
__________
Halilintar masih saja fokus pada layar pipih didepan nya itu, sambil sesekali melirik istrinya yang masih saja tak sadarkan diri setelah sehari semalam dari kejadian muncul nya tatto Jangkar di bagian punggung dan lengan nya itu. Ternyata kemunculan tatto itu benar benar telah menyerap habis tenaga Zha, membuat Zha harus mendapatkan infus dari dokter Bram guna memasukan cairan vitamin agar tenaga Zha cepat pulih kembali.
Sebenarnya Halilintar sudah menemukan di mana lokasi asli klan Jangkar perak, tapi kali ini Halilintar tidak akan gegabah. Ia harus menyusun rencana matang matang untuk bisa masuk langsung kedalam markas itu, karena di pikiran Halilintar ia yakin jika di sana lah chip induk itu berada.
Apapun resiko nya Halilintar harus mendapatkan nya sebelum Zha yang menginginkan pergi untuk mencari nya sendiri.
Halilintar tidak mungkin membiarkan Zha pergi apalagi saat ini kondisi Zha tengah hamil.
Rintihan kecil dari mulut Zha membuat Halilintar seketika menoleh dan beranjak menghampiri Zha yang mulai membuka matanya itu.
"Zha..! Kau sudah sadar.?"
"Hall..! Berapa lama aku pingsan.?"
"Sehari semalam. Kau sampai membuat ku takut." jawab Halilintar memeluk Zha.
"Apa yang kau rasakan.?" Halilintar menatap wajah istrinya.
"Aku merasa lemah Hall.? Apa aku baik baik saja.?"
"Kau baik baik saja. Tatto itu sudah menyerap seluruh tenaga mu. Kau akan segera pulih. Tidak perlu khawatir."
"Bagaimana dengan janin ku.?"
"Dia juga baik bak saja. Dia pasti sekuat ibunya. Kau tidak perlu cemas."
"Aku ingin minum." ucap Zha.
"Tunggu sebentar. Aku akan mengambil kan nya." jawab Halilintar segera melangkah meraih sebuah gelas berisi air putih.
Zha langsung menerimanya dan meneguknya habis.
"Istirahat lah. Kau harus banyak istirahat agar cepat pulih."
"Hall, mengenai chip induk itu._"
"Zha.. dengar kan aku. Kali ini serah kan semua itu padaku. Kau harus percaya padaku. Aku akan mendapatkan nya untuk mu. Tugas mu , jaga baik baik calon anak kita. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu dan juga dia." ucap Halilintar mencoba meyakinkan Zha.
"Hall,.. Mana mungkin kau melakukan nya.? Kau tidak tau bagaimana kejam nya dunia kami. Kau akan kesulitan menemukannya." jawab Zha menatap dalam wajah suami nya. Terselip keraguan di hati Zha mengingat bagaimana kejam nya dunia mafia dan Halilintar bukan lah dari bagian dunia itu.
"Sebab itu aku tidak ingin kau kembali lagi ke sana Zha. Aku ingin kau tetap di sini menunggu ku , dan aku berjanji akan hati hati dan akan kembali padamu."
"Kau bisa menepati janji mu.?"
Halilintar mengangguk. "Aku sedang menyelidiki lokasi keberadaan klan jangkar perak berada, aku yakin chip induk itu berada di sana." ucap Halilintar.
"Kau akan pergi ke sarang Gustavo.? Tidak Hall , aku tidak mengijinkan mu. Gustavo bukan orang yang bisa diremehkan."
"Zha,. !"
"Tidak. Jika kau tetap memaksa , aku harus ikut.!"
"Dengar Zha, aku ini suami mu. Tugas ku melindungi mu. Kau harus ingat jika saat ini kau sedang hamil. Aku tidak ingin kau melakukan apapun dulu."ucap Halilintar.
Zha terdiam, tidak ada pilihan lain selain hanya anggukan berat. Namun Zha sendiri masih belum bisa begitu saja melepaskan suami nya . Apalagi untuk masuk ke sarang Jangkar perak yang diketuai Gustavo itu.
"Aku sudah menghubungi Elang. Aku menyuruh dia menjagamu selama aku pergi." ucap Halilintar.
Entah kenapa Ucapan Halilintar kali ini membuat Zha sedih, matanya sempat berkaca kaca dan terdengar isakan dari mulut nya. Mungkin ini pengaruh hormon seorang wanita yang sedang hamil. Atau Zha benar benar merasa sedih karena harus di tinggal Halilintar.
Halilintar merengkuh tubuh istrinya dan membelainya.
"Aku akan kembali secepat mungkin. Percayalah.. Semua akan baik baik saja." ucap Halilintar semakin membuat Zha terisak.
Ketukan pintu terdengar membuat Zha cepat mengusap air matanya dan menoleh ke arah pintu, Elang sudah berdiri di sana.
"Nona.!"
"Dari mana saja kau Elang. Selama ini kau tidak menengok ku. Apa kau sengaja ingin melupakan aku.?" tanya Zha dengan tatapan kesal pada anak buah kepercayaan nya dan sekaligus sahabat nya itu.
"Zha.! Kau harus bisa menjaga emosi mu agar anak ku menjaga anak yang penyabar." Halilintar mengusap lembut punggung Zha.
"Maaf Nona, ada urusan yang sedikit serius. Maaf jika aku tidak menemani mu di saat saat sulit mu kemarin." ucap Elang menarik kursi dan duduk dekat dengan mereka.
"Kau tau apa yang terjadi padaku.?"
"Tentu. Suami Nona sudah menceritakan nya padaku." jawab Elang menoleh pada Halilintar yang tersenyum.
"Sebelum ada aku, bukan kah di antara kalian juga tidak pernah ada rahasia.?" Halilintar menoleh ke arah mereka bergantian.
"Kau benar Tuan Muda. Tapi untuk sekarang, aku tidak yakin jika Nona masih akan seperti itu." Elang melirik Zha yang masih memasang wajah kesal nya.
"Kau yang menjauhi Elang. Bukti nya, jika Halilintar tidak memberi tahu mu, apa kau tau kejadian di mana aku harus di sayat hidup hidup.?" Zha melempar sebuah bantal ke arah Elang.
"Sekali lagi maaf kan aku Nona.! Itu memang salahku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." jawab Elang.
Baik Halilintar maupun Elang sama sama terkekeh melihat tingkah wanita yang tengah hamil muda itu sepertinya sedang sensitif.
****
Sore mulai datang menyapa, Halilintar terlihat berbincang serius dengan Elang.
"Apa keputusan Tuan Muda sudah bulat .?"
"Tentu saja.!"
"Menurut ku dengan sendirian , itu akan memudahkan aku untuk menyelinap masuk ke dalam markas jangkar perak."
"Tapi Tuan.._"
"Kau cukup menjaga istri ku dan calon anak ku. Jaga mereka dengan nyawa mu. Jika terjadi apa apa dengan nya, Nyawa mu yang harus menjadi gantinya." ucap Halilintar.
Elang hanya mengangguk, sebenarnya ia pun merasa khawatir dengan keputusan Halilintar yang akan pergi sendiri untuk masuk ke dalam markas mafia Jangkar Perak. Tapi Elang juga khawatir dengan kondisi Nona nya yang tengah hamil itu. Jika tidak di awasi bisa jadi Zha akan nekad menyusul Suami nya.
Jika saja Zha tidak hamil, Elang tidak mungkin akan khawatir. Tapi kehamilan Zha sedikit banyak pasti akan mengurangi kelincahan Zha dan akan mempersulit gerakan Zha.
"Aku pergi sekarang sebelum Zha terbangun. Aku tidak mau ia melihat kepergian ku." ucap Halilintar.
Elang mengangguk, " Hati hati Tuan muda."
Halilintar melangkah tanpa ragu meninggalkan Mansion dan Zha beserta calon bayi mereka.
Setelah sekian lama melaju , Halilintar menghentikan mobil nya di depan sebuah Club' malam.
Ia melangkah memasuki club' malam tersebut.
Dentuman musik disertai warna warni lampu gemerlap semakin membuat club' malam itu terkesan meriah .
Banyak pasang mata yang langsung menatap kedatangan Halilintar, sebagian menatap dengan tatapan membunuh yang kuat, sebagian lagi menatap dengan decak kagum akan ketampanan nya yang pasti nya bagi para wanita yang berada di sana.
Halilintar tak mengindahkan tatapan mereka. Ia menghampiri pengurus club' malam tersebut yang sedang duduk di antara banyak pria dan wanita itu.
Halilintar menaruh setumpuk lembaran uang di atas meja tepat di hadapan pria pengurus club' malam itu.
"Aku butuh seseorang yang bersedia menemaniku.!"
Tak ada yang menjawab ucapan Halilintar , hanya pandangan mereka yang kini tertuju pada seorang lady yang berjalan melenggak lenggok bak pramugari. Lady dengan penampilan seksi berbalut baju tipis dengan bagian dada yang terbuka dan rok mini yang nyaris menampakkan seluruh paha mulus nya itu berjalan mendekati Halilintar, dengan rambut berwarna jingga yang menutupi kedua bahunya.
"Apa yang kau ingin kan Tuan Tampan.. ? Katakan saja.!" bisik sang lady di telinga Halilintar dan sengaja menggesekkan
tubuhnya pada tubuh Halilintar.
Halilintar benar benar muak dengan tingkah wanita di samping nya itu yang terus menggoda nya dan kini sudah duduk di pangkuan nya, ingin rasanya ia menembak kepala lady itu. Tapi Halilintar harus bisa menahan diri mengingat jika Zha dan calon bayinya sedang menunggu nya.
"Aku menginginkan mu baby..!" bisik Halilintar mengangkat tubuh sang lady dan menurunkan nya dari pangkuan nya.
"Oh sayang... Malam ini aku milik mu. Kita akan bersenang senang dulu dengan uang mu ini , setelah itu kau mau kemana.? Dansa atau hotel.?" jawab Sang Lady meraih sebuah minuman dan meneguk nya sesaat setelah mengajak Halilintar bersulang.
Halilintar melirik tangan sang Lady yang sudah menempelkan sebuah pistol tepat di perutnya.
"Katakan saja , kau dari mana.?" tanya Lady itu tanpa menoleh sedikit pun.
"Poison Of Death.!" jawab Halilintar.
'maafkan aku Zha, aku membawa bawa nama klan mu.'
"Begitu kan mudah, jadi kau tidak perlu berpura pura." sahut sang lady.
"Apa yang kau inginkan.?" tanya sang lady sedikit melirik dan menarik pistolnya untuk kembali menyimpan di balik pinggangnya.
"Pekerjaan.!"
Sang lady tersenyum." Kalau begitu kita ke markas." baru saja sang lady selesai berkata suara rentetan tembakan dari arah belakang mereka.
"Ikuti aku.!" Sang lady menarik tangan Halilintar sambil menarik pelatuk nya kearah orang orang yang terus menembaki mereka. Halilintar pun akhirnya mau tidak mau merogoh pistol miliknya untuk sekedar melindungi dirinya dari tembakan brutal mereka.
"Siapa mereka.?" tanya Halilintar sambil terus mengikuti langkah sang lady yang membawanya menjauh dari tempat itu menuju lantai teratas.
"Anak buah Gustavo.! Cepat lah. Atau kau akan berakhir di sini.!" jawab Sang lady membuat Halilintar tercengang.
Gustavo.. bukan kah ini di salah satu club' malam milik jangkar perak..? Kenapa anak buah Gustavo menyerangnya..?
Belum sempat Halilintar menyelesaikan rasa terkejutnya Sang lady sudah menariknya untuk cepat melangkah ke arah lantai paling atas yang terbuka itu. Di sana sudah ada sebuah Helikopter yang siap menjemput mereka.
Sang Lady dan Halilintar susah berhasil duduk di dalam pesawat dengan bantuan sebuah tali yang di lempar seseorang dari dalam helikopter, dan kini mereka meninggal kan club' malam tersebut menuju sebuah Markas.
Selang beberapa lama,
Helikopter itu mendarat di depan sebuah markas.
"Ayo cepat." sang Lady meloncat turun dan berlari ke dalam markas di susul Halilintar di belakangnya.
"Brengsekk....!!" teriak Sang lady melihat beberapa anak buahnya yang berada di ruangan itu sudah tak bernyawa dan isi ruangan itu sudah porak poranda.
"Ini tidak mungkin.. Anak buah Gustavo berhasil meretas sistem keamanan ku. Bajingan..!!" kembali umpatan kasar keluar dari mulut sang lady sambil menendang sebuah kursi kayu.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak bisa menjaganya. Mereka berhasil membawa chip induknya. Argh...!!" Sang lady terlihat panik.
"Hei, apa yang kau katakan..? Chip induk apa yang kau maksud.?"
"Chip induk yang menyimpan data dari kode kode milik istri mu Tuan. Dan saat ini istri mu dalam bahaya karena anak buah Gustavo sudah mendapatkan Chip induk itu. Dengan chip induk itu, Mereka bisa saja dengan mudah menemukan keberadaan istrimu."
"Apa..?? Siapa kau sebenarnya." Halilintar kini menodongkan pistolnya ke arah wanita itu.
Wanita itu tersenyum, menarik rambut palsunya yang berwarna jingga itu dan menampakkan rambut aslinya yang lurus berwarna hitam dan terlihat sebuah Tatto jangkar di bahunya.
"Kau..!! Alexa Abraham.! Jadi kau lah keturunan terakhir Jangkar Perak itu.?"
"Jika menurut mu demikian, kau tidak salah menemuiku Tuan muda Halilintar.!"
bersambung....!!!