengan ketus kepadanya.
Aldora pergi ke ruangan HRD untuk melakukan wawancara dan beberapa tahap untuk dapat di terima di perusahaan Gloretha.
***
"Selamat Nona Alvina, anda di terima bekerja di perusahaan ini. Anda sudah mulai boleh bekerja hari ini. Ikuti Tuan Leon ia akan membawa anda ke ruangan Yang Mulia Riccardo," ucap salah satu bagian HRD kepada Aldora seraya mengulurkan tangannya kepada Aldora.
Aldora sedikit mengangguk dan menerima uluran tangan wanita itu sebagai tanda bahwa dia menghargai wanita itu yang telah memberinya selamat.
Riccardo memang sedang membutuhkan asisten secepatnya. Itu sebabnya Aldora langsung dipersilahkan untuk bekerja setelah menjalani beberapa tes.
Aldora mengikuti pria yang dikatakan bernama Leon itu. Melihat dari pakaiannya sepertinya Leon ini adalah seorang pengawal kerajaan. Aldora tahu karena dia melihat lambang kerajaan di lengan baju sebelah kirinya.
"Selamat siang Yang Mulia," Leon memberikan salam penghormatan dengan tangan kanan dan tangan kirinya berada di depan perut, kedua kakinya rapat, dan dengan menunduk empat puluh lima derajat.
Pemuda tampan yang sedang duduk dikursi kebesarannya memberikan tanda bahwa dia menerima salah penghormatan dari Leon.
Tanpa sadar tangan Aldora terkepal menatap pemuda tampan yang menyunggingkan senyum ramah kepadanya.
"Berikan salam kepada Yang Mulia dan perkenalkan dirimu," titah Leon.
Dengan enggan Aldora meletakkan tangan kanan dan tangan kirinya di depan perut. Kaki kanannya berdiri di belakang dengan sedikit jinjit dan Aldora menundukkan tubuhnya empat puluh lima derajat.
"Selamat siang Yang Mulia, saya Alvina asisten baru Yang Mulia," ucap Aldora dengan menatap sekilas Riccardo dengan tatapan tidak bersahabat.
Setelah Riccardo menerima salam penghormatan dari Aldora, Aldora kembali menegakkan tubuhnya.
"Terima kasih, Yang Mulia" ucap Aldora dingin.
"Leon, Tunjukkan dimana ruangan nona Aldora dan beritahu nona Alvina apa saja tugas tugasnya sebagai asistenku," ucap Riccardo.
"Baik, Yang Mulia" balas Leon.
Aldora tampak memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Ada banyak kenangan indah di ruangan ini membuat mata Aldora berkaca kaca dan dadanya terasa sesak.
"Nona Alvina," Leon memanggil nama Aldora membuat Aldora tersadar dan langsung mengubah ekspresinya menjadi datar
Aldora memasuki ruangan yang akan dia tempati. Dadanya berdebar, di ruangan ini juga banyak sekali kenangan terukir antara dia, orang tuanya, dan juga sahabat Papanya yang tak lain adalah Uncle Penrod.
Leon menjelaskan semua tugas tugas Aldora dengan detail.
Namun bukannya mendengar, Aldora malah sibuk menatap ruangan itu, mengingat kenangan indahnya dahulu.
"Uncle," Aldora kecil berlarian memeluk Uncle Penrod.
"Tuan Putri," Uncle Penrod membalas pelukan Aldora.
"Dia merengek ingin bertemu denganmu sejak pagi," ucap Papa Aldora kepada Uncle Penrod.
"Oh ya, Tuan Putri Uncle merindukan Uncle?" Tanya Uncle Penrod menatap ke arah Aldora.
Aldora mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya kepada Uncle Penrod. Hal itu membuat baik Uncle Penrod dan kedua orang tuanya tertawa melihat tingkat Putri kecil itu.
"Anda mengerti nona?" Tanya Leon.
Aldora mengangguk dengan pasti.
"Selamat bekerja nona Alvina," ucap Leon.
Lagi lagi Aldora hanya mengangguk.
Uncle, kenapa kenangan itu cepat sekali berlalu. Al rindu, Al rindu dengan kenangan itu. Kenapa semua itu terjadi? Kenapa mereka jahat sekali? Kenapa mereka merebut kebahagiaanku?
Tangan Aldora terkepal ingin sekali dia melampiaskan kesedihannya sekarang.
Al, kendalikan emosimu. Ingat tujuan dan rencanamu. Jangan salah langkah yang nantinya malah akan membuat orang tak bersalah menjadi korban... Tuhan, bantu aku.
Aldora menasihati dirinya sendiri.
Aldora menarik nafas lalu membuangnya berkali kali. Berusaha mengendalikan gejolak di dadanya. Setelah itu dia duduk dikursinya dan mulai mengerjakan tugas tugasnya sebagai asisten pribadi Yang Mulia Riccardo.
Jarum jam sudah menunjukkan waktunya pulang kerja. Tapi Aldora masih setia duduk di kursinya karena pekerjaannya belum selesai.
Kebetulan, Riccardo yang melewati ruangan Aldora melihat Aldora yang masih setia duduk di kursinya.
"Nona Alvina, sudah waktunya pulang kerja. Sebaiknya anda segera pulang sekarang," ucap Riccardo.
Aldora mengalihkan pandangan matanya dari berkas ke arah Riccardo.
"Ya, Yang Mulia," ucap Aldora langsung menunduk agar Riccardo tidak melihat aura kebencian di matanya.
Setelah Riccardo dan Leon berlalu, Aldora kembali melanjutkan tugasnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Aldora baru saja menyelesaikan tugasnya.
Aldora merapikan berkas berkas di mejanya barulah setelah itu dia pulang dengan membawa beberapa pakaian kerja yang diberikan oleh Leon tadi.
Setelah mematikan sakral lampu dan menutup pintu kantor Aldora segera berjalan ke arah lift khusus.
Langkahnya terhenti di depan lift saat teringat posisinya sekarang.