Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Menyelinap ke Markas Gustavo


____________


Alexa membawa Halilintar melangkah memasuki bagian samping pabrik. Di sana ia menghampiri sebuah ruangan yang sepertinya bekas gudang pabrik tersebut. Alexa mencoba membuka kunci pintu gudang itu dengan sebuah kawat, setelah beberapa saat berusaha pintu itu akhirnya bisa terbuka dan Alexa segera mengajak Halilintar untuk masuk dan Kembali menutup pintunya.


Nampak sebuah lemari usang yang merapat di dinding. Dan Alexa meminta bantuan Halilintar untuk menggesernya.


Setelah lemari itu bergeser, terlihat sebuah tombol di dinding itu. Alexa mendekati nya dan memutarnya.


Tiba tiba saja dinding itu bergeser selayaknya sebuah pintu masuk.


Alexa menoleh pada Halilintar yang langsung mengerti dengan maksudnya.


Mereka melangkah memasuki pintu itu dan mengikuti sebuah lorong yang terdapat di balik dinding itu.


Lorong panjang yang berliku itu ternyata adalah jalan bawah tanah yang bisa membawa mereka ke dalam markas Gustavo. Seperti nya lorong itu sengaja di ciptakan khusus oleh mereka untuk melarikan diri ketika dalam bahaya.


Setelah sekian lama berjalan, Mereka tiba disebuah ruangan yang mereka duga sebagai bagian dari markas Gustavo.


"Kesana!" ucap Alexa menunjuk sebuah lift.


Halilintar pun mengikuti arah langkah kaki Alexa.


"Sial!!" umpat Alexa ketika mengetahui jika Lift itu di lengkapi dengan kode pengaman.


"Minggir, biar aku mencoba nya." ucap Halilintar mencoba meretas kode pengaman Lift itu.


Tak lama kemudian, Halilintar berhasil . Pintu lift terbuka. Mereka segera menggunakan lift itu untuk naik ke lantai atas.


"Bagaimana kalau kita berpencar ? Kau ke arah sana dan aku kesana. Kau bisa memberi ku kode jika menemukan sesuatu yang mencurigakan begitu juga sebaliknya." ucap Halilintar.


"Kau benar Tuan Muda. Baik lah kalau begitu." jawab Alexa.


Setelah pintu lift terbuka akhirnya mereka melangkah dengan arah yang berbeda.


***


Kita beralih dulu ke Mansion, di mana Zha saat ini tengah sibuk mengintrogasi Elang saat ia sadar jika suami nya sudah pergi.


Sebenarnya Halilintar sudah pernah mengatakan pada Zha jika ia akan pergi tapi Zha tidak menyangka jika Halilintar benar benar akan pergi tanpa sepengetahuan nya.


"Kau tau Elang? Siapa yang akan dia hadapi ? Gustavo! Manusia kejam dan licik !" ucap Zha dengan raut wajah kesal dan penuh kekhawatiran.


"Maafkan aku Nona, Tuan muda memaksa pergi sendiri."


"Aku harus menyusul nya." Zha segera berkemas menyiapkan segala sesuatu nya.


"Nona! Kau mau kemana.? Kau tidak boleh pergi!" Elang mencoba mencegah niat Zha.


"Tidak bisa Elang. Aku harus membantu nya! Aku tidak mau terjadi apa apa pada suami ku." jawab Zha masih terus melakukan persiapan dengan menyelipkan desert Eagle dan beberapa senjata mematikan milik nya.


Sesaat Elang kebingungan, namun ketika matanya melirik sebuah pesan masuk di Ponselnya.


"Baik lah. Aku tau di mana suami mu. Kalau begitu Aku akan membawa mu ke sana." ucap Elang tidak mungkin membiarkan Zha pergi sendiri. Apalagi mengingat kondisi Zha yang tengah hamil muda itu dan setelah membaca pesan seseorang yang menginginkan Elang membawa Zha ke pada seseorang yang telah mengirim pesan tadi.


Elang sudah menginjak pedal gas nya dengan Zha yang sudah duduk persis di samping nya. Mereka sengaja pergi tanpa anak buah satu pun. Karena Zha sudah memperhitungkan nya dengan matang. Jika ia membawa anak buah nya itu sama saja mengobarkan perang secara terang terangan dengan Gustavo. Zha ingin menyelesaikan urusan nya sendiri tanpa melibatkan Klan mereka.


Meski Elang sudah mengatakan jika tau keberadaan suami nya tapi Zha masih terus mengulik tombol laptop nya untuk memastikan keberadaan suaminya dengan mendeteksi JPS pada chip transparan yang sengaja ia tempelkan pada suami nya tanpa Halilintar sadari.


Super Car yang mereka tumpangi kini sudah melesat bebas di jalanan dan berhenti di sebuah ujung jalan.


"Kau yakin kita akan masuk kesana?" tanya Elang menoleh pada Zha untuk sekedar memastikan.


Zha mengangguk. "Kita harus masuk secara diam diam ." ucap Zha mulai melangkah mengendap dengan sangat hati hati di antara belakang dinding di ikuti Elang di belakang nya.


"Nona, seperti nya ada klan lain yang sedang mengacau di sini." bisik Elang melihat baku tembak yang berlangsung jauh di hadapan mereka.


"Bagus lah, ini akan mempermudah kita untuk masuk." jawab Zha memanfaatkan kekacauan itu untuk menyelinap masuk.


******


Halilintar sudah berada di sebuah ruangan. Ia menoleh cepat dengan pistolnya yang sudah siap di genggamannya ketika mendengar suara seseorang berdehem di ujung sana. Nampak seorang pria tengah duduk di sebuah kursi goyang dan segera memutar posisinya menghadap Halilintar.


"Ada tamu besar yang tak di undang mengunjungi ku rupanya." ucap pria itu.


"Siapa kau?" Halilintar menatap seksama pria di hadapannya itu sambil terus menodongkan pistolnya.


"Bukan kah kau mencari ku? Cucu menantu dari Glendale?" terdengar suara pria itu terkekeh.


"Kau benar. Aku tidak menyangka jika Putra seorang terhormat dari Hanzero lancang menyelinap masuk ke markas ku." ucap pria yang tak lain adalah Gustavo itu.


"Aku tidak butuh ceramah dari mu. Cepat katakan di mana kau menyimpan chip induk yang sudah kau curi dari markas Ardogama!"


"Kau tidak akan mendapatkannya Putra Hanzero. Sia sia kau datang kemari. Kau hanya mengantar nyawamu dengan percuma. Wanitamu akan segera menjadi milikku!" ucap Gustavo berdiri dari kursi nya.


"Mimpi saja kau!"


Dor...!!!


Satu peluru milik Halilintar melesat tepat mengenai kaki kiri Gustavo sebelum pria itu sempat melangkah.


"Argh..!!" terdengar erangan dari mulut Gustavo seketika tubuhnya tersungkur.


"Kau pikir aku bodoh!" ucap Halilintar ia melirik sebuah dinding yang mencurigakan di sana lalu ia pun menghampirinya.


"Kau tidak akan menemukan apapun di sana bedebah!!"


Halilintar tidak mempedulikan ucapan Gustavo , ia menghampiri dinding itu dan mencoba meretas kode keamanan yang ada di sana. Benar saja , setelah Halilintar berhasil memasukan kode nya, dinding itu terbuka. Sebuah laptop seperti sengaja di sembunyikan di sana. Halilintar segera meraihnya dan meletakkannya pada sebuah meja.


"Kau tidak akan bisa mendapatkannya. Hacker anak buahku sudah memindahkan seluruh datanya. Kau tidak akan bisa memecah sistem keamanan milik Hacker andalan ku!" teriak Gustavo.


"Kita lihat saja, aku atau hacker andalan mu yang lebih hebat. Sebaik nya kau menjadi penonton setia saja." jawab Halilintar.


Dor..!


Halilintar kembali menghadiahi satu peluru pada tangan kanan Gustavo saat melirik tangan Gustavo yang sudah siap menarik pelatuk ke arahnya.


Lagi lagi terdengar erangan dari mulut Gustavo, dan Halilintar segera menendang pistol milik Gustavo yang terlepas dari tangan Gustavo hingga menjauh dari pria itu.


Dor..!!


Kembali sebuah peluru di arahkan oleh Halilintar pada kaki kanan Gustavo untuk menjaga agar Gustavo tidak bisa melangkah sedikit pun. Kini Halilintar duduk dengan tenang dan fokus meretas kode keamanan sistem yang di buat Hacker anak buah Gustavo untuk melindungi data chip induk yang mereka curi dari markas Ardogama.


****


Zha dan Elang terus mengelak tembakan demi tembakan dari beberapa anak buah Gustavo yang berhasil mengetahui keberadaan mereka di dalam markas dan terus mengejar mereka.


"Nona, hati hati!" seru Elang mengkhawatirkan Zha ketika melihat wanita itu masih dengan lincah nya bergerak , meloncat dan menembak tanpa mempedulikan isi yang ada di dalam perutnya.


Ternyata yang mereka hadapi bukan lah anak buah Gustavo yang bisa di remehkan. Terbukti masih saja ada tiga pria yang bisa menghindari peluru Zha dan Elang dengan baik dan kini berhasil membuat Zha dan Elang tersudut di sebuah ruangan.


Dor..!!


Elang berhasil merobohkan satu pria yang hampir melubangi kepala Zha yang saat ini sedang meringis memegangi perutnya yang terasa kram. Sementara tangan Zha melempar cepat pisau miliknya ke arah tangan salah satu pria yang juga hampir saja meng Headshot kepala Elang membuat pistol pria itu terlepas.


Dor..!


Satu peluru yang mengarah ke Zha terhindar oleh Zha.


Dan..


Dor..!!


Pria yang membidik Zha tiba tiba ambruk.


Zha seketika menoleh ke arah seseorang yang menyelamatkannya.


"Ardogama!" pekik Zha.


"Kau..!" Zha terkejut menyadari jika sosok Ardogama juga berada di sarang Gustavo.


"Ternyata selama ini kau menjebak ku." ucap Zha mengarahkan pistolnya pada Ardogama.


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." jawab Ardogama melangkah mendekat kearah Zha.


"Lalu mana mungkin kau berada di sini jika bukan untuk menjebak ku?" Zha menarik pelatuknya, namun Elang yang menyadari itu langsung mendorong tubuh Pria itu hingga terhindar dari peluru Zha.


"Ayah!!" Elang segera berlari menghampiri Ardogama yang jatuh tersungkur karena dorongannya.


"Ayah??" Zha sangat terkejut mendengar ucapan Elang yang menyebut Ardogama dengan sebutan Ayah.


"Apa lagi ini? Elang kau..!! Jangan kau bilang jika kau juga mengkhianati ku!!" Zha kini mengarahkan pistolnya tepat kearah Elang yang masih membantu Ardogama berdiri.


________________